NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

Amira melangkah mengelilingi butik mewah itu dengan perasaan campur aduk. Meski ia menjabat sebagai CEO di sebuah perusahaan distributor obat, Amira adalah sosok yang sangat hemat. Gaya hidup ini tertanam kuat karena sejak remaja ibunya selalu memperketat keuangannya. Lagipula, posisi CEO itu ia dapatkan murni berkat keringat dan kemampuannya sendiri—bukan karena belas kasihan sang ibu. Cabang perusahaan yang dipimpinnya dulu hampir gulung tikar, tetapi lewat ketekunan dan kerja keras pantang menyerah, Amira berhasil membangkitkannya hingga menjadi perusahaan yang mulai diperhitungkan.

Jemarinya perlahan meraba kain sebuah gaun pengantin yang terpajang anggun.

"Bagus banget ya..." gumamnya terpesona. Namun, begitu matanya menatap label harga, napasnya seolah tertahan. "Tiga ratus juta?! Gila, mahal banget!" Amira langsung menarik tangannya dan melangkah menjauh seolah baru menyentuh besi panas.

Ia berjalan cepat menuju deretan gaun pengantin lainnya, berharap menemukan angka yang rasional. "Gila... paling murah aja lima puluh juta! Cuma buat dipakai sekali, sayang banget uang segitu cuma habis di baju."

Kepala Amira makin berdenyut pusing. Tidak ada satu pun barang murah di butik ini.

"Mau pilih yang mana sih? Dari tadi jalan-jalan terus," gerutu Luki dari belakang.

"Diamlah! Aku yang bayar, ya! Kamu enak tinggal pakai aja!" semprot Amira.

"Ya memang tinggal pakai, terus apa masalahnya?" sahut Luki santai.

"Dasar lelaki enggak modal!" kesal Amira. Ia kembali mengedarkan pandangan, tetapi harapan mencari gaun terjangkau kian menipis. "Lebih baik kita sewa aja lah."

"Enggak mau," tolak Luki cepat.

"Kenapa enggak mau?!"

"Pernikahan itu momen sekali seumur hidup buat aku... dan aku janji enggak bakal nikah lagi. Jadi jangan pakai pakaian sewaan."

Amira menatap Luki dengan pandangan tajam dan tajam. "Kita ini cuma nikah sementara! Nggak usah bikin ribet! Udah, sewa aja lah... lagian aku yang bayar."

"Sewa memangnya berapa?" tanya Luki.

"Palingan sekitar sepuluh juta."

"Nggak ah. Bekas orang lain. Nanti kalau aku panuan gimana?"

"Biasanya ojol kebal penyakit kulit, loh," tembak Amira asal.

Luki mengedipkan mata bingung. "Loh, kok bisa? Aku yang ojol aja baru tahu."

"Iyalah kebal, kan tiap hari dijemur di bawah matahari terus," jawab Amira lempeng.

"Ah... bener juga ya," Luki menggaruk rambutnya yang tidak gatal, lalu menggeleng kencang. "Tapi aku tetap enggak mau sewa!"

"Terus maunya yang mana?!"

Bukannya menjawab, Luki langsung meraih genggaman tangan Amira dan menariknya melangkah menuju ke sudut tengah butik.

"Sepertinya ini cocok buat aku dan kamu," tunjuk Luki pada sepasang gaun dan jas yang dipajang elegan di dalam etalase kaca khusus.

"Itu mewah sekali... pasti mahal!" bisik Amira panik.

"Tapi aku mau yang itu," rengek Luki.

"Iya, tapi berapa harganya?!" kesal Amira, walau jujur dalam hati ia pun terpesona setengah mati melihat gaun itu.

"Hey, Mbak cantik!" panggil Luki manja pada staf butik. "Aku mau yang itu."

Seorang paramuniaga perempuan bergegas menghampiri dengan gestur yang sangat sopan. Amira pernah datang ke butik ini bersama temannya dulu, tetapi tidak pernah mendapat pelayanan sesopan dan seagung ini.

"Pilihan yang sangat luar biasa, Tuan. Ini cantik sekali dan sangat cocok untuk Tuan dan Nyonya. Anda berdua terlihat seperti Rama dan Shinta," puji paramuniaga itu manis.

"Pandai sekali kamu memuji! Kamu layak dapat bonus," puji Luki sambil terkekeh.

"Maaf Mbak, teman saya cuma suka bercanda," sela Amira buru-buru. Ia menyiku rusuk Luki dan berbisik gemas, "Kamu pikir butik ini punya kamu, apa?!"

"Ya memang punya aku," sahut Luki santai.

"Mimpi kamu terlalu tinggi!" gerutu Amira.

"Aku enggak mimpi, ini nyata kok."

"Sudahlah, harganya pasti kelewat mahal. Mending enggak jadi," potong Amira pasrah.

"Udah, aku maunya yang ini. Kamu tunggu di sini ya, aku mau ke toilet sebentar," pamit Luki lalu buru-buru ngeluyur pergi.

Amira berdiri terpaku memandangi gaun pengantin di balik kaca. Ia membayangkan dirinya mengenakan gaun semewah itu. Dulu, ia pernah memilih gaun pernikahan bersama Raka, tetapi rasanya tidak pernah semewah dan seanggun ini.

"Maaf Nyonya, silakan menuju ke meja kasir ya," tegur pramuniaga itu ramah.

"Apa? Ke kasir?" Amira tersentak kaget. "Mau ngapain?"

"Serah terima barang, Nyonya."

"Barang yang mana?"

"Ya itu, gaun pengantinnya."

"Gaun pengantin yang mana?!"

"Yang tadi Nyonya lihat," jawab sang pramuniaga menunjuk etalase kaca.

"A-aku cuma lihat! Aku enggak jadi beli!" seru Amira cepat dengan kepanikan melanda.

"Saya hanya menjalankan instruksi untuk menyampaikan pesan saja, Nyonya."

"Tapi saya enggak beli!"

"Nyonya tinggal menerima barangnya saja."

"Berapa memang harganya?!" desak Amira, suaranya gemetar.

"Yang itu harganya hanya lima ratus juta rupiah. Itu belum termasuk koleksi eksklusif kami."

"LIMA RATUS JUTA?!" sentak Amira histeris. Uang segitu akan langsung menguras habis seluruh sisa tabungannya.

"Bisa lebih sedikit dengan pajak," tambah kasir dengan senyum profesional.

Keringat dingin mulai membasahi pelipis Amira. "Bisa lebih..."

"Ayo Nyonya, mari ke kasir."

Dengan langkah yang terasa amat berat dan goyah, Amira berjalan menuju meja kasir. Gagal menikah dengan Raka, dan kini ia harus membuang seluruh tabungan hidupnya hanya demi selembar gaun pernikahan sementara?! Melangkah ke depan meja kasir rasanya persis seperti melangkah menuju jurang kebangkrutan.

Sampai di depan kasir, jemari Amira menggigil.

"Nyonya, Anda tinggal tanda tangan di sebelah sini," kata petugas kasir seraya menyodorkan lembaran kertas.

"Harganya... berapa?"

"Sudah tertera di nota tanda terima, Nyonya."

Amira menunduk membaca angka yang tertera di sana. "Lima ratus dua puluh juta..." gumamnya liris. Lututnya seketika terasa lemas bagai lolos dari persendian. "Mbak... saya enggak jadi ambil barangnya," bisik Amira lemas.

"Tidak bisa, Nyonya. Anda harus menerimanya."

"Kenapa?!"

"Ya memang harusnya seperti itu."

"Tapi bagaimana saya bayarnya?!" panik Amira.

"Kenapa sih gugup sekali?" terdengar suara santai dari lelaki yang sudah mengacaukan hidupnya sejak semalam.

Amira berbalik cepat. "Luki! Kamu benar-benar mau memeras aku sampai bangkrut, ya?! Kenapa kamu ambil gaun itu?!"

"Ya memang aku mau yang itu."

"Tapi bagaimana aku bayarnya?!"

"Ya tinggal bayar."

"Bayar pakai apa?! Pakai daun?!" pekik Amira frustrasi.

"Ya pakai uang lah, masa pakai daun," sahut Luki polos.

Amira menggertakkan giginya menahan emosi yang siap meledak. "Kamu gila!"

"Aku enggak gila," balas Luki tenang. Ia mendekati Amira, dengan santai meraih tas tangannya, lalu merogoh dompet Amira. Luki membuka dompet itu dan mendengkus. "Astaga... CEO cuma punya uang cash empat ratus ribu?"

"Itu uang cash-ku yang tersisa! Tabunganku sudah habis kamu kuras demi gaun itu!" amuk Amira.

"Ya ampun, memangnya berapa sih harga gaun itu? Nih ya, aku bayar," kata Luki santai. Ia mendekati meja kasir, mengedipkan sebelah matanya, lalu menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan milik Amira ke atas meja.

"Itu uang sisaku! Kenapa kamu berikan ke kasir buat tip?!" geram Amira makin gemetar.

Belum sempat Luki membalas, petugas kasir sudah mengetukkan jarinya ke meja kasir dengan senyum mengembang. "Ini Nyonya, pembayarannya sudah berhasil. Selamat, gaun itu sekarang resmi jadi milik Anda."

Amira melongo lebar. "Apa?! Milik saya?! Bagaimana mungkin?! Itukan harganya lima ratus dua puluh juta!"

Luki merangkul bahu Amira santai. "Mungkin butik ini lagi senang, jadi mereka kasih diskon 99,9 persen."

"Hah?! Diskon macam apa itu?!"

"Ya macam itu... Udah, sekarang kamu coba dulu gaunnya."

Amira masih tak percaya. "Gaun itu... beneran milikku sekarang?"

"Iya, milik kamu," bisik Luki terkekeh. "Karena namaku Luki... Luki itu kan artinya keberuntungan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!