Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Berlutut di Hadapan Cucu
Ruang Garuda Agung sunyi.
Pertanyaan Nenek Ratna masih menggantung di udara.
Kamu sebenarnya siapa?
Mama Ayu menatap Hendry dengan mata membesar. Tante Juanita menahan napas. Gunawan berdiri kaku di samping pintu. Jessica tidak bicara, tapi jemarinya perlahan meremas ujung tas.
Hendry memandang Nenek Ratna.
Wanita tua itu terlalu tajam untuk ditipu dengan kalimat kosong.
Namun belum waktunya membuka semuanya.
Hendry tersenyum tipis.
"Saya tetap Hendry Pratama, Nenek. Suami Jessica. Papa Daun."
Jawaban itu rapi.
Juga tidak menjawab apa-apa.
Mata Nenek Ratna menyipit.
"Budiman Suryadi tidak memanggil sembarang orang saudara."
"Pak Budiman pernah berutang budi."
"Budi sebesar makan malam seratus delapan puluh juta?"
"Bagi beliau, mungkin tidak sebesar itu."
Mama Ayu langsung ingin bertanya lagi, tetapi Nenek Ratna mengangkat tangan.
Satu gerakan kecil.
Semua orang diam.
Nenek Ratna menarik kembali tongkatnya.
"Baik. Kalau kamu tidak ingin bicara malam ini, Nenek tidak paksa."
Ia menatap Jessica.
"Besok pagi datang ke rumah Nenek. Jangan terlambat."
Jessica tertegun. "Ada apa, Nenek?"
"Urusan keluarga."
Itu bukan undangan.
Itu perintah.
Keesokan paginya, langit Kota Biru bersih setelah hujan semalam.
Hendry meminta Bagus datang lebih awal ke Taman Indah Residence.
Begitu Bagus masuk, Daun langsung berlari membawa sekotak biskuit.
"Om Bagus, jaga Daun?"
Bagus membungkuk serius seolah menerima tugas militer. "Siap. Tapi kalau Daun makan biskuit, Om Bagus boleh satu?"
Daun memeluk kotak itu. "Satu saja."
Michelle yang sedang libur sekolah duduk di sofa sambil memegang ponsel. Ia memandang Hendry dengan mata curiga.
"Mas Hendry, kenapa pagi-pagi Om Bagus datang?"
"Jaga rumah."
"Ada masalah?"
"Belum."
Michelle mengerutkan dahi. "Jawaban orang dewasa selalu begitu. Kalau bilang belum, biasanya sebentar lagi ada."
Hendry tersenyum kecil. "Jaga Daun. Jangan keluar rumah sampai kami pulang."
"Siap, Mas."
Jessica keluar dari kamar dengan blazer tipis. Ia masih terlihat sedikit lelah, tapi sikapnya sudah kembali seperti pemilik perusahaan: rapi, tenang, memaksa dirinya kuat.
"Aku bisa pergi sendiri," katanya.
"Aku ikut."
Jessica menatapnya. "Ini urusan Wirawan."
"Kamu istriku."
Kalimat itu pendek.
Jessica diam beberapa detik, lalu memalingkan wajah.
"Terserah."
Namun kali ini, nadanya tidak dingin.
Rumah Nenek Ratna berada di kawasan lama Kota Biru, sebuah rumah besar dua lantai dengan pagar besi tinggi dan halaman yang terlalu rapi. Pohon kamboja tua berdiri di sisi kiri, bunganya jatuh di atas batu putih.
Saat Hendry dan Jessica masuk, ruang tengah sudah penuh.
Tante Juanita duduk dengan wajah tegang.
Di sisi lain, dua pria paruh baya berbicara keras sejak sebelum mereka tiba.
Yang pertama bertubuh gemuk, memakai kemeja batik mahal, cincin besar di jarinya. Ia adalah Pak Yunan, putra tertua Nenek Ratna.
Yang kedua lebih kurus, berkacamata, wajahnya selalu seperti orang yang sedang menghitung untung rugi. Ia adalah Pak Junaidi, putra kedua.
Istri mereka duduk di belakang, saling berbisik sambil menilai Jessica dari ujung rambut sampai sepatu.
Mama Ayu dan Gunawan sudah lebih dulu datang. Begitu melihat Hendry masuk, Mama Ayu kali ini tidak langsung memaki.
Ia hanya menarik Jessica ke samping.
"Duduk dekat Mama. Jangan bicara sembarangan."
Nenek Ratna duduk di kursi utama.
Tongkatnya bersandar di lutut.
"Semua sudah lengkap?"
Tante Juanita cepat menjawab, "Sudah, Ma."
Nenek Ratna mengangguk.
"PT Surya Abadi Group membuka peluang kontrak distribusi dan desain kemasan untuk cabang baru mereka di wilayah timur. Nilainya besar. Kalau Wirawan mendapatkan kontrak itu, usaha keluarga kita bisa naik satu tingkat."
Ruang itu langsung hidup.
Pak Yunan mencondongkan badan. "Ma, ini harus saya yang pegang. Saya anak tertua. Saya punya kenalan di dinas perdagangan."
Pak Junaidi tertawa pendek. "Kenalan kamu hanya kenalan makan siang. Kontrak perusahaan besar bukan urusan foto-foto dengan pejabat. Saya lebih paham angka."
"Kamu paham angka, tapi bisnismu sendiri rugi tiga tahun."
"Lebih baik rugi daripada hanya bicara besar!"
Meja kayu di tengah ruang terasa semakin sempit oleh suara mereka.
Jessica duduk diam.
Hendry berdiri sedikit di belakangnya, menyaksikan semuanya tanpa ekspresi.
PT Surya Abadi.
Perusahaan itu ada dalam genggaman Hendry.
Adrian Chandra hanya perlu menerima satu panggilan, dan kontrak itu bisa bergerak ke mana pun Hendry mau.
Namun Wirawan keluarga tidak tahu.
Mereka sedang memperebutkan pintu yang kuncinya berada di saku orang yang mereka anggap menantu numpang makan.
Pak Yunan menoleh ke Jessica.
"Jessica, perusahaan kamu baru saja hampir jatuh. Jangan ikut campur urusan sebesar ini."
Pak Junaidi menyambung, "Benar. Kamu urus saja PT Daun Kreasi. Kalau proyek Wirawan gagal karena kamu, siapa yang bertanggung jawab?"
Mama Ayu tersinggung. "Jessica punya kemampuan. Dia yang selama ini paling paham bisnis."
Nenek Ratna menatapnya.
"Kalau begitu, kenapa suamimu diam?"
Gunawan yang baru hendak bicara langsung menutup mulut.
Mama Ayu wajahnya merah.
"Ma, Gunawan cuma..."
"Cuma apa? Mengangguk? Mengikuti istri? Bersembunyi di balik anak?"
Gunawan menunduk.
Jessica menatap ayahnya. Ada nyeri kecil di matanya, tetapi ia tidak membela. Ia tahu membela Gunawan di depan Nenek Ratna hanya akan membuat ayahnya semakin dipermalukan.
Nenek Ratna mengetukkan tongkat ke lantai.
Tok.
Semua orang berhenti.
"Yunan tidak mampu. Junaidi tidak dipercaya. Juanita hanya bisa bicara. Ayu emosional. Gunawan tidak punya tulang."
Setiap nama jatuh seperti tamparan.
Lalu mata Nenek Ratna berhenti pada Jessica.
"Yang bisa pergi hanya Jessica."
Ruangan kembali sunyi.
Jessica mengangkat kepala. "Nenek, PT Daun Kreasi baru stabil. Aku masih harus mengurus produksi dan tim."
"Justru karena kamu sudah membuktikan bisa menyelamatkan perusahaanmu, kamu harus menyelamatkan Wirawan."
Pak Yunan langsung tidak terima.
"Ma, masa kita menyerahkan wajah Wirawan kepada cucu perempuan? Nanti orang mengira anak laki-laki Wirawan sudah tidak berguna."
Nenek Ratna memandangnya dingin.
"Memang berguna?"
Mulut Pak Yunan tertutup.
Pak Junaidi mengubah arah. "Kalau Jessica yang maju, pembagian keuntungan bagaimana?"
Hendry menatap pria itu.
Belum mulai bekerja, sudah menghitung bagian.
Tidak ada satu pun yang bertanya apakah Jessica sanggup.
Tidak ada satu pun yang bertanya apakah tubuh Jessica sudah pulih.
Mereka hanya melihatnya sebagai alat.
Nenek Ratna berdiri perlahan.
Untuk wanita seusianya, gerakannya masih stabil. Ia berjalan ke tengah ruang, lalu menatap semua anak-anaknya.
"Kalian ingin kontrak ini?"
Pak Yunan dan Pak Junaidi saling pandang.
"Tentu, Ma."
"Kalau begitu, minta."
Pak Yunan mengerutkan dahi. "Minta kepada siapa?"
Nenek Ratna mengangkat tongkatnya dan menunjuk Jessica.
"Kepada dia."
Ruang itu seketika membeku.
Tante Juanita hampir berdiri. "Ma, maksudnya..."
"Berlutut."
Satu kata.
Tidak keras.
Namun seperti batu jatuh ke air dalam.
Jessica langsung berdiri. "Nenek, tidak perlu begini."
"Perlu." Mata Nenek Ratna tidak berkedip. "Kalau mereka ingin memakai kemampuanmu, mereka harus tahu sedang meminta. Bukan memerintah."
Hendry menyipitkan mata.
Kalimat Nenek Ratna terdengar seolah membela Jessica.
Tetapi ia melihat lapisan di baliknya.
Dengan membuat anak-anaknya berlutut, Nenek Ratna bukan sedang memberi kehormatan kepada Jessica. Ia sedang menekan rasa bersalah Jessica sampai gadis itu sulit menolak.
Pak Yunan wajahnya menjadi ungu.
"Ma, saya anak tertua."
"Justru karena kamu anak tertua, mulai dari kamu."
Pak Junaidi memukul paha. "Ini memalukan."
"Lebih memalukan kalau Wirawan kehilangan kontrak karena ego kalian."
Tante Juanita menunduk paling cepat.
Lalu lututnya menyentuh lantai.
"Jessica," suaranya bergetar, "Tante minta tolong. Bantu keluarga kita."
Mama Ayu tertegun melihat kakaknya berlutut. Setelah beberapa detik, ia ikut turun, meski wajahnya kaku.
"Jessica, Mama tahu kamu capek. Tapi ini untuk keluarga."
Gunawan ikut berlutut tanpa berani melihat putrinya.
Pak Yunan dan Pak Junaidi bertahan beberapa detik lagi.
Nenek Ratna tidak bicara.
Ia hanya menatap.
Akhirnya, dua pria itu juga turun.
Lantai kayu tua mengeluarkan bunyi pelan saat lutut mereka menyentuhnya.
Seluruh generasi Wirawan berlutut di hadapan Jessica.
Di hadapan cucu perempuan yang selama ini mereka anggap hanya berguna ketika bisa diperas tenaganya.
Wajah Jessica pucat.
"Nenek..."
Nenek Ratna berkata pelan, "Lihat baik-baik. Mereka sedang memohon kepadamu."
Hendry ingin menarik Jessica keluar.
Ia benar-benar ingin.
Namun ia melihat tangan Jessica gemetar, lalu mengepal.
Jessica bukan wanita lemah.
Ia hanya terlalu lama diajari bahwa keluarga harus didahulukan, bahkan ketika keluarga itu menginjak punggungnya.
"Bangunlah," kata Jessica akhirnya.
Tidak ada yang bergerak.
Nenek Ratna menunggu.
Jessica menarik napas dalam.
"Aku akan mencoba bicara dengan PT Surya Abadi. Tapi aku tidak menjamin hasil."
Mama Ayu langsung mendongak. "Jessica..."
"Aku punya syarat."
Suara Jessica tiba-tiba lebih dingin.
Semua orang menatapnya.
"Selama proses negosiasi, tidak ada yang boleh ikut campur. Tidak ada yang boleh memakai namaku untuk janji pribadi. Tidak ada yang boleh menekan PT Daun Kreasi."
Pak Junaidi hendak membantah, tapi Hendry melangkah maju satu langkah.
Ia tidak berkata apa-apa.
Namun bayangan Restoran Tamu Agung semalam masih segar di kepala semua orang.
Budiman Suryadi.
Rp 180 Juta.
Bayu Wibowo yang menunduk.
Pak Junaidi menelan kata-katanya.
Nenek Ratna tersenyum tipis.
"Baik. Nenek setuju."
Baru setelah itu semua orang berdiri.
Jessica tidak tampak menang.
Ia tampak lelah.
Hendry menatap Nenek Ratna.
Wanita tua itu juga menatapnya.
Di antara mereka, ada sesuatu yang tidak diucapkan.
Nenek Ratna tahu Hendry bukan orang sederhana.
Hendry tahu Nenek Ratna sedang mulai memasang jaring.
Pertemuan selesai menjelang sore.
Di dalam mobil menuju Taman Indah Residence, Jessica duduk di kursi depan dengan kepala bersandar ke jendela. Matahari turun di antara gedung, membuat wajahnya setengah terang setengah gelap.
Hendry mengemudi tanpa banyak bicara.
Setelah hampir sepuluh menit, Jessica berkata, "Aku tahu mereka menggunakan aku."
Hendry menoleh sebentar.
"Kenapa tetap setuju?"
"Karena kalau aku menolak, Mama akan disalahkan. Papa akan dipermalukan. Dan Nenek..." Jessica tertawa pelan tanpa gembira. "Nenek tahu persis titik lemahku."
Hendry menggenggam setir lebih kuat.
"Aku akan memastikan mereka tidak menyakitimu."
Jessica menatapnya.
Kali ini, tatapannya bukan tatapan seorang istri yang kecewa.
Tatapan seseorang yang mulai melihat ulang pria di sampingnya.
"Hendry."
"Ya?"
"Aku harap kamu bisa punya ambisi yang lebih besar daripada jadi sopir Pak Budiman."
Mobil terus melaju.
Hendry diam.
Lalu ia tersenyum tipis.
Di luar jendela, cahaya senja jatuh di sisi wajahnya seperti warna emas yang diam.