NovelToon NovelToon
Istri Misterius Sang Jenderal

Istri Misterius Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Dijodohkan Orang Tua / Fantasi Wanita / Nikah Kontrak / Kerajaan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.

Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.

Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.

Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?

*

Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Tepat saat botol ketiga belas selesai diisi dan ditutup rapat, Orion kembali bersama rombongannya.

Tatapan hazelnya langsung menyapu sekeliling perkemahan, mencari sosok Arina. Namun, wanita itu tidak terlihat di mana pun.

"Di mana Arina?" tanya Orion.

"Nona sedang beristirahat, Tuan."

Alhena melangkah mendekat sambil menundukkan kepala. Ia kemudian menyerahkan empat botol kecil ke tangan Orion.

"Obatnya sudah selesai diracik, Tuan. Nona berpesan agar satu tetes obat dicampurkan ke dalam setiap gelas air minum yang akan diberikan kepada pasien."

Orion menerima keempat botol itu, lalu menyerahkannya kepada Putri Vega.

Putri Vega membuka sedikit tutup salah satu botol.

"Wah... aromanya sangat harum," gumamnya.

Seketika, wangi herbal yang menyegarkan memenuhi udara di sekitar mereka.

"Perintah selanjutnya, Jenderal?" tanya Darius.

"Sebaiknya kita segera memberikan penawar ini kepada seluruh warga yang terkena racun," ujar Edmund dengan nada penuh kekhawatiran. "Mereka sudah lama menunggu."

Orion mengangguk.

"Ya. Bagikan obatnya sekarang juga." Tatapannya kemudian beralih ke arah tenda Arina. "Aku akan memeriksa keadaan Arina."

"Nona berpesan agar tidak ada siapa pun yang mengganggunya sampai besok pagi, Tuan," ujar Alhena cepat, menyampaikan pesan Arina.

Langkah Orion seketika terhenti. Keningnya berkerut tipis.

"Aku hanya ingin memastikan keadaannya," katanya pelan. "Aku tidak berniat mengganggunya."

Usai berkata demikian, Orion kembali melangkah menuju tenda tempat Arina beristirahat.

"Kalian berangkatlah lebih dulu. Aku juga ingin memastikan kondisi Lady Arina," kata Putri Vega kepada yang lain.

"Baik, Yang Mulia."

Mereka mengangguk hormat, lalu membawa botol-botol penawar dari tangan Putri Vega dan segera berpencar menuju rumah-rumah para pasien.

Harapan kembali terpancar di mata mereka sambil membawa botol-botol obat tersebut, sesuatu yang mungkin mampu menyelamatkan kota Asterra.

Sementara itu, Alhena mengikuti Orion menuju tenda Arina dengan langkah cemas. Putri Vega juga segera menyusul di belakang mereka.

Di sisi lain, Saiph bergabung bersama para prajurit untuk membantu memberikan penawar kepada warga.

Saat Orion menyingkap tirai tenda, langkahnya langsung terhenti.

Arina terbaring lemah di dalamnya.

Wajahnya sepucat mayat.

Sehelai kain putih yang menutupi hidungnya telah berubah merah oleh darah. Meski darahnya sudah berhenti mengalir, bekas yang memanjang hingga ke leher membuat Orion tahu bahwa darah yang keluar tidak sedikit.

"Apa...?" Rahang Orion langsung mengeras. Amarah seketika memenuhi dadanya.

Ia hampir saja membentak Alhena karena membiarkan Arina dalam keadaan seperti itu. Namun, ia menggigit lidahnya sendiri dan menahan emosi. Ia tidak ingin suaranya membangunkan Arina.

"Ya Tuhan..." Putri Vega menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Apa yang terjadi padanya?"

Alhena pun membeku di tempat. Wajahnya memucat. Ia sama sekali tidak menyangka kondisi Arina akan memburuk secepat ini.

"Arina..." Orion segera duduk di sisi ranjang, lalu mengangkat kepala Arina dengan hati-hati ke atas pangkuannya.

Begitu telapak tangannya menyentuh leher wanita itu, ia merasakan dingin yang seolah menembus hingga ke tulang. Dengan jemari yang sedikit gemetar, Orion memeriksa nadinya.

Sesaat kemudian, ia mengembuskan napas lega ketika merasakan denyut yang masih stabil.

Ia dan Arina memang tidak pernah saling mencintai. Pernikahan mereka hanyalah hasil perjodohan. Namun, Arina tetaplah istrinya. Dan istri seorang Jenderal tidak seharusnya berakhir dalam keadaan menyedihkan seperti ini.

Entah mengapa, kenyataan itu membuat Orion semakin marah.

"Orion," ujar Putri Vega setelah berhasil menenangkan diri, "sebaiknya panggil salah satu tabib di kota ini. Barangkali dia bisa memeriksa Arina."

"Aku hanya kehabisan tenaga."

Suara pelan itu membuat semua orang menoleh.

Arina perlahan membuka matanya.

"Aku hanya perlu beristirahat sampai pagi."

"Tidak, Arina," bantah Putri Vega lembut. "Kesehatanmu juga penting. Kau berada dalam kondisi seperti ini karena membuat penawar untuk seluruh warga Asterra."

Ia kemudian menoleh kepada Alhena. "Tolong panggil salah seorang tabib kota kemari."

"Baik, Yang Mulia."

Setelah Alhena keluar, hanya Orion, Putri Vega, dan Arina yang tersisa di dalam tenda.

Arina melirik Orion sekilas.

Rahang pria itu masih mengeras, sementara sorot matanya dipenuhi amarah yang belum juga mereda.

Kenapa dia selalu marah? Arina benar-benar tidak mengerti.

"Apakah membuat penawar itu memang membutuhkan tenaga sebesar itu?" tanya Orion akhirnya. Nada suaranya terdengar kesal. "Sampai kau berubah menjadi seperti ini?"

Arina hanya mengangguk pelan.

"Kalau begitu seharusnya aku saja yang membuatnya. Kau tinggal menunjukkan langkah-langkahnya,” ujar Orion.

Arina mengangkat sebelah alis. Orion memang sangat kuat. Namun, membuat penawar itu bukan sekadar mengikuti langkah-langkah. Dibutuhkan kekuatan yang tepat. Dan Orion tidak memilikinya.

"Kau tidak bisa," jawab Arina singkat.

Orion langsung menatapnya. "Kau meremehkanku?"

"Sama sekali bukan." Arina menggeleng pelan. "Hanya saja... kekuatanmu tidak cocok untuk membuat obat."

Melihat suasana mulai memanas, Putri Vega segera menyela. "Kurasa Arina benar-benar membutuhkan istirahat. Sebentar lagi tabib juga akan datang."

Orion akhirnya memilih diam. Tanpa sadar, tangannya mengusap perlahan rambut ungu Arina yang masih bersandar di pangkuannya.

Tak lama kemudian, seorang tabib Asterra memasuki tenda.

Setelah mendapat izin dari Putri Vega dan Orion, tabib itu segera memeriksa kondisi Arina dengan teliti.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Putri Vega.

"Lady baik-baik saja," jawab sang tabib. "Beliau hanya mengalami kelelahan akibat menguras terlalu banyak kekuatan. Dengan istirahat yang cukup, kondisinya akan pulih."

Orion masih belum sepenuhnya percaya.

"Kau yakin?" tanyanya tajam. "Wajahnya sepucat ini dan tubuhnya sedingin es."

Tabib itu langsung menelan ludah.

"Be-benar, Jenderal. Gejala seperti itu memang umum terjadi pada seseorang yang menghabiskan terlalu banyak energi dalam waktu singkat."

Orion menatap tabib itu beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.

Setelah memastikan Arina benar-benar tidak berada dalam bahaya, ia dan Putri Vega meninggalkan tenda.

Mereka bergabung dengan para prajurit untuk membantu membagikan penawar kepada seluruh pasien.

...***...

...like, komen dan vote ...

1
Nda
kayanya Orion mulai cemburu nggak sh🤭
Nda
novelmu selalu menarik thor😍😍
ociii
🥰🥰
ociii
cerita'y bagus...♥️♥️
Mila Sari
Thor jgn setengah 2 ceritanya,, yg bnyk updatenya
Mila Sari: ditunggu ya Thor,, semangat berkarya
total 2 replies
Mila Sari
ceritanya smkin seru,, Thor yg bnyk updetnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!