Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dijebak dan difitnah oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa melarikan diri dalam keadaan terluka, Reno terpaksa menyembunyikan identitas aslinya dan menjadi menantu numpang yang dihina di keluarga Pramudya. Di mata ibu mertua dan orang-orang kota, ia hanyalah pria miskin tak berguna yang hanya bisa mencuci piring dan menerima makian.
Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa penyamaran miskin itu adalah cara Reno menguji hatinya sekaligus memulihkan teknik kultivasi kuno "Sutra Naga Kuno" demi menyelesaikan ujian kesembilan dari organisasinya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya yang matrealistis memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan wanita itu dengan seorang tuan muda kaya yang sombong, Brandon Pratama. Di hari yang sama ketika surat cerai dilemparkan ke wajahnya, masa pengasingan Reno resmi berakhir! Kelompok elit terkaya dan terkuat di dunia—Grup Naga Hitam—berlutut menyambut kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: KEHANCURAN KELUARGA PRATAMA
Bagas memutar kemudi mobil mewahnya, meninggalkan Maya dan Hendra yang melongo di tengah guyuran hujan.
Sementara itu, di lantai teratas gedung pencakar langit Markas Utama Grup Naga Hitam.
Suasana ruangan bernuansa hitam dan emas itu terasa sangat mencekam.
Reno duduk di kursi kebesarannya sambil menyesap teh hangat dengan tenang.
Di hadapannya, pintu ganda berlapis baja mendadak terbuka lebar.
Seorang pria paruh baya berjas mahal masuk sambil menyeret seorang pemuda yang babak belur.
Pria itu adalah Surya Pratama, penguasa Pratama Group sekaligus ayah kandung Brandon.
Brandon terseret di lantai dengan muka penuh memar dan napas terengah-engah.
"T-Tuan Muda Reno! Hamba memohon ampun atas kelakuan anak tak tahu diri ini!" teriak Surya langsung berlutut di atas karpet mewah.
Reno tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap dingin ke arah mereka berdua.
"Papi! Kenapa Papi berlutut sama gembel ini?!" teriak Brandon keras kepala, suaranya masih terdengar serak.
'Sialan! Nih orang cuma hoki dapet dukungan mafia!' batin Brandon membara penuh dengki.
Brakkk!
Surya langsung membalikkan badan dan menampar keras pipi Brandon.
"Tutup mulutmu, Anjing!" bentak Surya dengan mata memerah ketakutan.
"Tapi Pi! Dia cuma—"
Plak!
Satu tamparan lagi melayang ke wajah Brandon hingga sudut bibirnya kembali mengucurkan darah.
"Lu mau bikin seluruh keluarga Pratama punah, Hah?!" jerit Surya histeris.
Bagas yang berdiri di samping kursi Reno melangkah maju satu langkah.
"Tuan Pratama, Tuan Muda kami tidak punya banyak waktu untuk melihat drama keluarga kalian," bisik Bagas tajam.
Keringat dingin bercucuran deras di dahi Surya.
Dia tahu betul betapa kejamnya Grup Naga Hitam kalau sudah bertindak.
Jika dia tidak memberikan ketegasan malam ini, besok nama keluarga Pratama akan lenyap permanen dari peta dunia.
Surya mengambil pipa besi tebal yang dibawa salah satu pengawal di dekat pintu.
"P-Papi... Papi mau ngapain?!" jerit Brandon mulai panik setengah mati.
"Maafin Papi, Brandon. Ini demi menyisakan nyawa keluarga kita!" ucap Surya bergetar.
Brakkkk!
Surya mengayunkan pipa besi itu penuh tenaga, tepat menghantam tulang kering kaki kanan Brandon.
"Arggghhhh!" jerit Brandon histeris, suaranya melengking memenuhi seluruh ruangan.
Suara tulang patah terdengar sangat jelas di udara.
*Crakkk!*
Brandon berguling-guling di lantai sambil memegangi kakinya yang kini terkulai layu.
"Ampun Pi! Sakit, Pi! Ampunnn!" tangis Brandon pecah seketika.
Surya tidak berhenti. Dia kembali mengangkat pipa besi itu tinggi-tinggi.
Brakkkk!
Hantaman kedua mendarat telak di kaki kiri Brandon.
"Guaaarkkk!" Brandon berteriak sampai tenggorokannya serak, lalu pingsan tak sadarkan diri karena rasa sakit yang luar biasa.
Surya melempar pipa besi berdarah itu ke lantai, lalu kembali berlutut merangkak mendekati kaki Reno.
"Tuan Muda... Hamba sudah mematahkan kedua kakinya!" ratap Surya dengan kepala menempel di lantai.
"Tolong... tolong ampuni sisa keluarga kami!" tambah Surya memohon-mohon bagaikan pengemis.
Reno menatap tubuh Brandon yang tergeletak pingsan dengan pandangan tanpa emosi.
Dia meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kaca.
"Lu pikir hanya dengan patah kaki, semua dosa anak lu bisa lunas?" tanya Reno dengan suara datar namun menekan.
Deggg...!
Jantung Surya seakan berhenti berdetak mendengar ucapan Reno.
"T-Tuan Muda... apa maksud Anda?" tanya Surya terbata-bata dengan muka pucat pasi.
Reno melirik ke arah Bagas, memberi isyarat kecil dengan dagunya.
Bagas segera mengeluarkan sebuah dokumen berkas tebal bersampul hitam dan melemparnya tepat di depan muka Surya.
"Buka dokumen itu," perintah Bagas dingin.
Dengan tangan gemetaran hebat, Surya membuka lembaran demi lembaran berkas tersebut.
Matanya terbelalak lebar saat membaca isi surat kepemilikan saham dan akuisisi di dalamnya.
"T-Tidak... Ini tidak mungkin!" jerit Surya histeris.
"Mulai detik ini, seluruh saham, aset, properti, dan anak perusahaan Pratama Group resmi diakuisisi penuh oleh Grup Naga Hitam," tegas Reno dingin.
"Semua rekening pribadi atas nama keluarga Pratama telah dikosongkan tanpa sisa," tambah Bagas menyambung.
Surya terduduk lemas di atas lantai, tatapannya mendadak kosong seketika.
Kerajaan bisnis yang dibangun keluarganya puluhan tahun hancur total dalam hitungan detik.
Keluarga Pratama yang dulu paling disegani di kota ini, resmi jatuh miskin menjadi pengemis jalanan dalam semalam!