Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Temukan?
"Kalau begitu Saya akan suruh sopir siapkan mobil untuk mengantar kamu ke rumah sakit terdekat. Disana kamu langsung diperiksa agar tahu batukmu itu benar-benar karena masuk angin atau ada hal lain." ucap Baskara lagi, sudah berbalik badan hendak mengambil ponselnya untuk menelpon.
Mendengar kata 'Rumah Sakit', tubuh Yasmin seketika menegang kaku. Matanya membelalak, wajahnya yang tadi mulai memerah karena malu kini kembali pucat pasi, bahkan lebih pucat dari sebelumnya. Bayangan-bayangan kelam seketika berputar liar di kepalanya. Ruangan putih yang dingin, bau obat yang menyengat, jarum suntik, dan tatapan aneh orang-orang yang menatapnya seperti makhluk asing... Semua itu adalah mimpi buruk baginya.
"Tidak, Pak! Jangan!" seru Yasmin spontan, suaranya sedikit meninggi karena panik. Ia segera memegang lengan Baskara untuk menahannya.
Baskara berhenti dan menoleh, alisnya terangkat bingung melihat reaksi istrinya yang berlebihan.
"Kenapa? Kenapa tidak mau? Itu demi kesehatanmu sendiri," tanya Baskara ketus.
Yasmin melepaskan pegangannya cepat, lalu menunduk dalam, tangannya saling bertaut gugup.
"Ti-tidak usah ke Rumah Sakit, Pak. Nanti saja... Saya takut..." bisiknya pelan, suaranya bergetar. "Saya cuma batuk biasa kok, Pak. Tidak perlu periksa yang ribet-ribet. Cukup beli obat di apotek saja pasti sembuh. Saya janji, nanti obatnya diminum teratur. Lagi pula dikampung saya biasa seperti ini."
Baskara menatapnya lekat-lekat, mencoba membaca pikiran wanita itu. Ia heran, biasanya Yasmin sangat patuh setelah kejadian memakai Yasmin di Mall bulan lalu, tapi kali ini menolak keras soal rumah sakit. Namun, melihat wajah Yasmin yang benar-benar ketakutan, entah mengapa hati Baskara tak tega untuk memaksa. Biasanya ia akan langsung membentak dan melontarkan kata-kata tajam, tapi hari ini ia hanya mendengus pelan.
"Huft... Dasar wanita susah. Sudah dibilangin malah nolak," gerutunya, tapi nada suaranya tidak sekeras biasanya. "Ya sudah terserah kamu! Tapi kalau nanti makin parah dan menyusahkan Aku jangan harap ada bekas kasihan!"
"Siap, Pak! Terimakasih banyak, Pak Baskara!" seru Yasmin lega, senyumnya kembali mengembang. Beban di dadanya terangkat sedikit.
"Ya sudah, bagaimana jika sopir mengantarmu ke apotik? Jalan kaki panas, bukankah kulitmu tidak bisa terkena matahari langsung?" tawar Baskara lagi.
Lagi-lagi Yasmin menggeleng cepat.
"Tidak usah, Pak. Apoteknya kan sangat dekat, cuma di ujung jalan itu. Saya bisa jalan kaki kok, kan tidak jauh," jawab Yasmin ceria. "Lagipula... Saya pengen jalan kaki sebentar. Anginnya seger, Pak."
Baskara menatapnya tak percaya. "Kau ini aneh. Orang sakit malah semangat mau jalan-jalan."
"Harap maklum, Pak. Saya kan jarang keluar apartemen. Selama sebulan ini kan Saya cuma di dalam apartemen terus. Kalaupun keluar, pasti diawasi Pak Roy." ucap Yasmin manis, matanya berbinar penuh harap. "Kasihan juga sopirnya kalau harus antar-jemput hanya untuk membeli obat ke apotik yang jaraknya sangat dekat. Saya bisa sendiri, Pak. Janji deh, hati-hati."
Yasmin menatap Baskara dengan tatapan memohon yang sangat manis dan polos. "Saya juga mengenakan pakaian serba tertutup sehingga kulit saya terlindungi."Ia benar-benar ingin merasakan sensasi bebas sebentar saja. Ingin melihat orang-orang berlalu lalang, melihat gedung-gedung kota tanpa batas kaca mobil, dan merasakan angin kota menyapu wajahnya tanpa ada yang mengawasi atau mengikutinya dari dekat.
Baskara menghela napas panjang, lalu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Ya sudah, ya sudah! Terserah kau saja hari ini! Tapi ingat pesanku: jangan lama-lama, jangan belok ke jalan lain, langsung pergi langsung pulang. Dan pakai jaket atau kerudung yang menutup kulitmu baik-baik!" tegas Baskara.
"Iya, Pak! Siap, Komandan!" jawab Yasmin ceria, sedikit melucu untuk mencairkan suasana.
"Dasar bodoh," celetuk Baskara, tapi kali ini sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang sangat cepat menghilang. "Cepat mandi dan siap-siap. Obat harus sudah masuk perut sebelum jam sembilan."
"Siap, Pak!"
*****>>>{}<<<*****
Tak lama kemudian, Yasmin sudah siap. Ia mengenakan gamis panjangnya yang baru, ditambah jaket tipis dan kerudung yang menutup leher dan kepalanya dengan rapi, melindungi kulit sensitifnya. Dengan hati berbunga-bunga, ia melangkah keluar dari pintu apartemen.
Udara pagi di luar terasa begitu segar dan berbeda dengan udara ber-AC di dalam apartemen. Yasmin tersenyum lebar, matanya mengedar ke sekeliling.
"Wah... indah sekali ya pemandangannya," gumamnya pelan pada diri sendiri.
Ia berjalan perlahan menyusuri trotoar yang bersih. Matanya tak henti-hentinya memperhatikan sekeliling. Melihat orang-orang yang sibuk berjalan cepat dengan pakaian rapi, melihat kendaraan yang lewat, melihat pepohonan dan bangunan tinggi. Semuanya terasa begitu baru dan menarik baginya.
"Enak juga ya bisa jalan-jalan sendiri gini," batinnya senang. "Terima kasih ya Allah... Pak Baskara baik sekali hari ini. Tidak marah-marah seperti biasanya."
Meskipun dadanya masih terasa gatal dan sesekali batuk, namun perasaan bahagia karena dipercaya dan bisa menikmati suasana luar ruangan membuat rasa sakit itu seolah berkurang setengahnya. Ia berjalan dengan langkah ringan menuju apotek, berjanji dalam hati akan menjadi istri yang semakin baik agar suatu saat nanti Baskara bisa benar-benar mencintainya sepenuh hati.
*****>>>{}<<<*****
Langkah kaki Yasmin terasa begitu ringan, seolah tidak menyentuh aspal. Angin pagi yang sejuk berhembus pelan membelai wajahnya, membawa aroma kehidupan kota yang asing namun menarik baginya.
"Alhamdulillah... enak sekali rasanya," bisik Yasmin pelan sambil memejamkan mata sejenak, menikmati hembusan angin itu.
Selama ini, setiap kali ia keluar, ia selalu berada di dalam mobil yang tertutup rapat atau berjalan cepat diawasi oleh pengawal. Hari ini, untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar bebas. Bebas mengatur langkah, bebas menoleh ke kiri dan ke kanan, dan bebas mengamati dunia luar tanpa rasa takut diawasi.
Matanya berbinar-binar menatap gedung-gedung tinggi yang menjulang kokoh di sekelilingnya. Cahaya matahari pagi bersinar lembut, tidak terlalu menyengat, dan beruntungnya banyak pepohonan rindang di sepanjang jalan yang menjadi peneduh alami, sangat cocok untuk kulit sensitifnya.
"Wah, besar sekali ya gedung-gedung di sini," gumamnya takjub, sesekali berhenti sebentar hanya untuk melihat pemandangan. "Ramai sekali orang-orangnya. Mereka pasti sibuk sekali ya mencari nafkah."
Yasmin tersenyum sendiri melihat aktivitas orang-orang di sekitarnya. Ada yang berjalan terburu-buru, ada yang duduk santai di halte, dan ada yang tertawa-tawa bersama temannya. Semua itu adalah pemandangan yang sangat jarang ia lihat sebelumnya.
"Asyik juga ya bisa keluar sendiri. Rasanya lega sekali dada ini," batinnya bahagia. "Pak Baskara ternyata baik juga ya. Ternyata beliau bisa juga bersikap lembut kalau mau. Hanya saja mungkin caranya yang agak unik dan galak."
Tiba-tiba ia terbatuk kecil, "Ukhh... ukhh..."
"Ih, iya ya, tujuan utamanya kan beli obat. Jangan melamun terus, Yaya," tegurnya pada diri sendiri sambil tertawa kecil.
Ia kembali melanjutkan perjalanannya dengan semangat. Jarak yang dekat itu ia tempuh dengan perlahan, ingin memperpanjang waktu kebebasannya ini meski hanya sebentar. Rasanya, udara luar ini adalah obat terbaik yang bisa menyembuhkan lelah hatinya selama ini.
Tak lama kemudian, ia akhirnya sampai di depan sebuah apotek yang cukup besar dan terlihat bersih. Dengan perasaan gembira namun tetap sopan, Yasmin melangkah masuk ke dalamnya.
"Assalamu’alaikum..." sapa Yasmin lembut kepada apoteker di balik counter.
"Wa’alaikumsalam. Ada yang bisa dibantu, Bu?" sahut petugas itu ramah.
"Iya, Mbak. Saya mau beli obat batuk. Yang manjur dan aman untuk batuk kering gitu," ujar Yasmin sopan.
Sambil menunggu petugas meracikkan obat, Yasmin kembali tersenyum. Hari ini benar-benar menjadi hari yang spesial baginya. Sebuah langkah kecil menuju kepercayaan yang lebih besar, dan sebuah bukti bahwa perlahan-lahan, dinding es di hati Baskara mulai mencair.
Petugas apotek itu tersenyum ramah, lalu mulai meracik obat sesuai permintaan Yasmin. Sambil menunggu, Yasmin diam-diam memperhatikan suasana di dalam apotek itu. Bersih, rapi, dan berbau khas obat-obatan yang tidak terlalu menyengat seperti di rumah sakit. Lega rasanya hatinya.
"Ini Bu, obat batuknya. Diminum tiga kali sehari sesudah makan ya, Bu," kata petugas itu sambil menyerahkan bungkusan obat.
"Baik, Mbak. Terima kasih banyak," ucap Yasmin lembut. Ia merogoh sakunya, mengambil uang yang tadi diambil dari dompet Baskara, lalu membayar dengan sopan.
"Sama-sama, Bu. Semoga lekas sembuh," jawab petugas itu.
Yasmin mengangguk tersenyum, lalu melangkah keluar dari apotek. Saat tangannya memegang botol obat itu, ada perasaan bangga tersendiri. Ini pertama kalinya ia pergi sendiri, membeli sesuatu sendiri, dan merasa berguna.
"Nah, Sekarang tinggal pulang, minum obat, lalu istirahat," gumamnya riang.
Namun, saat berbalik arah untuk pulang, langkah kakinya tiba-tiba terhenti karena tangan kasar tiba-tiba mencekal lengannya.
"Ternyata kamu disini ya gadis cacat!"
Deg!
Dada Yasmin berdetak lebih cepat mendengar suara yang begitu familiar baginya. Memastikan dugaannya, Yasmin menoleh dengan mata membelalak melihat seorang yang mencekal lengannya disertai seringaian seperti seorang penjahat yang menemukan buronannya yang telah lama hilang.