Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Suasana di sekitar meja kantin mendadak senyap.
Sahabat Puja saling melempar pandang, kebingungan melihat reaksi senior mereka yang tampak begitu terpukul.
"Memang kenapa, Kak?" tanya Sulfi, tidak sabar ingin tahu alasan di balik amukan dan wajah lebam yang dibawa Andy.
Andy menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya.
Suaranya terdengar bergetar hebat, disusul isakan tertahan yang membuat keenam gadis itu semakin terperanjat.
"Patah hati aku..." rintih Andy pelan, benar-benar menangis sesenggukan karena kenyataan bahwa gadis yang diam-diam dicintainya selama ini ternyata sudah bersuami.
Tanpa diduga, dalam keputusasaannya, Andy langsung menerjang ke depan dan memeluk Yuana yang duduk paling dekat dengannya, menumpahkan air matanya di bahu gadis itu.
Plak!
Refleks, Yuana langsung menampar pelan lengan Andy sambil mendorong tubuh seniornya menjauh dengan wajah jijik sekaligus kaget.
"Aduh! Sakit, Yuan!" aduh Andy sambil mengusap lengannya.
"Habisnya, Kak Andy dari dulu nggak pernah nembak Puja, sih! Main pendam sendiri! Jadi keduluan kan sama Ustaz Jeffry!" seru Yuana sewot, merapikan bajunya yang sempat ketumpahan air mata Andy.
Mendengar ucapan Yuana, Norma, Sulfi, Dwi Ratna, dan Dewi langsung tidak bisa menahan diri.
Mereka pecah dalam tawa terbahak-bahak, tak menyangka senior yang biasanya terlihat keren dan disegani di kampus itu bisa merana separuh mati hanya karena patah hati.
"Makanya, jangan jadi cowok yang hobi kasih harapan palsu tapi gak gerak-gerak!" ledek Dwi Ratna di sela-sela tawanya.
Dewi yang duduk di samping Andy tersenyum geli sambil menepuk-nepuk pelan punggung seniornya yang masih merajuk.
"Sudahlah, Kak. Ikhlaskan saja. Anggap saja bukan jodoh, daripada Kakak babak belur lagi dihajar sama suaminya Puja."
Sianh itu, suasana di ruang rawat VIP terasa tenang.
Puja baru saja meminum madu pemberian Kyai Ali dan menyantap makanannya, lalu memutuskan untuk tidur siang guna memulihkan sisa tenaganya.
Jeffry setia duduk di samping ranjang, menjaga istrinya sambil membaca sebuah buku keagamaan.
Tiba-tiba, dering ponsel yang diletakkan di atas nakas bergetar dan berbunyi nyaring.
Jeffry dengan cepat meraih ponsel milik Puja agar tidak membangunkan istrinya yang baru saja lelap.
Ia melihat layar ponsel yang menampilkan nama Dewi sebagai penelepon.
Jeffry menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo, Ustadz Jeffry?" suara Dewi terdengar di seberang sana, sedikit ragu namun tetap sopan.
"Pujanya ada? Dari kemarin-kemarin dihubungi kok tidak ada kabar sama sekali, aktif pun tidak."
Jeffry melirik sekilas ke arah Puja yang tidur dengan tenang, lalu menjawab dengan suara pelan namun terdengar serius.
"Waalaikumsalam. Maaf, Dewi. Semalam Puja jatuh sakit, dan sekarang saya bawa ke rumah sakit."
"Hah? Puja di rumah sakit, Ustadz?!" seru Dewi kaget, suaranya yang cukup nyaring hampir membuat Jeffry menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Iya. Tapi alhamdulillah kondisinya sudah membaik sekarang," balas Jeffry menenangkan.
Belum sempat Jeffry menutup panggilannya, terdengar suara keributan kecil dari ujung telepon.
Rupanya Dewi sedang bersama para sahabat yang lain, termasuk Andy.
"Teman-teman! Puja di rumah sakit!" seru Dewi kepada Yuana, Sulfi, Norma, dan Dwi Ratna yang langsung berkerumun mendengarkan.
Yuana langsung merebut ponsel dari tangan Dewi.
"Di rumah sakit mana, Ustadz? Kita mau jenguk sekarang!"
Andy yang berdiri di dekat mereka, masih dengan sisa-sisa lebam di wajahnya, ikut mendesak dengan penuh rasa bersalah dan penasaran.
"Iya, bilang ke Ustadz-nya, kita semua mau ikut!"
Jeffry, yang mendengar suara-suara antusias dari seberang telepon, menghela napas pelan lalu tersenyum tipis.
Ia tahu para sahabat istrinya itu tulus menyayangi Puja.
"Baiklah, nanti saya kirim alamat rumah sakit dan nomor ruangannya lewat pesan," jawab Jeffry akhirnya.
Begitu sambungan terputus, Yuana langsung menatap keempat sahabatnya dengan mata berbinar.
"Ayo sekarang kita jenguk Puja di rumah sakit!" ajak Yuana penuh semangat.
"Ayo!" seru Sulfi, Norma, dan Dwi Ratna kompak.
Dewi melirik ke arah Andy yang berdiri canggung di samping mereka.
"Ayo, Kak Andy juga ikut! Sekalian minta maaf sama suaminya Puja biar tidak bonyok lagi wajah Kakak."
Andy mendengus pelan, namun ia menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Rasa bersalah karena ikut menjadi pemicu kekacauan malam itu membuat ia bertekad untuk ikut melihat keadaan Puja secara langsung.
Tak butuh waktu lama bagi Yuana, Sulfi, Norma, Dwi Ratna, Dewi, dan Andy untuk tiba di rumah sakit.
Mengikuti petunjuk lokasi yang dikirimkan Jeffry, mereka segera menuju ruang perawatan yang dimaksud.
Tok... tok... tok.
"Assalamualaikum," ucap mereka serempak saat pintu terbuka.
"Waalaikumsalam, ayo masuk," jawab Jeffry dengan nada ramah yang jauh berbeda dengan pertemuan terakhirnya dengan Andy.
Saat pintu terbuka sepenuhnya, mata Jeffry sempat tertuju sejenak pada wajah Andy yang masih menyisakan bekas lebam—hasil dari tinjuannya malam itu.
Namun, Jeffry menyambut mereka dengan senyum yang menenangkan.
Di dalam, Puja perlahan membuka matanya. Ia terkejut melihat kerumunan sahabat-sahabatnya, dan matanya melebar saat menyadari sosok Andy berdiri di barisan belakang.
"Puja! Ya ampun, kamu kenapa sampai bisa begini?" tanya Dewi khawatir sambil mendekati ranjang.
Puja tersenyum lemah, mencoba menenangkan teman-temannya.
"Biasa, Dewi... Aku cuma mimisan karena kelelahan, kok."
Sebagai sahabat yang sudah bertahun-tahun mengenalnya, mereka memang tahu betul bahwa mimisan adalah sinyal utama tubuh Puja jika ia sedang mengalami stres berat atau kelelahan ekstrem.
Mereka saling pandang dengan tatapan yang sarat akan pengertian.
Puja kemudian menatap Andy dengan rasa tidak enak.
"Kak Andy... maaf ya soal kejadian semalam," ucapnya lirih.
Andy menunduk, merasa sangat bersalah. "Seharusnya aku yang minta maaf, Puja. Aku yang terlalu memaksakan kehendak." Pria itu kemudian memberanikan diri menatap Jeffry. "Ustaz Jeffry, saya minta maaf atas kelancangan saya."
Jeffry menanggapi dengan sangat dewasa. Ia maju selangkah dan memeluk tubuh Andy dengan hangat, sebuah gestur perdamaian yang tulus.
"Aku juga minta maaf, Andy. Aku terlalu emosional malam itu. Mari kita lupakan semua kesalahpahaman ini."
Di sisi lain ranjang, Norma mendekat ke arah Puja dengan raut wajah serius.
"Puja, Abi sama Umi kamu... sudah kamu beri tahu kalau kamu di rumah sakit?"
Puja menggeleng pelan. "Aku tidak mau merepotkan mereka, Norma. Kasihan mereka kalau harus jauh-jauh ke sini hanya karena masalah kesehatanku yang sebenarnya sudah membaik."
Para sahabatnya menganggukkan kepala, memahami sifat Puja yang selalu tidak ingin membuat orang tuanya khawatir.
Ruangan itu perlahan dipenuhi dengan obrolan ringan yang mencoba mengembalikan keceriaan Puja yang sempat hilang.
Setengah jam berlalu dengan obrolan hangat yang berhasil mencairkan suasana di ruang rawat.
Menjelang sore, Yuana, Sulfi, Norma, Dwi Ratna, Dewi, dan Andy mulai berpamitan karena hari semakin larut dan jam besuk yang hampir habis.
"Kami pulang dulu ya, Ja. Cepat sembuh, jangan capek-capek lagi," ucap Dewi mewakili teman-temannya.
"Semoga lekas sembuh, Puja," tambah Andy sambil mengangguk sopan ke arah Jeffry dan Puja.
Puja menganggukkan kepalanya dengan senyuman tulus.
"Iya, terima kasih banyak semuanya sudah repot-repot datang menjengukku."
Satu per satu dari mereka mulai melangkah keluar kamar.
Namun, saat Norma hendak menyusul langkah teman-temannya di ambang pintu, Puja tiba-tiba memanggilnya.
"Norma..." panggil Puja dengan suara lirih.
Norma menghentikan langkahnya, lalu berbalik mendekati ranjang.
"Ada apa, Puja?"
Puja menatap sahabat karibnya itu lekat-lekat, ada binar ketulusan yang terpancar dari matanya. "Beasiswa kuliah di Yogyakarta itu... aku berikan kepada kamu."
Norma langsung terbelalak kaget. Ia tahu betul betapa besar impian Puja untuk melanjutkan pendidikan ke Yogyakarta.
"Tapi, Ja... Itu kan hak kamu! Kamu yang lolos seleksinya."
Puja menggeleng pelan, menggenggam jemari sahabatnya dengan lembut.
"Aku sudah kuliah di sini, Norma. Dan aku tahu kamu juga punya impian besar yang sama untuk kuliah di sana. Kamu lebih berhak menerimanya, apalagi dengan kondisiku yang sekarang."
"Tapi, Puja..." Norma menelan ludahnya, matanya mulai berkaca-kaca menahan haru.
"Tidak apa-apa, Norma. Nanti aku sendiri yang akan menghubungi Bu Liana, guru SMA kita, untuk membantu mengurus peralihan beasiswa ini atas nama kamu," potong Puja dengan senyuman penuh keikhlasan.
Mendengar pengorbanan dan ketulusan sahabatnya, pertahanan Norma runtuh seketika.
Ia langsung menerjang ke depan dan memeluk tubuh Puja erat-erat, menumpahkan air mata harunya di bahu sahabat yang begitu ia sayangi.
"Terima kasih, Puja... Terima kasih banyak..." bisik Norma terbata-bata di tengah isak tangis bahagianya.
Jeffry yang menyaksikan momen itu dari samping tersenyum hangat, semakin bangga dengan kebesaran hati istrinya.
Sementara itu, di kediaman Kyai Ali, suasana yang tadinya tenang terusik oleh kehadiran dua wanita yang melangkah dengan terburu-buru dan raut wajah yang masam.
Ningsih dan Ningrum, kerabat yang memang sejak awal tidak pernah menyukai kehadiran Puja, langsung melontarkan pertanyaan tanpa basa-basi.
"Kenapa Jeffry tidak mengajar di pondok sudah beberapa hari ini, Bah?" tanya Ningsih dengan nada menyindir.
"Apa si Puja itu yang melarangnya? Sok menguasai dia, sampai-sampai suaminya sendiri tidak bisa menjalankan kewajiban di pondok!"
Kyai Ali menghela napas panjang. Beliau memejamkan mata sejenak, mencoba meredam gejolak hatinya menghadapi sikap dua wanita di depannya.
Sebagai kakak tertua, beliau sebenarnya sudah hafal tabiat Ningsih yang selalu memandang buruk menantunya.
Beliau memilih diam, membiarkan ego mereka meluap tanpa perlu beliau tanggapi dengan amarah.
"Untuk apa kalian mencari Jeffry? Apakah ada urusan yang sangat mendesak sampai harus datang ke sini dengan nada bicara seperti itu?" tanya Kyai Ali dingin, suaranya tetap tenang namun berwibawa, membuat Ningsih sedikit tersentak.
"Ya jelas urusan pondok, Bah! Kami tidak mau Jeffry rusak karena perempuan itu," sahut Ningsih lagi, masih dengan nada ketus yang menyudutkan Puja.
Kyai Ali menatap Ningsih dengan tajam. Beliau tahu persis bahwa kejujuran mengenai kondisi kesehatan Puja yang sedang kritis di rumah sakit hanya akan menjadi bahan gunjingan atau bahkan fitnah baru bagi mereka.
Akhirnya, dengan kebijaksanaan beliau, Kyai Ali memutuskan untuk memberikan jawaban yang cukup membuat mereka terbungkam.
"Jeffry sedang tidak bisa diganggu. Saat ini, dia sedang menjalankan masa bulan madunya bersama Puja," ucap Kyai Ali tegas, memotong segala spekulasi buruk yang berusaha dibangun Ningsih.
Mendengar jawaban itu, wajah Ningsih berubah merah padam karena kesal.
Di sampingnya, Ningrum yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan, langsung memutar tubuhnya dengan kasar.
Rasa cemburu dan dendam yang ia pendam membuat dadanya sesak.
Tanpa berpamitan, Ningrum langsung melangkah pergi meninggalkan kediaman Kyai Ali, wajahnya ditekuk menahan amarah yang meledak-ledak.