NovelToon NovelToon
Sistem Informasi Mingguan

Sistem Informasi Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rabu yang Di Tunggu

Selasa malam, Doni nggak bisa tidur. Dia baring di kasur, menatap langit-langit, sesekali ngecek HP meski tau nggak bakal ada kabar secepat itu Bu Ratna bilang keputusan paling lambat Rabu, dan sekarang baru Selasa jam sebelas malam.

"Lo masih melek, Don?" Herman nyeletuk dari kasur sebelah, suaranya serak setengah tidur.

"Susah tidur, Man. Deg-degan mikirin besok."

"Ya udah, coba itung domba kek, biar cepet merem."

"Ini bukan susah tidur biasa, Man, ini taruhan nasib dua puluh tiga keluarga."

"Lebay lo. Ya udah, gue temenin melek deh, biar nggak sendirian gelisahnya." Herman bangun, nyalain lampu belajar kecil, ambil gitar bututnya, mulai mainin lagu asal-asalan yang katanya "biar suasana lebih santai."

Doni ketawa kecil, meski deg-degannya nggak sepenuhnya hilang. Mereka ngobrol ngalor-ngidul sampai jam satu pagi, dari topik kuliah, gebetan Herman yang nggak kunjung nembak-nembak, sampai rencana liburan semester yang mungkin nggak akan kejadian kalau Doni sibuk ngurusin koperasi terus.

Rabu pagi, Doni ke kampus kayak biasa, tapi pikirannya sama sekali nggak fokus ke kuliah Mikroekonomi Lanjutan yang lagi bahas teori permintaan-penawaran pasar oligopoli.

HP-nya dia taruh di atas meja, layar menyala terus biar nggak ketinggalan notifikasi.

Jam sepuluh pagi, di tengah dosen lagi jelasin kurva indiferensi, HP Doni bergetar.

Nomor yang sama waktu dulu nelepon soal undangan presentasi.

Doni buru-buru minta izin keluar kelas, jalan cepat ke koridor yang sepi.

"Halo, selamat siang, dengan Doni?"

"Iya, benar, saya Doni."

"Ini Ratih dari HRD PT Agro Sejahtera Nusantara. Saya sampaikan hasil keputusan tender kemarin."

Doni menahan napas, jantungnya berdegup kencang sampai kerasa di telinga.

"Koperasi Tani Makmur Sejahtera resmi terpilih sebagai salah satu mitra pemasok gula aren kami untuk kontrak enam bulan ke depan."

Doni sampai diem beberapa detik, otaknya butuh waktu buat proses kalimat itu.

"S-serius, Bu?"

"Serius. Selamat ya. Nanti kontrak resmi akan dikirim via email untuk ditandatangani, dan kami akan atur jadwal pengiriman pertama."

"Terima kasih banyak, Bu! Terima kasih!"

"Sama-sama. Selamat bekerja sama."

Telepon ditutup. Doni berdiri di koridor kampus yang sepi, HP masih nempel di telinga meski panggilan udah selesai, air matanya nggak kerasa udah netes tanpa dia sadari.

Dia buru-buru telepon bapaknya, suaranya udah nggak bisa nahan getar saking senengnya.

"Pak! Pak! Kita menang tendernya!"

"Hah? Beneran, Nak?!" Suara bapaknya di seberang telepon langsung berubah, dari nada santai jadi penuh semangat.

"Beneran, Pak! Barusan ditelepon HRD-nya langsung!"

"Alhamdulillah! Alhamdulillah, Nak!"

Doni denger suara bapaknya kayak lagi manggil ibunya, disusul suara riuh dari kejauhan, mungkin tetangga yang kebetulan lagi mampir.

"Pak, tolong kabarin Bu Sri, Pak Marto, sama yang lain ya. Nanti sore saya telepon detailnya."

"Siap, Nak! Bapak langsung ke balai desa sekarang, kabarin semua!"

Doni menutup telepon, bersandar ke tembok koridor, menatap langit-langit kampus yang biasa aja tapi hari itu terasa beda.

Dia inget lagi semua yang udah dia lewati jaket vintage jam tiga pagi, saham yang bikin dia deg-degan pertama kali, turntable yang bikin Sinta curiga, kekalahan lelang keris yang mengajarkan dia soal batas, sampai malam-malam begadang nyusun proposal ini.

Sore itu, Doni video call ke grup keluarga besar, wajah bapak-ibunya penuh senyum, disusul beberapa tetangga yang ikut nimbrung di layar kecil HP bapaknya.

"Kalian semua denger ya," kata Doni, suaranya masih sedikit bergetar saking terharunya, "mulai bulan depan, kita mulai kirim gula aren ke perusahaan besar. Harganya jauh lebih adil dibanding jual ke tengkulak."

Terdengar suara riuh tepuk tangan dari seberang layar, disusul suara Bu Sri yang khas. "Alhamdulillah, Nak Doni! Makasih banyak ya, Nak, udah mau capek-capek ngurusin ini semua."

"Sama-sama, Bu. Ini juga hasil kerja keras semuanya, bukan cuma saya."

Pak Marto, yang duduk paling depan di layar, ikut nimbrung. "Kamu jadi kebanggaan desa beneran sekarang, Nak. Kapan pulang lagi, biar kita syukuran bareng?"

"Insyaallah akhir bulan, Pak, pas kirim pertama."

Malam itu, Herman nraktir Doni balik kali ini gantian, katanya "biar adil, kemarin-kemarin lo mulu yang traktir gue."

"Serius lo mau traktir, Man? Tumben," ledek Doni sambil nyeruput es teh di warung sate langganan mereka.

"Yee, gue juga punya rasa syukur lah buat temen sekamar sendiri. Lagian lo abis dari perjuangan panjang gitu, pantes dirayain."

Doni tersenyum, ngerasa malam itu jauh lebih berarti dibanding malam-malam sebelumnya waktu dia dapet untung besar dari jaket atau saham. Bukan cuma soal uang yang bakal masuk, tapi soal buktinya sendiri kalau usaha panjang tanpa jalan pintas juga bisa berbuah manis.

Sebelum tidur, dia sempat merenung sebentar, mikirin sistem yang selama ini jadi titik awal semua perjalanan ini.

Info soal jaket vintage dulu emang yang mulai semuanya, tapi yang bikin dia sampai sejauh ini bukan cuma keberuntungan itu melainkan keberaniannya sendiri buat ambil resiko, belajar hal baru, dan nggak nyerah waktu ketemu tembok kayak kekalahan lelang atau ancaman dari Koh Aliong.

Dari balik kelopak mata yang mulai berat, dia sempat mikir, kira-kira info minggu depan bakal soal apa lagi tapi kali ini, dia mikirnya bukan dengan rasa was-was kayak dulu, melainkan dengan semangat yang jauh lebih tenang.

1
Aisyah Suyuti
good
Wk Annuar
😍😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
RR: terimakasih banyak untuk supportnya, izinn namanya nanti saya masukan sebagai salah satu karakter di beberapa bab kedepan 😁🙏
total 1 replies
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!