Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemeja Murah, Kopi Kapal, dan Tinta yang Bocor
Pukul 05.45 WIB. Suasana di depan bangunan tua berarsitektur kolonial itu masih diselimuti embun tipis dan suara burung gereja. Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di pinggir jalan, namun pintunya tidak kunjung terbuka selama hampir lima menit.
Di dalam mobil, Kian Elang Baskara sedang mengalami krisis eksistensial tingkat tinggi.
Ia menatap pantulan dirinya di kaca spion tengah. Tidak ada jas Armani berserat emas. Tidak ada jam tangan Patek Philippe bernilai ratusan juta. Yang melekat di tubuhnya pagi ini adalah sebuah kemeja katun polos warna krem seharga seratus ribuan yang dibeli asisten pribadinya kemarin sore di pasar swalayan—Luki, sang asisten, bahkan sempat menangis terharu saat membelinya karena mengira bosnya akhirnya bangkrut dan pasrah.
"Ingat Kian, ini cuma dua jam. Cuma dua jam," gumam Kian pada dirinya sendiri, merapikan kerah kemejanya yang terasa sedikit gatal di kulit mulusnya. "Setelah dua jam, kamu kembali jadi penguasa kekaisaran bisnis."
Kian melangkah turun, mencoba mempertahankan gaya berjalan khas CEO yang angkuh dan megah. Namun, langkah gagah itu langsung ternoda saat sepatu leather miliknya yang mengkilap menapak tepat di atas genangan air hujan sisa semalam.
Ciprat!
Noda lumpur cokelat sukses menghiasi bagian bawah celana bahannya. Kian menggeram pelan, mengutuk dalam hati.
Ketika Kian membuka pintu kaca berkode "Lentera Bahasa & Karakter", aroma kopi tubruk yang pekat langsung menyambut indra penciumannya—bukan aroma espresso double shot berbiji kopi Guatemala langka yang biasa disiapkan sekretarisnya.
Di sudut ruangan, Maya Saraswati sedang duduk santai sambil menyesap cangkir seng berukir hijau. Ia tampil anggun seperti biasa dengan blouse linen hijau sage, memegang sebuah kipas anyaman bambu kecil.
"Tepat pukul enam kurang tiga menit. Kemajuan yang cukup menghibur, Pak Kian," puji Maya tanpa berpaling dari buku yang dibacanya. "Dan celana Anda dapat aksen artistik baru rupanya."Kian menarik napas dalam-dalam, menahan emosi yang sudah memuncak di ubun-ubun. Ia berjalan mendekati meja kayu besar di tengah ruangan dan menduduki kursi kayu tanpa bantalan empuk. Punggungnya langsung menjerit protes.
"Saya sudah menuruti permainan konyol Anda, Bu Maya," ujar Kian seraya meletakkan buku catatan kosong dan pulpen murah dari Maya kemarin di atas meja. "Tanpa jas mahal. Tanpa pengawal. Sekarang, cepat selesaikan apa pun tugas absurd yang ingin Anda berikan."
Maya meletakkan cangkir sengnya dengan dentingan halus. Ia tersenyum—sebuah senyuman yang kini disadari Kian adalah sinyal bahaya tingkat tinggi.
"Tugas pertama Anda amat sederhana, Pak Kian," Maya mendorong sebuah wadah plastik berisi bahan-bahan kopi tubruk murah dan teko berisi air panas ke hadapan Kian. "Buatkan saya secangkir kopi. Kopi tubruk, dua sendok gula, tanpa krimer."
Kian melotot. Matanya hampir melompat keluar dari kelopak. "Apa?! Anda menyuruh CEO Elang Group—pria yang menguasai saham properti terbesar di kota ini—untuk jadi barista Anda?!"
"Di ruang kelas ini, Pak Kian, Anda adalah murid yang sedang belajar dasar-dasar melayani dan menurunkan ego," sahut Maya tenang, tatapannya selembut sutra namun sekeras baja. "Atau Anda prefer saya menelpon Ibu Eleanor sekarang untuk memberitahu bahwa putra bahagianya bahkan tidak tahu cara menyeduh air panas?"
Kian mengepalkan jemarinya. Bayangan ibunya yang mengancam akan membekukan aset dan mencabut posisi CEO-nya langsung menari-nari di kepala. Dengan dentuman napas gusar, Kian menarik teko air panas itu.
"Fine!" desis Kian.
Proses pembuatan kopi itu menjadi pertunjukan paling tragis sekaligus komedi dalam sejarah bangunan kolonial tersebut. Seorang Kian Elang Baskara, yang biasa menanda-tangani dokumen akuisisi bernilai triliunan rupiah, kini tampak ketakutan menumpahkan bubuk kopi hitam dari kemasan saset murah.
Srettt!
Kian merobek bungkusnya terlalu kuat. Bubuk kopi hitam beterbangan di udara, mendarat dengan sukses di hidung mancung dan pipi Kian.
"Achoo!" Kian bersin hebat, membuat sisa bubuk kopi di meja semakin berantakan.
Maya menutup mulutnya dengan kipas bambu, mencoba menahan tawa yang hampir meledak melihat sang pangeran es kini terlihat seperti pekerja tambang batu bara berwajah tampan.
"Bentuk komunikasi yang sangat ekspresif, Pak Kian," sindir Maya halus.
Kian mengusap wajahnya dengan kasar, meninggalkan loreng-loreng hitam di pipinya. "Diam Anda, Bu Maya."
Setelah perjuangan berdarah-darah (dan berdebu kopi) selama lima belas menit, secangkir kopi tubruk hitam akhirnya tersaji di depan Maya.
Maya menyesapnya sedikit, lalu menaikkan sebelah alisnya. "Agak terlalu pahit. Sama seperti kepribadian Anda saat ini. Tapi tidak apa-apa, dapat poin lima dari sepuluh untuk usaha tidak membakar kelas saya."
"Sekarang, tugas intinya," Maya mengambil pulpen murah yang dibawa Kian dan membukanya. "Tuliskan satu paragraf ucapan terima kasih yang tulus kepada seseorang yang paling Anda benci di dunia ini di dalam buku catatan itu. Gunakan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan menyentuh."
Kian menatap buku catatan kosong itu dengan pandangan tidak percaya. "Menulis ucapan terima kasih? Untuk orang yang saya benci? Ini pelatihan kepemimpinan atau terapi kelompok anak TK?"
"Bahasa adalah cerminan jiwa, Pak Kian. Orang yang tidak bisa mengekspresikan rasa terima kasih kepada musuhnya adalah orang yang emosinya masih dipenjara oleh rasa gengsi," jawab Maya santai seraya menyodorkan pulpen itu.
Dengan gusar, Kian menyambar pulpen murah berwarna hitam tersebut. Ia bertekad untuk menyelesaikan tugas bodoh ini dalam sepuluh detik agar bisa segera keluar dari tempat terkutuk ini.
Ia mulai menekan mata pulpen ke atas kertas putih dengan sekuat tenaga, mencurahkan seluruh kekesalannya pada lembaran kertas tersebut.
Crrttt...
Tiba-tiba, pulpen murah seharga dua ribu rupiah itu tidak kuat menahan tekanan jari-jari sang CEO yang penuh amarah. Badannya retak, dan dalam sekejap mata—
SPLASH!
Tinta hitam pekat menyembur keluar dari tabung pulpen, membuncah tepat ke arah wajah Kian dan mengenai kerah kemeja krem barunya.
Kian membeku. Mulutnya sedikit terbuka. Tinta hitam menetes dari ujung hidungnya, menetes perlahan menimpa kemejanya yang kini penuh noda kopi dan tinta.
Hening merayap di dalam ruangan selama tiga detik penuh.
Pfft.
Maya yang biasanya begitu anggun, teratur, dan penuh wibawa pakar bahasa, akhirnya tidak sanggup lagi menahan diri. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, namun bahunya bergetar hebat. Tawa renyah yang amat nyaring pecah membasahi ruangan kaca itu.
"Bwahahaha! Maaf... pfft... Maafkan saya, Pak Kian," Maya tertawa sampai matanya berair, memegangi perutnya. "Saya tahu Anda ingin 'mewarnai' hari Anda, tapi tidak perlu secara harfiah seperti ini!"
Kian menatap Maya dengan pandangan membunuh—atau setidaknya berusaha membunuh, karena dengan noda kopi di pipi dan tinta hitam di hidung, ia lebih mirip beruang panda yang sedang merajuk daripada seorang penguasa bisnis yang menakutkan.
"Bu. Ma. Ya." Kian mengeja nama wanita itu dengan suara tertahan.
"A-ada apa, Pak Kian?" Maya mencoba merapikan napasnya, mengusap sudut matanya yang basah karena terlalu banyak tertawa, meski bibirnya masih mengukir senyum lebar yang sangat renyah. "Apakah itu bentuk komunikasi baru dari spesies pangeran es?"
Kian berdiri dari kursinya, membuat kursi kayu itu berdecit nyaring. Ia menyapu noda tinta di wajahnya dengan sapu tangan sutra dari saku celananya—yang kini ikut hancur terkena noda.
"Besok," tunjuk Kian dengan jari yang juga ternoda tinta ke arah Maya. "Besok saya akan datang tepat waktu lagi. Dan pastikan Anda menyiapkan pulpen yang tidak gampang meledak!
Maya menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap Kian dengan tatapan jenaka penuh kemenangan. Ia mengambil selembar tisu dan menyodorkannya ke arah Kian.
"Sampai jumpa besok pagi pukul enam tepat, Pak CEO," ujar Maya lembut, suaranya kembali tertata namun matanya masih berkilat penuh rasa humor. "Jangan lupa cuci muka sebelum Anda memimpin rapat direksi Elang Group pagi ini. Saya tidak yakin para investor Anda siap melihat maskot baru perusahaan."
Kian merebut tisu itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, memutar badannya, dan melangkah lebar-lebar keluar dari ruang kaca dengan langkah sengit.
Namun, saat ia melangkah menuju mobilnya di bawah rindangnya pohon kolonial, Kian menyadari satu hal yang belum pernah ia rasakan selama tiga tahun terakhir: jantungnya berdegup kencang, bukan karena amarah bisnis atau tekanan saham... melainkan karena tawa renyah seorang wanita bersuara merdu yang baru saja menghancurkan harga dirinya sampai ke titik nol.
Perang dingin ini jelas baru saja memanas dengan cara yang sangat konyol.
Pukul 05.50 WIB.
Kian Elang Baskara melangkah masuk ke ruang kaca dengan kepercayaan diri yang terestorasi 100%. Pagi ini ia tampil mengenakan kemeja katun polos biru muda yang pas di badannya, celana bahan kasual, serta sepatu sneakers putih bersih. Tidak ada genangan air, tidak ada bubuk kopi melayang, dan yang paling penting: ia membawa pulpen gel kualitas premium seharga tiga ratus ribu rupiah yang ia beli sendiri.
"Selamat pagi, Bu Maya," sapa Kian dengan nada sesantai mungkin, mencoba menunjukkan bahwa insiden "Panda Tinta" kemarin tidak mempengaruhi mentalnya sama sekali.
Maya yang sedang menata beberapa piring kecil di atas meja kayu menengadah. Matanya berbinar jenaka. "Selamat pagi, Pak Kian. Senang melihat Anda hadir dalam wujud manusia utuh tanpa corak tinta hari ini."
Kian mengabaikan sindiran itu dan langsung duduk. Namun, penciumannya mendeteksi aroma harum gurih yang sangat menggoda selera. Di atas meja, terhidang se piring pisang goreng kipas yang masih mengepul panas dan dua cangkir teh melati.
"Apa lagi ini? Ujian menyeduh teh?" tanya Kian curiga, melipat dadanya.
"Bukan. Ini sarapan," jawab Maya santai seraya menduduki kursinya. "Ibu Anda menelepon saya tadi malam. Beliau bilang Anda selalu melewatkan sarapan karena terlalu sibuk bersikap dingin pada dunia. Jadi, syarat masuk kelas hari ini: habiskan dua buah pisang goreng ini."
Kian mengerutkan kening, menatap pisang goreng berbalut tepung renyah itu seperti melihat benda asing dari planet lain. "Saya tidak makan makanan berminyak di pagi hari. Kalori dan kadar kolesterolnya—"
"Satu gigitan pisang goreng, atau satu laporan kegagalan ke Ibu Eleanor?" potong Maya tenang, menyerahkan sebuah garpu kecil.
Kian menggeram pelan. Dengan enggan, ia menyambar garpu tersebut, memotong sepotong kecil pisang goreng, dan memasukkannya ke dalam mulut.
Ia siap menyumpahi rasanya. Ia siap bilang bahwa ini makanan tidak sehat. Tapi begitu lidahnya mengecap perpaduan manisnya pisang raja yang lumer dan renyahnya adonan berbumbu wijen itu... Kian terpaku. Matanya sedikit membesar.
Enak banget. Sialan, batin Kian menjerit.
Maya yang mengamati perubahan ekspresi Kian hanya tersenyum tipis, menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Bagaimana? Apakah rasa pisang goreng ini cukup merusak tatanan oligarki Anda?"
Kian dengan cepat menetralkan raut wajahnya, mengunyah perlahan seolah sedang menilai kualitas keju mahal dari Prancis. "Biasa saja. Tepungnya sedikit terlalu tebal." Tapi tangannya, tanpa sadar, justru memotong potongan kedua yang jauh lebih besar.
Maya menahan senyum. "Baiklah. Sambil Anda 'menikmati' pisang goreng yang biasa saja itu, mari kita masuk ke materi hari ini: Apresiasi dan Pujian."
Kian hampir tersedak. "Pujian?"
"Ya. Seorang pemimpin yang hebat tidak hanya tahu cara mengkritik, tapi juga tahu cara memuji," jelas Maya seraya mengambil sebuah kertas dari folder-nya. "Tugas Anda pagi ini adalah memberikan tiga pujian yang tulus dan spesifik kepada orang-orang di sekitar Anda. Kita mulai dari simulasi. Pujilah saya.
Kian menghentikan kunyahannya. "Memuji Anda?"
"Ya. Bebas. Penampilan saya, cara mengajar saya, atau apa saja. Tapi harus tulus dan spesifik. Tanpa kata 'tapi', tanpa sarkasme."
Kian berdeham, merapikan duduknya. Memuji bawahan atau mitra bisnis adalah hal biasa baginya, tapi memuji wanita di depannya ini terasa seperti diminta memanjat Monas tanpa tali.
"Ehem. Baiklah," Kian menatap Maya. Wanita itu mengenakan kemeja batik katun berpotongan elegan dengan rambut disanggul modern. Matanya yang jernih menatap Kian penuh antisipasi.
"Bu Maya... Anda..." Kian menggantung kalimatnya. Tenggorokannya mendadak kering. "Anda... punya gaya berpakaian yang... tidak merusak pemandangan."
Maya mengedipkan mata. "Tidak merusak pemandangan? Itu pujian atau deskripsi kelayakan bangunan dinas tata kota, Pak Kian?"
"Maksud saya, Anda terlihat... anggun!" seru Kian agak menaikkan nada suaranya karena panik. "Warna baju Anda cocok dengan warna kulit Anda. Puas?"
"Nilai lima dari sepuluh. Agak tertekan, tapi ada kemajuan," kekeh Maya. "Sekarang, coba pujian kedua. Kali ini telepon asisten pribadi Anda, Pak Luki."
Kian melotot. "Luki?! Kenapa harus Luki?"
"Karena beliau adalah orang yang paling sering menerima amukan Anda setiap hari. Buka HP Anda, loudspeaker, dan puji dia."
Dibawah tatapan mengintimidasi namun penuh kehangatan dari Maya, Kian akhirnya mengeluarkan ponselnya dengan jemari gemetar. Ia mencari kontak 'Luki Asisten' dan memanggilnya.
Hanya dalam satu detik, panggilan diangkat.
"Selamat pagi, Pak Kian! Ada yang bisa saya bantu? Mobil sudah siap, berkas rapat jam sembilan sudah di meja, dan saya sudah memesan kopi Guatemala kesukaan Bapak!" suara Luki terdengar sangat sigap namun penuh kecemasan dari seberang telepon.
Kian menarik napas panjang. Maya memberi isyarat tangan agar Kian mulai bicara.
"Luki," panggil Kian berat.
"Ya, Pak?! Ada yang salah?! Saya minta maaf Pak kalau ada dokumen yang keliru, jangan potong bonus saya Pak!" Luki langsung panik.
"Tidak. Tidak ada yang salah," Kian mengusap tengkuknya yang terasa panas. Wajahnya mulai memerah. "Saya... cuma mau bilang..."
"Bilang apa, Pak?"
"Kerja kamu... sangat bagus pagi ini. Terima kasih sudah mempersiapkan semuanya dengan teliti. Kamu... asisten yang sangat diandalkan."
Hening.
Tidak ada suara dari seberang telepon selama lima detik penuh. Maya menahan tawa sambil menutupi mulutnya dengan buku.
"P-Pak Kian...?" suara Luki terdengar bergetar hebat dari telepon.
"Ya?"
"Bapak... Bapak di mana sekarang? Bapak diculik? Atau Bapak lagi disandera babi ngepet Pak?! Tolong jangan macam-macam Pak, sebutkan tebusannya berapa, saya transfer sekarang juga asal Bapak selamat!!" histeris Luki dari seberang telfon.
Kian membelalakkan mata, harga dirinya yang sempat terkumpul langsung hancur berkeping-keping. "LUKI! Saya serius! Saya cuma mau memuji kamu!"
"Akal-akalan pemeras ini pasti! Pak Kian tidak mungkin memuji saya kecuali dunia mau kiamat! Halo?! Penjahat?! Jangan apa-apakan bos saya!"
TUT... TUT... TUT...
Sambungan telepon diputus sepihak oleh Luki.
Ruang kaca itu seketika pecah oleh tawa Maya. Guru sastra itu tertawa sampai harus menyandarkan kepalanya ke meja, bahunya naik turun. Tawa melengking yang begitu lepas dan merdu hingga membuat dinding kaca seolah ikut bergetar.
"Bwahahaha! Babi ngepet?! Pak Kian, asisten Anda berpikir Anda disandera babi ngepet!" gelak Maya dengan air mata menetes di sudut matanya.
Kian menatap ponselnya dengan ekspresi tidak percaya, lalu menatap Maya yang masih tertawa terpingkal-pingkal. Wajah Kian merah padam, campuran antara malu setengah mati dan kejengkelan yang luar biasa.
"Asisten bodoh. Nanti jam sembilan langsung saya surat pemecatan dia," sungut Kian, membuang mukanya ke samping.
"Jangan dipecat," ujar Maya sambil mencoba merapikan napas dan mengusap air matanya. Ia menatap Kian dengan binar mata yang hangat. "Itu buktinya, Pak Kian. Selama ini Anda begitu kaku dan menakutkan, sampai-sampai satu kalimat tulus dari Anda justru dianggap sebagai musibah oleh orang terdekat Anda."
Kata-kata Maya kembali mendarat tepat di sasaran, namun kali ini tidak terasa menyakitkan. Ada rasa hangat yang aneh merayap di dada Kian.
Maya menyodorkan cangkir teh hangat ke hadapan Kian. "Tapi, usaha Anda tadi patut diacungi jempol. Anda mau mencobanya, dan itu langkah besar untuk seorang 'pangeran es'."
Kian menerima teh itu, menatap uap tipis yang membumbung. Tanpa sadar, sebuah sudut bibirnya terangkat sedikit—sebuah ukiran senyum tipis yang amat langka, bukan senyum sinis atau angkuh, melainkan senyum yang jujur.
"Pisang gorengnya..." gumam Kian pelan sambil menatap piring yang kini sudah kosong. "...Sebenarnya sangat enak."
Maya tertegun sejenak melihat senyuman tipis Kian. Ruangan itu mendadak terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Maya tersenyum manis, membalas tatapan Kian.
"Saya tahu," sahut Maya pelan. "Besok saya suruh bikinkan lagi. Tapi dengan syarat: besok Anda harus belajar cara meminta maaf, bukan cuma memuji."
Kian mendesah pasrah, tapi kali ini, tidak ada lagi rasa gusar di langkahnya saat ia beranjak berdiri untuk bersiap menuju kantor. Perang dingin mereka tampaknya mulai meleleh, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: rasa penasaran yang kian membesar.