Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Surat Tanding
"Cara yang lebih terhormat seperti apa?" tanya Bima.
Guntur menurunkan tangannya. "Surat Tanding."
Nama itu membuat Gita yang sedang membantu Denny masuk ke kendaraan langsung menoleh. Denny sudah bisa bernapas lebih teratur, tetapi bekas jari di lehernya terlihat gelap. Seorang staf Larissa duduk di sampingnya untuk menemani pemeriksaan medis.
"Kang Denny berangkat dulu," kata Gita kepada pengemudi. "Kirim hasil pemeriksaannya langsung kepadaku."
Kendaraan pergi. Gita dan Vanya kembali ke trotoar, berdiri beberapa langkah di belakang Bima.
Guntur melanjutkan, "Tiga hari lagi di Klub Anggar Rajawali. Tiga sesepuh netral akan menjadi saksi. Kita bertarung sampai ada hasil akhir. Tak ada orang luar yang boleh ikut campur."
"Sampai mati?" tanya Vanya.
"Risiko itu ada," jawab Guntur tanpa memperhalus.
Darman menyeringai. "Kalau takut, minta maaf sekarang. Serahkan urusan keamanan Larissa kepada PT Garda Hitam dan bayar kerugian kami."
Bima menatapnya. "Kerugian karena wajahmu dipukul sandal atau karena dua jebakanmu gagal?"
Senyum Darman lenyap.
Guntur mengangkat satu telapak tangan. "Cukup. Surat Tanding bukan perkelahian jalanan. Kedua pihak harus setuju secara sukarela. Naskah final dibaca dan ditandatangani di hadapan para sesepuh. Setelah tanda tangan, tak ada yang boleh mundur menurut adat persilatan."
"Dan hukum negara?" tanya Vanya tajam.
"Surat itu bukan kekebalan dari hukum negara dan tidak bisa memindahkan saham perusahaan dengan sendirinya," jawab Guntur. "Ia mengikat kehormatan orang-orang yang memilih masuk. Aset apa pun yang dipertaruhkan tetap memerlukan kewenangan pemilik dan dokumen yang sah."
Jawaban itu membuat Bima sedikit menaikkan penilaiannya. Guntur keras dan mudah terpancing nama perguruan, tetapi ia tidak berpura-pura bahwa selembar kertas bawah tanah lebih tinggi daripada hukum.
Darman tampak tidak senang dengan penjelasan tersebut. Ia ingin ancaman yang terdengar sederhana: Bima kalah, Larissa menjadi miliknya.
"Taruhannya," kata Guntur. "Jika aku kalah, Darman meninggalkan Surabaya untuk selamanya dan Padepokan Giri Wesi tidak lagi dipakai mengganggumu dalam perkara ini. Jika kau kalah, nyawamu menjadi tanggung jawabmu sendiri. Pihak Darman juga menuntut seluruh nilai kepemilikan Larissa yang sedang mereka incar. Bagian terakhir hanya berlaku jika pemilik sah menyetujuinya dalam naskah final atau ada penjamin yang mengganti nilainya."
Vanya maju. "Saya tidak pernah menyetujui saham Larissa masuk ke taruhan apa pun."
"Belum ada naskah yang ditandatangani," kata Guntur. "Kalian punya waktu untuk menolak klausul aset."
Bima melihat pintu kaca Larissa. Karyawan berkerumun di baliknya, mencoba mendengar tanpa terlihat sedang menguping. Selama ancaman ini dibiarkan terbuka, Darman akan selalu mencari tangan baru, kamera baru, dan orang baru untuk dijadikan korban.
"Saya menerima duel itu," kata Bima.
"Bang Bima!" Gita membentak.
Vanya menatapnya seolah salah dengar.
Bima tidak mengalihkan pandangan dari Guntur. "Kirim rancangan Surat Tanding. Saya menyetujui pertarungannya dan mempertaruhkan nyawa saya sendiri. Klausul saham tidak bisa saya janjikan karena bukan milik saya. Pemilik sah akan memutuskan sendiri atau kita cari bentuk jaminan lain sebelum tanda tangan."
Darman segera meninggikan suara agar para karyawan di balik kaca mendengar. "Kalian dengar? Sopir itu menerima taruhan atas Larissa!"
"Dia baru saja bilang saham bukan miliknya," balas Gita.
Namun bisik-bisik sudah bergerak. Dalam kabar yang berpindah dari satu mulut ke mulut lain, syarat, batas, dan kata 'rancangan' selalu menjadi bagian pertama yang hilang.
Guntur mengangguk sekali. "Tiga hari lagi. Kita selesaikan klausul di hadapan saksi."
Ia berbalik dan berjalan pergi. Darman sempat melempar senyum puas kepada Vanya sebelum mengikutinya.
Pak Hadi bangkit dengan bahu kaku. Bima meminta dua satpam membawanya ke klinik perusahaan dan mendokumentasikan semua cedera. Setelah area depan kembali steril, ia masuk bersama Vanya dan Gita.
Tidak ada yang berbicara di dalam lift.
Begitu pintu ruang kerja Vanya tertutup, Gita menaruh ponselnya di meja. Sebuah pesan suara dari Denny baru saja masuk dari kendaraan.
"Jangan percaya sopir itu," terdengar suara Denny yang serak. "Dia menerima tantangan orang luar dengan membawa nama perusahaan. Bisa saja dia memang dikirim untuk menjatuhkan Larissa dari dalam."
Gita mematikan rekaman sebelum selesai. Wajahnya menunjukkan bahwa tuduhan itu keterlaluan, tetapi keraguan kecil sudah mendapat tempat untuk tumbuh.
"Kamu tidak punya hak menerima apa pun dengan nama Larissa," kata Vanya.
"Saya menerima duel atas nama saya."
"Di depan karyawan, setelah mereka menyebut saham kami," balas Vanya. "Kamu tahu Darman akan memelintirnya. Harga diri persilatan kalian sekarang menekan keputusan perusahaan saya."
Bima menerima kemarahan itu tanpa membela diri. Vanya benar pada satu bagian: ia bergerak terlalu cepat dan membuat mereka harus menghadapi risiko reputasi yang tidak mereka pilih.
"Kenapa tidak bicara dengan kami dulu?" tanya Gita. "Kami mempercayakan keselamatan kepada kamu, bukan memberi kamu hak memutuskan siapa yang boleh mempertaruhkan hidup."
"Kalau saya menunggu rapat setiap kali seseorang mengangkat tangan ke leher keluarga kalian, Denny mungkin sudah tidak bernapas."
"Jangan pakai Kang Denny untuk menghindari pertanyaan," potong Gita. "Apa sebenarnya yang kamu cari di Larissa?"
Pertanyaan itu membuat ruangan sunyi.
Foto Surya terasa seperti beban di saku dalam jaket Bima, meski hari itu ia tidak membawanya. Sahabatnya pernah mempertaruhkan nyawa tanpa meminta izin, lalu meninggalkan Bima untuk menanggung arti keputusan itu selama bertahun-tahun.
Bima tidak bisa mengucapkan janji kepada Surya tanpa membuka rahasia yang belum siap ia berikan kepada Vanya.
"Saya tidak pernah berniat mengambil satu lembar saham pun," katanya. "Tapi ancaman ini datang karena saya berada di sini. Saya akan menutupnya."
Vanya melipat kedua tangan. "Dengan menyerahkan hidupmu?"
"Kalau saya kalah, nyawa saya yang menjadi gantinya, bukan cuma perusahaan."
Wajah Vanya memucat. Gita menatapnya dengan campuran marah dan takut.
Bima meletakkan kartu akses kendaraan di meja. "BMW tetap di perusahaan sampai masalah ini selesai. Saya tidak akan memakai aset Larissa untuk urusan duel."
"Kamu tidak dipecat," kata Vanya cepat.
"Saya tahu. Saya hanya memisahkan urusan pribadi dari aset kerja."
Gita menarik napas dan membuka laptop. "Kalau rancangan surat itu masuk, tim hukum kita akan memeriksa setiap kata. Tidak ada saham, merek, rekening, atau aset perusahaan yang boleh disebut sebagai milik Bima."
"Dan staf dilarang memberi pernyataan kepada siapa pun," tambah Vanya. "Vira akan menyiapkan jawaban resmi jika rumor keluar."
Bima mengangguk. Setidaknya mereka masih bertindak sebagai pemilik perusahaan, bukan korban yang menunggu hasil duel.
Ia berbalik sebelum kekecewaan di wajahnya berubah menjadi amarah. Pintu tertutup pelan, jauh lebih berat daripada bantingan.
Menjelang malam, ruang kerja itu masih menyala. Vanya dan Gita duduk terpisah, tak lagi marah dengan suara keras, tetapi belum menemukan keberanian untuk mengakui bahwa ketakutan mereka lebih besar daripada kecurigaan.
Ponsel Vanya berdering.
Nama Anindya muncul di layar.
Begitu panggilan dijawab, suara panik terdengar dari seberang.
"Non Vanya, apa benar Bang Bima mempertaruhkan nyawanya?"