Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Arga membaca deskripsi sistem itu dengan mata berbinar-binar penuh perhitungan bisnis.
"Sayuran penyembuh lagi, ini pasti akan laku sangat keras kalau dijual ke orang kaya kota yang suka makan sembarangan."
"Cabai ini akan menjadi senjata keduaku untuk menaklukkan lidah Siska dan bos-bos restoran lainnya."
Arga menyimpan kembali kantong bibit itu ke dalam sakunya dengan sangat hati-hati.
Dia berniat menanamnya siang ini juga setelah pagar seng di halaman belakangnya selesai dibangun.
Brum brum brum.
Suara mesin mobil bak terbuka yang berisik memecah keheningan pekarangan rumah Arga.
Sebuah mobil pick up hitam yang dipenuhi tumpukan lembaran seng dan kayu balok masuk ke halaman.
Mang Udin duduk di kursi penumpang depan dan segera melompat turun begitu mobil itu berhenti sempurna.
Di belakang mobil bak itu dua orang kuli bangunan berbadan kekar ikut melompat turun sambil meregangkan otot mereka.
"Bos Arga, mamang datang bawa pasukan sesuai pesanan nih." Mang Udin berteriak riang sambil melambaikan tangannya.
Arga bangkit berdiri dan menyambut mereka dengan senyuman lebar.
"Mantap Mang Udin, kerjanya cepat sekali sesuai dengan harapan saya."
Mang Udin berjalan mendekati Arga namun raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sedikit serius dan penuh rahasia.
Dia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah memastikan tidak ada tetangga yang sedang menguping pembicaraan mereka.
"Ga, kamu beneran jualan tomat sebiji harganya seratus ribu perak di pasar tadi pagi?" Mang Udin berbisik dengan nada setengah tidak percaya.
Arga tertawa pelan menyadari bahwa berita kegilaannya di pasar pasti sudah menyebar secepat kilat di desa ini.
"Iya Mang, memangnya kenapa, apa salah kalau saya jualan barang premium dengan harga mahal?"
Mang Udin menepuk jidatnya sendiri lalu menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Bukannya salah Ga, tapi satu desa sekarang lagi heboh membicarakan kamu yang katanya pakai pelet buat nipu orang kota."
"Kata ibu-ibu pasar ada perempuan cantik kaya raya yang kesurupan sampai mau memborong tomatmu seharga lima juta rupiah."
"Bahkan ada yang bilang tomatmu itu sebenarnya batu akik yang disulap pakai ilmu hitam."
Arga memutar bola matanya malas mendengar betapa kreatifnya mulut ibu-ibu desa dalam mengarang sebuah cerita fiksi.
"Biarkan saja mereka bicara Mang, namanya juga orang iri melihat orang lain sukses sedikit."
"Masalahnya bukan cuma ibu-ibu gosip itu Ga, tapi Pak Bowo si tengkulak pelit itu juga ikutan panas telinganya." Mang Udin memperingatkan dengan nada khawatir.
Arga mengerutkan keningnya mendengar nama Pak Bowo disebut-sebut dalam urusan bisnis sayurannya.
Pak Bowo adalah orang terkaya nomor dua di desa ini yang memonopoli seluruh hasil panen petani dengan harga yang sangat murah.
"Apa urusannya Pak Bowo dengan tomat saya Mang, saya kan tidak pernah pinjam uang kepadanya."
"Kamu kan tahu Ga, Pak Bowo itu merasa dirinyalah satu-satunya penguasa sayuran di daerah sini." Mang Udin menjelaskan sambil menyalakan rokok kreteknya.
"Tadi pagi waktu mamang beli kopi di warung, Pak Bowo marah-marah banting gelas kaca sampai pecah berantakan."
"Dia dengar kabar kalau manajer restoran dari kota yang namanya Bu Siska itu beli sayur dari kamu."
"Padahal Pak Bowo sudah berbulan-bulan mencoba melobi Bu Siska itu supaya mau ambil sayur dari tengkulaknya tapi selalu ditolak mentah-mentah."
Arga kini mengerti sepenuhnya akar permasalahan yang membuat tengkulak serakah itu kebakaran jenggot.
Pak Bowo pasti merasa harga dirinya terinjak-injak karena manajer kota incarannya malah membeli sayur dari pemuda kemarin sore sepertinya.
"Wah ternyata Nona Siska itu bukan orang sembarangan ya sampai Pak Bowo saja mengemis kontrak padanya." Arga bergumam pelan memikirkan kartu nama di sakunya.
"Makanya kamu hati-hati Ga, Pak Bowo itu orangnya pendendam dan licik luar biasa."
"Dulu ada petani desa sebelah yang berani jual langsung ke kota tanpa lewat dia, kebunnya langsung habis disiram racun rumput diam-diam."