Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Pertama
Suara dentuman kapak bayangan Haruto mengguncang ketenangan hutan. Setiap kali mata kapak itu menghantam permukaan batang pohon raksasa, getarannya merambat hingga ke tulang belakang Haruto. Awalnya, ia mengira pohon ini akan berdiri kokoh selama berhari-hari sebelum tumbang, mengingat betapa keras dan padatnya serat kayu hutan ini. Namun, saat kapak itu dibalut status "Dewa" dari tombak simpanannya, kayu yang sekeras baja itu seolah-olah kehilangan harga dirinya.
Setelah dua ayunan telak yang presisi, pohon itu mulai mengeluarkan suara derit yang menyakitkan telinga. Pohon raksasa tersebut perlahan miring, lalu dengan kecepatan yang tak terduga, jatuh menimpa lantai hutan.
BUMMM!!
Tanah bergetar hebat. Debu, dedaunan kering, dan serangga yang bersarang di dahan-dahan tertinggi beterbangan ke udara, menciptakan kabut kecokelatan yang menutup pandangan. Haruto segera melompat mundur untuk menghindari dahan-dahan yang patah dan berhamburan. Saat debu perlahan mengendap, ia berdiri di depan batang pohon yang tumbang itu—sebuah raksasa yang kini tak berdaya di hadapannya.
Haruto mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju. "Lumayan," gumamnya pelan. Ia tidak merasa hebat, ia hanya merasa lega karena pasokan bahan bangunannya sudah tersedia.
Bagi Haruto, inilah saatnya untuk bekerja. Ia memejamkan mata, memvisualisasikan alat bayangannya berubah bentuk. Gergaji. Sesaat kemudian, kapak di tangannya berubah menjadi gergaji panjang dengan mata gergaji yang berkilau tajam. Ia mulai memotong batang pohon itu menjadi balok-balok yang lebih teratur. Pekerjaannya ritmik dan intens. Jika balok kayu terlalu besar untuk dipindahkan, ia mengubah gergaji itu menjadi kapak pembelah, lalu kembali ke pahat sederhana untuk meratakan permukaan kayu yang kasar.
Matahari bergerak perlahan di atas kanopi hutan, namun Haruto tidak beranjak. Di sela-sela mengasah kayu, pikirannya sesekali melayang. Kalau saja di Bumi ada gergaji mesin yang bisa dibawa, mungkin ini selesai dalam sepuluh menit, pikirnya. Namun, ia segera menggelengkan kepala. Jangan malas, Haruto. Kalau kau mengandalkan mesin, kau tidak akan benar-benar memahami kekuatan kayu ini.
Sore mulai menjelang ketika ia merasa memiliki cukup material untuk memulai kerangka rumah. Ia mulai menyusun balok-balok kayu itu dengan teknik yang pernah ia lihat dari cuplikan video DIY di internet. Ia membayangkan bagaimana balok kayu itu bertumpuk, bagaimana sambungan antar sudut harus dibuat agar stabil.
Percobaan pertama: Haruto mencoba menyusun empat balok kayu untuk membentuk fondasi kotak. Baru saja ia melepas pegangannya, seluruh susunan itu ambruk berdebam ke tanah.
Haruto terdiam. Ia menatap tumpukan kayu yang berantakan itu selama beberapa detik, mencoba menahan rasa frustrasi yang perlahan naik ke tenggorokan. "Ternyata susah..." gumamnya.
Ia mengambil napas panjang, menenangkan detak jantungnya yang mulai memacu cepat. Percobaan kedua: ia mencoba meniru kembali apa yang ada di ingatannya. Kali ini berhasil berdiri, namun saat ia hendak memasang balok penyangga di sudut, rangka itu miring ke kiri dan kembali ambruk.
Kali ini, Haruto menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa lelah mulai menyerang otot-otot lengannya. Pekerjaan fisik ini jauh lebih berat daripada mencangkul tanah yang gembur di rumah kakeknya. Namun, ia tidak menyerah. Ia mulai membongkar seluruh susunannya, memperhatikan setiap sisi kayu. Ia menyadari balok penyangganya terlalu pendek, dan sambungan kayunya tidak rata sehingga goyang.
Dengan sabar, Haruto memotong ulang ujung-ujung kayu, meratakannya hingga benar-benar presisi, dan memperdalam lubang sambungannya. Pekerjaannya menjadi jauh lebih lambat, lebih detail, dan jauh lebih melelahkan. Tapi, saat ia menyusunnya kembali, strukturnya berdiri dengan kokoh.
Menjelang matahari terbenam, ia berhasil menyelesaikan kerangka dasar rumahnya. Belum ada dinding, belum ada atap—hanya lantai kayu yang solid dan beberapa tiang penyangga yang tegak menantang hutan. Haruto berdiri di tengah-tengah kerangka itu, memejamkan mata dan membayangkan bagaimana nanti posisi dapur, di mana gudang penyimpanan akan berada, dan bagaimana ia akan menyusun rak kayu untuk hasil panennya.
"Masih panjang..." gumamnya, namun ada senyum tipis di wajahnya. Setidaknya, besok ia tidak perlu menebang lagi untuk fondasi.
Sementara itu, jauh dari lokasi Haruto, di balik semak-semak lebat yang tersembunyi dari pandangan umum, tujuh sosok bertubuh ramping sedang berhenti. Telinga mereka yang panjang bergerak-gerak, menangkap suara yang asing di hutan yang seharusnya hanya dihuni oleh monster. Mereka mengenakan pakaian sederhana dari kulit hewan dan kain tenun yang menyatu sempurna dengan warna hutan.
Salah seorang dari mereka—seorang wanita tua dengan wajah penuh guratan pengalaman—berlutut dan menyentuh tanah. Ia menutup matanya, merasakan getaran yang tertinggal di sana.
"Pohon raksasa ini... baru saja tumbang," bisiknya. Suaranya halus namun tajam.
Yang lain segera menyebar, mata mereka yang tajam segera menangkap detail yang tak kasatmata: jejak kaki manusia yang tidak biasa, aroma asap kayu yang terbakar, dan bekas potongan kapak yang sangat bersih pada sisa batang pohon. Semua jejak itu mengarah ke satu titik di dekat aliran sungai.
Tetua kelompok itu mengernyit. "Manusia..."
Kata itu terasa asing dan berat bagi mereka. Sudah sangat lama mereka tidak melihat jejak manusia hidup di dalam Hutan Kematian. Hutan ini adalah kuburan bagi para petualang, bukan tempat tinggal bagi mereka yang bernapas.
"Kita tidak bisa membiarkan ini," kata sang tetua. Ia menunjuk seorang anggota kelompok yang paling muda. "Pergilah melihat. Jangan sampai dia menyadari keberadaanmu. Jika dia penyusup dari kerajaan, jangan ragu untuk memberi peringatan."
Gadis muda itu mengangguk dengan gerakan yang nyaris tanpa suara. Ia melompat ke dahan pohon, tubuhnya yang ringan tampak seperti hembusan angin yang menari di antara dahan-dahan yang gelap. Ia menghilang dengan kelincahan yang mustahil dimiliki oleh manusia biasa.
Malam kembali turun ke Hutan Kematian. Haruto sedang duduk di depan api unggun kecilnya, memanggang ikan hasil tangkapannya hari ini. Tangannya yang kotor memegang sepotong ranting, dan di atas tanah di hadapannya, ia sedang menggambar sketsa kasar rencana rumahnya.
"Kalau dapurnya di sini..." ia menggaruk tanah dengan ranting itu, "...lalu gudangnya di samping untuk menyimpan kayu."
Ia bergumam sendiri, benar-benar larut dalam dunianya. Ia tidak menyadari bahwa di balik pepohonan yang gelap, sekitar lima puluh meter dari gubuknya, ada sepasang mata yang sedang menatapnya dengan intensitas yang luar biasa.
Gadis muda itu bertengger di dahan pohon, tubuhnya tersembunyi dengan sempurna oleh dedaunan. Ia menahan napas, menatap pria manusia di bawah sana. Dia mengharapkan seorang ksatria dengan baju zirah, atau mungkin penyihir yang sedang merapal kutukan.
Namun, yang ia temukan hanyalah seorang pria muda yang sedang sibuk menggambar rencana tata letak bangunan di atas tanah dengan ranting kayu, dan sesekali mengoceh tentang posisi dapur yang efisien.
Gadis itu memiringkan kepalanya, telinga panjangnya berkedut bingung.
"...Apa yang sedang dia lakukan?" pikirnya, benar-benar gagal memahami logika manusia ini.