NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Berpura-Pura Menyerah

Sudah lima hari sejak malam pertama pelarian itu. Selama lima hari ini, Kediaman Theo berubah jauh lebih tenang. Setidaknya hingga saat ini belum ada lagi alarm keamanan yang berbunyi di tengah malam. Tidak ada lagi laporan dari pengawal tentang nyonya muda yang menghilang. Juga tidak ada lagi kejar-kejaran di taman. Bahkan para pelayan mulai percaya Ara sudah bisa menerima kenyataan. Namun, Ara sadar ketenangan yang diciptakannya ini hanyalah topeng.

Pagi itu, tepat pukul enam. Alarm di ponselnya berbunyi. Ara membuka mata dengan malas, mematikan alarm, lalu menatap langit-langit kamar yang masih terasa asing. Ia masih belum terbiasa tidur di kamar seluas apartemen kecil.

"Sudah lima hari," gumamnya pelan. Ia bangkit, merapikan tempat tidur, mandi, lalu mengenakan setelan kerja sederhana.

Hari ini ia kembali bekerja di perusahaan desain tempatnya bekerja. Tokh Dante tidak melarangnya bekerja. Bahkan mobil, sopir, dan pengawal telah disediakan untuk mengantarnya.

Di lantai bawah, meja makan telah dipenuhi berbagai hidangan. Dante sudah duduk lebih dulu sambil membaca laporan keuangan di tablet. Ia bahkan tidak mengangkat kepala ketika Ara datang.

Lima hari ini mereka masih memutuskan tidur di kamar terpisah. Dante tidak keberatan dengan usul Ara itu. Tokh baginya mereka masih punya banyak waktu untuk menjalani hubungan suami istri di masa yang akan datang. Yeah, kecuali Ara membuat ulah, ia sangat berharap Ara tidak menguji batas kesabarannya.

"Pagi." Ara duduk di kursi seberangnya.

"Pagi." Hanya itu, suara yang terdengar dari Dante. Tak ada percakapan lain. Mereka makan dalam diam.

Sesekali hanya terdengar bunyi sendok mengenai piring. Bagi orang luar, suasana itu mungkin canggung. Namun bagi keduanya, keheningan justru terasa lebih nyaman daripada basa-basi.

Setelah selesai makan, Dante menutup tabletnya.

"Luca."

"Ya, Tuan."

"Antar Nyonya ke kantor."

"Baik."

Ara meletakkan sendok nya dan mengucapkan "Terima kasih." yang terdengar hambar seperti kutukan.

Dante memperhatikannya beberapa detik. Gadis itu masih belum berubah. Ia tersenyum kecut.

"Pergilah," katanya tanpa melihat.

Di dalam mobil. Luca duduk di kursi depan. Ara yang ada di jok belakang, ia memandang keluar jendela. Ia tidak memulai percakapan lebih dulu dengan Luca. Bahkan ia juga tidak bertanya bagaimana Luca akan memilih rute ke tempat kerjanya. Ia tidak peduli soal itu. Ia hanya peduli ia bisa keluar dari mansion milik suaminya.

Sepanjang perjalanan ia mendengarkan musik melalui earphone. Sesekali membaca novel elektronik di tabletnya.

Luca melirik dari kaca spion.

"Nyonya."

"Hm?"

"Kalau ada tempat yang ingin Anda datangi sepulang kerja, beri tahu saya."

Ara menggeleng pelan.

"Tidak ada. Aku mau langsung pulang."

"Baik." Luca sedikit heran dengan sikap nyonya mudanya. Apakah nyonya mudanya sudah berubah?

Hari-hari berikutnya berjalan hampir sama. Pagi datang. Sarapan bersama Dante. Berangkat dan pulang kerja diantar jemput oleh Luca. Makan malam di rumah. Ini dua hal wajib yang diusulkan Dante. Ia harus duduk makan pagi dan malam, menemani Dante. Ia boleh kerja tetapi tidak boleh mengambil lembur. Ia harus pulang tepat waktu.

Setelah semua rutinitas, ia baru bisa naik ke loteng, masuk ke kamar pribadinya. Ia tak pernah lupa mengunci pintu. Bagaimanapun mereka tetap dua insan yang berbeda. Ia harus tetap memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Ia tidak ingin kehilangan kehormatannya tanpa cinta. Sekalipun Dante memang suaminya. Suami sahnya. Tetapi tetap saja tidak mengubah kenyataan, pernikahannya bukan pernikahan yang pernah ia impikan. Ia hanya istri pengganti. Andai Alessia tidak kabur, yang berada di rumah ini tentu bukan dirinya. Kemana dan kenapa Alessia pergi--pikirnya. Ia ingin memaki dan mengutuki kakak perempuannya itu.

Hari demi hari telah berlalu. Tak terasa sudah hari ke dua puluh lima. Para pelayan telah terbiasa bahkan hafal dengan jadwal nyonya muda mereka.

"Jam segini biasanya nyonya sudah tidur." Bisik-bisik pelayan di luar perlahan sampai ke telinga Dante. Ia melihat jam dinding di ruang kerja. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Suatu malam, Dante baru pulang hampir pukul sebelas. Ia baru selesai menghadiri rapat dengan beberapa keluarga sekutu. Hari itu ia melewatkan makan malam dengan Ara.

Saat melewati lorong lantai dua, ia melihat cahaya masih menyala dari balik pintu kamar Ara. Ia berhenti sejenak. Dari celah bawah pintu tampak bayangan seseorang sedang duduk.

Beberapa menit kemudian, lampu padam. Dante melihat jam tangannya.

22.47.

Ia melanjutkan langkah menuju ruang kerjanya. Ia pikir mungkin hari ini Ara hanya ingin menunggu ia pulang baru tidur. Lain kali ia akan berusaha pulang lebih awal sehingga tidak menganggu jam tidur istrinya.

Namun, sebenarnya Ara tidak pernah tidur sebelum jam 10 malam. Biasanya begitu lampu dimatikan, tak lama ia kembali bangkit dari tempat tidur. Ia mengintip melalui lubang kecil di pintu. Ia kemudian duduk di sofa kamarnya setelah mengambil buku catatan kecil.

Di dalam buku itu, terdapat sketsa kasar Kediaman Theo. Lorong. Tangga. Taman. Gudang. Pos penjaga. Jam pergantian shift.

Selama beberapa hari terakhir, ia diam-diam mencatat semuanya. Tujuannya jelas bukan untuk beradaptasi atau mengenal lebih baik setiap sudut mansion ini. Tujuannya hanya untuk mencari kesempatan dan jalan bagi pelariannya. Ia bahkan tidak peduli dengan dampak apa yang bisa diterima keluarganya jika ia kabur. Ia yakin ayahnya bisa mengatasinya. Meskipun ada kemungkinan terburuk Dante menjadi gelap mata dan orang-orangnya mungkin saja datang menumpahkan darah keluarga Milano. Tapi keluarga Milano juga tak selemah itu. Setidaknya mereka juga memiliki pengawal pribadi terlatih.

Keesokan harinya, saat sarapan, Dante tiba-tiba membuka percakapan.

"Kau sudah tidak ingin kabur lagi?"

Ara hampir tersedak makanan karenanya. Wajahnya berubah menjadi semerah tomat. Ia terbatuk-batuk.

Dante mengarahkan gelas air kepadanya. Ara segera meminumnya. Ia mencoba tersenyum kecil memainkan perannya.

Dante menatap Ara lekat.

"Untuk apa aku kabur. Seperti katamu, aku tidak mungkin berhasil kabur darimu." Jawaban Ara itu terdengar masuk akal. Tetapi terdengar tidak benar saat mendengar nada suara geram yang telah ditekannya.

Ara tersenyum canggung.

"Kuharap itu benar-benar yang kau pikirkan. Tetapi andai kau masih ingin mencoba buat kabur." Dante menghentikan menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri. Ia menoleh ke Ara yang diam tak berkutik.

"Kau masih boleh mencobanya." Ia kembali makan dengan santai.

Ara baru menghela nafas ketika ia mendengar suara Dante kembali mengintimidasi.

"Tetapi jangan harap aku akan lebih melunak padamu jika kau berani mencoba kabur lagi."

Ara sekali lagi mencoba tersenyum. "Aku tahu," katanya lirih.

Di kantor, teman-teman dekat nya sedikit penasaran dan usil.

"Bagaimana kehidupan mu setelah menikah?"

"Apakah bos mafiamu galak?"

Ara hanya tersenyum. "Biasa saja. Dia sibuk. Kami juga jarang bertemu."

Sekalipun mereka tidak percaya, tetapi itulah kenyataannya. Dante dan dirinya bisa dikatakan lebih sering berada dalam rumah yang sama, tanpa benar-benar bersama. Hubungan mereka lebih mirip dua rekan bisnis yang kebetulan berbagi alamat. Untung tidak berbagi tempat tidur yang sama juga--pikir Ara.

Ara sebenarnya menyukai kondisi rumah tangganya ini. Baginya, semakin sedikit ia berinteraksi, maka semakin kecil kemungkinan Dante bisa membaca pikirannya.

Malam berikutnya, Dante pulang lebih awal.

Saat melewati perpustakaan kecil mansion, ia melihat Ara sedang membaca novel di sofa ruang keluarga. Gadis itu bahkan tidak menyadari kedatangannya.

"Apa yang kau baca?"

Ara menoleh. "Oh. Ini?" Ia mengangkat bukunya sedikit.

Dante mengangguk.

"Novel detektif."

"Baguskah ceritanya?"

Ara mengiyakannya. Ia kembali menekuni buku yang ada di tangannya. Malam itu ia sengaja menunggu Dante pulang agar bisa menunaikan makan malam bersama.

Dante melepas jasnya dan memberikannya kepada Luca.

"Aku akan ke ruang kerja sebentar. Kau tunggu saja di meja makan. Begitu makanan siap aku akan turun."

Ara mengangguk. Ia menutup novelnya, bangkit dari sofa dan pergi ke ruang makan.

Hari ketiga puluh, Luca memberikan laporan rutin.

"Nyonya sangat kooperatif."

"Tidak adakah perilaku yang mencurigakan?"

Luca menggeleng.

Dante mendengarkan tanpa banyak komentar. Entah bagaimana ia masih berpikir nyonyanya sedang merencanakan pelarian keduanya. Mungkinkah ia salah?

Dante berpikir sejenak.

"Kurangi satu tim yang mengawasinya."

Luca sedikit terkejut.

"Tuan yakin?"

"Ya."

Tentu ia yakin. Untuk memancing mangsa membuka topengnya, ia yang harus membuka jalan kesempatan itu. Ia ingin bertaruh apakah istrinya bakal mengambil jalan umpan itu atau melewatkannya.

Beberapa hari kemudian, jumlah pengawal benar-benar dikurangi. Patroli malam tidak lagi sesering sebelumnya. Beberapa pos penjagaan bahkan mulai kosong pada jam-jam tertentu. Ara menyadari perubahan itu. Namun ia sama sekali tidak menunjukkan reaksi. Ia tidak ingin buru-buru dan terjebak dalam permainan mafia suaminya. Ia tetap melakukan rutinitas hariannya. Ia tetap membaca novel, bekerja, tidur lebih awal dan mengunci pintu. Bahkan sesekali ia mulai berbincang santai dengan para pelayan. Seolah ia benar-benar menikmati kehidupannya sebagai Nyonya Dante Theo.

Para pelayan pun semakin yakin. Setidaknya itu yang terdengar dari kasak-kusuk mereka.

"Nyonya sekarang jauh lebih ceria."

"Iya."

"Untunglah."

Suatu malam, Dante sedang membaca laporan di ruang kerja ketika tanpa sadar pandangannya tertuju pada rekaman CCTV.

Layar itu memperlihatkan lorong lantai dua. Ara keluar dari perpustakaan sambil membawa tiga novel. Ia menguap kecil, lalu masuk kamar.

Tak lama kemudian lampu padam. Dante tersenyum tipis.

"Gadis itu apakah yang dipikirkannya hanya novel?"

Luca ikut melihat monitor. Ia tidak berani menyahut atau mengomentari istri tuan mudanya.

"Lepaskan dua pengawal yang mengikutinya."

Luca mencatat perintah itu tanpa banyak pertanyaan.

Di sisi lain, Ara baru saja mematikan lampu. Ia menghitung dalam hati. Setelah yakin tidak ada langkah kaki di luar, ia membuka laci meja. Ia mengeluarkan buku catatan kecil yang kini hampir penuh. Semua informasi yang dibutuhkannya sudah terkumpul. Jam pergantian patroli. Titik buta kamera. Jadwal harian Dante. Akses menuju garasi. Hingga pintu servis yang jarang digunakan. Ia memandang peta buatannya cukup lama. Lalu menarik napas pelan.

"Sedikit lagi," gumamnya pada diri sendiri.

Senyumnya perlahan mengembang.

"Aku bisa pergi." Ia menutup buku itu, menyimpannya kembali ke dalam laci yang terkunci, lalu benar-benar membaringkan diri di tempat tidur.

Sementara di sisi lain mansion, di rumah itu sama sekali tidak ada yang menyadari jika setiap hari yang terasa membosankan itu justru sedang dimanfaatkan Ara untuk menyusun pelarian yang jauh lebih matang daripada sebelumnya. Bahkan Luca pun juga berpikir nyonyanya sudah bertobat. Kecuali satu orang, Dante yang memiliki keyakinan istrinya dan otak kecil nyonyanya itu lebih rumit dan mengandung benih-benih pemberontakan.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!