NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 20 UNDANGAN ISTANA VALERIA

Angin musim semi bertiup lembut dari jendela yang terbuka separuh, menyibakkan tirai tipis dan membawa aroma bunga liar dari taman Kastil Ravengard. Di dalam ruangan, Iris tengah duduk bersandar di kursi empuk dengan buku terbuka di pangkuannya—meski matanya tak benar-benar membaca halaman yang terbuka itu.

Darian duduk tak jauh di sofa seberang. Jubah militer kerjanya disampirkan rapi di sandaran kursi, menyisakan kemeja hitam yang digulung sampai siku.

Hening sudah menjadi bahasa mereka selama beberapa hari ini.

“Iris,” suara Darian akhirnya memecah sunyi, dalam dan terukur.

Iris tidak langsung menoleh. “Hm?”

“Ada pesan dari Istana Pusat Valeria.” Ia menarik surat bersimbol lambang naga perak emas dari saku jubahnya, lalu meletakkan surat itu di meja di antara mereka.

Iris akhirnya menoleh. “Apa isinya?”

“Undangan,” jawab Darian. “Dari Yang Mulia, Kaisar Severan sendiri. Kau dan aku diminta hadir dalam audiensi tertutup. Katanya... penting.”

Iris mengangkat alis, tetap tak menyentuh surat di atas meja. “Audiensi tertutup?”

Darian mengnoduk. “Hanya beberapa orang terdekat yang diundang. Termasuk kita.”

Iris menatapnya lama. “Dan kenapa kau memberitahuku dengan nada seperti mengajak piknik di danau?”

Darian terkesiap, tapi cepat mengendalikan ekspresi datarnya. “Karena aku tak tahu reaksi apa yang akan keluar darimu jika aku terdengar terlalu serius.”

Iris mendengus kecil, membalik halaman bukunya walau tak membacanya. “Jadi... kau pikir aku akan menolak?”

“Aku berharap tidak,” kata Darian jujur. “Tapi aku tahu kau bukan perempuan yang mudah ditebak. Bahkan oleh suaminya.”

“Begitukah?” Iris memiringkan kepala. “Karena setahuku, suamiku adalah orang yang dulu tidak peduli bahkan jika aku menghilang seminggu penuh dari istana utama.”

Darian terdiam. Luka lama itu masih menghantam batinnya.

Tapi ia tidak membela diri. Ia menunduk sedikit dan menjawab dengan lirih, “Aku tahu aku telah gagal waktu itu. Aku hanya bisa berharap sekarang aku tak mengulangi kesalahan yang sama.”

Iris diam. Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa, tapi tangannya sedikit menegang di tepi buku.

Darian berdiri perlahan, mengambil mantel dari sandaran kursinya. “Audiensi diadakan lusa pagi. Kita berangkat besok sore. Aku akan menyiapkan kereta dan pengawal terbaik.”

Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti dan menoleh kembali.

“Kalau kau butuh waktu untuk menyiapkan diri, Lisa bisa membantumu. Dan kalau... kau berubah pikiran, kau tahu aku akan menunggumu. Seperti biasa.”

Iris tetap tak menjawab. Hanya mata violetnya yang menatap ke arah jendela.

Setelah Darian keluar, Lisa masuk membawa secangkir teh herbal hangat.

“Undangan dari Istana Pusat, ya?” tanya Lisa lirih sambil menaruh cangkir di meja.

Iris hanya mengnoduk pelan.

Lisa menatapnya cemas. “Kalau boleh jujur, Nyonya... Tuan Grand Duke terlihat sangat... gugup tadi. Tapi juga penuh harap.”

Iris menatap teh di tangannya. “Dia selalu terlihat penuh harap akhir-akhir ini.”

Lisa tersenyum lembut. “Mungkin karena akhirnya beliau sadar siapa yang paling penting dalam hidupnya.”

Iris menyesap tehnya. Tak menjawab.

Tetapi di dalam hatinya, suara itu kembali muncul.

“Dia memang berubah...”

“Tapi apakah aku siap mempercayainya lagi sepenuhnya?”

Ia mendesah pelan, lalu berdiri, berjalan ke arah lemari tempat gaun-gaun bangsawan disimpan.

Tangannya menyentuh kain beludru biru tua, kemudian satin putih dengan bordiran perak.

Lisa yang melihatnya hanya tersenyum diam-diam. “Nyonya... perlu saya bantu menyiapkan gaun untuk ke istana kekaisaran?”

Iris menoleh sekilas, lalu mengnoduk. “Siapkan dua. Aku belum putuskan.”

Lisa menahan senyum. “Baik, Nyonya.”

Darian berdiri sendirian di balkon timur Ravengard, memandangi taman dari atas. Angin membelai jubahnya yang kini dikancingkan sempurna. Di tangannya ada surat balasan resmi untuk sang Kaisar.

Arven, pengawal setianya, mendekat pelan.

“Tuan. Persiapan perjalanan sudah selesai. Kereta akan menunggu di pelataran tengah besok sore.”

Darian mengangguk. “Terima kasih.”

Arven tampak ragu sejenak. “Dan... Grand Duchess?”

Darian tak langsung menjawab.

Ia hanya menatap langit senja Valeria, lalu bergumam,

“Dia belum bilang akan ikut. Tapi aku akan tetap siapkan tempat untuknya.”

Arven menatap wajah tuannya yang tampak tegas namun penuh keraguan, lalu berkata pelan, “Terkadang... orang yang paling keras untuk ditaklukkan bukanlah musuh di medan perang, tapi hati yang pernah kita abaikan.”

Darian mengangguk pelan. “Itu sebabnya aku tak lagi membawa pedangku untuk urusan ini, Arven.”

“Lalu... apa yang Tuan bawa?”

Darian menoleh padanya dengan mata kelabu yang mantap.

“Kesabaran. Dan harapan.”

Roda kereta terus bergulir menembus jalan berbatu yang membelah hutan perbatasan wilayah Ravengard. Bunga liar tumbuh di pinggir jalan, dan aroma segar tanah lembap menguar lewat jendela terbuka sebagian.

Di dalam kereta mewah berlapis beludru biru tua itu, suasananya... hening. Hening sekali.

Iris duduk tegak di sisi kanan, gaun brokat hijau zamrud membalut tubuhnya. Rambut peraknya disanggul sederhana, menampakkan leher jenjangnya. Di hadapannya, Darian duduk dengan postur seperti patung singa batu: gagah, kaku, dan... tidak bicara sama sekali.

Iris menghela napas pelan. Sangat pelan. Lalu melirik Darian.

Kenapa wajahnya seperti prajurit yang siap dipenggal?

Guncangan kecil dari roda membuat tubuh Iris sedikit bergoyang. Ia menekap perutnya refleks.

Darian langsung menoleh. “Apakah kau baik-baik saja?”

“Tidak,” jawab Iris cepat, lalu... menoleh tajam. “Tapi bukan karena kau.”

Darian terdiam. Wajahnya bingung dan sedikit panik.

Iris bersedekap. “Kenapa dari tadi kau diam terus? Kau... marah karena kita telat berangkat?”

Darian tampak terkejut. “Apa? Tidak! Aku, aku hanya...” Ia terlihat berusaha mencari kata. “Aku hanya tidak ingin mengganggu ketenanganmu.”

Iris menatapnya curiga. “Kau memang selalu begini?”

“Selalu... apa?” tanya Darian polos.

“Beku. Diam. Seperti patung pahlawan di alun-alun utama istana.”

Darian memiringkan kepala sedikit. “Kupikir... itu yang membuatku terlihat berwibawa.”

Iris mendengus geli walau tidak tertawa. Ia mengusap perutnya sekali lagi, lalu mengerutkan dahi. “Anakmu ini terlalu aktif. Bahkan saat aku hanya duduk pun dia seperti sedang berlatih menendang perisai.”

Darian langsung mencondongkan tubuh. “Perutmu sakit?”

Iris menahan senyum. “Bukan sakit. Hanya... capek berdiri, capek duduk, capek diam. Tapi jangan suruh aku tiduran. Itu lebih menyebalkan.”

Darian tampak bingung. “Apa yang bisa kulakukan untuk—”

“Duduk di sini.” Iris menunjuk tempat kosong di sampingnya.

Darian mematung. “Di... di sampingmu?”

“Tidak mungkin aku menyuruhmu duduk di atap kereta, bukan?” katanya datar.

Darian segera bangkit dan duduk hati-hati di sebelah istrinya. Jarak mereka kini hanya sejengkal.

“Lenganmu.” Iris mengulurkan tangan.

Darian mengerjap. “Apa?”

“Telapak tanganmu yang kanan. Sini.”

Dengan taat seperti serdadu yang terlatih, Darian menyerahkan tangannya yang besar itu. Iris mengeluarkan botol kecil dari kantung gaunnya.

“Salep pemulih luka bakar dari Tabib Eldric,” jelasnya singkat.

Iris mulai mengoleskan salep pada bekas luka bakar di telapak tangan Darian yang masih terlihat samar kemerahan. Tangannya lembut namun tegas, jari-jarinya menyapu salep ke telapak Darian dengan gerakan teratur.

“Lain kali, jangan asal menyerap api dari tubuh orang lain tanpa persiapan sihir pengaman,” gumam Iris.

“Aku tidak sempat berpikir soal itu. Saat itu kau...” Darian menunduk. “...terlihat seperti akan meninggalkanku.”

Iris mendongak sedikit. Wajahnya tak berubah. Tapi tangannya memperlambat gerakan mengoles.

“Dan sekarang?” tanyanya pelan.

Darian menatap mata violet istrinya.

“Sekarang... aku bersyukur kau masih di sini.” Suaranya rendah. Jujur. “Meski kau membuatku tidur di sofa dua malam berturut-turut.”

Iris menyeringai kecil. “Itu belum seberapa. Kalau aku benar-benar kesal, kau akan tidur di ruang bawah tanah bersama kuda-kuda perang.”

Darian tertawa pelan—suara langka dari sang Grand Duke Ravengard.

Guncangan kereta membuat tangannya yang masih dipegang Iris sedikit tersentak dan... menabrak perut buncit sang istri.

“Aduh.” Iris meringis pelan. “Tanganmu keras. Berhenti tinju-tinju perutku.”

Darian panik. “Maaf! Aku tidak sengaja.”

Iris memutar bola matanya. “Kau terlalu tegang, Darian.”

Darian diam sejenak. “Aku hanya... tidak terbiasa diperlakukan dengan lembut.”

Iris menoleh. “Lalu... apa yang kau rasakan sekarang?”

Darian menjawab tanpa jeda, “Gugup. Dan sangat beruntung.”

Iris akhirnya tertawa kecil. “Yah... setidaknya kau jujur.”

Ia selesai mengoleskan salep, lalu menatap telapak tangan suaminya yang kini berkilau lembap.

“Kalau aku boleh jujur juga...” ucapnya perlahan, “...aku tidak tahu bagaimana caranya jadi lembut. Aku hanya tahu... aku tak ingin kehilangan kalian berdua.”

Darian menoleh cepat. “Aku juga.”

Mereka terdiam. Tapi kali ini... bukan keheningan yang dingin. Melainkan diam yang nyaman.

Sampai akhirnya Iris berkata, “Dan... kau bau.”

Darian menatapnya bingung. “Bau?”

“Salep itu. Baunya seperti akar busuk dan rempah utara.”

Darian tersenyum. “Tapi kau tetap mau memakaikannya padaku.”

Iris memalingkan wajah ke jendela kereta. “Jangan terlalu percaya diri, Grand Duke.”

Darian tak menjawab. Tapi diam-diam, ia memandangi profil sang istri yang kini bersandar ringan di bahunya.

Tidak ada gencatan senjata resmi di antara mereka.

Tapi setidaknya... senyum sudah kembali menyelinap di antara pertempuran kecil mereka.

Dan perjalanan mereka ke istana Valeria masih jauh. Tapi Darian tidak keberatan jika harus duduk diam selama berjam-jam seperti ini.

Selama ia bisa duduk di samping istrinya.

****

1
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!