NovelToon NovelToon
Obsesi Adik Ipar

Obsesi Adik Ipar

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Obsesi / Tamat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.

Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.

Sampai Rayhan Liem kembali.

Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.

Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.

Dan Yola memang berlari. Dua kali.

Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.

Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?

Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?

⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 005

Aturan Baru di Menteng

Satu jam kemudian, dapur Liem Mansion mulai mengeluarkan aroma sup ayam.

Yola berdiri di ambang dapur, rambutnya diikat rendah, lengan cardigan digulung sampai pergelangan tangan. Di depannya, dua koki, tiga asisten dapur, dan Pak Wahyu menunggu instruksi berikutnya dengan wajah yang jauh lebih hidup dibandingkan saat mereka pertama kali tiba.

"Sup untuk Mama jangan terlalu asin," kata Yola sambil melihat panci. "Jamu diminum sebelum makan. Untuk Denny, tambahkan mi goreng sedikit saja. Kalau terlalu banyak, dia tidak akan makan sup."

Salah satu koki tersenyum. "Nona hafal selera Tuan Denny."

"Kalau tidak diberi mi, dia akan pura-pura sakit perut."

Di sudut dapur, Denny yang baru masuk langsung tersedak. "Kak Yola!"

Beberapa staf menahan tawa.

Yola menoleh. "Aku salah?"

Denny menggaruk leher. "Nggak salah, tapi jangan diumumin di depan orang dapur juga."

"Kalau begitu makan supnya nanti."

"Mi-nya tetap ada?"

"Sedikit."

"Kak Yola paling ngerti aku."

Yola menggeleng pelan, tetapi senyumnya muncul. Kecil saja. Cukup untuk membuat suasana dapur yang semula kaku menjadi hangat.

Dari koridor luar, Rayhan melihat semua itu tanpa bersuara.

Ia baru selesai menerima telepon dari kantor. Jason mengirim tiga pesan soal jadwal rapat pemegang saham, Ardi menunggu keputusan mengenai pengamanan gerbang, dan seharusnya Rayhan langsung masuk ke ruang kerja lantai dua.

Namun langkahnya berhenti ketika mendengar tawa Denny.

Tawa di rumah Liem bukan hal asing. Dulu, sebelum Papa Liem meninggal, rumah ini sering ramai. Setelah Kevin sakit, suara-suara itu mengecil. Setelah Kevin meninggal, Mama lebih sering diam, Denny lebih sering di luar, dan staf bergerak seperti takut memecahkan kaca.

Hari ini, kurang dari dua jam setelah pindah, Yola membuat dapur bernapas lagi.

"Pak?"

Ardi berdiri satu langkah di belakangnya.

Rayhan mengalihkan pandangan dari dapur. "Gerbang barat pakai dua orang. CCTV lama diganti hari ini. Jangan tunggu vendor minggu depan."

"Siap, Pak."

"Dan jangan ganggu area dapur sampai makan siang selesai."

Ardi terdiam setengah detik. "Baik, Pak."

Rayhan tahu perintah itu terdengar aneh.

Ia tetap berjalan menuju ruang kerja.

Menjelang siang, mansion yang semula terasa seperti museum mulai punya ritme. Staf lama dari rumah keluarga ditempatkan berpasangan dengan staf mansion agar tidak saling canggung. Kamar Mama Liem selesai lebih dulu. Kamar Denny dibersihkan dari aroma lembap karena lama kosong. Ruang memorial Kevin diberi bunga putih yang akhirnya ditemukan dari florist langganan keluarga.

Yola mengecek semuanya tanpa tergesa.

Ia tidak memerintah seperti pemilik rumah yang ingin dipuja. Ia bertanya, mendengar jawaban, lalu memutuskan. Kalau ada staf salah meletakkan barang, ia memperbaiki tanpa mempermalukan. Kalau ada yang bingung, ia memberi contoh.

"Nona, lukisan keluarga di lorong timur mau dibersihkan sekarang?" tanya Pak Wahyu.

"Besok saja," jawab Yola. "Hari ini fokus kamar yang dipakai. Jangan buat staf lembur untuk sesuatu yang tidak mendesak."

Pak Wahyu tampak lega. "Baik, Nona."

"Dan tolong jangan panggil saya untuk semua keputusan kecil. Pak Wahyu lebih tahu rumah ini."

"Tapi Tuan Muda meminta semua koordinasi lewat Nona."

Yola berhenti.

Sari yang sedang menata bunga ikut mengangkat wajah.

"Kapan beliau bilang begitu?" tanya Yola.

"Tadi pagi, sebelum Nona turun dari mobil."

Yola menahan napas pelan. Jadi sejak awal, Rayhan sudah menempatkannya di tengah rumah ini. Bukan sebagai penghormatan. Lebih seperti seseorang yang memindahkan burung ke sangkar baru, lalu sengaja membuka semua tirai agar ia tidak bisa bersembunyi.

"Kalau begitu," kata Yola akhirnya, "laporan rumah tetap melalui Pak Wahyu. Saya hanya membantu Mama."

Pak Wahyu tampak ragu. "Nona, kalau Tuan Muda bertanya..."

"Bilang itu keputusan saya."

Suara langkah turun dari tangga.

Yola tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Ruangan berubah sebelum Rayhan muncul. Para staf menegakkan punggung, Sari menunduk, Pak Wahyu memegang tabletnya lebih erat.

"Keputusan apa?"

Yola berbalik.

Rayhan berdiri tiga meter darinya, jasnya sudah dilepas, kemeja putihnya rapi tanpa kerut. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya langsung menangkap bunga putih di tangan Sari, daftar di tangan Pak Wahyu, dan Yola yang berdiri di tengah semuanya.

"Saya meminta laporan rumah tetap melalui Pak Wahyu," kata Yola. "Beliau kepala rumah tangga. Saya tidak punya posisi resmi untuk mengambil alih."

"Kamu tinggal di sini."

"Sebagai keluarga, bukan staf."

"Maka lebih pantas kamu yang mengatur."

Yola menatapnya. "Pantas menurut siapa?"

Sari nyaris menjatuhkan bunga.

Pak Wahyu menahan napas.

Rayhan tidak marah. Ia justru tampak memperhatikan cara Yola menggenggam ujung daftar belanja. Jemarinya ramping, tetapi buku-bukunya sedikit memerah karena sejak pagi mengangkat kotak dan menyusun barang.

"Menurutku," jawab Rayhan.

"Kalau begitu, maaf. Saya tidak bisa menerima posisi hanya karena Anda memutuskan."

"Kamu menolak?"

"Saya membatasi."

Kata itu jatuh bersih di antara mereka.

Membatasi.

Rayhan menatap Yola. Di dapur tadi, perempuan itu bisa tersenyum kepada Denny. Di kamar Mama, ia bisa melembutkan suara sampai membuat ibunya tertidur. Kepada staf, ia memberi perintah dengan hangat. Hanya kepadanya, Yola selalu menyisakan jarak setipis kaca dan sedingin air hujan.

Aneh.

Rayhan tidak suka ditolak.

Namun ia lebih tidak suka menyadari bahwa penolakan Yola membuatnya ingin mendekat, bukan menjauh.

"Baik," katanya.

Yola berkedip, jelas tidak menyangka ia akan menyerah semudah itu.

"Laporan lewat Pak Wahyu," lanjut Rayhan. "Tapi keputusan akhir tentang kebutuhan Mama tetap kamu yang pegang."

"Mama bisa memutuskan sendiri."

"Kalau Mama memutuskan sendiri, dia akan mengalah agar tidak merepotkan orang."

Yola terdiam.

Untuk pertama kalinya hari itu, jawaban Rayhan tidak terdengar seperti perintah kosong. Ia benar tentang Mama Liem.

"Saya akan bantu Mama," kata Yola akhirnya. "Bukan karena Anda menyuruh."

"Terserah alasanmu."

Rayhan berbalik lebih dulu.

Di tangga, ponselnya bergetar. Jason menelepon lagi.

"Rapat jam tiga tetap?" tanya Jason begitu panggilan tersambung.

Rayhan melihat ke bawah.

Yola sedang mengambil vas dari tangan Sari, lalu membetulkan posisi bunga putih satu per satu. Wajahnya menunduk, lembut kepada bunga mati yang bahkan tidak bisa membalas.

"Majukan jadi jam dua," kata Rayhan.

"Kenapa?"

Rayhan diam sesaat.

Di bawah, Yola tertawa kecil karena Denny protes mi gorengnya terlalu sedikit.

"Aku ingin pulang sebelum makan malam."

Jason di seberang telepon terdiam.

Rayhan memutus panggilan sebelum sahabatnya sempat bertanya lebih jauh.

1
Nia Nara
Dalam budaya chindo, belum pernah nemu adik ipar menikahi cici ipar (soso)nya. Menikahi koko iparnya (cihu), di generasi mama saya masih ada. Generasi saya tidak pernah saya dengar lagi.
Nia Nara
Thor, bakcang gak afdol kalau gak pake daging babi, setidaknya itu di keluarga saya. Jarang yg suka ayam kecuali saya 🤣
Nia Nara
Pas baca festival makan bakcang, baru ngeh ini cerita keluarga chindo ya.. Liem.. Tan… baru ngeh 😄
Nia Nara
Apa Rayhan sudah ada rasa jauh sebelum Yola jadi istri Kevin ya?
👣Sandaria🦋
novel yg benar-benar tidak bisa membuatku berhenti👍
👣Sandaria🦋
tiga bab sehari, Author. pliss🤗😅
Lily
keknya seru nih
👣Sandaria🦋
Novel ter-epic yg kubaca di 2026 ini👍
up lagi, Author. banyak-banyak!😅
👣Sandaria🦋
seharusnya Adrian bilang "silahkan panik!" 🤣
👣Sandaria🦋
gaya tulisan authornya punya aura magis😅
👣Sandaria🦋
wow. sepertinya aku jatuh cinta dengan cerita ini, Kak😍
Fitri Yastuti
lanjutt kak, lg seru ini
Fitri Yastuti
bagus ceritanya, nm bahasanya jg bgus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!