NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN SANG PEWARIS SAKTI

KEBANGKITAN SANG PEWARIS SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
​Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
​Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Danau Bintang Berdarah dan Kedatangan Sang Dewa Pedang

​Senja turun di atas Kota Jiangbei, melukis langit dengan semburat jingga kehitaman yang tampak seperti sapuan darah.

​Danau Bintang, sebuah danau alam seluas puluhan hektar yang biasanya menjadi tempat rekreasi eksklusif, sore ini telah ditutup total oleh garis polisi. Namun, di sekeliling tepian danau, ribuan orang telah berkumpul.

​Mereka bukanlah warga biasa. Mereka adalah para taipan, kepala keluarga konglomerat, pemimpin dunia bawah, hingga petarung dari berbagai sekte bela diri di seluruh penjuru Provinsi Jiangbei. Semuanya hadir demi satu alasan: menyaksikan legenda hidup, Dewa Pedang Jian Nantian, kembali menghunuskan pedangnya setelah sepuluh tahun bersembunyi!

​Di sebuah paviliun VIP berlantai dua yang didirikan tepat di tepi danau, Su Zheng duduk di kursi utama sambil memegang cerutu Kuba. Di belakangnya, puluhan pengawal elit Keluarga Utama Su berdiri siaga.

​"Tuan Besar, ini sudah pukul 17:45. Matahari hampir tenggelam. Tapi batang hidung bocah bernama Ye Chen itu belum juga terlihat," bisik Penatua Gu sambil tersenyum sinis. "Apakah dia ketakutan dan melarikan diri?"

​Su Zheng menghembuskan asap cerutunya sambil tertawa mengejek. "Melarikan diri? Bandara, stasiun kereta, dan semua gerbang tol sudah ditutup oleh koneksi Keluarga Su. Dia tidak punya jalan keluar. Tapi wajar jika anjing liar itu bersembunyi. Siapa yang berani datang untuk mengantarkan nyawa secara sukarela ke hadapan Ketua Jian?"

​Para elit Jiangbei di sekitar paviliun mulai berbisik-bisik, nada suara mereka penuh cemoohan.

"Kupikir pemuda dari Jiangcheng itu punya nyali sebesar langit karena berani menyinggung Keluarga Su."

"Cih, dia pasti sudah mengompol di celana sekarang."

"Sayang sekali, aku datang jauh-jauh hanya untuk melihat eksekusi, ternyata yang dieksekusi terlalu pengecut."

​Namun, di tengah riuh rendah cemoohan itu, embusan angin danau tiba-tiba berhenti. Permukaan Danau Bintang yang tadinya beriak oleh angin senja, mendadak menjadi setenang cermin.

​Suhu di sekitar danau anjlok drastis, membuat para konglomerat yang memakai jas tebal pun menggigil kedinginan.

​WUSSS!

​Dari arah tengah danau, sebuah pilar air tiba-tiba meledak ke udara setinggi belasan meter!

​Sesosok tubuh melayang dari balik air terjun buatan itu, lalu mendarat dengan ringan layaknya sehelai bulu di atas sebatang buluh bambu kecil yang mengapung di permukaan air.

​Pria itu mengenakan jubah putih pudar, rambut panjangnya yang memutih berkibar tertiup angin yang ia ciptakan sendiri. Di tangannya, ia menggenggam sebuah pedang perak kuno yang belum dicabut dari sarungnya. Namun, meski belum dicabut, aura (Sword Intent) yang memancar dari pria itu terasa seolah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk kulit setiap orang di tepian danau.

​"Itu... Itu Ketua Jian Nantian!"

"Mengapung di atas sebatang buluh bambu di tengah air?! Ini adalah teknik meringankan tubuh legendaris, Langkah Menyeberangi Sungai!"

"Ya Tuhan... tekanannya membuatku tidak bisa bernapas!"

​Ribuan orang serempak menundukkan kepala mereka. Bahkan Su Zheng segera berdiri dari kursinya dan membungkuk hormat dari paviliun.

​"Kami menyambut kedatangan Ketua Jian!" teriak ribuan orang serentak, suaranya menggema membelah langit Jiangbei.

​Jian Nantian berdiri di atas buluh bambu di tengah danau, kedua tangannya bertumpu di belakang punggung. Matanya yang keruh menyapu seluruh kerumunan di tepian.

​"Matahari sudah tenggelam," suara Jian Nantian tidak keras, namun terdengar jelas di telinga setiap orang layaknya guntur yang bergema di dalam kepala. Ini adalah bukti penguasaan energi True Qi tingkat Semi-Ilahi. "Di mana pemuda bernama Ye Chen itu? Apakah dia berniat bersembunyi layaknya kura-kura dalam cangkang?"

​Tidak ada yang berani menjawab. Keheningan mencekam.

​"Jika dalam lima menit dia tidak muncul," Jian Nantian mengangkat sarung pedangnya sedikit, "Aku akan pergi ke Jiangcheng malam ini juga, dan memenggal seluruh kerabatnya."

​Ancaman itu membuat darah semua orang membeku.

​Namun, tepat pada detik itu juga, suara langkah kaki yang santai terdengar dari arah jalan setapak yang membelah kerumunan penonton.

​Tap... Tap... Tap...

​"Maaf aku sedikit terlambat. Jalanan di kotamu ini lumayan macet menjelang jam makan malam."

​Suara yang santai, terkesan malas, dan sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanan spiritual Jian Nantian itu memecah keheningan absolut.

​Semua orang menoleh serentak, membuka jalan.

​Seorang pemuda berusia awal dua puluhan berjalan menyusuri jalan setapak itu dengan kedua tangan berada di dalam saku jaket kasualnya. Tidak ada aura menakutkan yang terpancar darinya. Tidak ada pilar air yang meledak. Ia terlihat seperti seorang mahasiswa yang sedang berjalan-jalan sore di taman.

​"Itu Ye Chen!" seru Su Zheng dari paviliun, matanya membelalak penuh kebencian. "Bocah keparat! Akhirnya kau datang juga untuk mati!"

​Ye Chen mengabaikan teriakan Su Zheng sama sekali. Ia bahkan tidak melirik ke arah paviliun Keluarga Su. Langkahnya terus berlanjut hingga ia berdiri di tepian danau yang berbatu, berjarak sekitar dua puluh meter dari posisi Jian Nantian yang mengapung di tengah air.

​"Jadi kau yang bernama Ye Chen," Jian Nantian menatap pemuda itu, keningnya sedikit berkerut. Ia mencoba membaca energi di tubuh Ye Chen, namun tubuh Ye Chen terasa hampa, bagaikan sumur tak berdasar yang tidak memancarkan Qi sedikit pun.

​Bagi praktisi awam, ini berarti Ye Chen tidak punya kekuatan. Namun bagi Jian Nantian, ini berarti pemuda ini memiliki teknik penyembunyian aura yang sangat sempurna.

​"Kau membunuh Tetua Ketiga dan Tetua Keempat Asosiasi Bela Diriku," lanjut Jian Nantian, nadanya berubah dingin mematikan. "Bakatmu mungkin luar biasa untuk usiamu. Jika kau bersedia mematahkan kedua lengan dan kakimu sendiri, lalu bersujud menjadi pelayanku seumur hidup... aku mungkin akan menyisakan nyawa anjingmu."

​Mendengar tawaran itu, para penonton berbisik-bisik.

"Ketua Jian sungguh berbelas kasih!"

"Bocah itu beruntung jika bisa hidup meski cacat!"

"Berlututlah sekarang, Ye Chen! Jangan bodoh!" teriak beberapa penjilat dari Keluarga Su.

​Ye Chen berdiri di tepi danau. Angin malam meniup rambutnya. Senyum tipis yang penuh dengan cemoohan mutlak perlahan mengembang di bibirnya.

​"Jian Nantian," ucap Ye Chen, suaranya tidak dibesar-besarkan, namun entah bagaimana menembus angin dan terdengar jelas oleh semua orang. "Kau bersembunyi di gunung selama sepuluh tahun, kupikir kau melatih bela diri. Ternyata kau hanya melatih mulut besarmu."

​BOOM!

​Kerumunan meledak dalam syok.

Beraninya dia menghina Dewa Pedang?! Dia benar-benar bosan hidup!

​Wajah Jian Nantian seketika menggelap. Mata tua itu kini memancarkan niat membunuh yang sangat solid hingga udara di sekitar danau tampak terdistorsi.

​"Bocah arogan yang tidak tahu luasnya langit dan bumi! Karena kau menolak jalan hidup, maka terimalah jalan kematian!"

​TRING!

​Suara pedang dicabut dari sarungnya melengking memekakkan telinga.

​Jian Nantian mengayunkan pedang peraknya. Tidak ada gerakan rumit. Hanya satu tebasan horizontal dari tengah danau ke arah Ye Chen yang berdiri di tepian.

​"Jurus Pedang Pembelah Sungai!"

​Seketika, energi Qi Sejati yang maha dahsyat meledak dari pedang itu. Air Danau Bintang langsung terbelah sedalam dua meter, menciptakan parit air yang melesat lurus ke arah Ye Chen! Bersamaan dengan itu, sebuah bilah energi pedang (Sword Aura) berwarna putih berkilau sepanjang sepuluh meter melesat dengan kecepatan peluru, siap membelah tubuh Ye Chen menjadi dua!

​"Mati!" Su Zheng berteriak kegirangan dari paviliunnya.

​Tekanan dari tebasan pedang itu begitu besar hingga batu-batu di tepi danau beterbangan. Angin tajamnya menyayat wajah para penonton yang berjarak puluhan meter dari lokasi.

​Menghadapi tebasan yang bisa membelah gedung baja itu, Ye Chen tidak menghindar. Ia tidak menggunakan Langkah Naga Terbang. Ia tidak mundur satu inci pun.

​Ye Chen hanya mengeluarkan tangan kanannya dari saku jaketnya secara perlahan.

​Ketika bilah energi pedang raksasa itu tinggal sepuluh sentimeter dari wajahnya, Ye Chen mengangkat tangannya, mengulurkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

​TAPP!

​Suara benturan yang teredam terdengar.

​Bilah energi pedang berwarna putih setinggi sepuluh meter itu... terhenti mendadak di udara.

​Waktu seolah membeku. Mulut ribuan orang terbuka lebar tanpa suara. Mata Su Zheng nyaris melompat dari tengkoraknya.

​Di tepi danau, di bawah tatapan ribuan saksi mata, Ye Chen berdiri tegak. Dua jarinya menjepit ujung bilah energi pedang raksasa itu dengan sangat santai, seolah ia hanya menjepit sebatang sumpit bambu yang melayang ke arahnya!

​"Teknik pedangmu..." Ye Chen menatap Jian Nantian yang kini berwajah sepucat mayat di tengah danau, "...terlalu lemah."

​KREKK! PRANG!

​Ye Chen sedikit memelintir dua jarinya.

​Bilah energi pedang yang ditakuti seluruh Provinsi Jiangbei itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya yang memudar tertiup angin malam, layaknya kaca rapuh yang diremukkan oleh tangan raksasa!

1
yos helmi
sdh banyak cerita seperti alur ini.. tp semua ng pernah tamat.. cerita ciplakan/saduran.. jd jgn harap tamat
Marthen
dari teknik bela diri penakluk naga apakah ada sutra naga penyerap energi agar kultivadinya naik lagi kan sayang energi musuh yg terbuang....?
Arinto Ario Triharyanto
mantap ini😎
Marthen
banjir darah mewarnai pesta ulangtahun
Arinto Ario Triharyanto
tegas lugas gak pake lama... mantul 😎
Marthen
seru sekaLi.....
Marthen
keren....suka dgn jalan ceritanya.....
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Asosiasi bela diri sampai ke akar akarnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai semua musuhnya sampai ke akar akarnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai su zheng bikin dia menyaksikan sendiri pas yechen bantai semua klan su sampai ke akar akarnya bikin su zheng mengutuk putranya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!