Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 18
“Tapi, Sulastri begitu kejam memfitnah juga mencuci otak lelaki yang memang begitu tergila-gila padanya.” Sorot mata Marni mengilat, giginya bergemeletuk menahan amarah kian membuncah di dada.
“Berarti Anne dan Argono, saudar—”
“Bukan.” sergah Marni seraya menoleh tajam ke arah Maria. “Gundik itu hamil entah anak siapa. Dia menipu, berpura-pura mengandung agar Kartijo tak meninggalkannya. Berkali-kali aku mengetahui ia sedang bermain gila dengan juragan kaya di kota, bahkan kusir dokar kepercayaannya. Tapi juragan Kartijo seolah tutup mata, hanya karena silau oleh kepolosannya.”
Maria merubah posisinya menjadi duduk, memerintah Marni memijat tengkuk yang terasa pegal sebab seharian menulis buku laporan.
Alis coklat dengan lekuk rapi mengerut dalam, jari dengan kutek warna merah hati, mengetuk betis kaki yang dibiarkan tak tertutup selimut. “Tapi aneh rasanya, bagaimana bisa paman Petter takluk dengannya? Kami keturunan Eropa, selalu mempertimbangkan perihal teman hidup, sekalipun itu gundik. Paling tidak dia yang masih perawan, kenapa paman bisa menerima Sulastri yang jelas-jelas wanita hina, datang membawa bayi pula.”
“Saya tidak yakin dengan firasat saya, Non, takut salah. Tapi …,” Marni menggantungkan ucapannya, memantik amarah dalam hati Maria.
“Tapi apa! Jangan setengah-setengah kalau berbicara. Aku paling tidak suka sesuatu yang ditutup-tutupi,” hardiknya sambil menepis tangan Marni yang kembali mencoba memijat tengkuknya.
“Tapi saya curiga, Sulastri memakai gendam untuk membuat tuan Londo takluk, semacam pelet maksud saya,” lanjut wanita paruh baya itu. “Dan itu juga saya lihat di gadis itu. Melihat bagaimana semua orang tunduk padanya, jelas ilmu di wariskan ke anaknya oleh Sulastri.”
Maria tersenyum tipis, lalu kembali mebaringkan badan ke kasur empuk, memerintah sang dukun pijat sekaligus pembantu rumah tangganya untuk melanjutkan pijatannya. “Dasar pribumi kolot. Zaman sudah maju masih saja menggunakan cara kotor dengan bantuan pada kemenyan. Aku mau lihat … seberapa sakti ilmu Anne, bertahan melawan kemajuan zaman.”
Senyum culas terbit dari bibir pucat Marni, sudah dua bulan lebih sejak ia bekerja di rumah Maria, wanita itu terus meracuni otak gadis selalu mengamuk dan memaki nama Anne saat baru pulang bekerja, atau kala ia baru saja menerima panggilan telepon dari orang tuanya.
“Saya sangat bersyukur pada Yang Maha Kuasa karena mempertemukan saya dengan Noni yang mau membantu melampiaskan dendam saya. Paling tidak harga diri saya kembali dengan membuktikan ke warga desa kalau Sulastri itu gundik yang merebut kebahagian saya dan Argono. Tiap kali mengingatnya tanpa sadar air mata menetes di pipi.” Marni kembali terisak, tentu saja hanya pura-pura, dalam hati ia tertawa puas sebab berhasil mengendalikan pikiran majikannya.
Maria tersenyum miring, netranya menatap lurus gelap malam di luar jendela. “Nasib yang mempertemukan kita, aku pun dendam pada anak pribumi itu. Karena nya hidup ku selalu dibanding-bandingkan. Paling membuatku muak, ia mengambil semua perhatian orang, terutama Hans, kekasihku.”
Marni melirik sekilas sebelum kembali memasang raut polos, dari bibirnya muncul senyum yang tertahan. “Anda harus merebut semuanya, Non, karena Anda yang lebih pantas mendapatkannya.”
“Tentu saja. Tak hanya kekuasaan, tapi juga hidup Anne. Semua harus berpindah ke genggamanku,” ucap Maria penuh ambisi.
“Pijat bagian punggung itu lebih kuat. Tambahkan lagi minyak urutnya,” lanjutnya memberi perintah sambil meletakkan kepala di bantal bersarung kain sutra.
Marni mengangguk patuh, lalu buru-buru menambah tekanan pada tangannya. Dalam hati bergumam tajam.
'Ternyata mudah juga membohongi wanita Eropa.'
.
.
.
Embun masih menggantung di pucuk dedaunan yang bergemerisik tertiup angin lembah. Suara serangga hutan berderik liar seirama gemericik air sungai. Melimpah ruahnya kekayaan alam yang ada di desa Lereng Bukit dimanfaatkan penduduk desa dengan sebaik-baiknya.
Tiap pagi ibu-ibu akan mencuci pakaian pada aliran sungai berair jernih, sekalian menjaring ikan di bagian sungai yang lebih tenang. Beberapa bapak-bapak, mengangkut jerigen-jerigen yang diisi sumber air alami, mengalir dari mata air alami di tengah hutan.
Di aliran terlihat paling jernih, tiga orang ibu muda tengah mencuci pakaian sambil bercanda ringan, menanggapi cerita dari salah satu ibu muda tengah hamil enam bulan.
“Seng bener kowe, Tut, mosok di sawah kuda-kudaannya?” tekan Rodiyah memastikan informasi yang baru saja di bawa Tutik.
“Lah … mosok aku ngapusi. Aku lihat sendiri mereka keluar dari gang persawahan, menunggangi kuda sambil tertawa cekakakan. Bajunya pun basah oleh keringat, terlihat kotor juga, jelas itu buat alas tidurnya,” sambil mengucek baju Tutik meyakinkan tetangganya.
“Kuwi namanya bukan kuda-kudaan, tapi berkuda!” Begitu santai seorang ibu lainnya menyipratkan air bekas cucian ke wajah Tutik.
“La iyo … tak kira lak kuda-kudaan ngene bener,” timpal Rodiyah sambil memaju mundurkan bokongnya.
Tutik yang masih tak mau kalah, tetep keukeuh dengan apa yang diyakini kembali menyahut. “Yo berkuda itu kalo sudah sampai perkampungan, pas di tengah gelap malam … siapa yang tau?”
Si ibu muda menggeleng samar, tak lagi menanggapi mulut Tutik yang masih menggerutu, melakukan pembelaan diri. Memilih kembali fokus pada pakaian sedang digilasnya pada batu kali.
Celotehan ibu-ibu muda yang masih meragukan cerita Tutik, kian menggema, beradu dengan kicau burung dan kresak-kresuk kain yang tergesek batu kali.
“Awas loh, Tut, bisa jadi fitnah kejam nanti, kalau sampai cerita yang kamu bawa itu tak terbukti. Paling takutnya lagi, kalau sampai mbak Anne mengetahui, bisa-bisa—”
“Bisa-bisa anak yang dikandungnya malu lahir ke dunia, sebab memiliki orang tua yang kotor mulut serta hatinya,” sergah sebuah suara yang membuat para ibu-ibu menunduk seketika.
Anne berjalan tenang, menuruni lereng landai menuju aliran sungai. Wajah ayu nya semakin terpancar dengan pakaian kebaya dan kain jarik yang tersingkap hingga bagian lutut, surai hitam legamnya dibiarkan terurai mengeluarkan aroma kayu manis dan bunga melati yang mahal.
“Kowe itu sudah ku peringatkan, jaga mulut selagi masih makan dari hasil tanah yang aku pinjamkan. Tak juga tersadar, opo memang mulutnya orang melarat itu busuk seperti ini?!” lanjut Anne tanpa menoleh, duduk pada batu besar merasakan tamparan mentari pagi yang hangat.
Tutik mendengus kesal, sudut matanya blingsatan, kesana-kemari, mencari dukungan dari sang sahabat. Nahasnya dua orang yang baru saja diajak menebar fitnah memilih menunduk, fokus pada kegiatan mencucinya.
“Ngopo diem, Mbakyu? Tadi saja kowe begitu berapi-api mengatakan aku dan Hans Williams kuda-kudaan, kok sekarang melempem? Tanya saja mumpung ada aku di sini, ndak usah ragu, atau kowe mau aku ceritakan langsung bagaimana aku dan sahabatku itu berkeringat bareng?” sarkas Anne, masih tak menoleh pada lawan bicaranya.
Sudut bibir Anne terangkat tipis, ia baru saja selesai mencuci tangan, lalu berdiri sambil menggelung rambut dengan tusuk konde kuningan yang disimpan di lipatan kain jarik. Langkahnya tenang, berpindah dari batu satu ke batu lainnya, mendekat pada ibu-ibu seketika berpura bisu.
Begitu tenang Anne kembali duduk berjongkok, mengambil selembar kain jarik baru selesai disikat batu kali, tangan lentiknya membilas kain masih terdapat bekas sabun, tak lagi berucap sepatah kata, membiarkan suasana membisu pada keresahan pikiran masing-masing kepala.
Ketegangan kembali mencair saat Anne sudah melangkah pergi, masih tidak meninggalkan sepatah kata, hanya diam, namun bibir menyunggingkan senyum, yang meski terlihat hangat, tapi membikin ngeri siapapun yang melihat.
Pundak Rodiyah lebih dulu merosot, helaan napas panjang nan melelahkan berhembus dari bibir setebal potongan tomat dibagi delapan bagian. Tangan basah menepuk sedikit kencang punggung Tutik. Ibu hamil itu terpaku, bak tak lagi bernyawa.
“Tut, kowe ….”
Bersambung
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria