Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 - MERINDUKAN TEMAN LAMA
Asap dupa cendana berkeluk tipis naik ke balok langit-langit bilik pengantin yang baru sekali ini dihuni suatu harapan. Di tengah kesunyian itu, pergelangan tangan ramping Wulan tiba-tiba dicekat — genggaman panik yang menahan-nahan, seperti pemiliknya takut ada sesuatu yang akan lepas begitu saja dari jangkauannya.
"Wulan, apakah kamu mengeluh tentang aku?" Pangeran Cendana merapatkan jarak satu langkah, nada seraknya dibuat-buat memelas. "Akupun punya kendaliku sendiri. Ayahanda lebih menyayangi Nalendra. Kamu membenciku sejak kecil — permohonan tentang jodohmu sudah berkali-kali kusampaikan kepada ayahandamu, tetapi beliau tak pernah mengizinkan." Semua kata itu dibungkus perasaan yang tampak dalam, tetapi di telinga Wulan isinya hanyalah daftar alasan lama yang hafal di luar kepala. Dahulu ia mungkin luluh mendengar keluh-kesah semacam ini; kini ia tahu betul, di balik tiap kata manis pria itu selalu tersimpan niat yang jauh dari tulus.
Dahi Wulan mengernyit pelan. Mengeluh? Sepanjang percakapan ini lidahnya bahkan tak pernah menyentuh kata itu. Orang ini sungguh lihai membalikkan keadaan — sampanya diputar sedemikian rupa hingga seolah-olah dialah korban paling malang di antara semua orang.
Urat kecil di pergelangannya terasa remik-remik sakit ditindih genggaman itu, dan kesal pun naik sampai ke ubun-ubun. Saputangan di telapak tangannya dilemparkan begitu saja ke atas meja, lalu tangan kirinya terangkat, siap menepis jemari kurang ajar yang berani-beraninya mencengkeram.
Belum pula telapak itu mendarat, sebuah suara pria yang dingin dan akrab terdengar tenang dari arah pintu. "Di hari pernikahan, masuk ke bilik pengantin orang tanpa izin. Sejak kapan pangeran kedua Kesultanan Tirtaloka belajar melanggar tata krama?" Suara itu tidak tinggi, tetapi udara di ruangan seakan langsung menebal; setiap katanya berhunus lurus seperti tombak yang ditancapkan sunyi, meninggalkan tekanan di dada siapa pun yang mendengarnya.
Pangeran Cendana tiba-tiba mendengar suara ini dan tersentak terkejut. Bukankah ia tadi diberitahu bahwa Nalendra ada di halaman depan? Kenapa ia datang secepat ini? Tangan yang memegang pergelangan tangan Wulan itu menegang, tetapi tidak berani bergerak sembarangan.
Wulan tertegun sejenak dan tanpa sadar menatap Nalendra. Tentu saja, gerakan tangannya yang hendak menepis itu setengah terlalu lambat. Ia membeku sejenak, tidak tahu harus melanjutkan gerakannya atau menghentikannya.
Suara Nalendra sangat lemah dan tidak ada emosi di dalamnya, tetapi ketika Wulan menatap mata yang tenang itu, ia merasakan perasaan bersalah yang tidak dapat ia jelaskan. Ketika ia melihat matanya yang tenang itu, ia merasa seolah sedang diawasi dengan penuh arti. Pangeran Cendana kembali meraih tangannya, dan Wulan tersadar dalam sekejap. Ia segera menepis tangan Pangeran Cendana, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, mundur dua langkah, dan menarik jarak antara dirinya dengan pangeran itu.
"Paman." Pangeran Cendana menarik tangannya dengan tenang, berbalik, dan memberi hormat kepada Nalendra. Sikapnya sopan, tetapi ada sesuatu yang kaku di baliknya. Ia tahu kedudukan Nalendra yang tinggi, dan tidak ada satu pun alasan baginya untuk bersikap kurang ajar secara terang-terangan, setidaknya tidak di hadapan banyak orang seperti ini.
Nalendra tidak memandangnya, matanya yang dalam hanya tertuju pada Wulan. Wulan diam-diam mengeluh di dalam hatinya. Ia sangat takut dengan apa yang bisa terjadi. Ia baru saja memikirkan bagaimana jika Nalendra melihat adegan seperti itu dan salah memahaminya. Ya, sepertinya ia benar-benar salah paham. Ia mungkin mengira bahwa ia dan Pangeran Cendana sedang menghidupkan kembali hubungan lama mereka. Pikiran itu membuat hatinya mencelos, dan ia segera berusaha menyusun kata-kata untuk meluruskan semuanya sebelum keadaan semakin rumit.
Pangeran Cendana melihat ekspresi Nalendra, dan kilatan rasa jijik tiba-tiba muncul di matanya. Tidak masalah apakah Nalendra memiliki status bangsawan atau memegang kekuasaan besar. Bukankah benar bahwa ia tidak bisa menjaga hati seorang wanita? Selama Wulan berkenan berdiri di sisinya, bahkan Nalendra yang semulia Pangeran Senja pun harus mewaspadai kedudukan itu dan tidak berani berbuat apa pun padanya. Itulah yang ia yakini, dan keyakinan itu membuatnya sedikit tenang. Ia menganggap dirinya menang dengan kehadirannya yang tiba-tiba ini, tanpa menyadari bahwa ia justru sedang mempermalukan dirinya sendiri di depan semua orang.
Seorang pria harus memiliki kekuatan dan ambisi di dalam hatinya. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan Nalendra, tetapi ia akan sangat terpengaruh secara emosional oleh seorang wanita. Dibandingkan dengan dunia, wanita sungguh tidak berarti, bukan? Ia menghibur dirinya sendiri dengan pemikiran itu, berusaha menutupi rasa iri yang semakin menggerogoti hatinya. Ia tidak pernah menyadari bahwa justru kecemburuan kecil inilah yang kelak menghancurkan segala perhitungan yang ia bangun bertahun-tahun.
Meskipun ia berpikir demikian di dalam hatinya, Pangeran Cendana tidak menunjukkannya. Ia hanya tersenyum di bibirnya dan berkata, "Hari ini adalah hari bahagia Wulan. Cendana sekadar datang merindukan teman lama. Kalau pun langkah ini terhitung lancang — demi Wulan, Paman pasti tidak keberatan, kan?" Kata-katanya halus, tetapi ada nada provokasi yang sulit ia sembunyikan di dalamnya. Setiap kata yang ia ucapkan seperti diukur-ukur terlebih dahulu, memastikan ia tetap terdengar sopan di permukaan sambil menusuk sedalam-dalamnya.
Kata-kata ini sudah merupakan provokasi yang telanjang. Intan tidak hanya menjadi pucat setelah mendengar ini, bahkan ekspresi Wulan pun sedikit berubah. Ia tidak menyangka Pangeran Cendana berani sejauh itu, mengangkat hubungan masa lalu di depan suaminya sendiri. Ada amarah yang menyala-nyala di dadanya, tetapi ia menahannya, karena apa pun yang ia lakukan sekarang akan membuat keadaan semakin buruk.
Nalendra, sebaliknya, sepertinya belum pernah mendengarnya, seolah ia sudah terbiasa, dan ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali. Namun, ketika ia mendengar kata "teman lama", ia tiba-tiba menatap Wulan dengan penuh arti. Tatapan itu singkat, tetapi cukup untuk membuat Wulan merasakan panas di wajahnya. Ia tahu betul apa yang tersirat di balik tatapan itu, dan rasa canggung yang menggelayuti hatinya semakin sulit ia tahan.
Wulan tiba-tiba merasa tidak nyaman dan tanpa sadar menggigit bibirnya. Melihat ekspresi Nalendra yang biasa, entah kenapa, jantungnya tiba-tiba terasa sedikit sakit, seolah-olah ada jarum yang menusuknya. Ia benci melihat pria itu memendam semuanya sendirian, padahal semua ini terjadi karena kelalaiannya.
Pria yang sangat mulia itu, tetapi karena dirinya, ia tidak bisa berkata apa-apa di hadapan kata-kata provokatif seperti itu. Wulan menarik napas dalam-dalam, menyusun kekuatannya untuk berdiri di sampingnya dan meluruskan semua kesalahpahaman itu. Ia tidak akan membiarkan masa lalu yang kelam menghancurkan masa depan yang baru saja ia raih dengan susah payah, dan ia akan melindungi pria yang selama ini selalu melindunginya tanpa pamrih.
Suasana di udara sedikit memadat. Tidak ada yang berbicara, tetapi setiap orang di ruangan itu seakan menahan napas, menunggu siapa yang akan memecah keheningan terlebih dahulu. Lampu lilin berkedip di sudut ruangan, dan bayangan-bayangan panjang bergoyang pelan di dinding, seolah ikut merasakan ketegangan yang menggantung di antara ketiganya.