NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 019: Preman

Malam itu, Restoran Rasa Nusantara cabang Kota Tanjung Emas sedang penuh.

Aroma bawang goreng, serai, dan sambal terasi memenuhi ruang makan. Di satu sudut, satu keluarga sedang tertawa karena anak kecil mereka menolak makan sayur. Di meja dekat jendela, dua pegawai kantor memesan nasi liwet untuk dibawa pulang. Suasana sibuk, panas, dan hidup.

Putri Larasati berdiri di dekat meja kasir sambil memegang buku reservasi.

"Meja empat sudah selesai, Mbak?" tanya salah satu pelayan.

"Sebentar, saya cek dulu. Jangan lupa senyum ke tamu, ya. Kalau ada keluhan, panggil saya."

Nada Putri masih sopan seperti biasa. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya tetap terang. Sejak Restoran Rasa Nusantara viral, pelanggan datang seperti air banjir. Ia sering bekerja sampai telapak kakinya nyeri, tapi setiap kali melihat antrean di depan pintu, ia merasa restoran ini seperti rumah yang ramai.

Pintu kaca tiba-tiba terbuka keras.

Empat laki-laki masuk tanpa menunggu disambut. Yang paling depan memakai jaket hitam, rambut cepak, rantai tipis di leher, dan senyum miring yang membuat beberapa pelanggan langsung menunduk.

Ruangan yang tadinya ramai mendadak pelan.

Putri mengangkat kepala.

"Selamat malam, Pak. Untuk berapa orang?"

Laki-laki itu menatapnya dari ujung rambut sampai sepatu.

"Bos kamu mana?"

Putri menahan napas. "Bapak mau bertemu manajer? Bisa saya panggilkan. Tapi kalau ada keperluan, boleh disampaikan dulu ke saya."

Laki-laki itu tertawa pendek.

"Nama gue Joko Anwar. Orang sini biasanya paham kalau gue datang bukan buat makan."

Satu pelayan di belakang Putri memucat. Beberapa karyawan saling pandang. Nama itu tidak asing di Kota Tanjung Emas. Joko Anwar dikenal sebagai preman pasar, orang yang datang ke toko baru lalu bicara tentang keamanan. Kalau pemilik toko menolak, besoknya kaca pecah, barang hilang, atau pelanggan diganggu.

Restoran Rasa Nusantara dan Garuda Mart belum pernah membayar uang keamanan kepada siapa pun.

Putri tidak tahu semua detail itu, tapi ia bisa merasakan bahaya dari cara para karyawan diam.

"Pak, restoran kami sedang melayani pelanggan. Kalau Bapak ingin bicara dengan pimpinan, saya bisa sampaikan. Mohon tidak mengganggu tamu."

Joko mendekat satu langkah.

"Kamu siapa?"

"Saya Putri, staf restoran."

"Staf?" Joko mencibir. "Staf kok berani nahan gue?"

"Saya tidak menahan, Pak. Saya hanya menjalankan prosedur."

Kata prosedur itu membuat Joko kehilangan sabar.

Tangannya bergerak cepat.

Plak.

Suara tamparan itu memotong seluruh ruangan.

Putri terhuyung, menabrak sisi meja kasir, lalu jatuh ke lantai. Buku reservasi terlempar. Bibirnya terasa panas. Saat ia menyentuh sudut mulutnya, ujung jarinya basah oleh darah.

Untuk beberapa detik, ia tidak bisa menangis. Ia hanya duduk di lantai, mata melebar, seperti otaknya menolak percaya bahwa itu baru saja terjadi.

"Mbak Putri!" seorang pelayan perempuan berteriak.

Dua karyawan laki-laki maju, tetapi anak buah Joko langsung menghadang. Salah satu dari mereka menendang kaki kursi hingga bergeser kasar.

"Mau jadi pahlawan?" katanya.

Joko mengambil gelas di meja terdekat, lalu melemparkannya ke lantai. Pecahannya menyebar. Pelanggan di meja itu menjerit dan mundur.

"Dengar baik-baik!" Joko berteriak. "Tiga hari. Suruh bos kalian datang ke gue. Uang keamanan dibayar tiap bulan. Kalau tidak, restoran ini tidak usah buka lagi."

Ia menendang meja kosong sampai miring. Piring jatuh, kuah soto tumpah ke lantai.

"Garuda Mart juga sama. Jangan pikir toko kalian besar lalu bisa sok suci di wilayah orang."

Setelah itu, Joko berbalik seperti orang yang baru selesai memberi pengumuman biasa. Anak buahnya mengikuti. Pintu kaca tertutup dengan bunyi keras.

Baru setelah mereka pergi, tangis Putri pecah.

Di Jakarta, Rian Prasetyo baru selesai makan malam bersama Indra Sasmita ketika ponselnya bergetar.

Nama Darmawan muncul.

Rian mengangkat. "Ada apa, Mas Darmawan?"

Di seberang sana, napas Darmawan terdengar berat.

"Pak Bos, maaf mengganggu. Restoran diserang preman."

Rian berhenti bergerak.

"Ada yang luka?"

Darmawan diam setengah detik.

"Putri ditampar. Bibirnya berdarah. Dia sangat takut, Pak."

Udara di sekitar Rian seperti mendingin.

Selama ini, sistem rugi membuat hidupnya penuh adegan konyol. Ia mencoba menghabiskan uang, orang lain malah memujinya. Ia membeli aset rongsok, malah jadi jenius. Ia menanam saham asal-asalan, malah menjadi legenda.

Tapi ini bukan lucu.

Ini bukan tentang untung atau rugi.

"Saya pulang sekarang," kata Rian.

"Pak Bos, penerbangan terakhir mungkin sudah tidak ada."

"Saya cari cara. Kumpulkan CCTV. Jangan hapus apa pun. Bawa Putri periksa. Kalau ada pegawai yang mau pulang, izinkan. Gaji tetap dihitung. Tutup restoran malam ini."

"Siap, Pak Bos."

Rian menutup telepon. Indra yang duduk di depannya langsung berdiri.

"Pak Rian, ada masalah?"

"Ada orang menyentuh karyawan saya."

Indra terdiam.

Nada Rian tidak keras. Justru terlalu tenang.

Malam itu juga, Rian menyewa mobil dan sopir untuk pulang ke Kota Tanjung Emas. Jalan tol terasa panjang. Lampu-lampu kota tertinggal di belakang. Dalam kabin yang sunyi, ia melihat rekaman CCTV yang dikirim Darmawan.

Putri berdiri dengan sopan.

Joko mendekat.

Tamparan itu terjadi.

Rian memutar ulang sekali, lalu berhenti. Ia tidak sanggup melihatnya lagi.

Saat matahari baru naik, Rian tiba di Restoran Rasa Nusantara. Papan restoran masih terpasang, tetapi pintu depan tertutup. Di dalam, beberapa karyawan duduk dengan wajah pucat. Darmawan berdiri di dekat kasir, matanya merah karena semalaman tidak tidur.

Putri duduk di kursi sudut. Ada plester kecil di dekat bibirnya. Bengkaknya tidak parah, tapi ketika pintu terbuka, tubuhnya langsung menegang.

Begitu melihat Rian, ia berdiri terburu-buru.

"Pak, maaf. Saya tidak bisa menahan mereka. Saya sudah coba bicara baik-baik, tapi..."

Suaranya patah.

Rian berjalan mendekat.

"Duduk, Putri."

"Tapi, Pak..."

"Duduk."

Putri duduk kembali, kedua tangannya menggenggam ujung seragam.

Rian berjongkok sedikit agar matanya sejajar dengan Putri.

"Putri, ini bukan salahmu. Mulai hari ini, tidak akan ada orang yang berani menyentuh kalian lagi."

Air mata Putri jatuh tanpa suara.

Darmawan menunduk. Beberapa pegawai lain yang mendengar kalimat itu ikut memalingkan wajah, berusaha menahan emosi.

Rian berdiri.

"Mas Darmawan, siapkan rekaman CCTV, daftar saksi, foto kerusakan, hasil pemeriksaan Putri, dan laporan kerugian barang. Kita ke kantor polisi."

"Siap, Pak Bos."

Di kantor polisi, Rian menyerahkan semua bukti. Petugas menerima laporan, mencatat kronologi, lalu memeriksa rekaman. Ekspresi mereka berubah ketika melihat Joko menampar Putri.

"Ini jelas penganiayaan ringan dan perusakan," kata salah satu petugas. "Juga ada unsur pemerasan."

"Saya ingin proses hukum berjalan," kata Rian. "Karyawan saya diserang di tempat kerja."

Petugas itu menghela napas.

"Kami akan tindak lanjuti, Pak. Tapi Joko Anwar ini... punya banyak catatan. Dia juga punya kenalan. Kami perlu hati-hati."

"Hati-hati boleh," jawab Rian. "Lambat jangan."

Kalimat itu membuat ruangan sebentar sunyi.

Petugas menatapnya, lalu mengangguk. "Kami paham, Pak."

Rian tahu jalur hukum harus ditempuh. Laporan resmi harus ada. Bukti harus masuk. CCTV harus tersimpan. Tapi ia juga paham satu hal lain: karyawan tidak bisa menunggu proses yang berjalan pelan sambil berharap preman tidak datang lagi.

Siang itu, di kantor Garuda Mart, Darmawan membawa seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Tubuhnya tegap, rambutnya pendek, wajahnya keras tanpa terlihat sombong. Di belakangnya berdiri tiga orang lain dengan sikap yang sama: diam, waspada, dan tidak membuang gerakan.

"Pak Bos, ini Hendro," kata Darmawan. "Mantan tentara. Sekarang mengelola jasa pengamanan kecil. Tim intinya empat orang."

Hendro memberi hormat pendek.

"Pak Rian."

"Saya butuh keamanan untuk semua cabang Garuda Mart dan Restoran Rasa Nusantara di Kota Tanjung Emas," kata Rian. "Tugas utama: lindungi karyawan dan pelanggan. Tidak cari ribut. Tidak pukul duluan. Semua kejadian dicatat dan direkam. Kalau ada serangan, amankan orang, hubungi polisi."

Hendro mengangguk.

"Bisa, Pak. Tapi saya perlu bicara jujur."

"Silakan."

"Joko Anwar itu kecil. Yang membuat orang takut bukan Joko saja."

Darmawan mengerutkan kening. "Maksudnya?"

Hendro menatap Rian.

"Pamannya pejabat. Kepala Dinas Suharto. Banyak izin usaha dan pemeriksaan teknis di kota ini lewat tanda tangan beliau. Kalau Bapak hanya menangkap Joko, masalah belum selesai."

Ruangan itu menjadi berat.

Rian melihat kontrak pengamanan di atas meja, lalu menandatanganinya.

"Kalau begitu, kita mulai dari memastikan orang-orang saya aman."

Ia menyerahkan kontrak itu kepada Hendro.

"Setelah itu, baru kita lihat seberapa besar orang di belakang Joko."

Hendro menerima kertas tersebut.

"Siap, Pak."

Di luar kantor, matahari Kota Tanjung Emas bersinar terang. Tetapi untuk pertama kalinya sejak membuka Garuda Mart, Rian merasa kota ini menyimpan sesuatu yang busuk di balik papan izin, stempel, dan jabatan.

Dan kali ini, ia tidak sedang mencari kerugian.

Ia sedang mencari cara untuk membuat orang yang salah paham pada kekuasaan belajar takut pada hukum.

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!