NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Di dalam ruangan VIP yang luas dan elegan, Danu menyerahkan sebuah berkas dokumen tebal berbalut map kulit eksklusif dengan sikap amat hormat.

"Silakan, Tuan Repan. Dengan menandatangani dokumen ini, seluruh kepemilikan aset dan kendali operasional restoran ini resmi menjadi milik Anda," ucap Danu seraya membungkukkan badannya ringan.

Repan mengangguk pelan. Raut wajahnya tampak tenang tanpa ekspresi berlebihan. Ia mengambil pulpen, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas lembar dokumen tanpa keraguan sedikit pun.

Dengan tuntasnya goresan tinta tersebut, kepemilikan restoran mewah itu resmi berpindah tangan. Repan kini sah menjadi pemilik baru.

"Terima kasih banyak, Tuan Repan. Sebuah kehormatan besar bisa berbisnis dengan Anda," ucap Danu seraya menjabat erat tangan Repan.

"Kalau begitu, saya mohon pamit. Semoga restoran ini di tangan Anda semakin berkembang pesat... dan tentunya mendatangkan keuntungan melimpah, haha."

Sembari menjinjing koper dokumen di tangannya, Danu melangkah keluar ruangan, meninggalkan restoran yang dulu ia bangun dan kini sepenuhnya beralih ke tangan pemuda SMA tersebut.

Repan bersandar santai di kursi kulitnya, melemparkan pandangan ke luar jendela kaca yang tebal.

'Baiklah... sekarang waktunya membelanjakan uang. Gue harus menghabiskan dana sebanyak mungkin supaya sistem memberikan pasokan poin yang masif,' gumam Repan pelan.

Jemarinya menjangkau bel panggil di sudut meja lalu menekannya. Bunyi dentang halus bergema lembut.

Tak butuh waktu lama, Amelia melangkah memasuki ruangan dengan sikap ekstra hati-hati. Wajahnya masih menyisakan ketegangan, sorot matanya penuh kehati-hatian.

"Ya, Tuan Repan... ada yang bisa saya bantu?" ucapnya sopan, berdiri tegap meskipun ada sedikit getaran tipis pada suaranya.

Repan meliriknya sekilas.

"Berapa sisa dana operasional yang dimiliki restoran ini sekarang?"

Amelia segera mengusap layar tablet kerjanya dan menjawab cepat, "Saat ini kita memiliki kas operasional sebesar enam puluh juta rupiah, Tuan. Jumlah yang cukup untuk menutup kebutuhan bahan baku dan gaji karyawan hingga satu bulan ke depan."

Repan mengangkat sebelah alisnya.

"Terlalu kecil."

Ia merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah handphone—ponsel jadul yang tampak begitu kontras dengan aura dominannya sebagai seorang CEO baru.

Amelia sempat menyipitkan mata heran. 'Dia beneran orang kaya kan? Tapi kenapa ponselnya model jadul begitu?'

Jemari Repan mengetikkan perintah transaksi di ponselnya. Beberapa detik kemudian, tablet kerja di genggaman Amelia berdenting nyaring.

DING!

Notifikasi dana masuk muncul di layar tablet. Amelia refleks membacanya cepat, dan seketika itu juga matanya membelalak lebar.

"Tu-Tuan Repan... Apa maksud dari angka ini?!"

"Aku baru saja menyuntikkan dana sebesar 100 miliar rupiah ke rekening perusahaan," pukas Repan tenang.

"Aku mau tempat ini direnovasi total secara besar-besaran. Konsep restoran saat ini belum layak disebut sebagai restoran mewah."

Wajah Amelia memucat seketika. Bibirnya sedikit terbuka, namun tak ada kata yang sanggup terlontar.

"Rombak bangunan ini jadi tiga lantai. Buat lantai teratas menjadi area VIP super eksklusif untuk kalangan kelas atas. Rekrut koki-koki terbaik di kota ini. Aku mau restoran ini jadi bahan pembicaraan utama semua orang."

Repan menyampaikan setiap instruksinya tanpa terburu-buru, vokalnya stabil namun sarat akan tekanan dominasi.

"Dan satu hal lagi," tambahnya, "meskipun kita menyediakan area VIP eksklusif, pastikan harga menu biasa untuk kalangan menengah tetap terjangkau. Namun sediakan juga menu khusus berharga fantastis untuk para tamu VIP. Aku mau tempat ini jadi titik kumpul seluruh lapisan masyarakat."

Amelia menelan ludah dengan susah payah. Jemarinya menggenggam tablet kian erat.

"Tapi... Tuan Repan... kalau konsep seperti itu yang diterapkan, margin keuntungan kita bakal sangat tipis. Bahkan... ada potensi restoran mengalami kerugian besar..."

Repan menoleh, menatap lurus tepat ke sepasang matanya. Sebuah tatapan tajam dan dingin.

"Tidak masalah. Bahkan kalaupun harus rugi sekalipun, Aku sama sekali tidak peduli. Tugas Kamu cuma satu: habiskan uang itu untuk menjadikan restoran ini yang terbaik di kota."

Amelia terbungkam kaku. Jantungnya berdegup kencang.

'Ini... gila! CEO baru ini bener-bener di luar nalar! Dia menghamburkan uang ratusan miliar begitu aja... tanpa memikirkan untung rugi?!'

"Baik, Tuan Repan!" sahut Amelia cepat.

"Saya akan segera menyiapkan seluruh persiapannya!"

Repan menyunggingkan senyuman tipis.

'Bagus... saat uang itu habis dibelanjakan, sistem bakal menghujani gue dengan poin. Uang cuma sekadar alat. Tujuan gue jauh lebih besar ketimbang sekadar mengincar profit bisnis.'

Ia bersandar rileks, menatap langit-langit ruangan dengan rasa puas. Restoran mewah ini... barulah sebuah permulaan.

Selesai mentransfer dana 100 miliar rupiah, Repan melangkah keluar dari area VIP restoran.

Ia masih mengenakan seragam sekolahnya kemeja putih, celana abu-abu, dan tas selempang sederhana namun kini statusnya telah berganti menjadi pemilik sah dari restoran mewah yang baru saja dipangkunya.

'Baiklah... sekarang gue tinggal menunggu poin sistem masuk. Tapi gue juga harus secepatnya membelanjakan lebih banyak uang lagi,' batin Repan seraya mengayunkan langkah santai melewati area tengah restoran yang dipadati pengunjung.

Para pelanggan tampak asyik menikmati santap siang tanpa menyadari bahwa siswa SMA yang melintas di dekat meja mereka adalah pemilik tunggal dari tempat megah tersebut.

Repan melangkah keluar menyibak pintu kaca restoran. Udara siang itu terasa cukup terik, namun benaknya sibuk mengalkulasi rencana ke depan.

'Apa sebaiknya gue membeli beberapa unit apartemen? Atau... beli rumah mewah lagi? Tapi buat apa juga punya rumah terlalu banyak...' pikirnya seraya menatap langit sejenak, sebelum perhatiannya teralih oleh sebuah kejadian di seberang jalan.

Sebuah motor sport berwarna merah berhenti mendadak di depan gerbang utama SMA 09 Cimanggu.

Dari atas motor tersebut, Ari—pemuda populer dengan ego setinggi langit—menurunkan pemboncengnya, lalu tanpa banyak bicara langsung tancap gas meninggalkan lokasi.

Repan menyipitkan sepasang matanya.

'Sasa?' batinnya.

Mantan kekasihnya itu berdiri kaku di tepi jalan, sendirian, dengan ekspresi raut wajah yang nampak kosong.

Rambut panjangnya berkibar tertiup angin sore, dan tak beberapa lama kemudian, bulir air mata mulai menetes membasahi pipinya.

Gadis itu menangis sesenggukan di pinggir jalan... dicampakkan begitu saja seolah tak lagi berharga.

Repan menyaksikan pemandangan itu. Sempat terbersit sedikit rasa iba di raut wajahnya—namun perasaan itu sirna dalam sekejap mata.

'Enggak... ini keputusan yang dia ambil sendiri. Dia yang memilih pergi meninggalkan gue demi Ari. Gue udah nggak punya urusan apa pun lagi sama dia,' gumam Repan di dalam hati.

Ia memutar badannya dan melanjutkan langkah, memilih untuk tidak memedulikan keberadaan Sasa.

Namun suara isak tangis yang pecah menembus pendengarannya.

"Repan!" teriak Sasa, suaranya bergetar hebat.

Langkah Repan terhenti sejenak, namun ia menolak untuk menoleh. Ia bergeming kaku, lalu kembali mengayunkan kakinya.

"Repan, tunggu!" Sasa berlari mengejar, air matanya tak lagi sanggup terbendung.

Ia meraih pergelangan tangan Repan dan menggenggamnya erat-erat.

Repan menoleh dengan tatapan mata datar tanpa riak emosi.

Di hadapannya, Sasa berdiri dengan raut wajah yang berantakan, sepasang mata sembab, dan tubuh yang gemetaran kaku.

"Ada apa?" pukas Repan dingin, lalu menarik tangannya agar lepas dari genggaman Sasa.

"Repan... maafkan aku... Aku bener-bener bodoh! Aku sudah menyia-nyiakan tulusnya perasaan kamu selama ini... Aku nyesel banget sudah minta putus!" tangis Sasa pecah tak terkendali.

"Hubungan kita sudah selesai sejak lama. Kamu tidak perlu muncul di kehidupanku lagi," jawab Repan datar.

"Enggak! Repan, aku mohon! Kasih aku satu kesempatan lagi! Kali ini aku janji, aku bakal setia! Aku gak bakal pernah ninggalin kamu lagi!" isaknya memohon.

"Sudah cukup, Sasa. Dua tahun hubungan kita sudah hancur. Dan Aku sudah tidak ingin melihat Kamu lagi," ujar Repan seraya menatapnya tajam.

"Gak mungkin! Repan, kamu dulu sayang banget sama aku! Kamu bahkan pernah bilang kalau aku itu segalanya buat kamu! Apa semua itu cuma bohong? Apa perasaan kamu bisa hilang gitu aja cuma dalam hitungan hari?!"

Repan menghembuskan napas panjang, lalu membalas dengan nada santai namun menusuk ulu hati, "Aku baru sadar... wanita seperti Kamu sama sekali tidak layak menerima perasaanku."

Isak tangis Sasa makin menjadi-jadi. Cengkramannya terlepas lemas, tubuhnya gemetaran hebat menanggung rasa penyesalan.

Tak jauh dari lokasi tersebut, seorang gadis tampak berdiri memperhatikan. Vina, gadis yang menyimpan rasa menyukai Repan, menyaksikan momen percekcokan itu dari kejauhan.

'Repan... sama Sasa? Mereka ngobrol lagi? Gawat! Gue gak boleh biarkan Repan luluh cuma gara-gara tangisan cewek itu!' batin Vina, lalu tanpa ragu mengayunkan langkah mendekat.

"Hai, Repan!" sapa Vina dengan warna vokal yang ceria, menyunggingkan senyuman manis di wajahnya.

Namun pandangannya mendadak berubah dingin saat beralih menatap ke arah Sasa.

"Eh, Sasa... aku kira kamu gak masuk sekolah hari ini?"

Sasa tak sanggup menjawab, dirinya terlampau tenggelam dalam penyesalan yang mendalam.

Lalu tiba-tiba—tanpa aba-aba sedikit pun—Repan merangkul dan menggenggam jemari tangan Vina dengan erat.

"Lagipula, Aku sudah punya pacar baru sekarang. Aku dan Vina... sudah resmi berpacaran," tegas Repan dengan suara lantang.

"A-APA?!" Sasa dan Vina berseru berbarengan karena terkejut.

Vina menoleh menatap Repan dengan sepasang mata membelalak lebar. "Repan?! Kamu ngomong apa sih?!" bisiknya panik.

Repan berbisik pelan tepat di dekat telinganya, "Kamu bantu Aku sebentar. Pura-pura jadi pacarku."

Raut wajah dan kedua pipi Vina seketika merona merah padam.

"Ka-kalau cuma berpura-pura... ya sudah..." bisiknya pelan, berupaya menjaga ekspresi tetap tenang meski degup jantung di dadanya berdebar sangat kencang.

Repan hanya ingin menyudahi urusannya dan menjauhkan Sasa sepenuhnya. Jika harus berpura-pura demi menuntaskan masalah itu, maka ia tak ragu melakukannya.

Sasa terpaku bisu. Isak tangisnya perlahan mereda, berganti dengan rasa terkejut dan rasa sakit yang tak sanggup lagi ia sembunyikan.

Melihat Repan menggenggam erat jemari tangan Vina, hatinya hancur berkeping-keping dihinggapi rasa sembilu yang amat pedih.

Sementara Repan dan Vina berlalu mengayunkan langkah bersama dengan jemari yang masih saling bertautan, Sasa terduduk lemas merosot ke atas tanah.

Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang basah oleh air mata.

Ia menangis tersedu-sedu di tepi jalan sore itu. Sendirian... menanggung akibat dari pilihannya sendiri.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!