Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Notifikasi Aneh jam 3 Pagi
## Bab 1: Notifikasi Aneh Jam 3 Pagi
Doni Setiawan terbangun bukan karena alarm, bukan juga karena azan subuh. Dia terbangun karena kepalanya berdenging, seolah ada notifikasi WhatsApp yang nyasar masuk ke otak.
*Ting.*
"Man, lo denger nggak?"
Doni menoleh ke arah kasur sebelah, tempat Herman teman sekamar kos yang tidurnya kalau udah merem bisa dibom pun nggak bangun mendengkur damai, mulut ternganga, sesekali ngomong ngelantur soal dosen killer di alam mimpinya.
Nggak ada yang denger. Karena suara itu memang cuma ada di kepalanya.
Doni mengucek mata, mikir mungkin dia kebanyakan begadang ngerjain tugas Statistik Ekonomi sampai lupa makan seharian. Tapi begitu dia merem lagi, sesuatu muncul bukan suara, lebih kayak 'teks' yang melayang di balik kelopak matanya, mirip subtitle film bajakan yang suka nongol tiba-tiba di tengah adegan penting.
> **[SISTEM INFORMASI MINGGUAN AKTIF]**
> Info Minggu Ini: Toko thrift "Gudang Rongsok" di Jalan Kenanga, rak paling belakang, ada jaket kulit vintage merek Schott bertuliskan tag "USA" yang salah harga—dijual Rp75.000. Harga pasar aslinya: Rp2.800.000.
Doni langsung duduk. "Anjir."
Herman menggeliat, setengah sadar. "Njir kenapa lo, jam tiga pagi teriak-teriak. Kesambet?"
"Nggak, gapapa. Lanjut tidur aja, Man."
"Oke... tapi kalo lo kesurupan, jangan ganggu gue. Gue capek." Herman langsung ngorok lagi, seolah kalimat barusan bukti dia masih setengah tidur.
Doni sendiri malah nggak bisa tidur lagi. Otaknya muter kencang ini mimpi, halusinasi karena begadang dan telat makan, atau dia beneran kena sesuatu yang aneh. Yang jelas, informasi tadi detail banget sampai nama toko, lokasi rak, bahkan merek jaketnya lengkap sama tulisan tag-nya. Nggak kayak mimpi biasa yang isinya lari-larian dikejar dosen pembimbing sambil bawa proposal skripsi yang belum di-ACC-in.
Dia sempat mikir buat cerita ke Herman, tapi keburu sadar kalau bilang "gue abis dapet notifikasi dari sistem gaib soal jaket bekas," reaksi Herman paling cuma dua ngetawain, atau nganterin dia ke Puskesmas terdekat buat cek kejiwaan.
Paginya, Doni cuma punya modal Rp83.000 di dompet sisa buat jatah makan tiga hari kalau dihemat-hemat. Nasi bungkus warteg, teh manis anget, kadang sisa buat rokok temen sekamar yang doyan minta jatah tanpa beli sendiri.
Dia mikir, mau percaya separuh mati atau nggak sama sekali, toh nggak ada ruginya cek toko itu. Paling banter dianggap orang aneh yang ngubek-ngubek rak belakang thrift shop kayak lagi nyari harta karun.
"Lo mau kemana pagi-pagi bawa muka horor gitu?" tanya Sinta, temen sekelas yang kebetulan lagi nongkrong di depan kos, nunggu jemputan ojol buat kuliah bareng, sambil ngunyah roti bakar setengah gosong.
"Cari jaket," jawab Doni singkat, jalan agak buru-buru.
"Jaket? Duit dari mana lo. Kemarin ngutang Indomie ke gue aja belum lunas, sekarang mau belanja jaket?"
"Nanti gue balikin dobel," kata Doni sambil ngeloyor pergi, ninggalin Sinta yang mengernyit curiga sambil masih ngunyah rotinya.
"Dobel apaan, jangan-jangan lo abis menang judi online"
"BUKAN!" teriak Doni dari kejauhan, bikin dua ekor kucing kampung di teras kos kaget dan lari.
Gudang Rongsok ternyata toko thrift kecil, sesak, baunya campuran mothball sama parfum murah nan menyengat. Rak-raknya berdesakan, penuh baju bekas impor yang belum disortir rapi. Doni langsung nyelonong ke rak paling belakang persis kayak di "notifikasi" semalam sambil sok-sok cuek biar nggak dicurigai penjaga toko yang lagi asyik nonton drakor di HP-nya.
Dan di situ, terselip di antara jaket-jaket denim luntur dan sweater rusak bau apek, ada jaket kulit cokelat tua dengan tag jahitan kecil bertuliskan "Schott Made in USA." Doni mengecek label kertas yang ditempel penjaganya, tulisan tangan spidol yang udah pudar: Rp75.000.
Jantungnya deg-degan kayak lagi nembak gebetan sendirian di tempat parkiran. Dia bawa jaket itu ke kasir, pura-pura santai padahal telapak tangannya udah keringetan dan napasnya sedikit tersendat.
"Cuma ini, Mas?" tanya ibu penjaga toko sambil masukin jaket ke plastik kresek item, matanya masih nempel ke layar HP.
"I-iya, Bu, cuma ini."
"Tujuh puluh lima ribu."
Doni bayar pakai uang pas sengaja disiapin dari kemarin malam biar nggak ribet lalu buru-buru keluar toko sebelum ibu itu berubah pikiran atau tiba-tiba nyadar salah harga. Begitu udah jauh dari toko, sampai belokan gang sepi, dia langsung lari kecil sambil ketawa sendiri kayak orang kesurupan kegirangan.
Dua orang tukang ojek pangkalan yang lagi mangkal ngelirik aneh, sempat mikir mau nawarin tumpangan ke rumah sakit jiwa.
Malamnya, di kamar kos yang sempit dan berantakan, Doni foto jaket itu dari berbagai angle pakai pencahayaan seadanya dari lampu belajar, lalu upload ke grup jual-beli barang preloved dengan caption penuh drama: "Jaket kulit vintage ORIGINAL Schott USA, kondisi mulus, langka, cocok buat kolektor. Nego tipis, buruan sebelum kehabisan!" Harga dipasang Rp2.500.000.
Dalam dua jam, ada tiga orang serius nanya detail, saling rebutan di kolom komentar.
Salah satunya kolektor jaket vintage dari kota sebelah, yang profilnya penuh koleksi jaket-jaket mahal transfer DP setengah harga malam itu juga dan janji ambil barang besok siang.
Doni menatap layar HP-nya lama-lama, notifikasi transfer masuk yang bikin dia ngecek ulang tiga kali biar yakin bukan salah lihat. Angka di rekening yang biasanya cuma numpang lewat sebelum abis buat bayar kos dan makan, sekarang nambah drastis buat ukuran dompet mahasiswa kos-kosan.
"Sistem apaan sih ini," gumamnya sendirian di kamar.
sementara Herman masih setia ngorok di sebelah, sesekali menggumam nama dosen dalam tidurnya seperti sedang kesurupan arwah penasaran. "Gue nggak salah minum air keran kan tadi pagi?"
Dari balik kelopak matanya yang setengah merem, teks itu muncul lagi, seolah menjawab pertanyaan yang barusan dia lontarkan ke udara kosong.
> **[Info berikutnya akan tersedia dalam 6 hari 22 jam 41 menit]**
Doni menghela napas panjang, separuh lega separuh takut. Satu hal yang dia tahu pasti: apapun ini, dia nggak akan cerita ke siapa-siapa dulu, minimal sampai dia yakin ini bukan halusinasi atau jebakan orang iseng. Belum siap juga sih ngejelasin ke Sinta kalau tiba-tiba dia punya "indra keenam belanja thrift" yang entah datang dari mana.
Masalahnya, minggu depan, informasinya nggak akan sesimpel jaket bekas lagi.