Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan Tragis
Sementara itu, di jalan tol yang menghubungkan Jakarta menuju Puncak, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi. Sean Andrew Lee berada di balik kemudi, dengan Rafa duduk di kursi penumpang. Raut wajah mereka sangat tegang. Mereka sedang menuju koordinat pelacak yang berhasil dipasang Sean secara rahasia pada ponsel Zaskia sebelum wanita itu meninggalkan kelab malam tadi.
"Kita hampir sampai, Rafa," ujar Sean dengan suara tenang namun waspada.
Namun, di kaca spion tengah, Sean melihat sebuah truk kontainer besar yang melaju dengan kecepatan yang tidak wajar. Truk itu tidak menjaga jarak, dan berkali-kali mencoba memepet mobil Sean ke arah bahu jalan yang curam.
"Sean, lihat truk di belakang!" teriak Rafa dengan panik.
"Sial," umpat Sean pelan. Ia menyadari bahwa ini bukan kecelakaan biasa. "Pegang erat-erat!"
Sean menginjak gas, mencoba melepaskan diri dari himpitan truk besar itu. Namun, dari arah berlawanan, sebuah mobil SUV hitam—mobil milik Evan Wirya Negara—tiba-tiba memotong jalan, memaksa Sean melakukan manuver tajam.
Citttt!
Mobil Sean oleng, hampir menabrak pembatas jalan. Truk besar di belakangnya justru semakin mempercepat lajunya, seolah pengemudinya telah diperintahkan untuk menabrakkan diri.
"Dia ingin menabrak kita, Sean!" teriak Rafa.
Evan Wirya Negara, yang mengemudikan SUV hitam itu, menatap Sean dari balik kaca jendela dengan tatapan penuh dendam kesumat.
"Selamat jalan, pecundang!" teriak Evan, lalu dengan sengaja memotong jalan Sean tepat di depan truk kontainer yang melaju kencang.
Sean harus memilih dalam hitungan detik: menabrak SUV Evan dan berisiko terpelanting, atau melambat dan dihantam oleh truk besar di belakangnya. Dengan naluri pengemudi yang tajam, Sean membanting setir ke arah kanan, menabrak pembatas jalan beton hingga bagian depan mobilnya hancur berantakan.
Mobil Sean berputar beberapa kali sebelum akhirnya berhenti di tengah jalan dengan asap mengepul pekat. Truk besar itu gagal mengerem dengan sempurna dan menabrak bagian belakang mobil Sean dengan keras, membuat mobil itu terpental hingga ke pinggir jalan.
Keheningan seketika menyelimuti area kecelakaan. Evan memberhentikan mobilnya beberapa puluh meter di depan, keluar dengan wajah yang dipenuhi senyum kemenangan. Ia melihat mobil Sean yang sudah hancur lebur di pinggir jalan tol.
"Selesai," gumam Evan dengan nada dingin.
****
Di dalam mobil yang ringsek, Rafa merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Kepalanya berdarah, penglihatannya kabur. Ia melihat Sean tergeletak di atas setir, tidak bergerak.
"Sean... Sean, bangun!" rintih Rafa dengan suara yang sangat lemah. Ia berusaha menggerakkan tangannya, namun tubuhnya terasa mati rasa.
Dari kejauhan, Evan melangkah perlahan mendekati bangkai mobil itu, memastikan bahwa tujuannya telah tercapai. Namun, Evan tidak melihat bahwa di kejauhan, sirine mobil patroli jalan tol mulai terdengar. Rencana Zaskia dan Evan yang direncanakan sebagai "tragedi" kini justru mulai menarik perhatian pihak yang tidak mereka inginkan.
Di gudang tua di Puncak, Zaskia masih tertawa histeris, membayangkan bagaimana Sean hancur di jalan tol. Nena ikut tertawa, merasa bahwa takhta keluarga Wirya Negara kini benar-benar tidak tersentuh. Mereka tidak tahu bahwa setiap tawa yang mereka lepaskan hanyalah persiapan bagi mereka untuk terjun ke dalam jurang yang lebih dalam.
Rafa, di tengah kesadarannya yang mulai menipis, menatap langit-langit mobil yang hancur. Ia tahu mereka mungkin terluka parah, tapi matanya masih memancarkan api yang belum padam. Jika Sean jatuh, maka ia sendiri yang akan bangkit. Jika bukti-bukti hancur, maka ia sendiri yang akan menjadi saksi hidup atas kebiadaban mereka.
"Zaskia... Evan..." bisik Rafa di sela-sela napasnya yang terputus-putus. "Kalian bisa mencoba membunuh kami... tapi kalian tidak akan pernah bisa membunuh kebenaran."
Tragedi ini mungkin akan menghancurkan mereka, namun ini adalah awal dari sebuah pembalasan yang akan membuat keluarga Wirya Negara menyesal telah mengenal nama Rafa Sasmita.
****
Di gudang tua yang dingin dan lembap di kawasan Puncak, suasana mencekam mencapai puncaknya. Bu Armayani, yang sejak tadi terus meronta meski dalam keadaan terikat, akhirnya mencapai batas ketahanannya. Tenaganya yang tersisa habis setelah perjuangan sia-sia untuk melepaskan diri. Zaskia Mulandari, yang merasa terganggu oleh suara rintihan tertahan dari balik lakban di mulut wanita tua itu, melangkah mendekat dengan langkah yang menghentak-hentak di atas lantai beton.
"Kamu terlalu berisik, wanita tua!" geram Zaskia.
Dengan satu gerakan penuh amarah psikopat, Zaskia menyambar kepala Bu Armayani dan membenturkannya dengan sangat keras ke sandaran kursi kayu yang kaku.
BRAK!
Suara benturan itu terdengar sangat memuakkan. Bu Armayani tidak lagi mengeluarkan suara. Kepalanya terkulai lemas, matanya terpejam rapat, dan tubuhnya benar-benar tak berdaya. Nena Apriandini yang menyaksikan kejadian itu hanya mendengus sinis, menyulut sebatang rokok dengan gaya angkuh. "Bagus, Zaskia. Sekarang, saatnya menyelesaikan bagian kedua dari rencanamu."
Zaskia menyeringai, sebuah senyuman yang lebih mirip seringai pemangsa yang baru saja mencicipi darah. "Tentu, Tante. Pria tua itu di rumah sakit, sendirian. Rafa mungkin masih sibuk dengan urusan kecelakaan Sean. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengirimnya ke neraka."
Rumah Sakit Umum Daerah yang menjadi tempat Pak Pamuji dirawat tampak temaram di tengah malam. Suasana sunyi senyap, hanya menyisakan derap langkah petugas jaga yang sesekali melintas. Di ruang perawatan intensif lantai tiga, Pak Pamuji terbaring lemah dengan perban yang membalut kepalanya akibat luka pukulan yang ia terima sebelumnya.
****
Zaskia telah mengubah penampilannya secara total. Ia mengenakan seragam perawat putih bersih yang ia curi dari ruang ganti petugas di lantai dasar. Masker medis menutupi sebagian besar wajahnya, sementara topi perawat sedikit menutupi matanya yang kini memancarkan api dendam kesumat. Ia berjalan menyusuri lorong dengan sangat tenang, membawa sebuah nampan berisi suntikan yang telah ia isi dengan cairan racun mematikan—cairan yang ia dapatkan dari pasar gelap untuk memastikan siapa pun yang disuntikkan akan mengalami henti jantung seketika tanpa meninggalkan jejak yang mencurigakan.
Setiap langkahnya di atas lantai linoleum terasa seperti irama maut. Zaskia merasa sangat berkuasa. Ia membayangkan wajah Rafa Sasmita saat nanti mendengar kabar bahwa ayahnya meninggal dunia karena 'komplikasi' setelah serangan beberapa waktu lalu.
"Tidur yang tenang, Pak Tua," bisik Zaskia di balik maskernya. "Anakmu sudah membuatku kehilangan akal sehat, jadi kamu yang harus menanggung bayarannya."
Ia berhenti tepat di depan pintu ruang rawat Pak Pamuji. Zaskia memastikan koridor kosong, lalu dengan perlahan membuka pintu. Ruangan itu hanya diterangi cahaya remang dari lampu di sisi tempat tidur. Pak Pamuji masih tertidur pulas di bawah pengaruh obat penenang.
Zaskia melangkah mendekat ke sisi tempat tidur. Tangannya yang mengenakan sarung tangan karet medis mengambil suntikan di nampan. Dengan gerakan perlahan, ia mendekatkan jarum itu ke arah selang infus yang terpasang di tangan Pak Pamuji.