Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langit Baru Zurich dan Fondasi yang di Tancapkan
Penerbangan dari Bandara Heathrow menuju Zurich International Airport melintasi gumpalan awan putih yang membentang di atas Pegunungan Alpen. Dari balik jendela pesawat, puncak-puncak gunung bersalju memantulkan pendar cahaya matahari pagi yang menyilaukan.
Di dalam kabin kelas ekonomi yang tenang, Aurora Vance menyandarkan kepalanya di bahu tegap Julian Radcliffe. Jemari mereka saling mengunci di atas pangkuan, di mana cincin platinum polos di jari manis Rory berkilat lembut setiap kali tertimpa sinar matahari.
"Tidurmu nyenyak?" bisik Julian pelan, menundukkan kepala dan mendaratkan kecupan hangat di ubun-ubun Rory.
Rory menyunggingkan senyum tipis tanpa membuka matanya sepenuhnya. "Sangat nyenyak. Untuk pertama kalinya setelah empat tahun di Oxford, aku tidak bermimpi tentang tenggat waktu draf riset atau ancaman Komite Etik."
Julian terkekeh pelan suara kekeh yang begitu lepas dan merdu, bebas dari nada sinis atau formalitas kaku yang dulu selalu melapisi suaranya. Pria itu mengangkat genggaman tangan mereka, mengecup punggung tangan Rory dengan penuh rasa hormat.
"Selamat datang di babak baru, Miss Vance," bisik Julian. "Atau harus kupanggil Dr. Vance sekarang?"
Rory membuka mata cokelat jernihnya, menatap Julian dengan pendar kebahagiaan yang membuncah. "Panggil aku Rory. Seperti yang selalu kamu lakukan saat kita hanya berdua di flat kecil itu."
Dua minggu telah berlalu sejak skandal besar di Hall Agung St. Jude’s mengguncang dunia akademis dan bisnis Inggris. Berita mengenai kehancuran reputasi Radcliffe Corp masih menjadi topik hangat di berbagai jurnal ilmiah dan media finansial Eropa. Arthur Radcliffe terpaksa mengundurkan diri dari jajaran dewan direksi utama setelah nilai saham anak perusahaannya merosot tajam akibat penyelidikan pelanggaran etika oleh otoritas hukum penerbitan paten internasional. Sementara itu, Victoria Montgomery dilaporkan telah meninggalkan London menuju vila keluarganya di selatan Prancis untuk menghindari cecaran jurnalis.
Namun bagi Julian dan Rory, pusaran kekacauan di London itu kini hanyalah sejarah yang tertinggal jauh di belakang. Fokus mereka sepenuhnya telah beralih ke masa depan yang baru saja mereka menangkan.
Roda pesawat menyentuh landasan bandara Zurich dengan getaran halus. Begitu proses pemeriksaan imigrasi dan pengambilan bagasi selesai, Julian dan Rory melangkah keluar menuju aula kedatangan utama.
Di dekat barisan penjemput, seorang wanita paruh baya bermantel krem tebal melambaikan tangannya dengan mata berbinar-binar. Di samping wanita itu, seorang remaja laki-laki duduk di atas kursi roda lipat modern, menyunggingkan senyum lebar yang sangat familiar.
"Rory!" panggil ibunya dengan suara bergetar oleh haru.
"Ibu! Ethan!" seru Rory, melepas pegangan tangannya dari Julian dan berlari kecil merengkuh ibunya ke dalam pelukan hangat.
Air mata kebahagiaan tumpah di antara ibu dan anak perempuan tersebut. Selama bertaruh dengan waktu dan biaya medis yang mencekik, Rory hanya bisa mendengar suara ibunya melalui sambungan telepon internasional. Kini, memeluk ibunya secara langsung di Zurich terasa seperti keajaiban nyata.
Rory melepaskan pelukannya, lalu berlutut di depan kursi roda adiknya. Ethan Vance remaja berusia enam belas tahun dengan mata jernih yang mirip dengan Rory menatap kakaknya dengan penuh rasa bangga.
"Mbak Rory kelihatan makin keren di koran," goda Ethan dengan suara yang makin bertenaga. "Semua suster di ruang rehabilitasi heboh waktu baca berita tentang Mbak dan Mas Julian membatalkan skandal paten itu."
Rory tertawa renyah, mengusap kepala adiknya gemas. "Kamu sudah bisa menggerakkan jarimu tanpa rasa sakit?"
Ethan mengangkat tangan kanannya, menggerakkan kelima jarinya secara perlahan dan presisi di udara. "Lihat? Dokter Helene bilang respon sarafnya luar biasa cepat! Dua minggu lagi aku sudah bisa belajar berdiri tanpa penopang."
Julian melangkah mendekat, berdiri di samping Rory. Pria itu memberikan anggukan sopan nan hangat kepada ibu Rory. "Selamat pagi, Mrs. Vance."
Ibu Rory menatap Julian pria aristokrat yang rela mempertaruhkan seluruh nama besar, kekayaan, dan kebebasannya sendiri demi membiayai operasi penyelamatan nyawa putranya. Tanpa ragu-ragu, ibu Rory melangkah maju dan merengkuh Julian ke dalam pelukan hangat seorang ibu.
Julian sempat tertegun sejenak. Sepanjang hidupnya di Radcliffe Manor, pelukan hangat yang tanpa syarat seperti ini adalah sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri. Namun perlahan, Julian membalas pelukan itu dengan ketulusan yang murni.
"Terima kasih, Nak Julian" bisik ibu Rory pelan, air matanya menetes di bahu jas Julian. "Terima kasih sudah menyelamatkan putraku dan menjaga Rory dengan sangat baik."
"Saya hanya melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan untuk keluarga kita, Ibu," jawab Julian dengan suara bariton yang dalam dan sarat akan penghormatan.
Sore harinya, sebuah taksi meluncur membawa mereka ke kawasan Hönggerberg, distrik pinggiran Zurich yang terkenal tenang dan dikelilingi oleh pemandangan bukit-bukit hijau yang asri.
Di sinilah fasilitas utama laboratorium independen baru mereka berada sebuah bangunan arsitektur modern berdinding kaca transparan yang berdiri megah di bawah naungan kompleks riset Helios Foundation.
Dr. Harrison Vance Direktur Utama Helios Foundation bersama jajaran dewan peneliti senior telah menunggu di pelataran depan bangunan.
"Selamat datang di tempat baru kalian, Mr. Radcliffe, Miss Vance," sapa Dr. Harrison, menyalami mereka berdua dengan hangat. Pria tua berambut perak itu memancarkan aura akademisi sejati yang sangat berintegritas. "Komite Internasional sangat bangga bisa memfasilitasi dua pikiran paling brilian generasi ini."
Dr. Harrison memimpin mereka masuk menyusuri lorong utama laboratorium.
Rory dan Julian menatap sekeliling ruangan dengan rasa takjub yang tak tertahan. Laboratorium ini tiga kali lebih luas daripada ruangan kerja mereka di St. Jude’s. Dinding-dinding kacanya menyajikan pemandangan spektakuler langsung ke arah Pegunungan Alpen dan Danau Zurich yang membiru di kejauhan.
Peralatan di dalamnya adalah yang tercanggih di dunia: satu set instrumen Nuclear Magnetic Resonance (NMR) tingkat lanjut, sistem pemurnian otomatis berbasis komputasi kuantum, hingga fasilitas ruang steril untuk pengujian biologis skala penuh.
"Seluruh fasilitas ini adalah milik kalian sepenuhnya," ujar Dr. Harrison sambil menyerahkan dua buah kartu akses perak berukirkan nama Dr. Julian Radcliffe dan Dr. Aurora Vance. "Tidak ada campur tangan investor politik. Tidak ada tekanan akuisisi korporasi. Kategori riset, alokasi dana satu koma lima juta franc, hingga rekrutmen asisten peneliti sepenuhnya berada di bawah kendali kalian berdua."
Julian menerima kartu akses tersebut, menatap permukaannya yang mengilap, lalu menoleh ke arah Rory.
"Bagaimana menurutmu, Miss Vance?" tanya Julian dengan pendar kebanggaan yang tak tertutup-tutupi. "Apakah laboratorium ini memenuhi standar presisi analisis Organikmu?"
Rory tertawa bahagia, matanya berkaca-kaca oleh rasa haru yang teramat sangat. Ia melangkah mendekati jendela kaca raksasa yang menatap bukit-bukit hijau Zurich.
"Ini jauh melampaui semua impian terliarku, Julian," bisik Rory. "Dulu di St. Jude's, aku selalu takut bahwa suatu hari beasiswaku akan dicabut atau riset ini akan direbut oleh orang-orang beruang. Tapi di sini kita benar-benar pemilik dari karya kita sendiri."
Julian melangkah mendekati Rory dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di pinggang tegap Rory dan menyandarkan dagunya di bahu gadis itu.
"Ini baru permulaan, Rory," bisik Julian lembut di telinga Rory. "Dunia sains internasional akan melihat sintesis obat regenerasi sel saraf pertama yang murni diciptakan untuk kemanusiaan, bukan untuk keuntungan bursa saham."
Malam harinya, Julian dan Rory menempati sebuah rumah kecil bergaya chalet Swiss di kawasan perkebunan anggur tak jauh dari laboratorium. Rumah kayu dua lantai tersebut menyajikan ketenangan murni yang sangat bertolak belakang dengan kebisingan kota London atau Oxford.
Aroma panggangan roti gandum, keju Swiss yang meleleh, dan seduhan kopi segar memenuhi dapur kayu chalet tersebut.
Julian yang kini telah melepas kemeja formalnya dan menggantinya dengan sweater rajut abu-abu yang santai sedang berdiri di dekat kompor, mengaduk sup sayuran hangat untuk makan malam mereka.
Rory berdiri di dekat meja kayu, merapikan dokumen-dokumen kerja dan draf awal jurnal ilmiah yang akan mereka publikasikan di majalah Nature bulan depan.
Saat Rory mengangkat salah satu draf laporan lama dari St. Jude’s, sebuah salinan surat berlogo keluarga Radcliffe jatuh dari celah lipatan kertas.
Rory mengambil surat itu. Surat itu adalah salinan surat ancaman pertama dari Arthur Radcliffe yang dikirimkan ke flat Julian beberapa bulan lalu surat yang memicu seluruh pertaruhan dan pengorbanan rahasia di antara mereka.
Julian menoleh dari kompor, melihat surat yang dipegang Rory. Pria itu mematikan api kompor, melangkah mendekat, dan berdiri di samping Rory.
"Aku lupa melempar surat itu ke tempat sampah," kata Julian pelan, raut wajahnya tampak tenang tanpa ada lagi rasa cemas atau traumatik.
Rory menatap surat tersebut sejenak, lalu mendongak menatap Julian. "Surat ini adalah bukti dari seberapa jauh kita telah berjalan, Julian. Dulu, surat ini terasa seperti ancaman pencabut nyawa bagi impian kita. Tapi sekarang... surat ini hanyalah secarik kertas tak berguna dari pria yang telah kehilangan masa depannya."
Julian meraih surat kertas itu dari tangan Rory. Dengan gerak jemari yang sangat tenang, Julian merobek surat tersebut menjadi dua bagian, lalu empat bagian, hingga menjadi serpihan-serpihan kecil tak berharga, sebelum melemparnya ke dalam perapian kayu yang menyala hangat di sudut ruangan.
Api perapian menjilat serpihan kertas tersebut hingga habis menjadi abu dalam hitungan detik.
Julian berbalik menghadap Rory, merengkuh kedua tangan Rory dan membawanya ke dadanya. Detak jantung Julian di bawah sweater abu-abu itu terasa begitu kuat, konstan, dan penuh kehidupan.
"Masa lalu itu sudah terbakar habis, Rory," bisik Julian dengan suara baritonnya yang sangat dalam. "Yang tersisa hanya aku, kamu, dan masa depan yang akan kita bangun bersama."
Rory menyunggingkan senyum paling tulus dari dasar jiwanya. Ia melingkarkan tangannya di leher Julian, menarik pria itu mendekat, dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang sarat akan rasa cinta, ketenangan, dan janji abadi.
Di luar chalet kayu mereka, angin malam Swiss berembus pelan melintasi bukit-bukit Zurich yang indah. Bintang-bintang di atas Pegunungan Alpen bersinar sangat terang, meneduhi dua jiwa brilian yang telah melalui badai terhebat dalam hidup mereka.
Di antara deru perjuangan, integritas akademis, dan pengorbanan yang tak terbatas, Aurora Vance dan Julian Radcliffe telah menemukan bukan hanya kemenangan atas sains mereka tetapi sebuah cinta sejati yang tak akan pernah bisa dibeli, dirampas, atau dihancurkan oleh kekuasaan apa pun di dunia ini.