NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Angin sore meliuk dingin menyusuri koridor depan ruang OSIS. Kirei berdiri mematung. Jemarinya meremas tali tas sampai buku-buku jarinya memutih pucat. Kalimat Arka soal Dion terus terngiang, membakar pening di kepalanya—sepupu Bima, anak pemilik Hartono Corp.

"Enggak usah panik, Kirei," celetuk Arka memotong sepi. Langkahnya pelan dari samping. Tanpa permisi, ia menyampirkan jaket kulit hitamnya ke bahu Kirei, membentengi tubuh cewek itu dari terpaan angin dingin. "Ada gue. Dion enggak bakal bisa bertingkah di sini."

Kirei merapatkan lipatan jaket Arka yang hangat dan menyebarkan aroma citrus segar. "Arka... tapi dia masuk Humas OSIS. Otomatis dia bakal sering nempel buat urusan olimpiade sama acara sekolah. Gue enggak mungkin terus-terusan kabur."

Arka menyentil dahi Kirei pelan memakai telunjuknya, bikin cewek itu meringis reflex.

"Siapa yang suruh kabur, Bu Ketua?" Arka tersenyum miring. Pendar matanya tajam, menyuntikkan rasa percaya diri yang mendadak menular. "Tetap jadi Ketua OSIS yang galak kayak biasa. Tapi catat aturan baru ini..."

Arka mencondongkan badan, menunduk sampai pandangan mereka terkunci rapat. Jarak yang menyusut drastis bikin jantung Kirei mendadak berdegup liar.

"...tiap Dion ada di sekitar lo, pasang jarak minimal dua meter. Kalau melanggar, denda poin tinta merah lo gue lipat gandakan," bisik Arka sambil menyunggingkan cengiran jahil.

Pipi Kirei langsung membara. "Enak aja! Aturan sembilan belas poin kan cuma berlaku di rumah, bukan di sekolah!"

"Sekarang berlaku di mana saja. Gue suaminya, terserah gue," sahut Arka santai. Ia membalikkan badan, melangkah santai menuju parkiran. "Ayo pulang. Sebentar lagi hujan turun."

Kirei menggigit bibir bawah, menahan senyum yang mendadak mendesak keluar. Suaminya... sebutan itu anehnya tak lagi terasa asing atau mengganggu.

Gerimis tebal membasahi perumahan begitu motor sport hitam Arka berhenti mulus di garasi.

Kirei melepas helm, menyisir rambutnya yang kusut dengan jemari. Baru saja kakinya menapak ruang tamu, ponselnya bergetar nyaring. Notifikasi WhatsApp dari nomor Dion masuk.

Dion: [Mengirim lampiran PDF] Selamat malam, Kirei. Ini draf proposal sponsor Hartono Corp untuk Olimpiade Sekolah pekan depan. Sudah gue susun rapi. Bisa dicek malam ini? Kalau ada revisi, besok pagi kita bedah di ruang OSIS sebelum bel.

Kirei mengerutkan kening. Dion bergerak terlalu cepat dan rapi. Proposal resmi dari raksasa seperti Hartono Corp memang tawaran menggiurkan untuk sekolah, tapi jelas ada umpan tersembunyi untuk mengunci Kirei dalam lingkaran permainannya.

"Pesan dari siapa?" suara Arka bergelombang dari balik pantry. Kaos hitam polosnya membingkai bahu tegapnya setelah melepas seragam.

Kirei buru-buru memadamkan layar. "Cuma... draf proposal OSIS."

Arka mendekat, matanya menyipit curiga. "Dari Dion?"

Kirei menelan ludah, mengangguk pelan. "Dia menawarkan proposal sponsor Hartono Corp buat olimpiade. Arka, ini tawaran besar. Gue enggak bisa menolaknya mentah-mentah di depan Pak Hartawan tanpa alasan sah."

Arka menyambar ponsel dari tangan Kirei tanpa kasar, memindai layar sejenak. Raut santainya seketika mengeras dingin.

"Hartono Corp enggak pernah beramal cuma-cuma ke sekolah menengah, Kirei," cetus Arka kaku, mengempaskan ponsel itu balik ke meja kaca. "Ini taktik Dion membeli pengaruh di OSIS. Dia mau mengunci lo lewat utang budi."

"Gue tahu," Kirei mengikis jarak, menatap lurus iris cokelat pekat cowok itu. "Makanya draf ini bakal gue bedah sampai ke titik komanya malam ini. Gue cari celah hukum atau jebakan yang bisa merugikan sekolah. Gue Ketua OSIS, Arka. Gue enggak akan membiarkan Dion memanfaatkan jabatan gue."

Arka menatap Kirei lama. Ketegasan di mata cewek itu—pendar gadis pintar pantang menyerah yang dulu bikin Arka terpikat—menyala begitu terang.

Rasa hangat perlahan merayapi dada Arka. Senyum tipis terukir di bibirnya.

"Oke," Arka mengacak rambut Kirei gemas. "Tapi lo enggak bakal membedah berkas itu sendirian."

Pukul 22.00 WIB.

Hujan deras menghantam atap rumah. Gemuruh petir sesekali bersahutan, melingkupi hangatnya kamar tidur utama.

Di atas kasur berseprai abu-abu, Kirei dan Arka duduk berdampingan. Laptop menyala di tengah, dikepung helai-helai cetakan draf proposal yang berserakan.

Kirei mengusap matanya yang berat, merapikan kacamata. Piyama katun merah mudanya tampak kontras di sebelah Arka yang hanya dibalut kaos oblong hitam.

"Lihat pasal 4 ayat 2 ini, Arka," tunjuk Kirei pakai ujung pulpen ke layar. "Hartono Corp meminta hak eksklusif memublikasikan biodata peserta olimpiade, sampai ke data pribadi dan latar belakang keluarga."

Arka menyandarkan punggung ke kepala ranjang, miring meneliti draf. "Jebakan halus. Dia mau memetakan bisnis keluarga peserta lain. Dion cerdik... tapi masih kurang rapi."

Arka merengkuh jemari Kirei yang memegang pulpen, menuntun tangan cewek itu untuk mencoret tegas pasal tadi di kertas cetakan.

Sentuhan kulit mereka yang hangat bikin napas Kirei tersangkut di tenggorokan. Dada tegap Arka teramat dekat di balik punggungnya. Aroma sampo mint khas cowok itu memenuhi indra penciumannya.

"Arka..." bisik Kirei pelan, detak jantungnya mendadak tak terkendali.

"Hm?" Arka tak melepas genggamannya di jemari Kirei. Matanya fokus ke layar, tapi jarak wajah mereka dari samping kini tersisa hitungan sentimeter.

"Lo... kenapa mau membantu gue sejauh ini?" tanya Kirei lirih. "Urusan OSIS kan bukan beban lo. Lo bisa saja tidur tenang di kamar."

Gerakan tangan Arka terhenti. Ia memutar kepala pelan, mengunci tatapan Kirei. Di bawah pendar lampu kamar yang temaram, sorot mata Arka memancarkan ketulusan yang telanjang.

"Gue kan sudah bilang, Rei?" suara Arka memberat, rendah dan menggetarkan ulu hati Kirei. "Di rumah ini, lo istri gue. Dan di luar, lo tetap orang yang paling mau gue jaga. Gue enggak butuh alasan lain buat berdiri di samping lo."

Dada Kirei bergemuruh hebat. Kehangatan meluap di relung jiwanya, mengikis habis sisa-sisa ragu yang pernah ada.

Tanpa sadar, Kirei membalas cengkeraman jemari Arka. "Makasih, Arka..."

Arka menatap bibir Kirei yang sedikit terbuka, lalu berpindah ke iris matanya. Suasana kamar berubah intens, sarat emosi yang tertahan. Arka mencondongkan wajahnya pelan.

Kirei tak bergeming. Matanya terpejam lambat, membiarkan helap napas hangat Arka menyapu kulit pipinya.

BZZZT!

Padam mendadak! Seluruh rumah gelap gulita. Gemuruh petir menggelegar dahsyat membelah malam, disusul kilatan cahaya dari jendela.

Kirei tersentak, menjerit kecil lalu refleks merengkuh leher Arka erat-erat.

"Arka!"

Arka terkekeh rendah di kegelapan. Tangannya bergerak cepat melingkari pinggang Kirei, mendekapnya rapat agar tak meluncur dari ranjang.

"Tenang, Bu Ketua," bisik Arka tepat di telinga Kirei, hangat tubuhnya menjadi benteng kokoh dari rasa takut. "Cuma mati lampu gara-gara petir."

Di tengah pekatnya malam dan detak dada yang saling beradu cepat, Kirei menyandarkan kepala di dada Arka—menyadari bahwa di dalam pelukan ini, kegelapan sejahat apa pun terasa begitu aman.

Namun, ponsel Arka di atas nakas mendadak bergetar panjang. Panggilan masuk dari nomor asing berkode luar negeri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!