Berawal dari Kesialan Hidup, membuat Kevin Sanjaya Bangkit dengan bantuan Meteorit dan buku pemberian Kakeknya "Kitab Medis Surgawi"
Beberapa hal dari hidupnya seketika berubah, tiga wanita cantik, Asosiasi Super Power Nasional, bahkan mendapat Cacing Emas Gu Legendaris untuk memperkuat tubuhnya.
Namun, perjalanan Kevin Massi Panjang. Dan, kali ini dia menjadi target organisasi terkuat dunia 'Demonic' dalam memperebutkan 5 Artifak Medis Legendaris, yang di percaya bisa membuat pemiliknya hidup abadi.
Apa saja yang akan di lewati Kevin Sanjaya, di season 2 kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Betapa Membosankannya!
Begitu kata-kata itu terlontar, semua orang yang hadir langsung tercengang!
Sebenarnya apa yang dia pikirkan?
Keempat anggota yang berdiri di belakang Rangga membelalakkan mata menatap Kevin. Mereka sampai tidak mampu berkata-kata.
"Dia benar-benar menolak?"
Jesika menatap Kevin dengan bibir bergetar, wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.
3.000 Poin Jasa!
Itu merupakan salah satu tawaran paling luar biasa yang bisa diberikan oleh Biro Super Nasional. Namun Kevin menolaknya tanpa sedikit pun keraguan, seolah-olah tawaran tersebut sama sekali tidak berarti!
Sebenarnya, siapa Kevin ini sampai berani bertindak sesuka hati seperti itu?
Lagipula, Kevin berbeda darinya. Divisi Langit tidak pernah memberikan keuntungan apa pun kepadanya, sementara Nona Amel juga tidak pernah menyelamatkan nyawanya.
Namun saat melihat sosok Kevin yang berdiri di hadapannya, Jesika tiba-tiba merasa pemuda itu begitu tinggi dan mengagumkan.
Mereka memang berada di tingkatan yang sama sekali berbeda!
Mendengar ucapan Kevin, ekspresi Rangga berubah dingin. Dia menatap Kevin dengan tajam dan berkata, "Tawaran yang kuberikan sudah sangat murah hati. Bahkan Amel pun tidak mendapatkan perlakuan seperti itu. Pikirkan baik-baik."
"Divisi Langit sudah ditakdirkan untuk mengalami kehancuran. Jangan sampai nanti kau menyesal."
Awalnya Rangga hanya bermaksud memberikan tawaran untuk menarik Kevin.
Namun sekarang, Kevin justru memperlakukannya seperti sosok yang bisa diremehkan. Jelas saja, Rangga merasa harga dirinya telah diinjak-injak.
Kevin hanya memiliki penilaian tingkat A. Dari mana dia mendapatkan keberanian untuk bersikap begitu sombong di hadapan seseorang dengan penilaian tingkat S?
"Tidak perlu mengkhawatirkanku."
Kevin menjawab dengan malas, "Aku orang yang memegang prinsip. Karena Nona Amel sudah menjaminku, tentu saja aku akan tetap tinggal di Divisi Langit."
"Selain itu, aku jauh lebih suka menghabiskan hari-hariku ditemani seorang wanita cantik seperti Nona Amel daripada harus melihat wajah keriputmu. Bukankah begitu?"
"Kalau tidak ada urusan lagi denganku, jangan menghalangi jalanku. Kau boleh pergi sekarang. Sejujurnya, keberadaanmu hanya membuang-buang waktuku."
Kelopak mata Rangga langsung berkedut.
Tangannya mencengkeram gagang pedang kesayangannya dengan semakin erat.
"Brengsek! Apa yang baru saja kau katakan?!"
Pria berkulit gelap yang berdiri di belakang Rangga langsung melangkah maju dan menunjuk Kevin dengan wajah garang.
Namun Kevin bahkan tidak menoleh kepadanya.
"Betapa membosankannya."
Dia justru berbalik menatap Amel yang masih menunjukkan ekspresi tenang.
"Nona Amel, ayo pergi. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu."
"Tentu."
Amel tersenyum tipis.
Ketiganya kemudian berjalan menuju Devisi Langit.
"Kurang ajar! Mari kita lihat seberapa hebat kemampuanmu!"
Karena diabaikan sepenuhnya, pria berkulit gelap itu langsung murka. Qi Sejati berkumpul di telapak tangannya dan membentuk sebilah pedang energi, kemudian dia menebaskannya ke arah Kevin!
Swuuusshh....!
Kevin hanya menyeringai.
Dia sama sekali tidak peduli dengan serangan tersebut dan terus berjalan sambil membawa wortel serta mentimun di tangannya.
Namun Amel yang merasakan niat membunuh dari belakang langsung menghentikan langkahnya.
Tatapannya berubah dingin.
Aura mengerikan langsung meledak dari tubuhnya!
Pria berkulit gelap itu mendadak merasa tubuhnya membeku, seolah-olah seluruh tubuhnya terperangkap dalam es.
Aliran Qi Sejatinya langsung terhambat dan pedang energi yang melesat, seketika hancur dan lenyap secara seketika.
Detik berikutnya—
Bam!
Tubuhnya terguncang hebat dan langsung terlempar ke udara!
Dia jatuh lebih dari sepuluh meter jauhnya dan menghantam tanah dengan suara berat.
"Ugh!"
Darah segar menyembur dari mulutnya.
Saat mengangkat kepala dan menatap Amel, matanya dipenuhi ketakutan.
Kekuatan macam apa ini?!
Hanya dengan melepaskan Qi Sejati, Amel sudah mampu membuatnya terluka parah!
Amel menatap pria itu dengan dingin dan berkata, "Kamu, anggap ini sebagai peringatan. Lain kali, sebaiknya kau siapkan ranjang rumah sakit terlebih dahulu."
Setelah mengatakan itu, dia pergi bersama Kevin dan Jesika.
"bagaimana menurutmu?"
Setelah bangkit dan menyeka darah di sudut mulutnya, pria itu menatap Rangga dengan hati-hati.
"Kau sudah melakukan pekerjaan dengan baik."
Rangga tertawa ringan. "Sayang sekali kau tidak berhasil memancing Kevin untuk bergerak. Namun, Amel yang turun tangan juga bukan hasil yang buruk. Sepertinya kekuatannya kembali meningkat. Dia benar-benar lawan yang tangguh."
"Terima kasih, Ketua!"
Pria berkulit gelap itu langsung tersenyum lebar.
Baginya, menderita sedikit luka demi mendapatkan 30 Poin Jasa adalah pertukaran yang sangat menguntungkan.
"Tapi, Ketua..." ia berkata dengan hormat, "Kevin itu benar-benar tidak tahu berterima kasih. Bukankah sebaiknya kita memberinya sedikit pelajaran? Sekalian menguji seberapa kuat dia sebenarnya?"
"Tentu saja."
Rangga tersenyum tenang.
"Hanya dengan memahami teman maupun musuh, kita bisa tetap tak terkalahkan."
"Divisi Langit memang sedang mengalami kemunduran. Namun dengan munculnya Kevin, kita harus tetap waspada. Terlebih lagi, niat Amel masih sulit ditebak."
Pria berkulit gelap itu mengerutkan kening.
"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa pihak atas memilih Amel dan bahkan membiarkannya menjadi Ketua Divisi Langit..."
"Semua itu merupakan bagian dari strategi keseimbangan mereka."
Rangga menyipitkan matanya.
"Sejak dahulu, kebaikan dan kejahatan tidak pernah bisa hidup berdampingan dengan damai."
"Gunung Raya dan Jalur Iblis memang merupakan musuh alami. Namun sekarang, kedua faksi tersebut masing-masing memiliki seorang ketua di dalam Biro Super Nasional."
"Menarik sekali..."
Rangga terkekeh.
"Mereka mungkin berpikir Amel bisa menahanku. Namun mereka terlalu meremehkan kemampuanku."
"Amel?"
"Dia bukan apa-apa jika dibandingkan dengan gambaran besarnya."
"Ketika aku berhasil menguasai sebagian besar pengaruh di dalam Biro Super Nasional, saat itulah Gunung Raya akan benar-benar bangkit!"
"Ketua memang luar biasa!" seru Pria berkulit hitam penuh kekaguman.
Rangga memandang ke arah Kevin pergi dan berkata dengan tenang, "Di dalam Biro Super Nasional, Amel bisa melindungi Kevin karena kita terikat oleh aturan dan tidak boleh saling berkonflik."
"Namun di luar biro..."
"Tidak ada aturan seperti itu."
"Pria berkulit gelap, kau tahu apa yang harus dilakukan, bukan?"
Jakson langsung tersenyum.
"Tenang saja, Ketua. Serahkan semuanya kepadaku!"
Siapa pun yang berani menghalangi rencana besar Ketua... tidak akan diberi belas kasihan!
bibirmu berjenggot?