Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Keputusan yang Bulat
Semalaman suntuk, Kinanti Larasati tidak bisa memejamkan matanya barang semenit pun. Setiap kali dia mencoba menutup mata, bayangan wajah lelah kedua orang tuanya dan tatapan dingin penuh intimidasi dari Baskara Dirgantara seolah bergantian menari-nari di langit-langit kamarnya yang sempit. Tekanan batin itu terasa begitu nyata, menghimpit dadanya hingga menyisakan rasa sesak yang tak kunjung hilang.
Tepat jam lima pagi, saat kokok ayam jantan pertama kali membelah kesunyian fajar yang masih berkabut, Kinanti memutuskan untuk menyudahi siksaannya di atas ranjang. Gadis itu keluar dari kamarnya dengan langkah pelan, melangkah lurus menuju dapur sederhana di bagian belakang rumah. Dia membutuhkan kesibukan untuk mengalihkan pikirannya yang carut-marut. Dengan cekatan, Kinanti mulai menyalakan tungku, mencuci beras, dan menyiapkan bahan-bahan seadanya untuk memasak sarapan pagi.
Tidak lama berselang, terdengar derit pintu kamar yang terbuka. Ibu Helnawati melangkah keluar dengan langkah yang masih tampak letih. Langkah kakinya terhenti begitu mendapati siluet putri tunggalnya yang sudah sibuk di depan wajan yang mengepulkan asap tipis.
"Kinanti..." panggil Ibu Helnawati dengan nada suara yang sarat akan rasa bersalah. Beliau melangkah mendekat. "Biar Ibu saja yang memasak untuk pagi ini, Nak. Kamu pasti kurang tidur, wajahmu pucat sekali."
Kinanti menoleh, memaksakan seulas senyum tipis yang tampak begitu rapuh di bawah temaramnya cahaya dapur. "Tidak apa-apa, Bu. Ibu mandi dan bersiap saja. Biar Kinan yang menyelesaikan masakan ini."
Ibu Helnawati hanya bisa menghela napas panjang. Beliau tahu betul watak putri tunggalnya itu. Sekali Kinanti dilarang atau memiliki keinginan, gadis itu akan tetap bersikeras melakukannya. Dengan berat hati, sang ibu akhirnya berbalik arah untuk menuruti perkataan anaknya, meninggalkan Kinanti yang kembali terdiam menatap kobaran api di dalam tungku dengan pandangan kosong.
Setengah jam kemudian, aroma nasi goreng sederhana telah memenuhi ruangan tengah. Bapak Adriani dan Ibu Helnawati sudah duduk berdampingan di meja makan kayu yang sudah mulai lapuk. Tak lama, Kinanti pun keluar dari dapur sembari membawa piring-piring berisi makanan yang sudah dia siapkan sejak subuh tadi.
Suasana di meja makan itu terasa begitu hening dan canggung. Hanya ada bunyi sendok yang beradu pelan. Kinanti mendudukkan dirinya di kursi kosong di hadapan kedua orang tuanya. Dia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang dia miliki, lalu melontarkan kata-kata yang seketika membuat gerakan tangan ayahnya terhenti di udara.
"Kinan setuju, Pak, dengan perjodohan ini," ucap gadis itu dengan nada suara yang datar namun tersirat ketegasan yang mutlak. "Kinan akan menerima lamaran Om Baskara."
Bapak Adriani terkejut. Beliau meletakkan sendoknya, lalu menatap lekat-lekat ke dalam manik mata putrinya, mencari tahu apakah ada keterpaksaan yang mendalam di sana. "Apa kamu sudah memikirkannya baik-baik, Kinan? Bapak ingatkan sekali lagi, kalau kamu memang ingin menolak perjodohan ini... itu juga tidak apa-apa. Bapak tidak akan marah, karena ini adalah pilihan hidupmu sendiri, Nak."
Kinanti menggeleng pelan, meyakinkan hatinya sendiri yang sebenarnya masih berdarah. "Kinan sudah memikirkannya matang-matang semalaman, Pak. Keputusan Kinan sudah bulat. Pak, Bu... Kinan mau menikah dengan pria itu."
Mendengar ketetapan hati anaknya, Ibu Helnawati hanya bisa menahan genangan air mata di sudut matanya, sementara Bapak Adriani mengangguk pasrah dengan dada yang bergemuruh. "Baiklah... kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu sendiri. Siang ini juga, Bapak akan menelpon Juragan Ramli untuk mengabarkan bahwa kamu sudah menerima lamaran anaknya."
Di belahan tempat yang lain, suasana bertolak belakang yang jauh lebih tegang tengah terjadi di dalam sebuah rumah megah berarsitektur modern. Baskara Dirgantara sedang duduk di salah satu kursi meja makan mewah berbahan marmer. Di sana, sudah berkumpul pula putri tunggalnya, Natasha, serta ayahnya, Juragan Ramli.
Natasha, yang memang masih menyimpan amarah dan kekesalan yang amat sangat kepada papanya sejak malam tadi, hanya bisa duduk merengut. Wajah remaja itu ditekuk masam, tangannya bersedekap, menolak menyentuh sendok dan garpu di depannya.
Juragan Ramli yang menyadari gelagat tidak menyenangkan dari sang cucu akhirnya bersuara, "Natasha... kenapa sarapanmu tidak dimakan? Nanti kamu terlambat ke sekolah."
"Aku tidak akan mau makan, Kek!" sahut Natasha dengan nada melengking dan ketus, matanya melirik tajam ke arah Baskara. "Aku tidak akan pernah mau menyentuh makanan di rumah ini kalau Papa masih bersikeras ingin menikahi gadis kampung udik itu!"
Mendengar ancaman kekanak-kanakan dari putrinya, Baskara tidak menunjukkan riak kemarahan sama sekali. Pria matang itu justru melirik jam tangan mewahnya, lalu menyesap kopi hitamnya dengan sikap yang teramat santai dan acuh tak acuh.
"Biarkan saja, Yah. Biar saja dia tidak mau makan," ucap Baskara datar, suaranya terdengar begitu dingin mengecilkan nyali. "Kalau perlu, mulai hari ini aku akan mengambil semua kartu kreditnya, dan seluruh fasilitas kemewahan yang dia nikmati akan aku cabut seketika. Kita lihat berapa lama dia bisa bertahan dengan aksi mogok makannya itu."
Natasha yang diperlakukan dengan begitu tegas dan dingin bukannya menjadi takut, egonya yang telanjur tinggi justru terluka. Remaja itu melebarkan matanya, lalu dengan kasar menggebrak meja makan marmer tersebut hingga menimbulkan dentingan keras dari cangkir-cangkir di atasnya.
Tanpa memedulikan tatapan memperingatkan dari kakeknya, Natasha bangkit berdiri dan melangkah pergi dengan hentakan kaki yang keras menuju lantai atas. "Aku harus menelpon Mami Chynthia sekarang juga!" umpat gadis itu pada dirinya sendiri dengan penuh amarah.
Setelah kepergian Natasha yang membanting pintu kamarnya di lantai atas, keheningan kembali menguasai meja makan mewah tersebut. Juragan Ramli menghela napas panjang, menatap putranya dengan pandangan yang sarat akan keseriusan.
"Baskara... semalam aku sudah bicara kembali pada Adrian. Aku memberi tahu dia bahwa seminggu lagi kita akan datang ke rumahnya untuk melamar Kinanti secara resmi," ujar Juragan Ramli membuka obrolan penting mereka.
Baskara terdiam sebentar, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja marmer dengan ritme yang teratur. Sebuah rencana kilat mendadak tersusun di kepalanya. "Setelah lamaran itu selesai... aku akan menyiapkan pernikahan kami satu bulan lagi," balas Baskara dingin dan mutlak.
Mendengar keputusan sepihak yang terlampau terburu-buru itu, Juragan Ramli seketika mengernyitkan alisnya tajam. "Satu bulan? Apa itu tidak terlalu cepat, Baskara?"
"Bukannya Ayah sendiri yang ingin aku segera menikah lagi agar Chynthia berhenti mengganggu hidupku?" tanya Baskara balik, menatap lurus ke arah ayahnya tanpa keraguan. "Lalu kenapa kita harus menunggu lebih lama lagi setelah proses lamaran nanti? Waktu satu bulan sudah lebih dari cukup untuk mengurus seluruh surat-menyurat di KUA dan mempersiapkan resepsi pernikahan. Semuanya harus disegerakan."
Baskara menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, senyum misterius kembali terukir tipis. "Kalau bisa... setelah lamaran dilakukan di pagi hari, malamnya kita langsung menggelar resepsi pernikahan."
"Kau jangan gila, Baskara!" bentak Juragan Ramli, wajah paruh bayanya mengeras karena tidak suka dengan sikap meremehkan sang anak. "Jangan pernah kau menganggap sakralnya sebuah pernikahan seperti mainan atau bisnis pribadimu! Dan ingat satu hal... gadis desa yang akan kau nikahi itu masih sangat belia, usianya baru sembilan belas tahun!"
Juragan Ramli memajukan tubuhnya, menatap lekat-lekat mata elang putrinya dengan pandangan mengancam. "Kuperingatkan kau, Baskara. Setelah kau menikahi Kinanti nanti, aku tidak mau melihat ada lagi drama-drama murahan yang dilakukan oleh mantan istrimu, Chynthia. Jangan sampai wanita gila harta itu berani datang dan mengganggu menantuku di rumah ini!"
Beliau menambahkan dengan nada suara yang mendadak turun menjadi sangat datar namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Dan peringatan ini juga berlaku untuk dirimu sendiri, Baskara. Sampai kau berani menghianati kesetiaan gadis itu, atau menyakiti hatinya sekalipun... kau akan langsung berurusan denganku, ayahmu sendiri."
Baskara mengernyit, merasa sedikit terusik dengan pembelaan berlebihan yang ditunjukkan oleh ayahnya. "Kenapa Ayah terkesan sangat melindunginya? Seistimewa apa sebenarnya gadis desa bernama Kinanti itu sampai Ayah rela pasang badan seperti ini?" tanya Baskara dengan nada suara yang tak kalah datar.
Juragan Ramli mendengus remeh. "Kau tidak tahu apa-apa tentang bagaimana besarnya pengorbanan yang sudah gadis itu lakukan untuk keluarganya selama ini, Baskara. Kinanti adalah anak yang baik dan berbakti. Jangan pernah sekali-kali kau berani menyakitinya! Kalau sampai sekali saja aku mendengar kau mengkhianatinya, aku sendiri yang akan turun tangan untuk menjauhkanmu darinya selamanya!"
Suasana di meja makan itu semakin mencekam saat Juragan Ramli kembali menyuarakan isi hatinya mengenai masa lalu Baskara. "Dan soal Chynthia, mantan istrimu yang licik itu... aku juga tidak akan tinggal diam kalau sampai dia berani menyentuh atau menyakiti Kinanti."
Juragan Ramli menatap remeh ke arah anak laki-lakinya. "Sampai hari ini, kau sebenarnya masih saja sering tertipu oleh tipu daya dan kepalsuan wanita itu, Baskara. Kau lihat saja sendiri bagaimana hasil didikannya pada Natasha selama ini. Bagaimana wanita itu meracuni pikiran anaknya sendiri? Natasha tumbuh menjadi anak yang suka melawan, membangkang, manja, dan dipenuhi keangkuhan yang merasa seolah dialah yang memiliki dunia ini!"
Beliau berdiri dari kursi makannya, memberikan kalimat penutup yang menusuk telak harga diri Baskara. "Selama ini aku memilih diam bukan berarti aku membiarkan kelakuan Chynthia atau kemanjaan Natasha semena-mena di rumah ini. Aku hanya ingin melihat... sampai di mana kemampuanmu sebagai seorang ayah untuk mendidik anakmu dengan benar. Jadi, jagalah istrimu yang baru nanti, dan perbaiki kekacauan yang ada di rumah ini."
Tanpa menunggu bantahan dari Baskara, Juragan Ramli melangkah pergi meninggalkan ruang makan, meninggalkan Baskara yang terpaku sendirian.
Baskara masih bergeming di kursinya, menatap cangkir kopi hitamnya yang kini sudah mendingin. Kata-kata ayahnya barusan bagai tamparan tidak kasat mata yang telak mengenai harga dirinya. Selama ini dia mengira telah mengendalikan segalanya dengan baik, namun ternyata di mata sang ayah, dia hanyalah pria naif yang gagal mendidik anak dan lumpuh di hadapan mantan istrinya.
Rahang Baskara kembali mengeras. Tatapannya beralih ke arah tangga lantai dua, tempat Natasha mengurung diri. Pria itu menghela napas berat. Kehadiran Kinanti di rumah ini kelak jelas tidak akan disambut dengan karpet merah, melainkan dengan duri-duri tajam yang sengaja disiapkan oleh anak kandungnya sendiri.
Sementara itu, di dalam kamarnya yang luas dan dipenuhi barang-barang mewah, Natasha sedang berjalan mondar-mandir dengan napas memburu. Wajah remajanya memerah padam oleh amarah. Dengan jemari yang gemetar karena emosi, dia menekan tombol panggilan pada ponselnya, menghubungi nomor kontak yang paling dia andalkan setiap kali keinginannya ditolak oleh sang ayah.
Panggilan itu hanya tersambung dalam dua kali nada dering sebelum sebuah suara wanita yang terdengar sangat anggun, manja, namun menyimpan nada dingin menyapa dari seberang sana.
"Halo, Natasha sayang? Ada apa, Nak? Kenapa menelepon Mami sepagi ini?" tanya Chynthia dari ujung telepon.
Mendengar suara maminya, pertahanan Natasha runtuh. Tangisnya pecah, sengaja dibuat sedikit lebih dramatis agar mendapatkan simpati penuh. "Mami... Papa, Mi! Papa benar-benar sudah gila! Papa mau menikah lagi!" adu Natasha setengah menjerit.
Di seberang saluran, terdengar suara gemerincing cangkir yang diletakkan dengan kasar. Nada suara Chynthia yang semula tenang langsung berubah menegang, meski dia berusaha keras menyembunyikannya. "Apa? Menikah lagi? Dengan siapa, Natasha? Wanita sosialita mana yang berani mendekati papamu?"
"Bukan sosialita, Mi! Itu dia yang bikin aku malu!" seru Natasha dengan nada jijik yang amat sangat. "Papa mau menikah dengan gadis kampung miskin, anak buruh cuci di daerah pabrik Kakek! Namanya Kinanti. Umurnya bahkan tidak beda jauh dariku, Mi! Dan konyolnya, Kakek malah membela anak udik itu dan Papa mengancam akan mencabut semua kartu fasilitas belanjaku kalau aku protes!"
Hening sejenak di seberang telepon. Di dalam apartemen mewahnya di pusat kota, wajah Chynthia Praditya mendadak berubah menjadi sangat licik. Matanya berkilat penuh kebencian dan keangkuhan. Sebagai wanita yang pernah menguasai hati Baskara dan seluruh hartanya, dia tidak akan pernah sudi posisinya digantikan, terlebih oleh seorang gadis desa yang dianggapnya tak lebih dari seonggok sampah tak berharga.
"Tenang, Natasha. Jangan menangis lagi, sayang," ucap Chynthia dengan nada manis yang sangat manipulatif, mulai meracuni pikiran putrinya. "Papamu itu hanya sedang khilaf atau mungkin sengaja memanfaatkan gadis miskin itu untuk membalas dendam pada Mami. Ingat, rumah mewah itu milikmu, dan posisi Nyonya Dirgantara hanya pantas untuk Mami. Kapan lamaran itu akan dilakukan?"
"Kakek bilang seminggu lagi mereka akan datang ke rumah gadis itu," jawab Natasha sambil menghapus air matanya, merasa mendapat pasokan kekuatan baru dari maminya.
Chynthia tersenyum sinis, jemarinya yang berkuteks merah darah mengetuk meja riasnya. "Seminggu lagi, ya? Baiklah. Biarkan saja mereka melangsungkan lamaran bodoh itu dulu. Kita lihat saja nanti, seberapa lama gadis kampung itu bisa bertahan di rumah kita setelah Mami dan kamu memberikan 'sambutan hangat' untuknya. Jangan menentang papamu dulu untuk saat ini, Natasha. Turuti saja kemauannya agar kartumu tidak dicabut, tapi pastikan kamu tetap berada di pihak Mami. Mengerti?"
"Iya, Mi. Aku mengerti. Aku tidak akan membiarkan gadis udik itu hidup tenang di sini," balas Natasha dengan seringai yang sangat mirip dengan maminya.
Setelah memutus sambungan telepon, Natasha melempar ponselnya ke atas ranjang. Rasa takutnya hilang, berganti dengan ambisi angkuh untuk menyingkirkan Kinanti secepat mungkin begitu gadis itu menginjakkan kaki di rumah ini.
Kembali ke rumah sederhana Kinanti, waktu telah bergeser menuju sore hari. Bapak Adriani baru saja meletakkan ponsel jadulnya di atas meja setelah melakukan panggilan telepon yang teramat panjang dengan Juragan Ramli.
Wajah pria tua itu tampak lega, namun juga diliputi rasa haru. Dia menoleh ke arah dapur di mana Kinanti sedang mencuci gelas pasca-makan siang.
"Kinan... kemarilah sebentar, Nak," panggil Bapak Adriani dengan suara beratnya.
Kinanti mengeringkan tangannya pada selembar kain, lalu berjalan mendekat dan duduk di dekat ayahnya. "Ada apa, Pak?"
"Bapak baru saja selesai menelepon Juragan Ramli," ucap Bapak Adriani pelan, menatap putri tunggalnya dengan tatapan penuh kasih. "Beliau sangat senang mendengar keputusanmu. Juragan Ramli bilang, hari Minggu depan, rombongan keluarga mereka akan datang ke sini untuk melamarmu secara resmi. Mereka juga meminta agar kita tidak perlu repot-repot menyiapkan apa pun, karena semua keperluan konsumsi dan acara akan ditanggung penuh oleh keluarga mereka."
Kinanti hanya terdiam, mengangguk pelan sebagai tanda bahwa dia mengerti. Tidak ada binar kebahagiaan di matanya, hanya ada kepasrahan yang mendalam. Waktu satu minggu yang tersisa kini terasa seperti hitung mundur menuju sebuah kehidupan baru yang sama sekali tidak dia ketahui bentuknya.
"Terima kasih ya, Kinan... karena kamu sudah berlapang dada demi keluarga ini," bisik Ibu Helnawati yang tiba-tiba muncul dari arah belakang, langsung memeluk erat tubuh putrinya dari belakang dengan air mata yang kembali berlinang.
Kinanti membalas pelukan ibunya, memejamkan mata rapat-rapat. Di dalam hatinya, gadis sembilan belas tahun itu mulai menata mentalnya. Dia tahu dia sedang berjalan menuju sangkar emas yang penuh dengan jebakan. Mantan istri yang licik, anak tiri yang angkuh, dan calon suami yang sedingin es kini menjadi takdir yang harus dia hadapi demi senyuman kedua orang tuanya.