NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 001: Dokter Muda yang Tidak Diinginkan

Kantong jenazah dibuka di Ruang Autopsi IKF.

Arka Pratama baru berdiri lima menit di sudut ruangan ketika pandangannya tiba-tiba bergetar.

Di atas leher perempuan muda yang terbujur di meja autopsi, titik merah muncul. Titik itu membesar, menyusun huruf demi huruf seperti bara tipis di udara.

[Kebenaran Forensik aktif.]

Suara mekanis itu tidak masuk lewat telinga. Ia terdengar langsung di kepala Arka.

[Target jenazah terdeteksi.]

[Label Penyebab Kematian terbuka.]

Dua baris merah darah menggantung di atas tubuh itu.

[Asfiksia Mekanik]

[Pembunuhan]

Arka menahan napas.

Pembunuhan.

Kesimpulan bunuh diri runtuh.

Padahal semua data luar terlihat terlalu rapi: perempuan dua puluh enam tahun, ditemukan tergantung di kamar kos, pintu terkunci dari dalam, ada surat wasiat, keluarga menyebut riwayat depresi. Keluarga juga meminta jenazah segera diproses agar bisa dimakamkan malam itu.

dr. Suherman Priyanto, ahli forensik senior IKF, memeriksa leher korban dengan cepat. Dua teknisi berdiri di dekat meja instrumen. Salah satunya mencatat.

"Pemeriksaan luar," kata dr. Suherman. "Bekas jeratan pada leher, arah naik ke belakang. Tidak ada luka perlawanan jelas. Riwayat depresi. TKP tertutup. Catat dugaan bunuh diri."

Teknisi mengangguk. "Baik, Dok."

Arka menatap label merah itu.

Informasi pendek masuk ke pikirannya: sudut alur jeratan tidak cocok dengan titik gantung, titik perdarahan di konjungtiva terlalu padat, tekanan leher tidak sepenuhnya berasal dari berat tubuh sendiri.

Sistem tidak memberinya nama pelaku.

Sistem hanya memberinya arah.

Dan arah itu menunjuk pada satu hal: jika kesimpulan bunuh diri keluar malam ini, seorang pembunuh akan pulang dengan aman.

Arka melirik berkas di meja kecil. Surat Permintaan Visum sudah ada. Di bagian catatan keluarga tertulis bahwa pemberitahuan Pasal 134 telah dilakukan, tetapi keluarga meminta pemeriksaan dipercepat.

"Dok," kata Arka hati-hati, "kalau ada kemungkinan perlu pemeriksaan dalam, keluarga harus diberi penjelasan tambahan. Catatan Pasal 134 baru menyebut pemeriksaan luar dan visum jenazah."

dr. Suherman menoleh tajam. "Kau baru lima menit berdiri di ruang ini sudah mengajari saya prosedur?"

"Saya hanya memastikan, Dok."

"Yang memastikan prosedur di sini saya. Tugasmu mengamati. Jangan mengubah ruang autopsi menjadi ruang kuliah."

Teknisi yang memegang kamera menahan senyum. Arka menutup mulutnya, tapi label merah di atas jenazah tidak hilang.

"Dokter Suherman," kata Arka.

Semua orang menoleh.

Ini hari pertama Arka di IKF. Dua jam sebelumnya, ia masih berdiri di depan meja administrasi dengan map rotasi Co-Ass dari Universitas Airlangga. Ia menunggu empat puluh menit sebelum dr. Suherman memanggilnya, lalu langsung diuji dengan foto orofaring korban tenggelam.

Arka menjawab benar.

Asfiksia. Kemungkinan tenggelam. Perlu pemeriksaan diatom.

Tapi jawaban itu tidak membuatnya dihargai.

dr. Suherman hanya bertanya, "Kau pernah menyentuh jenazah sungguhan?"

Saat Arka menjawab belum pernah melakukan otopsi penuh, dua teknisi tertawa kecil.

Lalu ia disuruh mencuci botol spesimen dan mengepel ruang autopsi.

"Sebelum saya mengakui kau sebagai Dokter Muda," kata dr. Suherman waktu itu, "di mata saya kau tenaga angkut."

Sekarang, di ruangan yang sama, Arka melihat kata [Pembunuhan] menyala di atas korban.

Ia tidak bisa diam.

"Konjungtiva korban menunjukkan perdarahan titik yang terlalu luas," kata Arka. Ia menunjuk tanpa menyentuh jenazah. "Arah alur jeratan juga tidak sepenuhnya konsisten. Saya pikir jaringan leher perlu dibuka lebih dalam sebelum membuat kesimpulan."

Ruang autopsi mendadak sunyi.

dr. Suherman menatapnya perlahan. "Saya sudah bilang saat masuk tadi. Berdiri di sudut. Tidak menyentuh. Tidak bicara."

"Saya hanya mengusulkan pemeriksaan lanjutan, Dok."

"Mengusulkan?" dr. Suherman melepas sarung tangan dengan kasar. "Kau baru hari pertama. Bahkan otopsi penuh saja belum pernah kau lakukan. Kau berani mempertanyakan dua puluh tahun pengalaman saya?"

Teknisi yang tadi mencatat menunduk, tapi sudut mulutnya bergerak.

Arka menahan panas di wajahnya. "Kalau ini pembunuhan, VeR awal yang salah bisa membuat pelaku pergi."

"Kalau?" Suara dr. Suherman naik. "Forensik tidak bekerja dengan kalau. Forensik bekerja dengan bukti. Dan bukti yang sah tidak keluar dari mulut anak magang yang baru selesai mencuci botol."

Kalimat itu menampar lebih keras daripada tawa teknisi.

Anak magang.

Mencuci botol.

Arka melihat label merah itu lagi. Kata [Pembunuhan] tidak berubah.

Ia memaksa dirinya berpikir jernih. Label hanya bisa ia lihat sendiri. Tidak boleh ia sebut. Tidak bisa masuk berkas. Kalau ia ingin dipercaya, ia harus menemukan bukti yang bisa difoto, dicatat, dan diverifikasi.

dr. Suherman menunjuk pintu. "Keluar setelah saya selesai menerima telepon ini. Jangan sentuh apa pun. Setelah itu kau kembali ke rak spesimen."

Ponselnya bergetar. Ia melirik layar, lalu keluar ruangan.

Satu teknisi ikut membawa formulir. Yang lain ragu sebentar, lalu menyusul. Mungkin tidak ingin berada di dekat anak magang yang baru mempermalukan dirinya sendiri.

Pintu tertutup.

Ruang autopsi tinggal menyisakan Arka dan jenazah perempuan muda itu.

Lampu operasi berdengung pelan.

Di luar pintu, suara dr. Suherman terdengar samar di telepon.

Arka menatap meja instrumen.

Skalpel nomor 23 terbaring di nampan stainless.

Ia tahu aturannya. Dokter Muda tidak boleh melakukan bedah mayat tanpa supervisi. Ia tidak boleh menandatangani VeR. Jika keluarga korban menggugat, jika prosedur dipersoalkan, jika dr. Suherman ingin membuangnya dari rotasi, kariernya bisa selesai sebelum dimulai.

Tapi ia juga tahu waktu mereka sempit.

Keluarga ingin pemakaman malam ini.

VeR awal hampir ditulis sebagai bunuh diri.

TKP bisa dibersihkan sebelum Inafis kembali.

Jika Arka keluar sekarang, label merah itu akan tetap menjadi rahasia di kepalanya, sementara bukti di tubuh korban ikut terkubur.

Ia berjalan ke pintu.

Tangannya menyentuh panel kunci.

Di kepalanya, suara dr. Suherman terulang: kau bahkan belum pernah menyentuh jenazah.

Klik.

Kunci ruang autopsi menutup dari dalam.

Langkah cepat terdengar mendekat. Gagang pintu bergerak sekali, lalu dua kali.

"Arka?" Suara dr. Suherman berubah tajam. "Buka pintunya."

Arka memakai sarung tangan baru.

"Arka! Kau dengar saya?"

Ia mengambil skalpel nomor 23. Logamnya dingin, ringan, dan nyata. Ia menarik nampan instrumen lebih dekat dengan siku, tanpa melepas pandangan dari leher korban.

BRAK!

Pintu dihantam.

"Kau tahu apa yang kau lakukan? Buka pintunya sekarang!"

Arka berdiri di sisi meja autopsi. Matanya menatap alur jeratan yang terlalu rapi di leher korban.

"Saya tahu, Pak Dokter," bisiknya.

Ia menurunkan ujung skalpel.

Dan ketika logam dingin itu membuka garis pertama di kulit leher jenazah, semua hinaan tentang anak magang, botol spesimen, dan tangan yang belum pernah menyentuh mayat berubah menjadi satu keputusan: kalau kebenaran harus dibuka paksa, Arka akan membukanya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!