"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.
Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."
Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.
Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.
Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan Di Depan Pantry
Kringgg!
Denting alarm jam beker kecil di atas meja memecah keheningan pagi pukul lima tepat. Aura langsung mematikan alarm tersebut, duduk di tepi kasur busanya seraya mengumpulkan kesadaran. Luar jendela masih dihiasi langit gelap kebiruan dan udara pagi Tebet terasa begitu menusuk kulit.
Tanpa membuang waktu, Aura bangkit. Ia menyalakan setrika listrik tua miliknya, lalu dengan sangat hati-hati merapikan kemeja kerja dan rok bahan yang akan dikenakannya hari ini. Setelah pakaian kerjanya siap dan licin, ia segera membersihkan diri dengan mandi air dingin yang seketika menyegarkan seluruh tubuhnya.
Selesai berpakaian dan merias wajahnya dengan polesan tipis yang natural, pandangan Aura tertuju pada jas hitam mewah milik Arsen yang tergantung rapi di dekat lemari. Jas itu sudah ia angin-anginkan semalaman sehingga aroma sandalwood yang khas masih tercium lembut.
Kini, sebuah keraguan besar melanda pikirannya.
Bagaimana caranya membawa jas mahal ini ke kantor tanpa memicu kecurigaan staf lain?
Jika ia membawa jas itu begitu saja dengan paper bag atau ditenteng di tangan, pasti akan ada rekan kerja—terutama orang seperti Maya—yang melihat dan langsung menyebarkan gosip tak sedap. Lingkungan A&P Group sangat sensitif terhadap hal-hal seperti ini.
Aura memutar otak, hingga matanya menangkap sebuah tas ransel kain hitam polos yang berada di rak paling atas lemarinya. Itu adalah ransel yang sering ia pakai saat masih berkuliah dulu—cukup luas, bersih, dan berdesain sangat sederhana.
"Pakai ini saja," gumam Aura lega.
Dengan penuh kehati-hatian, Aura melipat jas mahal milik sang CEO dengan teknik lipatan rapi agar tidak lecek, lalu melapisinya dengan kantong kain bersih sebelum memasukannya ke dalam ransel. Payung hitam besar milik Arsen juga ia selipkan dengan rapi di kompartemen samping ranselnya.
Setelah memastikan penampilannya rapi dan ranselnya siap, Aura menggendong tas tersebut di bahunya. Meski tampak sedikit kontras dengan pakaian kerjanya yang formal, cara ini adalah satu-satunya pilihan paling aman untuk menjaga rahasia kecil di antara dirinya dan Arsenio Pratama.
Aura melangkah keluar dari kontrakan pukul 06:15 pagi, siap menyambut tantangan pertama: menyeduh kopi hitam tanpa gula tepat pukul delapan di lantai paling atas.
Aura melangkah cepat melintasi lobi A&P Group yang masih tampak lengang. Jarum jam dinding di lantai empat baru menunjukkan pukul 07:15 pagi—suasana kantor masih sepi, hanya ada beberapa petugas kebersihan yang sedang merapikan area koridor.
Tanpa membuang waktu, Aura langsung mengarahkan langkahnya menuju pantry utama. Ransel hitam berukuran besar di punggungnya terasa agak berat, namun ia sama sekali tak berniat melepas atau membukanya di sembarang tempat. Di dalam sana, tersimpan rapi jas mahal bernilai puluhan juta dan payung hitam milik sang CEO yang harus dijaganya mati-matian dari pandangan orang lain.
Namun, tepat saat jemari Aura hendak mendorong pintu kaca pantry, sebuah suara melengking berdering dari arah koridor.
"Itu tas gede banget, Mbak! Bawa apa, sih?"
Aura menghentikan langkahnya dan menoleh. Di sana berdiri Maya, sudah tampil rapi dengan riasan tebal dan pakaian modisnya. Mata seniornya itu memicing tajam, menatap heran sekaligus curiga pada ransel kuliah kumal milik Aura yang tampak sangat kontras dengan blazer kerjanya.
Aura menguasai diri dengan cepat. Ia menarik napas pelan, menyunggingkan senyum senatural mungkin agar tidak memicu kecurigaan.
"Selamat pagi, Mbak Maya," sapa Aura ramah dan tenang. "Ini cuma bawa pakaian ganti sama perlengkapan pribadi, Mbak. Karena kemarin sore terjebak hujan deras dan kebasahan, jadi antisipasi saja buat hari ini."
Maya mengamati Aura dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan, lalu mendengus pelan. "Halah, gaya banget pakai bawa ransel segede gaban ke kantor. Kamu itu kerja di divisi analisis data perusahaan kelas atas, bukan mau mendaki gunung atau kuliah."
"Terima kasih masukannya, Mbak Maya. Saya permisi dulu," balas Aura santai tanpa terpancing emosi.
Tanpa membiarkan Maya mengajukan pertanyaan lebih lanjut, Aura segera mendorong pintu kaca pantry dan melangkah masuk, meninggalkan seniornya yang cemberut kesal karena gagal mencari celah untuk menyudutkannya.
Begitu pintu pantry tertutup rapat, Aura menghembuskan helaan napas panjang. Ia melirik jam dinding di pantry—pukul 07:25 pagi. Masih ada waktu tiga puluh lima menit sebelum pukul delapan tiba. Ia harus segera menyiapkan kopi hitam tanpa gula pesanan Arsen dengan sempurna.