*THE HEIR'S MISTAKE*
*Kesalahan Sang Pewaris*
Mereka tidak pernah ditakdirkan untuk saling mencintai.
Dia adalah pewaris keluarga terpandang. Dingin, arogan, dan punya reputasi buruk.
Pertunangan yang diatur kedua orang tuanya adalah mimpi buruknya.
Dia adalah gadis baik-baik, putri dari sahabat orang tuanya.
Sama-sama benci perjodohan ini. Sama-sama ingin bebas.
Sampai satu malam menghancurkan segalanya.
Alkohol. Amarah. Dan satu kesalahan besar.
Dia hamil. Tanpa pernikahan. Tanpa cinta.
Penuh benci dan malu, dia memilih pergi.
Menghilang selama 5 tahun. Membesarkan anak itu sendirian.
Bersumpah tidak akan pernah kembali.
Kini dia kembali. Lebih kuat. Lebih dingin.
Menggandeng tangan putra yang wajahnya mirip sekali dengan sang pewaris.
Dia tidak butuh istri.
Tapi dia akan melakukan apa saja demi anaknya...
Bahkan jika itu berarti berlutut di hadapan wanita yang bersumpah akan membencinya selamanya.
_Beberapa kesalahan tidak bisa dihapus.
Kau harus menikahinya._
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelas
# Sebelas
Hanum membisu ketika mendengar tiap kata yang keluar dari mulut pria yang ia benci, Leon. Pria tersebut nyatanya ingin merengut Sean, anak yang selama ini ia sembunyikan dari Leon.
“Kamu gak bisa lakuin itu!” Hanum rasanya engan menerima ide Leon. Meskipun memang secara biologis bahwa Sean adalah putri kandungnya, namun selama ini ia yang mengandung, melahirkan dan membesarkan Sean seorang diri.
“Aku bisa! Aku Ayahnya!” Tidak mau kalah dengan Hanum, lagi-lagi mereka terus berdebat. Ketika mereka bicara hanya akan ada perang sengit, perang kata dan tak ada yang mau mengalah. Semua merasa benar dengan ego mereka.
“Tolong Leon! Aku meminta untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Lepaskan kami!” Sepertinya Hanum benar-benar tidak ingin berurusan lagi dengan pria perusak masa depannya itu. Baginya kemunculan Leon hanya memperjelas noda kelam dalam masa lalunya. Hanya membuat lukanya semakin dalam, melihat Leon seperti melihat kejadian itu kembali.
Sebuah kejadian yang sempat membuatnya untuk menghakhiri hidup, hingga ia memutuskan pergi meninggalkan kediaman rumah orang tua Leon. Mengalami masa-masa sulit, tak tau ke mana kaki melangkah. Bila saja tak bertemu Mas Indra, mungkin hidupnya jadi apa, Hanum tak bisa membayangkannya.
“Minta lah yang lain, untuk itu aku tak bisa mengabulkan.”
“Leon!” Hanum marah karena Leon masih saja tak mau melepas dirinya.
“Apa kamu belum puas juga melihat aku menderita?”
“Beri aku kesempatan Hanum! Aku akan menebus kesalahanku, aku akan memperbaiki semuanya.”
“Apa yang akan kamu perbaiki? Semua sudah hancur karena ulahmu malam itu!”
Leon tertunduk lesu, entah harus dengan cara apa agar hati gadis yang dipenuhi kebencian itu bisa luluh.
Keduanya terus saja beradu argumen, hingga menimbulkan keributan yang membuat Sean kembali bangun.
“Ma...!” panggil Sean, bibir mungilnya terus saja memanggil nama Mamanya.
“Iya, Sayang. Mama di sini. Mana yang sakit?” Bila semula emosi Hanum meletup-letup seperti lahar yang siap tumpah. Kini ia seperti memiliki kepribadian yang berbeda, di depan Sean, Hanum jadi sosok lembut dan penuh kasih.
Leon yang melihat perbedaan sikap Hanum, merasa miris sendiri. Mengapa bila bicara dengannya Hanum selalu emosional. Padahal wanita dengan hati yang lembut itu terlihat penyayang dan hangat.
‘Ah mungkin aku yang terlalu jahat padanya, sepertinya dosaku sudah tak termaafkan!’ batin Leon sambil menatap Sean yang dibelai sayang oleh Mamanya.
“Pulanglah!” seru Hanum sambil menengok ke belakang. Rupanya ia masih ingin mengusir Leon. Wanita itu ingin Leon jauh-jauh darinya.
“Kepalaku pusing, mungkin karena transfusi tadi!” Leon mencari alasan agar bisa tinggal lebih lama lagi. “Aku akan tidur di sini malam ini!” tambah Leon.
Hanum lantas berbalik setelah mendengar ucapan pria tersebut.
“Leon! Ini bukan penginapan. Tidurlah di hotel saja!” ujarnya sambil menatap tajam dan tak suka.
“Sean, Papa boleh tidur di sini?”
‘Papa?’ Hanum menyatukan alis matanya yang seperti bulan sabit. Batinnya bergejolak, apa-apaan Leon ini. Papa apanya!
Sean yang merasa namanya dipanggil, langsung menoleh ke arah Leon. Pria asing yang mengaku sebagai ayahnya. Anehnya, Sean malah mengangguk, apa lagi ketika Leon mengedipkan sebelah mata padanya.
“Kamu lihat? Sean bahkan tak keberatan!”
“Untuk apa kamu bertanya pada anak umur tiga tahun yang tidak tahu apa-apa?” Hanum makin melotot. Terlihat sekali ia tidak menyukai kehadiran Leon di dalam ruangan ini.
Tidak peduli dengan celotehan Hanum yang terus saja mengusirnya, Leon justru membaringkan tubuhnya di sofa warna navi tersebut.
Karena tak berhasil mengusir Leon yang keras kepala, mau tidak mau Hanum pun membiarkan Leon. Terserah, ia kini akan menganggap Leon tidak ada.
Esok harinya, Leon baru bangun. Dilihatnya Sean sedang disuapin makan oleh ibunya. Melihat itu ia jadi ingat dengan Mamanya.
Akhirnya ia mendapat ide, Leon pun menghubungi sang Mama. Mungkin Mama akan bisa membujuk kerasnya hati Hanum. Mama kan paling bisa mengambil hati orang, apalagi bila Mama tahu bahwa sekarang punya cucu. Leon tak bisa mengira, betapa ekspresi apa yang akan diluapkan sang Mama.
“Ma!” Leon sedang bicara di telpon. Tak jauh dari sana, Hanum dapat mendengar. Lebih tepatnya Hanum sedang menguping pembicaraan Leon dengan mamanya.
‘Sepertinya, aku harus membawa Sean pergi dari sini!’ batin Hanum, ia sudah memiliki firasat buruk. Jangan-jangan Leon meminta tolong pada mamanya untuk menekan dirinya.
“Mama datang ke alamat yang Leon kirim, ya.”
“Ngapain kamu di rumah sakit?” Mama membaca alamat yang Leon kirim.
“Sudah, Mama datang ke mari. Sekarang.”
Cemas, Mama gak tanya-tanya lagi. Ia lantas meminta sopir untuk mengantar ke rumah sakit. ‘Kenapa lagi nih, Anak?’ gumam Mama.
Setelah selesai bicara dengan mamanya, Leon menyimpan ponselnya. Tak jauh dari sana, Hanum menatap dirinya.
“Kamu meminta Tante datang ke sini?”
“Biarkan saja, Mama pasti senang melihat cucunya.”
Hanum mendesis, situasinya makin tak menguntungkan. Bila Tante tahu ia melahirkan seorang anak dari benih Leon, maka kesempatannya untuk kabur dari kehidupan keluarga itu makin sulit. Leon benar-benar membuat hidupnya makin sulit.
Tidak ingin Mama Leon menghalangi kepergiannya, Hanum mengambil tas. Mengemasi barang-barangnya.
“Kamu mau ke mana?”
“Aku akan pergi sebelum Tante datang, aku yakin sekali tante akan menahan Sean.”
“Hanum, kamu mengapa ingin sekali memisahkan kami?”
“Bukankah sebelumnya juga tak apa-apa tanpa kehadiran kami? Aku mohon, biarkan aku hidup dengan tenang!”
“Ma...!” Sean merengek, dua orang itu ribut terus dari kemarin. Membuat anak itu jadi setres, keributan yang terus terjadi sangat berpengaruh buruk untuk kesembuhannya.
“Iya, sayang.” Hanum memeluk tubuh Sean, seolah tak ingin ada orang yang merengut putrinya. Setelah menenangkan Sean, Hanum kembali lagi membereskan barang-barangnya.
“Sean belum pulih, jangan ke mana-mana!” Leon menarik tas yang di bawa Hanum. Membuat tas itu jatuh dan sebagainya isinya tumpah ke lantai.
Kesal, Hanum memasukkan lagi semuanya ke dalam. Leon pun berjongkok, membantu memasukkan barang-barang yang berserakan itu. Tidak sengaja tangan mereka bertemu, Hanum yang masih marah, menarik tangannya dengan kasar.
Leon hanya bisa menahan napas, sebenarnya sebesar apa kebencian Hanum padanya? Rasanya mungkin tak terhingga.
Karena Leon menghalangi dirinya, terpaksa Hanum menahan inginnya. Dengan jengkel ia tak bisa ke mana-mana.
Cekrek
Mama langsung masuk ke ruangan Sean, sebelumnya ia sudah dikirimi pesan singkat. Jadi Leon hanya mengatakan dia di rumah sakit di kamar anggrek nomor 8.
“Leon!”
Begitu kepalanya menyembul di balik pintu, ia langsung memanggil nama putranya. Matanya terbelalak, bibirnya bergetar saat melihat siapa yang ada di balik pintu yang belum terbuka sempurna itu.
“Hanum?”
dan Leon sudah tidak di marahin lagidi usir di dorong dan tidak pakai baju ya hanya koloran saja wong kadung nesu ga ngertio ulah calon Leon Junior 👍👍🌹🌹😂😂
Su TREMOSI. hampir meledak kaya gunung Krakatau ,,, memuntahkan lahar koyo wedus gembel 😆 gregeten sama dua orang itu,,,,sudah di panghil sayang ga terima,,,di galak i mewek,,,di belani hanya pakai kolor ijo. ngopo ga pakai kaca mata riben nya Hanum Leon,,,,,biar kocak. ,
coba acak cerita bagaimana awal ketemu nya ,,,tapi lagi senang ketemu pak Su nya beruntung Lo ga di bikin amnesia. sapa sang jawara penulis 😂 baik Lo Jeng Sept
wong di buat jebur berenang lama,,
mempermain kan wanita Ahir sekarang
sedang di uji,, kasian Hanum dan Shian
sabar ya shean ,,,jadi kantor nya siapa yang pegang,,,apa di jarah
anak dan istrinya berpisah dalam keadaan tidak tau mati opa urip,,,😭😭 penuh air mata
namanya juga pELaKoR dan dia juga mau balas dendam menggunakan anak pria lain dodol kuprettt Leon,,,
Leonardo ko ga cerds si sewa dong mata mata,,,masa percaya begitu saja. dan jujur pah agar ada tempat untuk curhat jangan
malah jadi takut,,, justru malah ketauan
bobrok nya cerdas dong Leon. jangan terlbat,,,,ehhh protes sama penulis nya keles 😄😄 ngapa sama Leonardo di ke
pruk i,,😈😈
berat Leon. menjaga hati sang istri dan buah hati,,,
dengan sendirinya lebih baik jujur dan seperti tadi bilang seandainya terjadi sesuatu di masa lalu jangan tinggalkan Ak ya Hanum gitu dan jangan bawa Sean,,,
ya katakan juga mengapa baru bilang ya
karena baru tau dan yang tau justru mama Yesi ,,,
seandainya tau ternyata kebaikan Leon
saat ini ada Nido besar di masa lalu kini,,
tinggal menunggu Bom nya meledak ,,,,
beruntung Hanum tidak keluar dari kerjanya. jadi apabila kelak terjadi percekcokan karena masa lalu sang Suami sebagai pemain wanita ternyata membuahkan anak laki-laki tak berdosa,,,
berarti lebih cerdas Hanum. memang si di tolong Hendra. tetapi tidak pacaran apa
lagi menikah,,,lebih baik hanya hidup berduaan dengan putrinya,,
yang sudah sudah kalau abis bahagia biasanya di bikin sedih sengsara. mudah mudahan kali ini ga ya kasian sudah sama sama menderita 4 th dah cukuplah tinggal meraih kebahagiaan saja,,,,tapi masih ada Anak nya Zura bikin dah dig dug derrrr,,,,
menyesal karena merusak Anak gadis
wanita yang sangat di kenal,,,duh kayanya akan ada perang dunia ke empat 😂👍
semoga Leon benar' benar insyaf ,,,menjadi suami dan Ayah terbaik dan Mama Yesy. menjadi orang tua yang sangat bangga 👍🤲🤲♥️♥️