NovelToon NovelToon
Mantan Ratu Pembunuh

Mantan Ratu Pembunuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Joice 758

Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.

Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Keberanian yang Terlambat Datang

Udara pagi terasa tiba-tiba jauh lebih dingin meski kabut mulai menipis perlahan. Panggilan terakhir Dika menggantung di udara, membuat jantung Laras berdegup kencang—bukan karena takut, melainkan karena kaget mendapati penyamaran yang ia jaga mati-matian akhirnya terbongkar juga. Ia tidak membantah, tidak pula menuntut penjelasan lebih lanjut saat itu. Ia hanya berbalik badan dan berjalan cepat menuju ruang tengah, seolah ingin lari dari tatapan tajam laki-laki di belakangnya.

"Kita tidak punya waktu banyak," ucap Dika sambil mengikuti langkahnya, suaranya rendah namun mendesak. "Mereka akan melaporkan apa yang mereka lihat, dan sebelum matahari terbenam, kemungkinan besar sudah ada perintah baru yang datang. Kita harus bersiap."

Laras berhenti di depan lemari kayu tua di sudut ruangan. Tangannya gemetar sedikit saat membuka pintunya, lalu merogoh bagian paling bawah yang tersembunyi di balik tumpukan kain usang. Ia mengeluarkan sebilah belati berukir halus dengan gagang dari kayu hitam—senjata terakhir yang ia bawa saat melarikan diri. Bilahnya masih berkilau tajam, tak pernah tergores meski sudah tersimpan lama.

"Aku tidak akan pergi dari desa ini," ucapnya tegas sambil membalut belati itu dengan kain kulit tipis. "Tempat ini adalah satu-satunya kedamaian yang pernah kurasakan. Jika harus melawan, aku akan melindunginya sampai tetes darah terakhirku."

Dika berdiri di ambang pintu, memandang ke arah jalan setapak yang mulai ramai dilalui warga desa. "Aku tidak menyuruhmu lari," jawabnya pelan. "Tapi bertarung sendirian di tempat yang kau cintai adalah hal yang paling menyakitkan. Kau bisa terluka, atau lebih buruk lagi... kau akan kembali menjadi sosok yang dulu kau benci untuk melindunginya."

Kalimat itu menyentuh luka terdalam di hati Laras. Ia tahu betul apa yang dimaksud. Jika ia mulai membunuh lagi di sini, damai yang ia bangun akan hancur seketika, dan warga desa akan tahu siapa wanita yang selama ini tinggal di tengah mereka. Mungkin mereka akan takut, mungkin memusuhinya. Dan itu adalah hal yang paling ia hindari.

"Jadi apa rencanamu?" tanyanya akhirnya, menatap lurus ke arah Dika. "Kau ingin aku percaya begitu saja pada orang asing yang baru kukenal dua hari lalu?"

Dika melangkah maju, lalu perlahan mengangkat lengan kirinya dan membuka lipatan lengan bajunya. Di sana, terlihat sebuah tato bekas luka yang samar—lambang perisai retak yang dikelilingi sembilan titik. Laras terbelalak mundur selangkah, napasnya tercekat. Itu adalah lambang pasukan elit yang dulu dikirim kerajaan untuk membasmi kelompoknya, pasukan yang dianggap sudah musnah sepenuhnya lima tahun lalu.

"Aku dulu komandan pasukan itu," ucap Dika pelan, matanya tak lepas dari wajah Laras. "Aku yang memimpin penyerangan ke markasmu dulu. Tapi aku juga yang tahu bahwa kau dikhianati oleh orang terdekatmu, dan kau tidak kabur karena takut mati—kau kabur karena tidak ingin perang itu merenggut lebih banyak nyawa tak bersalah."

Dunia Laras terasa berputar seketika. Selama ini ia mengira semua orang yang mengejarnya hanya ingin membunuh atau mengambil kekuasaannya. Namun di hadapannya kini berdiri orang yang seharusnya menjadi musuh bebuyutannya, orang yang mengetahui kebenaran tentang kejatuhannya.

"Kenapa..." suaranya bergetar. "Kenapa kau tidak menangkapku dulu? Kenapa kau malah datang ke sini?"

"Karena pengkhianat yang menjatuhkanmu kini memegang kendali atas kerajaan," jawab Dika tegas. "Dan sekarang dia ingin menghabisi sisa-sisa jejak yang bisa membongkar rahasianya. Termasuk kau. Aku datang bukan untuk menangkapmu, Laras. Aku datang untuk memintamu berdiri bersamaku."

Tepat saat itu, terdengar suara teriakan panik dari arah gerbang desa. Warga berlarian ketakutan, menunjuk ke arah jalan masuk yang kini tertutup bayangan besar. Bahaya yang mereka bicarakan sedari tadi, akhirnya tiba.

Laras menggenggam belatinya erat, lalu menatap Dika dengan pandangan yang berubah—bukan lagi sebagai tahanan dan pengejar, melainkan dua orang yang sama-sama dikejar kebenaran.

"Baiklah," ucapnya pelan namun mantap. "Tapi ingat, jika kau berbohong... aku tidak akan ragu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!