NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. Pacar Pura-Pura

Hari-hari berikutnya bagi Naira terasa seperti berjalan di atas tali yang sangat tipis. Setiap kali ia melangkah ke gedung Arsen Group, setiap kali ia bertemu Mikael, ada perasaan aneh yang menyelimuti dadanya.

Bukan lagi sekadar kesal atau ingin berdebat. Kali ini ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat setiap kali mata mereka bertemu.

Pagi itu, Naira baru saja sampai di ruang rapat. Mikael sudah ada di sana, berdiri di dekat jendela sambil memandangi pemandangan kota. Begitu mendengar pintu terbuka, ia menoleh.

"Selamat pagi, Sayang."

Naira langsung melotot. Ia berjalan cepat mendekat dan berbisik, "Kamu gila?! Tidak ada orang di sini!"

Mikael justru tersenyum lebar. "Siapa yang tahu? Mungkin dinding punya telinga."

"Mikael!"

"Baiklah, baiklah." Ia mengangkat kedua tangan. "Aku cuma bercanda."

"Kalau kamu terus-terusan seperti ini, aku batalkan kesepakatan kita."

Mikael menahan tawa. "Jangan begitu. Lagipula kita sudah sepakat, bukan? Selama proyek berlangsung, kita adalah pasangan."

"Pasangan pura-pura!" Naira menegaskan.

"Iya, iya. Pasangan pura-pura." Mikael mendekat sedikit. "Tapi kalau ada orang lain yang melihat, kita harus terlihat meyakinkan. Itu bagian dari perjanjian."

Naira menghela napas panjang. Ia masih ingat betul bagaimana semuanya bermula. Malam itu setelah acara jamuan, Mikael justru yang mengajukan ide gila itu.

"Kita buat perjanjian saja."

"Perjanjian apa?"

"Kita berpura-pura menjadi pasangan. Secara resmi. Sehingga tidak ada yang bertanya-tanya lagi. Tidak ada yang menggoda. Tidak ada yang mencurigai apa pun."

Naira saat itu langsung menolak. "Tidak mau. Itu terlalu berlebihan."

Tapi Mikael punya cara sendiri untuk membuatnya ragu. "Pikirkan Kirana. Pikirkan rekan kerja kita. Kalau kita tiba-tiba bilang itu semua bohong, apa yang akan mereka pikirkan? Mereka akan bertanya kenapa kamu berbohong. Dan semakin panjang pertanyaan-pertanyaan yang akan menyudutkanmu.''

Naira terdiam. Ia tahu Mikael benar.

Jadi akhirnya, dengan berat hati, Naira mengangguk. "Baik. Tapi ada syaratnya."

"Apa syaratnya. Sebutkan."

"Pertama, ini semua hanya di depan orang lain. Kalau cuma kita berdua, jangan panggil-panggil aneh."

"Ok. Sepakat."

"Kedua, jangan terlalu berlebihan. Tidak perlu pegangan tangan atau peluk-peluk kalau tidak perlu."

"Ok. Sepakat."

"Ketiga, begitu proyek selesai, kita langsung bilang putus. Tidak ada penundaan."

"Ok. Sepakat."

"Dan keempat..." Naira menatapnya lekat-lekat. "Jangan sampai kamu benar-benar mengira aku menyukaimu. Karena itu tidak benar."

Mikael saat itu tersenyum misterius. "Tentu saja. Aku tahu ini semua hanya pura-pura."

Pintu ruang rapat terbuka dan orang-orang mulai berdatangan. Kirana juga datang, dan begitu melihat mereka berdua, wajahnya langsung berseri-seri.

"Nah, ini dia pasangan paling serasi di proyek ini!"

Naira tersenyum kaku. Mikael justru berdiri dan menarik kursi di sebelahnya. "Sini, Naira. Duduk di sini."

Naira menatapnya tajam sebelum duduk. Mikael dengan santai meletakkan tangannya di sandaran kursi Naira. Posisi yang terlihat sangat intim namun sebenarnya tidak menyentuh apa pun.

Kirana duduk di seberang mereka sambil tersenyum lebar. "Jujur saja, melihat kalian berdua seperti ini, rasanya memang serasi sekali. Siapa yang menyangka ya, desainer galak dan bos yang dingin ternyata menyembunyikan asmara."

Naira merasa wajahnya panas. "Kiran, tolong..."

"Ya sudah, ya sudah. Aku tidak akan menggoda lagi." Kirana tertawa. "Mari kita mulai rapatnya."

Selama rapat berlangsung, Naira merasakan hal yang aneh. Setiap kali ia menyampaikan pendapat, Mikael akan menatapnya dengan tatapan yang begitu... penuh perhatian.

Lebih dari sekadar atasan mendengarkan bawahan. Lebih dari sekadar rekan kerja. Dan setiap kali orang lain mengajukan usulan yang bertentangan dengan pendapat Naira, Mikael justru membelanya.

"Menurutku desain Naira sudah cukup baik," katanya tegas. "Kita tidak perlu mengubah konsep dasarnya."

Setelah rapat selesai, semua orang keluar kecuali Naira dan Mikael. Naira langsung menoleh kepadanya.

"Kenapa kamu membelaku begitu tadi?"

"Karena pendapatmu benar."

"Tapi cara kamu..." Naira menggantung kalimatnya. "Terlalu mencolok."

"Itu bagian dari peran, bukan?" Mikael tersenyum. "Pasangan yang saling mendukung."

Naira mendengus. "Kamu mulai berlebihan lagi."

"Atau mungkin kamu mulai terbiasa?"

"Jangan bermimpi." Naira membereskan berkasnya. "Aku ke ruang desain dulu."

"Aku ikut."

"Untuk apa?"

"Mengecek perkembangan bahan." Mikael berjalan di sampingnya. "Dan memastikan pacarku bekerja dengan baik."

Naira melangkah lebih cepat. "Kamu benar-benar tidak ada obatnya."

Mikael terbahak melihat kekesalan Naira

*********

Mereka berjalan menyusuri lorong kantor. Beberapa karyawan yang lewat tersenyum dan menyapa. "Selamat pagi, Pak Mikael, Nona Naira."

Naira hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Mikael justru menanggapi dengan ramah. Semakin lama, Naira merasa semakin terjebak dalam peran ini. Semua orang begitu percaya. Semua orang begitu senang untuk mereka. Dan yang paling menakutkan... Naira sendiri mulai merasa nyaman.

Siang harinya, mereka makan siang bersama di kantin. Kirana bergabung dengan mereka.

"Kalian sudah berencana mau pergi ke mana akhir pekan ini?" tanya Kirana santai.

Naira tersedak air jeruknya. Mikael dengan tenang menyerahkan tisu kepadanya.

"Belum ada rencana khusus," jawab Mikael. "Mungkin jalan-jalan saja."

"Baguslah." Kirana tersenyum. "Pasangan perlu menghabiskan waktu bersama. Oh ya, Naira, Ravian juga tanya soal kalian lho."

Naira langsung menegang. "Ravian?"

"Iya. Dia bilang dia kaget sekali waktu tahu kalian berpacaran." Kirana menatap mereka bergantian. "Dia bilang tidak pernah menyangka kalian akan bersama."

Naira menunduk menatap piringnya. Tentu saja Ravian kaget. Naira si gadis jomblo.

Mikael menyadari perubahan suasana. "Ravian hanya belum terbiasa saja. Nanti lama-lama dia akan mengerti."

"Sepertinya dia juga sedikit cemburu," ujar Kirana santai. "Lagipula dia kan teman dekat Naira sejak dulu."

Naira menelan ludah. "Dia hanya khawatir."

"Khawatir?" Kirana tertawa. "Mungkin saja. Tapi menurutku, dia hanya tidak terbiasa melihat Naira milik orang lain."

Kalimat itu membuat Naira hampir menjatuhkan sendoknya. Milik orang lain. Kata-kata itu terasa begitu berat. Apakah dia benar-benar sudah menjadi milik orang lain? Padahal ini semua hanya pura-pura. Hanya sandiwara.

Namun ketika ia menatap Mikael di sebelahnya, pria itu terlihat begitu tenang, begitu yakin, seolah-olah semua itu memang nyata.

Setelah makan siang selesai dan Kirana pergi ke toilet, Naira langsung menatap Mikael.

"Kita harus bicara."

"Bicara apa?"

"Soal Ravian." Naira menunduk. "Dia curiga. Aku bisa merasakannya."

"Biarkan saja." Mikael bersandar di kursinya. "Semakin kita terlihat yakin, semakin dia percaya."

"Tapi ini semua bohong!"

"Untuk saat ini saja." Mikael menatapnya lekat-lekat. "Naira, dengar aku. Semakin kamu terlihat tidak yakin, semakin orang lain bertanya. Semakin banyak pertanyaan, semakin besar kemungkinan rahasia kita terbongkar.''

Naira terdiam. Dia tahu Mikael benar. Setiap langkah yang dia ambil sekarang harus sangat berhati-hati. Satu kesalahan kecil saja, dan semuanya bisa hancur.

"Aku tahu," bisiknya. "Tapi rasanya... rasanya sangat berat."

Mikael menatapnya. Untuk sesaat, tatapan itu tidak lagi terlihat menggoda atau bercanda. Tatapan itu terlihat tulus. Seolah-olah dia benar-benar mengerti perasaan Naira.

"Aku tahu," katanya pelan. "Tapi aku di sini. Aku akan membantumu. Kita hadapi ini bersama-sama."

Naira menatapnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Cara Mikael menatapnya, cara dia berbicara... semua itu terasa begitu nyata. Terlalu nyata.

"Terima kasih, El." bisiknya.

"Sama-sama." Mikael tersenyum. "Tapi jangan mulai jatuh cinta padaku ya."

Naira langsung memutar mata. "Mimpi saja kamu. Aku hanya berterima kasih karena kamu tidak membiarkan aku terlihat bodoh di depan semua orang."

"Ah, begitu ya?" Mikael tertawa. "Sayang sekali. Aku pikir kamu mulai menyukaiku."

"Jangan bermimpi."

********

Sore itu, saat Naira sedang membereskan barang-barangnya untuk pulang, Mikael datang menghampirinya.

"Besok malam ada acara makan malam dengan klien utama."

Naira mengangkat alis. "Dan?"

"Dan kamu harus ikut." Mikael tersenyum. "Sebagai pasanganku."

Naira menghela napas. "Sudah aku duga. Baiklah, aku ikut."

"Bagus." Mikael menatapnya. "Dan Naira..."

"Apa?"

"Pakai sesuatu yang cantik."

Naira menatapnya. "Kamu bilang begitu lagi."

"Karena aku serius." Mikael menatapnya lekat-lekat. "Aku ingin semua orang tahu betapa beruntungnya aku memiliki kamu."

Naira menelan ludah. Dia tidak tahu apakah itu bagian dari sandiwara atau bukan. Tapi satu hal yang dia tahu, kata-kata itu membuat seluruh tubuhnya terasa hangat.

"Baik," jawabnya pelan. "Aku akan memakai sesuatu yang cantik."

Mikael tersenyum puas. "Sampai jumpa besok, Sayang."

Naira menunggu sampai Mikael keluar dari ruangan sebelum ia akhirnya duduk kembali di kursinya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Apa yang sedang terjadi padaku?" bisiknya sendiri.

Dia seharusnya berpura-pura. Dia seharusnya hanya berakting. Tapi mengapa rasanya semakin sulit untuk mengingat bahwa semua ini bukan nyata?

Mengapa setiap kali Mikael memanggilnya dengan sebutan itu, jantungnya berdetak begitu kencang? Dan yang paling menakutkan, mengapa dia mulai tidak ingin semuanya berakhir?

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!