Spin-of Baby's breath untuk Aretha
Arlo dan Queena sudah bersahabat sejak kecil, sebenarnya di bilang sahabat juga bukan atau lebih tepatnya musuh bebuyutan. Lebih pada Queena adalah sasaran empuk kejahilan dan kenakalan Arlo, si cantik putri dari pasangan Rega dan Rhea tersebut sudah menjadi target keusilan putra Hana dan Leo sedari Queena masih bayi.
“Apa? Mi-mom jangan bercanda, ya!” Arlo terkejut saat mi-mom Hana memberikan usulan untuk menikahkan Arlo dan Queena diusia mereka yang masih muda.
Arlo mengusak rambutnya frustasi, kecerobohannya memanjat balkon kamar Queena membuatnya terjebak dalam situasi yang membuat kedua orang tuanya dan orang tua Queena murka. Dan satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah kakak sepupu Arlo yang tidak lain adalag Gavin.
Lalu apa alasan Arlo dan Queena menyembunyikan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5 # Lawan sepadan Arlo
Arlo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menghadapi Azura ternyata lebih susah dari pada menghadapi Aqila adik kandungnya. Baru kali ini Arlo kalah telak, bukan kalah dari orang dewasa. Melainkan bocil yang baru berusia empat tahun.
“Punya energi lebihan berapa sih bocah, padahal tadi bilang lapar. Tapi masih bisa pecicilan,” gumam Arlo yang melihat Azura masih terlihat lincah, adik Aretha dan Enzo tersebut seolah tidak punya rasa lelah.
“Abang Allo Bandung lelet cekali. Nanti makanannya habic, Zula ndak bica pecan banak. Pelut cudah kedomblengan,” teriaknya karena Arlo berjalan lambat di belakangnya dan Queena.
“Iya-iya. Heran bocil satu berisik amat,” gerutu Arlo, dia berlari menghampiri Azura dan Queena.
Queena menoleh, dia mengepalkan tangan kiri. Queena mengarahkan nya ke hadapan mulut Arlo. “Bagaimana testimoni anda, tuan muda Arlo?” Queena seolah sedang mewawancarai pemuda yang berjalan di sampingnya tersebut, lebih tepatnya dia sedang meledek Arlo.
Arlo berdecak. “Masih mending ngerjain tugas dari dosen killer,” ucapnya membuat Queena tergelak puas.
“Tapi masih mendingan Azura, dari pada harus ngadepin kamu. Anaknya mi-mom Hana,” Queena kembali meledek Arlo. “Kali ini kamu aman, Queen. Lihat besok,” balas Arlo dengan senyum smirk.
“Ini beldua malah ngoblol. Di bilang pelut Zula cudah kedomblengan,” protes Azura.
“Siap tuan putri. Kita masuk ke dalam,” Arlo langsung meraih Azura dan menggendongnya agar bocah itu diam. Mereka masuk ke dalam cafe yang ada di dalam mall.
Kepala Arlo bahkan sudah nyut-nyutan, menghadapi Azura ternyata lebih melelahkan dari pada menghadapi Aqila. Masih untung Queena tidak secerewet Azura, bisa Arlo bayangkan kalau gadis itu juga cerewet. Sudah pasti dia akan mendapatkan double kill, setelah ini bisa-bisa Arlo yang tantrum karena stress menghadapi dua perempuan beda generasi tersebut.
Mereka duduk di tempat yang sudah Queena pesan, dia sengaja memesan tempat lebih dulu karena membawa Azura. Queena harus membuat sepupu kecilnya tersebut nyaman, karena itu Queena memilih privat room di cafe flower yang ada di dalam mall.
“Abang Allo Bandung duduk di cana! Ini kulcinya Zula,” gadis kecil itu menaruh kedua tangan mungilnya di kursi yang ada di sampingnya.
“Lhah! Kamu kan sudah duduk di kursi sendiri,” heran Arlo pda sepupu kecil Queena tersebut. “Ndak boleh ya ndak boleh. Huch...huch cana duduk camping pak kucil, eh?” Azura memiringkan kepalanya. “Camping kakak Ueena makcud Zula,” lanjutnya.
Arlo hanya bisa menghela napas, dia pindah duduk di sebelah Queena. “Apa?” kesal Arlo saat Queena menatapnya. “Sensi amat, tuan muda ini. Silahkan duduk, tuan muda. Sebelum kursinya menolak,” Queena puas karena siang itu Arlo tidak bisa berkutik, jika biasanya pemuda itu yang selaku menjahili Queena. Siang itu Arlo kena batunya, karena pemuda itu sedang di jahili Azura.
Mereka bertiga belum memesan makan siang karena menunggu Gavin datang, Arlo memesankan mereka minuman lebih dulu. Dia sampai meminjamkan tabletnya untuk Azura, agar gadis kecil itu tidak tantrum. Namun belum ada sepuluh menit Azura sudah bosan, dia kembali mengoceh.
“Abang Allo Bandung ini ikhlac tidak cih ajak plincess makan ciang? Ini pelutnya Zula dianggulin, ndak di kacih jajan dulu. Cuma di kacih minum, abang Allo ke le, ya?” cerocos Azura.
“Heuh? Enak saja, abang punya uang. Banyak ini uangnya abang,” Arlo tidak terima di bilang ke re, dia mengeluarkan dompet dan membukanya. “Lihat! Abang punya uang,” dia menunjukkan beberapa uang lembaran yang ada dalam dompetnya.
Azura manggut-manggut. “Bolehlah nanti Zula minta catu mini malket,” celetuknya santai sambil menggoyangkan kakinya yang menggantung di kursi.
Queena kembali tertawa puas melihat Arlo tidak berkutik saat bersama Azura. “Telepon bang Gavin gih! Sebelum itu rambutmu berubah jadi warna putih,” seloroh Queena.
Arlo membuka kunci layar ponselnya, memang tidak bisa jika dia harus berlama-lama berhadapan dengan bocil luar biasa satu itu. Dia juga harus minta pertanggung jawaban Gavin, karena sudah membuat dirinya stress menghadapi Azura.
***
“Sorry. Aku lupa kalau ada janji dengan kalian,” Gavin baru saja sampai, dia terlambat datang karena lupa.
“Ekhee...abang ganteng yang waktu itu,” celetuk Azura, gadis kecil itu memang pernah tidak sengaja bertemu dengan Gavin.
Gavin tersenyum lembut. “Abang boleh duduk di sini?” tanya Gavin, dia menunjuk kursi kosong di samping Azura. “Eum,” Azura mengangguk, dia mengijinkan Gavin duduk di sampingnya.
“Ck... tadi saja aku mau duduk di situ tidak boleh. Giliran bang Gavin di kasih,” protes Arlo.
Azura menutup mulutnya dengan kedua tangan, gadis kecil itu terkikik. “Abang na lebih ganteng dali abang Allo, wlee!”
“Ya ampun. Ketimbang duduk ini doang drama banget,” sahut Queena membuat Arlo berdecak kesal.
“Iya. Abang Allo Bandung memang banak dlamanya,” tambah Azura.
“Ini bocah satu ikutan mulu,” gemas Arlo yang hanya bisa mencu bit udara karena gemas pada Azura.
“Princess panggil dia Allo Bandung?” tanya Gavin, melihat Azura seperti kembali melihat Aretha waktu usia empat tahun. Azura layaknya kloningan Aretha.
“Eum... ciapa culuh nama na cepelti lagu nacional,” jawab Azura santai.
“Arlo, cil... Arlo, namaku Arlo bukan Allo. A-R-L-O... Arlo,” eja Arlo memberitahu Azura.
“Zula bilang Allo Bandung ya Allo Bandung,” balas Azura.
Gavin dan Queena tergelak, privat room di cafe tersebut mendadak ramai karena mereka bertiga yang menertawakan Arlo. Kakak dari Aqila tersebut hanya bisa pasrah, dia benar-benar kalah dari anak kecil.
Siang itu Arlo dan Queena menemani Gavin yang sedang bernegosiasi dengan bocah berusia empat tahun, mulut Arlo sampai terbuka lebar mendengar setiap kata yang keluar dari bibir mungil bocah empat tahun tersebut. Dia tidak akan percaya kalau tidak mendengarnya sendiri, bocah sekecil itu sudah bisa tawar menawar dengan orang dewasa.
“Ini serius bocah empat tahun, Queen? Dia itu sedang menukar kakaknya dengan harta?” bisik Arlo pada Queena.
Queena mengangguk. “Sudah belajar bisnis sejak di perut mommy Rena,” jawab Queena, Arlo mungkin lupa siapa Azura. Putri bungsu kesayangan pasangan Damian Axelio Huan dan Rena Federick, adik dari Aretha dan Kenzo (Enzo). Salah satu ahli waris kerjaan bisnis besar keluarga Damian Huan dan Federick. Tentu saja gadis kecil itu paham tentang bisnis dalam versi dirinya sebagai anak-anak.
Setelah di buat melongo, kini Arlo tertawa mendengar permintaan Azura pada Gavin. Serupa namun tak sama, itulah yang Arlo pikirkan. Untung tadi dia cuma minta isi mini marketnya doang. Kalau se mini marketnya, tamat lah sudah diriku ini. Dia mengusap dadanya sendiri saat mendengar Azura minta di belikan mini market pada Gavin, sebagai imbalan dari membantunya menjadi mata-mata Gavin yang sedang mengusahakan untuk menjadikan kakak Azura pendamping hidup.