Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32.Perhatian Kecil yang Berarti
Segala hal besar di dunia ini tak selamanya datang dalam kemegahan atau kata-kata indah. Terkadang, hal yang paling berkesan dan paling berbekas di hati justru lahir dari hal-hal yang begitu sederhana, kecil, dan tak disangka-sangka. Begitu pula yang terjadi di antara Kenzo dan Anisa. Mereka belum menyampaikan perasaan itu secara lisan, belum mengucapkan janji dengan terang-terangan. Namun lewat perhatian-perhatian kecil yang saling diberikan tanpa banyak suara, mereka menyampaikan lebih banyak makna daripada ribuan kata indah sekalipun.
Anisa menyadari hal itu setiap harinya. Saat pagi tiba dan udara masih terasa sejuk, ia selalu mendapati jendela di dekat tempat duduknya terbuka secukupnya agar udara segar masuk tanpa menerpa langsung ke wajahnya. Saat cuaca berubah mendung dan angin mulai bertiup kencang, jendela itu perlahan tertutup kembali sebelum ia sempat menggigil. Pena yang tumpul, kertas yang menipis, meja yang sedikit miring... semuanya tampak teratasi begitu saja seakan ada yang mengurusnya diam-diam. Anisa tahu siapa pelakunya. Ia tak pernah menanyakannya, dan Kenzo pun tak pernah mengakuinya. Namun setiap kali matanya beralih menatap Kenzo, lelaki itu selalu terlihat sedang sibuk membaca buku dengan wajah tenang seakan tak terjadi apa-apa, sementara telinganya yang memerah samar tak mampu menyembunyikan kegugupannya. Hal-hal kecil itu sederhana sekali, namun terasa begitu hangat menyentuh hati Anisa, seakan Kenzo sedang berkata tanpa suara: Aku memperhatikanmu. Dan aku peduli padamu.
Begitu pun sebaliknya. Kenzo pun perlahan menyadari betapa besar makna di balik hal-hal kecil yang dilakukan Anisa. Setiap kali ia lelah hingga keningnya berkerut, selalu tersedia segelas air putih dingin di samping bukunya tanpa nama pengirim. Setiap kali ia sibuk hingga lupa istirahat, sepotong roti atau sebutir permen kesukaannya akan terselip rapi di sela halaman catatannya. Saat ia pulang dengan pakaian yang sedikit lembap karena hujan, selembar tisu basah bersih akan menunggu di dalam tasnya saat ia membukanya di rumah. Hal-hal itu begitu kecil, begitu sederhana, namun bagi Kenzo itu adalah hal terbesar yang pernah ia terima. Karena perhatian itu datang bukan karena tugas, bukan karena kewajiban, melainkan murni dari hati yang tulus yang tak ingin ia jatuh sakit atau kelelahan. Dan hal itu ternyata jauh lebih menyentuh hatinya daripada pujian atau kata-kata indah mana pun yang pernah didengarnya.
Suatu hari, saat jam pelajaran berlangsung dan cuaca tiba-tiba menjadi sangat panas hingga keringat mulai menetes di pelipis, Anisa tanpa sengaja mengipasi dirinya dengan selembar kertas berulang kali. Tak lama kemudian, ia merasakan angin sejuk perlahan menyapu wajahnya. Anisa berhenti sejenak dan melirik ke samping. Ternyata Kenzo duduk sedikit miring ke arahnya, diam-diam mengipasi buku tebal yang dipegangnya sedemikian rupa sehingga angin sejuk itu justru mengalir ke arah Anisa. Wajah Kenzo tetap menatap papan tulis dengan tenang seakan tak melakukan hal istimewa, namun gerakan tangannya tetap berirama perlahan dan konsisten, tak berhenti sedikit pun.
Hati Anisa seketika terasa hangat luar biasa. Ia menahan senyum dan menatap ke depan, namun pipinya perlahan memerah samar. Ia tak berkata apa-apa, namun dalam hatinya ia paham betul makna di balik gerakan kecil itu. Tak perlu kata-kata. Cukup dirasakan saja sudah cukup.
Di lain kesempatan, saat Kenzo tak sengaja melukai jari tangannya saat memungut pecahan gelas yang jatuh, ia sama sekali tak mempermasalahkannya dan berusaha menyembunyikannya agar tak diketahui siapa pun. Namun sepuluh menit kemudian, Anisa melintas di dekat mejanya tanpa berhenti, dan diam-diam menyelipkan selembar plester bersih di atas bukunya, lengkap dengan coretan kecil pensil berwarna di pinggirannya: Hati-hati ya. Kenzo memandang plester itu lama sekali. Jari yang terluka tadi kini terasa tak lagi perih sama sekali, karena hatinya justru terasa jauh lebih hangat dan nyaman dari apa pun.
Perhatian-perhatian kecil itu terus mengalir tenang di antara mereka, hari demi hari. Tak pernah saling dibalas dengan ucapan terima kasih yang berlebihan, tak pernah dipamerkan kepada siapa pun. Namun justru karena kesederhanaannya itulah, setiap perhatian itu terasa begitu berharga dan berbekas mendalam di hati. Mereka belajar satu hal yang berharga: bahwa mencintai tak selalu harus terucap dengan kata-kata yang luhur. Bahwa hal-hal kecil yang dilakukan dengan tulus dan tanpa pamrih justru menyampaikan pesan yang jauh lebih dalam. Bahwa sebuah perhatian kecil yang tulus ternyata mampu menerangi hari seseorang sepenuhnya, dan membuat hati yang menerimanya merasa begitu berharga, begitu diperhatikan, dan begitu dicintai tanpa perlu dikatakan sedikit pun.
Dan pada akhirnya, mereka pun paham: dari perhatian-perhatian kecil itulah benih kasih sayang mereka tumbuh semakin subur dan kuat. Karena hal-hal besar bisa saja berubah dan pudar seiring waktu, namun perhatian kecil yang lahir dari hati yang tulus... ia akan tetap terukir abadi di sanubari, menjadi saksi bisu betapa dalamnya rasa yang saling mereka miliki.
BERSAMBUNG...