Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.
Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.
Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.
Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.
Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.
Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.
Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 Ravian yang Masih Peduli
Sudah hampir dua minggu sejak Naira mengetahui bahwa pria menyebalkan yang terus muncul di hadapannya ternyata adalah Mikael Arsen.
Anehnya, selama dua minggu itu juga Naira semakin sering bertemu dengannya. Di kantor. Di ruang rapat. Di butik. Bahkan beberapa kali mereka bertemu secara tidak sengaja di lorong gedung. Setiap kali melihat Naira, Mikael selalu punya sesuatu untuk dikatakan. Dan hampir semuanya berhasil membuat Naira kesal.
Namun pagi itu berbeda.
Naira datang ke butik lebih awal dan langsung sibuk dengan pekerjaannya. Ia sedang menyelesaikan beberapa sketsa ketika Dinda datang membawa dua cangkir kopi.
"Ini."
Naira mengangkat wajah. "Untuk saya, bu?"
"Iya, Nai."
"Terima kasih ya, bu."
Dinda meletakkan satu cangkir di mejanya. "Kamu kelihatannya capek."
Naira tersenyum. "Sedikit kok bu."
"Kamu tidur tidak, Naira?"
"Tidur kok, bu."
"Berapa jam?"
Naira terdiam.
Dinda langsung tahu jawabannya.
"Naira."
Naira tertawa kecil. "Jangan khawatir. Aku baik-baik saja, bu."
Kalimat itu sudah menjadi kebiasaan Naira. Aku baik-baik saja. Ia mengatakannya kepada Dinda. Kepada ibunya. Kepada teman-temannya. Dan terutama kepada dirinya sendiri.
Padahal setiap kali malam datang dan suasana rumah menjadi sepi, pikirannya masih kembali kepada satu nama.
Ravian.
Laki-laki yang sudah disukainya sejak lama. Laki-laki yang pernah membuatnya percaya bahwa mungkin suatu hari nanti mereka bisa bersama. Tetapi ternyata... harapan itu hanya miliknya sendiri.
Naira menyesap kopinya. Pahit. Namun tidak sepahit kenyataan yang sedang ia coba terima.
Siang itu, Ravian datang ke butik. Ia berdiri di depan pintu sambil melihat ke dalam. Matanya langsung menemukan Naira. Perempuan itu sedang berdiri di dekat meja kerja sambil berdiskusi dengan seorang penjahit. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya terlihat lebih serius daripada biasanya.
Ravian memperhatikannya beberapa saat. Ada sesuatu yang berbeda. Naira memang masih tersenyum. Masih bercanda dengan orang-orang di sekitarnya.
Tetapi senyum itu tidak lagi sama. Dulu, ketika Ravian datang, Naira selalu menjadi orang pertama yang menyambutnya dengan ceria.
Sekarang...
bahkan Naira belum menyadari bahwa ia sudah berdiri di sana.
Ravian akhirnya berjalan mendekat. "Naira."
Naira terkejut. Ia menoleh. "Ravian?" Senyumnya muncul. "Kamu datang ke sini."
"Iya." Ravian melihat meja kerja Naira. "Kamu sedang sibuk?"
"Sedikit sibuk, Rav."
"Kamu kelihatan semakin sibuk sekarang, Nai."
Naira tertawa. "Ya, lumayan."
Ravian mengangguk. Kemudian ia memperhatikan wajah Naira. "Kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan itu membuat senyum Naira sedikit memudar. Namun hanya sesaat. "Aku baik-baik saja."
Ravian tidak langsung menjawab. Ia mengenal Naira terlalu lama untuk percaya begitu saja. "Kamu yakin?"
Naira mengangguk tersenyum. "Sangat yakin."
"Belakangan ini kamu sulit dihubungi." protes Ravian.
"Maaf. Aku memang sedang banyak pekerjaan."
"Dulu kamu selalu membalas pesanku."
Naira terdiam. Dulu. Kata itu terasa berat. Dulu Naira memang selalu menunggu pesan Ravian. Bahkan ketika Ravian hanya mengirim pesan sederhana seperti sudah makan?, hati Naira bisa berbunga-bunga sepanjang hari. Sekarang semuanya terasa berbeda.
"Aku cuma sedang mencoba fokus."
"Pada pekerjaan?"
"Iya, Rav. Apa lagi."
Ravian menatapnya. "Dan pada dirimu sendiri?"
Naira tersenyum tipis. "Iya."
Ravian mengangguk. "Aku senang mendengarnya."
Naira menatapnya. "Kenapa?"
"Karena kamu memang harus memikirkan dirimu sendiri."
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi justru membuat dada Naira terasa sesak. Ia menunduk.
"Aku sedang berusaha."
Ravian melihat perubahan wajahnya. "Naira..."
"Aku benar-benar baik-baik saja." Kali ini suaranya lebih pelan.
Ravian terdiam. Ia ingin mengatakan banyak hal. Ingin meminta maaf. Ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah bermaksud menyakiti Naira. Tetapi apa gunanya? Ia sudah memilih Selena. Dan Naira berhak melanjutkan hidupnya.
Ravian akhirnya tersenyum. "Kalau begitu aku percaya padamu."
Naira mengangkat wajah. "Terima kasih, Ravian."
----------
Mereka kemudian duduk di sebuah kafe kecil tidak jauh dari butik. Ravian sengaja mengajak Naira makan siang. Awalnya Naira ingin menolak. Tetapi ia berpikir bahwa tidak ada salahnya. Mereka pernah berteman sangat dekat. Tidak mungkin semuanya berubah menjadi asing hanya dalam semalam.
Ravian mendorong menu ke arah Naira. "Pesanlah apa saja, Nai."
Naira membuka menu. "Aku tak akan pesan banyak-banyak, Rav."
"Kamu masih sama, Nai."
Naira tersenyum. "Memangnya aku berubah?"
"Iya. Sedikit."
"Bagian mana?"
"Kamu sekarang lebih mandiri."
Naira tertawa kecil. "Mungkin karena aku terpaksa."
Ravian menatapnya. "Aku minta maaf."
Naira berhenti tersenyum. Ia tahu apa yang sedang dibicarakan Ravian. "Jangan minta maaf, Rav."
"Aku harus mengatakannya."
"Nggak perlu."
"Naira..."
"Aku sudah menerima semuanya."
Ravian menatapnya lama. "Benarkah?"
Naira mengangguk. "Iya."
Padahal di dalam hatinya, luka itu belum sepenuhnya sembuh. Tetapi Naira tidak ingin Ravian melihatnya. Ia tidak ingin dikasihani. Tidak ingin dianggap sebagai perempuan yang masih menunggu. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa baik-baik saja.
Ravian menghela napas. "Aku cuma tidak ingin kehilangan kamu sebagai teman."
Naira menatapnya. "Kamu nggak akan kehilangan aku."
"Janji?"
Naira tersenyum. "Janji."
Namun ketika mengatakan itu, Naira merasakan sesuatu yang aneh. Dulu, mendengar Ravian berkata takut kehilangan dirinya akan membuat hatinya berbunga-bunga.
Sekarang... kalimat itu hanya membuatnya sedih. Karena akhirnya ia mengerti. Ravian memang peduli. Tetapi kepedulian tidak selalu berarti cinta.
Setelah makan siang, Ravian mengantar Naira kembali ke butik. Sebelum Naira turun dari mobil, Ravian berkata: "Kalau kamu butuh apa pun, hubungi aku, ya."
Naira tersenyum. "Ok, Rav."
"Jangan memaksakan diri."
"Iya."
"Dan jangan terlalu sering pulang malam."
Naira tertawa. "Kamu seperti kakakku saja."
Ravian ikut tertawa. "Aku serius, Nai."
"Aku tahu, Rav."
Naira membuka pintu mobil. Namun sebelum turun, Ravian kembali memanggilnya. "Naira."
"Ya?"
"Kalau suatu hari kamu merasa sedih..." Ravian terdiam sejenak. "Kamu boleh cerita kepadaku."
Untuk sesaat Naira tidak mampu menjawab. Ia hanya tersenyum. "Terima kasih, Ravian."
Kemudian turun dari mobil. Ia berdiri di trotoar sampai mobil Ravian menghilang dari pandangan. Senyumnya perlahan menghilang. Naira menarik napas panjang.
"Kenapa masih sakit rasanya?"
Ia menunduk. Bukankah ia sudah mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja? Bukankah ia sudah berjanji untuk melupakan? Lalu kenapa satu percakapan singkat dengan Ravian masih mampu membuat dadanya sesak?
Naira mengusap sudut matanya sebelum air mata sempat jatuh. "Tidak." Ia menarik napas. "Aku tidak akan menangis."
Kemudian Naira pun masuk ke dalam butik.
----------
Sore hari, Naira sedang bekerja ketika ponselnya berbunyi. Pesan dari Ravian: ''Jangan lupa makan malam.''
Naira membaca pesan itu. Kemudian tersenyum kecil. Jarinya mengetik: ''Iya. Kamu juga.''
Ia hampir menekan tombol kirim ketika sebuah suara terdengar dari belakang. "Siapa itu?"
Naira terkejut. Ia buru-buru mematikan layar ponselnya. Mikael berdiri di belakangnya.
"Ya ampun!"
Mikael tertawa. "Aku cuma bertanya."
"Jangan suka muncul tiba-tiba begitu."
"Aku sudah memanggilmu, Nai."
"Kapan?"
"Aku sudah memanggilmu dua kali."
Naira menghela napas. "Ada apa El?"
Mikael mengangkat sebuah map. "Ini revisi dari tim desain."
Naira mengambilnya. "Ok. Terima kasih."
Mikael tidak langsung pergi. Ia memperhatikan wajah Naira. "Kamu habis menangis?"
Naira langsung mengangkat wajah. "Tidak."
"Mata kamu merah."
"Ini karena kurang tidur."
Mikael tidak percaya. Tetapi ia tidak memaksa. "Baik."
Naira menatapnya. "Masih ada yang lain lagi?"
"Tidak ada, Nai."
Mikael hendak pergi. Namun ia berhenti. "Naira."
"Ya?"
"Kalau kamu sedang sedih..." Mikael terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Kamu tidak harus selalu bilang baik-baik saja."
Naira terdiam. Mikael melanjutkan langkahnya. Naira memandang punggung pria itu. Aneh. Kenapa kalimat sederhana dari Mikael justru terasa begitu dalam?
Ia kembali melihat ponselnya. Pesan Ravian masih terbuka. Jangan lupa makan malam.
Naira menghela napas. Dua pria. Dua perhatian yang berbeda. Dan Naira belum menyadari bahwa salah satu dari mereka perlahan akan menjadi bagian paling penting dalam hidupnya.
Untuk sekarang, ia hanya ingin menyembuhkan hatinya. Tidak ingin mencintai siapa pun lagi. Tidak ingin berharap lagi. Karena bagi Naira, cinta hanya pernah mengajarinya satu hal, berharap terlalu tinggi akan membuat jatuh terasa jauh lebih sakit.
mudah2an cocok 💪