NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5.

Satu Kelompok, Banyak Cerita

Pelajaran Bahasa Indonesia baru saja dimulai. Guru yang mengajar, Bu Ratna, masuk ke dalam kelas dengan membawa lembaran kertas di tangannya. "Anak-anak, hari ini kita akan mulai proyek makalah dan presentasi. Agar pekerjaan kalian lebih ringan, saya bagi menjadi beberapa kelompok beranggotakan lima orang," ucap Bu Ratna dengan suara tegas namun ramah.

Suasana kelas langsung riuh rendah. Beberapa siswa berbisik-bisik menebak siapa teman sekelompok mereka nanti. Rara menatap Aisyah dengan mata berbinar. "Semoga kita satu kelompok ya," bisiknya berharap. Aisyah hanya mengangguk sambil tersenyum, berharap hal yang sama.

Di sudut lain, Laras duduk tegak, matanya tak lepas dari Bu Ratna. Dalam hatinya ia berdoa sekuat tenaga, "Tolonglah, tolong jadikan aku satu kelompok dengan Dimas. Ini kesempatanku!" Ia sudah membayangkan betapa indahnya bisa bekerja sama dengan cowok idamannya seharian penuh, pastinya kedekatan mereka akan terjalin lebih erat lagi.

Bu Ratna mulai membacakan nama-nama satu per satu. "Kelompok satu Bima, Citra, dan teman-temannya..." Laras mendengarkan dengan cemas, jantungnya berdegup kencang setiap kali nama disebutkan. Hingga akhirnya...

"Kelompok tiga Dimas, Laras, Aisyah..."

Belum selesai Bu Ratna berbicara, Laras langsung melonjak kegirangan di tempat duduknya. Wajahnya berseri-seri luar biasa, senyumnya merekah lebar sampai ke telinga. "Ya ampun! Gue satu kelompok dengan Dimas!" serunya pelan namun penuh sukacita. Ia merasa seolah mimpi indah menjadi kenyataan. Benar-benar keberuntungan yang luar biasa, pikirnya. Pasti ini tanda bahwa takdir sedang memihak padanya. Ia yakin sekali, dengan satu kelompok seperti ini, ia bisa berinteraksi lebih sering, berbicara lebih banyak, dan perlahan memenangkan hati Dimas.

Namun Bu Ratna belum selesai menyebutkan nama. "...dan Rara," lanjutnya tenang.

Laras yang tadinya tersenyum lebar seketika mengerutkan kening. "Rara juga?" gumamnya pelan, ada rasa kecewa menyelinap di hati. Tapi ia segera menggelengkan kepala, menyisihkan perasaan itu. Tak apa, yang penting Dimas ada di sini, sisanya hanya detail saja, pikirnya menenangkan diri.

Rara sendiri terbelalak tak percaya. Ia menatap Aisyah yang juga sedang menatapnya dengan mata terbelalak. "Kita... satu kelompok juga?" tanya Rara pelan. Aisyah mengangguk, masih sulit mempercayai kebetulan ini. Ternyata lima orang di kelompok tiga adalah Dimas, Laras, Aisyah, Rara, dan Arga. Benar-benar susunan yang tak disangka-sangka.

Setelah selesai pembagian nama, Bu Ratna menyuruh setiap kelompok berkumpul di satu meja. Laras bergegas bangkit dari tempat duduknya, berjalan cepat menghampiri meja tempat Dimas sudah duduk bersama Arga. Langkahnya ringan, wajahnya memancarkan semangat tinggi.

Sesampainya di sana, Laras duduk tepat di sebelah Dimas. Ia menarik napas pelan, lalu berbicara dengan nada yang sengaja dibuat lembut dan penuh penyesalan. "Dimas... sebentar ya, aku mau minta maaf dulu sama kamu," ucapnya pelan. Dimas menoleh ke arahnya dengan tatapan bertanya-tanya.

"Maksudnya?" tanyanya sopan.

"Tentang bekal kemarin?," jelas Laras sambil menunduk sejenak, seolah benar-benar merasa bersalah. "Aku benar-benar tidak tahu kalau kamu kurang suka dikasih-kasih begitu secara tiba-tiba. Aku cuma bermaksud baik, takut kamu belum sarapan. Maaf ya kalau sikapku kemarin bikin kamu tidak nyaman. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."

Dimas menatap wajah Laras sejenak, lalu menyunggingkan senyum yang tulus namun tetap menjaga jarak. "Tidak apa-apa kok, Laras. Aku mengerti niatmu baik. Terima kasih sudah perhatian. Tidak perlu merasa bersalah berlebihan seperti ini," jawabnya tenang. Ia tidak berniat menyimpan dendam atau mempermasalahkan hal itu lagi.

Melihat senyum Dimas, hati Laras kembali berbunga-bunga. Baginya itu adalah tanda bahwa Dimas tidak membenci dirinya. Ia pun duduk dengan nyaman, menunggu Rara dan Aisyah datang bergabung.

Tak lama kemudian, Rara dan Aisyah berjalan mendekat. Rara melihat ekspresi bahagia Laras dan cara dia duduk menempel terlalu dekat dengan Dimas, membuatnya merasa tidak nyaman lagi. Ia berusaha menahan diri, tapi rasanya sulit sekali.

"Baiklah teman-teman, mari kita mulai pembagian tugas," buka Aisyah dengan nada tenang, berusaha mencairkan suasana. "Tema makalah kita adalah 'Keberagaman Budaya di Indonesia'. Menurutku kita bagi saja menjadi beberapa bagian: pendahuluan, isi pembahasan, penutup, dan persiapan materi presentasi. Bagaimana menurut kalian?"

Laras langsung angkat bicara dengan antusias. "Aku mau bagian yang mencari data dan contohnya saja ya. Itu kan seru, banyak jalan-jalan cari referensi," katanya sambil melirik Dimas. "Kalau Dimas gimana? Pilih bagian mana? Kalau boleh tahu, aku bisa bantu apa saja yang kamu kerjakan lho."

Dimas tersenyum sekilas. "Aku ambil bagian penyusunan isi dan penulisan kesimpulan saja. Itu yang paling penting agar materinya jelas," jawabnya.

Rara yang mendengar itu tak bisa menahan ucapan lagi. Ia menatap Laras dengan nada sedikit menyentil. "Sebaiknya kita mengerjakan tugas masing-masing dengan sungguh-sungguh ya, Laras. Jangan sampai ada yang tugasnya belum selesai malah sibuk mencari perhatian orang lain atau mendekati teman sekelompok dengan cara yang berlebihan. Tugas ini dinilai kelompok, kalau satu orang lalai, kita semua yang rugi," ucap Rara tegas namun sopan, tapi matanya tajam menatap Laras.

Wajah Laras seketika berubah merah padam menahan marah. Ia langsung menatap tajam ke arah Rara. "Hei, lo ngomong apa sih? Gue kan cuma mau ramah dan menawarkan bantuan! Kenapa kamu malah menuduh gue macam-macam? Lo ini cemburu ya lihat gue akrab sama Dimas?" balas Laras dengan suara sedikit meninggi, membuat beberapa siswa di dekat mereka menoleh.

Rara tidak mundur sedikit pun. "Gue cuma mengingatkan agar kita fokus pada tugas, bukan urusan pribadi. Lihat saja sikap lo dari tadi, seolah-olah tugas ini cuma alasan buat kamu mendekati Dimas. Kalau mau berubah jadi baik, tunjukkan lewat kerja keras dan sikap yang tulus, bukan cuma senyum-senyum manis di depan orang lain," balas Rara tak kalah tajam.

"Lo itu yang kurang ajar!" Laras berdiri dari tempat duduknya, tangannya mengepal menahan amarah. "Lo tidak tahu apa-apa tentang aku, jadi jangan sembarangan menghakimi! Kemarin gue memang salah, tapi bukan berarti gue tidak boleh berubah dan berusaha bersikap baik sekarang!"

"Kalau berubah harusnya terlihat wajar, bukan mendadak begitu!" sahut Rara berdiri juga. "Semua orang bisa melihat kalau sikapmu itu dibuat-buat!"

"Sudah... sudah! Jangan berantem begini!" Dimas segera berdiri di tengah-tengah mereka, memisahkan Rara dan Laras. Wajahnya terlihat serius. "Kalian ini apa-apaan sih? Kita baru mau mulai kerja sama, kok sudah ribut sendiri? Buat apa satu kelompok kalau tidak saling menghargai?"

Aisyah ikut menenangkan dengan menepuk pelan bahu Laras dan Rara bergantian. "Duduk dulu ya, tenangkan diri. Kita kan teman sekelas, teman sekelompok. Kalau ada yang tidak pas di hati, bicarakan baik-baik, tidak perlu pakai emosi tinggi," ucap Aisyah lembut namun tegas.

Arga ikut menimpali. "Benar kata Aisyah. Tugas ini penting buat nilai kita semua. Mari kita selesaikan dulu urusan pekerjaan, baru urusan lain nanti dibicarakan. Jangan sampai masalah kecil merusak suasana."

Perlahan kemarahan mereka mereda. Laras duduk kembali dengan wajah cemberut, menundukkan kepala. Rara juga duduk, napasnya masih terasa sedikit berat. Ia tahu tadi ucapannya agak tajam, tapi ia tidak suka melihat Laras memanfaatkan tugas kelompok hanya untuk kepentingan pribadinya.

Suasana menjadi hening sejenak. Akhirnya Dimas memecah keheningan. "Baiklah, mari kita mulai lagi. Aku harap setelah ini kita bisa saling menghargai perbedaan pendapat. Laras, tolong nanti kumpulkan data paling lambat hari Rabu. Rara, kamu bantu Aisyah menyusun pendahuluan dan daftar pustaka. Arga bantu aku menyusun isi materi. Setuju?"

Mereka semua mengangguk pelan. Meskipun masih ada rasa canggung dan kesal yang tersisa, mereka tahu bahwa tugas ini harus diselesaikan bersama. Dan di dalam hati masing-masing, terselip harapan kecil semoga ke depannya kerja sama ini berjalan lebih baik, dan mungkin saja dari perbedaan ini, persahabatan yang baru bisa tumbuh perlahan.

 

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!