Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjuangan dan Hasil
Bayangan pekat hutan rimba akhirnya tertinggal di belakang. Dari atas bukit pembatas ini, pemandangan Desa Veria terhampar jelas.
Langit sore yang memancarkan semburat jingga keemasan menyelimuti atap-atap rumah penduduk, menyuguhkan kehangatan yang amat kontras dengan hawa dingin hutan di punggung mereka.
Napas Cate dan Vyora saling beradu, memburu kasar. Otot-otot lengan mereka terasa kebas setelah menyeret beban mati dari tubuh Takahiro.
Dengan sisa tenaga yang ada, keduanya kompak menurunkan pemuda tak berdaya itu, membiarkannya terduduk merosot dengan punggung bersandar pada batang pohon besar.
"Vyora, kamu tunggu di sini dan jaga dia," kata Cate pelan. Ia mengangkat punggung telapak tangan, menyeka kasar peluh yang membasahi pelipisnya. "Aku akan cari bala bantuan dulu sebelum matahari terbenam."
Vyora yang mendengar perintah mutlak itu tak sanggup mengeluarkan suara. Ia hanya mengangguk pelan, pandangannya tertuju pada tubuh Takahiro yang dipenuhi luka gores kemerahan.
Melihat anggukan tersebut, Cate tak mau membuang waktu. Detik berikutnya, gadis berambut merah itu sudah memutar tubuh dan berlari menuruni lereng bukit menuju desa, mencari siapa saja yang bisa direpotkan.
Sepeninggal Cate, sepi kembali menyergap. Vyora masih belum paham dengan apa yang sebenarnya menimpa pemuda asing ini. Ia perlahan merendahkan tubuh, berjongkok di sisi kiri Takahiro. Kedua sikunya bertumpu di atas paha, sementara telapak tangannya menopang dagu.
Ditemani desir angin sore, mata kuning sayunya menelusuri lekuk wajah Takahiro. Tangan kanan Vyora terangkat tanpa sadar, jemarinya bergerak menyingkirkan beberapa helai rambut berdebu yang menutupi kening pemuda itu.
Begitu poni itu tersingkap, rasa iba seketika mencubit dada Vyora. Luka-luka di wajah Takahiro terlihat pedih. Ia tak tega membiarkannya begitu saja menunggu tanpa pertolongan pertama.
Ia harus mencari sesuatu. Tanaman obat, getah, apa saja.
Vyora bangkit berdiri, menyapu pandangannya ke sekeliling bukit. Nihil. Hanya ada rerumputan liar dan pohon berkayu keras. Didorong oleh insting, kakinya melangkah menuruni bukit, mengarah ke area perbatasan yang lebih landai.
Meninggalkan Takahiro sendirian memang berisiko, namun mencari di satu titik saja tak akan membuahkan hasil. Ia terus berjalan sejauh beberapa meter hingga pandangannya menangkap sebuah gubuk reyot—bekas lapak penjual tanaman herbal yang sudah lama ditinggalkan.
Di pekarangan gubuk itulah matanya menangkap siluet tanaman yang sangat ia kenal.
Ia mempercepat langkah. Dan benar saja. Di sudut pekarangan tanah kering itu, tumbuh subur rumpun Aloe Vera.
Daunnya yang hijau keabu-abuan memanjang seperti mata tombak. Vyora berjongkok, meraba permukaan daun muda yang dihiasi bercak samar. Di tepiannya terdapat deretan duri-duri kecil yang menyerupai gerigi tumpul. Saat ditekan, daun berdaging tebal itu terasa padat namun kenyal, menandakan banyaknya kandungan air di dalam sana.
"Gatcha!! Akhirnya aku menemukanmu."
Tanpa ragu, Vyora mematahkan dua helai daun paling besar. Suara patahan yang renyah terdengar, disusul lendir kekuningan yang mulai menetes dari pangkalnya. Ini sudah lebih dari cukup.
Vyora segera berlari mendaki lereng kembali menuju pohon tempat Takahiro bersandar. Begitu sampai, dadanya naik turun dengan cepat. Napasnya tersengal akibat tanjakan yang menguras tenaga. Namun rasa lelah itu ia tekan dalam-dalam.
Ia duduk bersimpuh. Layaknya seorang tabib yang sudah terbiasa dengan alam, jemarinya dengan cekatan mengupas kulit luar daun yang tebal itu. Ia sangat berhati-hati menjaga agar daging gel bening dan licin di dalamnya tidak jatuh mengotori tanah.
Sebelum memulai, Vyora meraih botol minumnya yang tersisa sedikit, menuangkan air itu ke telapak tangan kanannya untuk membilas debu dan kotoran.
Setelah dirasa cukup bersih, barulah ia mengambil gel lidah buaya yang kenyal itu dan mulai mengusapkannya ke atas luka-luka kemerahan di lengan Takahiro.
"Tahan, ya," tutur lembut Vyora. Tangannya bergerak telaten mengoleskan lendir dingin itu. Ia tahu pemuda itu takkan merespons, namun berbicara membuatnya merasa lebih tenang. "Ini tidak akan sakit, kok."
Takahiro tetap mematung dalam ketidaksadarannya. Permukaan kulit wajahnya kini perlahan dipenuhi kilau bening dari gel Aloe Vera.
"Maaf... hanya ini yang bisa kulakukan," gumamnya pelan saat jari-jarinya meratakan gel di sekitar pipi kanan Takahiro. "Meski obat ini hanya sementara, aku harap bisa meredakan rasa sakit yang kamu rasakan."
Daun pertama habis. Vyora segera meraih daun kedua, mengupasnya kembali, dan mengoleskan sisanya ke bagian tubuh yang lain.
Hingga beberapa menit berlalu, tugas medis dadakan itu pun selesai. Tenaga Vyora terkuras habis. Tubuhnya limbung ke belakang, jatuh terduduk di atas hamparan rumput sebelum akhirnya ia membiarkan tubuhnya rebah terlentang. Tanpa sengaja, pergelangan kakinya mendarat dan menumpang tepat di atas kaki Takahiro.
Ia membiarkan kedua lengannya terentang bebas. Matanya terpejam seiring dengan helaan napas panjang yang meluncur dari belahan bibirnya.
"Capek banget! Rasanya kayak lagi dikejar-kejar sama anjing galak milik tetangga. Aku jadi pengen tidur di sini..."
Sejuknya belaian angin sore membuai kesadarannya. Ocehan itu mengalir murni dari rasa penat yang menumpuk. Hari ini terasa begitu panjang dan menyiksa.
Perlahan, seiring kesadarannya yang mulai menipis, ingatan-ingatan pahit menyusup ke balik kelopak matanya. Bayangan keluarganya di rumah. Menjadi tulang punggung semenjak ayahnya wafat bukanlah takdir yang mudah. Ia hanyalah anak sulung dari keluarga petani gandum dan padi kecil-kecilan.
Setiap musim panen tiba, bayangan para petinggi desa yang tamak selalu menghantui.
Otaknya kembali memutar adegan memuakkan itu—saat para pekerja tengkulak dengan licik menyisipkan gulungan rambut tebal ke dalam pemberat timbangan manual.
Trik kotor yang membuat timbangan selalu berat sebelah, merampas hasil keringat petani dengan harga murah.
Bukan hanya keluarganya, hampir seluruh petani di Veria bernasib sama. Namun tak ada satu pun yang berani angkat bicara menentang tirani kecil itu.
Diamnya mereka justru membuat para lintah darat itu semakin ketagihan mencekik leher rakyat miskin.
Terjebak dalam pusaran nasib dan lilitan utang yang tak berujung, Vyora merasa kian tenggelam. Ia harus menghadapi semuanya. Tapi untuk sore ini... untuk beberapa menit saja... ia hanya ingin menyerah pada rasa kantuknya.
***
Waktu berlalu tanpa terasa. Langit semakin meredup saat rentetan langkah kaki kasar dan suara derit roda kayu memecah ketenangan bukit.
Cate datang menanjak, menarik sebuah gerobak kayu kuno bersama dua orang pemuda desa yang berjalan mengekor di belakangnya. Dari pertengahan bukit, Cate sudah beberapa kali meneriakkan nama Vyora. Namun panggilannya hanya ditelan angin.
Begitu rombongan kecil itu tiba di bawah pohon, langkah Cate terhenti tajam. Urat di pelipisnya seketika menonjol keluar.
Di sana, di sebelah tubuh pemuda yang terluka, Vyora tampak tertidur sangat pulas. Mulut gadis berambut abu-abu itu sedikit terbuka, mengalirkan segaris air liur tipis yang menetes ke dagunya.
Rasa lelah sisa berlari ke desa langsung menguap, digantikan oleh amarah yang mendidih. Dengan langkah cepat, Cate menghampiri Vyora. Tanpa aba-aba, kaki Cate melayang dan mendaratkan tendangan ke sisi perut Vyora, disusul dengan injakan-injakan kaki beruntun yang cepat namun cukup menyakitkan ke paha temannya itu.
Dua pemuda desa di belakang hanya bisa menelan ludah melihat pemandangan brutal tersebut.
"Woi, bangsat," gerutunya kesal, wajahnya mengerut menahan emosi yang meledak-ledak. "Cepat bangun! Aku menyuruhmu untuk menjaga pemuda ini, bukan malah asyik ikut tidur di sampingnya."
Rentetan serangan fisik tiba-tiba itu membuat mata Vyora terbelalak lebar. Kesadarannya ditarik paksa.
"Aduh! Sakit! Hentikan, Cate!" Vyora mengerang, memutar tubuhnya ke kanan-kiri sambil mengangkat kedua tangan untuk menangkis injakan kaki Cate yang bertubi-tubi.
Namun Cate bergeming. Ujung sandalnya masih setia menyiksa pinggang Vyora.
"Kalau kau mau aku berhenti, cepat bangun dan bantu kami angkat dia!"
Tak punya pilihan, Vyora buru-buru memaksakan diri merangkak mundur dan berdiri dengan wajah memelas sambil mengusap-usap pinggangnya. Begitu Vyora bangkit, Cate akhirnya menghentikan serangannya sambil mendengkus puas.
Setelah kegaduhan konyol itu mereda, mereka berempat segera memfokuskan perhatian pada Takahiro.
Dengan aba-aba dari Cate, kedua pemuda desa itu mengangkat bagian bahu, sementara Vyora dan Cate menahan bagian kaki.
Mereka mengayunkan tubuh berat itu bersama-sama dan membaringkannya ke atas papan kayu gerobak.
Kini, diiringi decit roda gerobak yang saling bergesekan, mereka melangkah turun meninggalkan area bukit hutan rimba, membawa pemuda asing itu menuju desa di bawah sana.