NovelToon NovelToon
Under The Autumn Canopy

Under The Autumn Canopy

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: air sungai

​Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
​Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Pendar Lampu Meja Mahoni

Langkah kaki para mahasiswa lain perlahan memudar di sepanjang lorong berkarpet tebal Perpustakaan Coldwell. Suara pintu kayu berat yang tertutup membelah kesunyian, menyisakan Rory dan Julian di dalam ruang diskusi yang kini terasa jauh lebih luas.

Suara kayu terbakar di perapian berdetak pelan, memancarkan kehangatan dan pendar jingga lembut yang menimpa separuh meja mahoni.

Rory berdiri di sisi meja, memegang tas ranselnya di satu bahu. "Berkas riset apa yang perlu saya tandatangani, Senior Radcliffe?"

Julian tidak langsung menjawab. Pria itu berdiri dari kursi utamanya, merapikan kemeja kerah tinggi berwarna hitamnya, lalu berjalan mendekati meja kecil di dekat perapian tempat teko porselen dan dua cangkir berdiri.

"Duduklah sebentar, Aurora," suara Julian terdengar jauh lebih rileks dibanding saat sesi diskusi tadi. Tidak ada nada perintah yang kaku, melainkan sebuah ajakan yang halus. "Bukan berkas riset. Saya hanya ingin menawarkan teh hangat sebelum kamu kembali ke asrama."

Rory menaikkan sebelah alisnya. "Teh?"

"Teh chamomile dengan sedikit madu," jawab Julian sambil menuangkan cairan emas beraroma menenangkan itu ke dalam dua cangkir. "Sangat bagus untuk meredakan stres setelah kamu membantai argumen empat rekan seangkatanmu tadi."

Rory menahan senyum tipisnya. Ia akhirnya melepaskan ranselnya ke atas kursi dan duduk di salah satu sofa kulit cokelat dekat perapian.

"Saya tidak membantai siapa pun, Senior. Saya hanya meluruskan efisiensi metode," balas Rory logis sambil menerima cangkir porselen yang diulurkan Julian.

Jemari mereka sempat bersentuhan singkat saat cangkir berpindah tangan. Sentuhan kulit Julian terasa hangat, kontras dengan hawa dingin yang sempat menyiksa di ujung jari Rory.

Julian duduk di sofa berhadapan dengan Rory, menyesap tehnya perlahan. Mata hazel-nya yang tajam kini tampak jauh lebih hangat dinaungi pendar perapian.

"Analisis yang kamu berikan tadi... soal sains yang tidak terjangkau adalah sains yang gagal," kata Julian pelan, menatap lurus ke dalam mata cokelat jernih Rory. "Itu bukan cuma teori dari buku teks, kan?"

Rory terdiam sejenak. Ia memutar cangkirnya pelan, memperhatikan uap hangat yang membumbung tipis.

"Realitas di luar tembok kampus elit ini tidak semanis teori di laboratorium, Senior," kata Rory jujur. "Banyak orang harus memilih antara membeli obat atau membeli makanan untuk esok hari. Jika seorang peneliti bisa menekan biaya produksi obat tanpa mengurangi efektivitasnya, kenapa kita harus menyulitkan mereka hanya demi gengsi atau paten yang mahal?"

Julian mendengarkan setiap patah kata itu dengan seksama. Di keluarganya dinasti Radcliffe yang terbiasa mengukur segala hal dari sudut pandang profit, pengaruh politik, dan nama besar pemikiran seperti yang dimiliki Rory adalah sesuatu yang asing, sekaligus sangat menyegarkan.

"Kamu memiliki cara pandang yang sangat langka, Aurora," gumam Julian. Suaranya terdengar begitu dalam. "Sebagian besar orang di tempat ini berlomba-lomba untuk kelihatan paling hebat. Kamu di sini hanya untuk menjadi paling berguna."

"Saya di sini untuk bertahan hidup dan menyelesaikan apa yang sudah saya mulai," jawab Rory dengan nada realistis khas dirinya. Ia menatap Julian balik. "Dan omong-omong, panggilan 'Aurora' rasanya agak terlalu formal kalau kita sedang minum teh santai seperti ini. Teman-temanku memanggilku Rory."

Julian tertegun sejenak. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis namun sangat tampan yang sanggup membuat siapapun salah tingkah.

"Rory," ulang Julian pelan. Nama itu meluncur dari bibirnya dengan begitu halus. "Baiklah. Dan kamu bisa memanggilku Julian... kalau kita sedang tidak berada di dalam kelas praktikum."

Jantung Rory berdesir halus saat mendengar namanya diucapkan oleh Julian dengan nada sesepai itu. Namun, dengan kontrol diri yang luar biasa, Rory mengangguk pelan tanpa memperlihatkan gejolak di dadanya.

"Diterima, Julian."

Pukul sepuluh lewat empat puluh menit. Jam di menara perpustakaan berdentang pelan.

Rory menghabiskan tegukan terakhir tehnya dan berdiri. "Saya harus kembali ke asrama. Jam malam asrama St. Margaret tinggal dua puluh menit lagi."

Julian ikut berdiri, menyambar mantel jasnya dari sandaran kursi. "Aku antar."

"Tidak perlu, Julian. Lorong utama terang dan saya bisa berjalan sendiri," elak Rory cepat, tidak ingin merepotkan atau memicu rumor di antara mahasiswa lain.

"Ini bukan tawaran, Rory. Ini tanggung jawabku sebagai senior yang menahanmu sampai larut malam," potong Julian tenang tapi tegas. Ia mengambil ransel berat milik Rory dari atas kursi sebelum Rory sempat menyambarnya.

Rory membelalakkan mata tipis. "Ranselku"

"Aku yang bawa," kata Julian santai, menyilangkan tali ransel Rory di salah satu bahunya yang tegap. Melihat pria aristokrat setampan dan seanggun Julian Radcliffe membawakan ransel kain lusuh milik mahasiswi tingkat satu adalah pemandangan yang sangat kontras sekaligus menggelikan.

Rory mendesah pasrah, namun ada rasa hangat yang tak dipungkiri merayap di dadanya. "Kamu benar-benar suka memaksakan kehendak ya?"

"Hanya untuk hal-hal yang penting," balas Julian ringan sambil membukakan pintu perpustakaan untuk Rory.

Mereka berjalan beriringan menembus lorong-lorong batu St. Jude’s yang sunyi. Angin malam meniup pelan, membawa aroma daun maple kering. Tidak ada kecanggungan di antara mereka, hanya kesunyian yang terasa nyaman dan pas.

Saat tiba di gerbang pelataran Asrama St. Margaret, Julian menyerahkan kembali ransel Rory.

"Terima kasih atas tehnya... dan bantuannya membawakan tas," kata Rory sambil menerima ranselnya.

"Terima kasih atas diskusinya malam ini, Rory," jawab Julian. Ia menatap Rory dengan tatapan yang sangat dalam. "Istirahatlah. Sampai ketemu di laboratorium hari Senin."

"Selamat malam, Julian."

Rory berbalik dan melangkah masuk ke dalam gedung asrama. Sebelum menghilang di balik pintu utama, ia menyempatkan diri menoleh ke belakang. Julian masih berdiri tegap di tempatnya di bawah lampu taman yang temaram, memandangnya hingga pintu benar-benar tertutup rapat.

Di dalam kamar asrama yang hangat, Gemma yang belum tidur langsung melonjak dari tempat tidur begitu melihat Rory masuk.

"Rory! Kamu baru pulang jam sebelas kurang?!" seru Gemma heboh. "Sesi diskusinya lama banget atau... ada sesi 'diskusi khusus' sama Asdos gantengmu itu?!"

Rory meletakkan ranselnya di meja, mengusap pipinya yang sedikit dingin karena angin malam, lalu menatap Gemma dengan raut wajah paling datar yang ia bisa bentuk.

"Kami cuma minum teh chamomile dan membahas efisiensi biaya modulasi enzim, Gemma," jawab Rory tenang.

Gemma membelalakkan mata, menunjuk wajah Rory. "Bohong! Pipimu agak merah, Aurora Vance! Jangan pikir kamu bisa mengeluh pakai istilah biokimia ya!"

Rory terkekeh pelan sebuah tawa manis yang jujur lalu menyambar handuknya untuk membersihkan diri, meninggalkan Gemma yang masih terus menggoda dan memekik penasaran di kamar.

Malam itu, di bawah selimut hangat asramanya, Aurora Vance menyadari satu hal: tembok pertahanan logis yang dibangunya selama ini mulai menemukan celah kecil, tepat di mana nama Julian Radcliffe perlahan menyelinap masuk.

1
stevany indri
maya sang cucu sj usianya sdh 50thn,,,, bgmn mgkn kejadian antara kakek Julian&nenek aurora terjd 50thn yg lalu... ada2 sj
stevany indri
aurora lahir thn 1969....kejadiannya thn 1968, bgmn mgkn terjd.... 😳
stevany indri
u maya... kakek&nenek tp u Julian junior mestinya uyut deh
Forta Wahyuni
maya tapi cucu, koq manggil ayah dan ibu n bingung thor. Julian cicit krn anak maya, hadeh suka2 thor lah. 🙏🙏🙏
Maya Elvin
siap kk👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!