NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

"Kenapa?" tanya Ratna pelan. "Tadi kamu sendiri yang bilang mau tanggung jawab."

"Iya, pasti. Mamah Mertua tenang saja, aku pasti tanggung jawab," jawab Luki santai.

Amira mendecih pelan dalam hati. Pede banget ojol satu ini. Berani-beraninya manggil Mamah Mertua, padahal nikah aja belum.

"Aku pasti tanggung jawab, tapi aku butuh persiapan," lanjut Luki.

Tiba-tiba terdengar isak tangis yang tertahan dari Risma.

"Kenapa kamu, Sayang?" tanya Ratna lembut, mengalihkan perhatian sepenuhnya pada anak tirinya itu.

Setiap kali melihat interaksi mesra antara Risma dan ibunya, jemari Amira refleks mengepal kuat. Ia selalu heran, bagaimana bisa seorang ibu kandung justru lebih menyayangi dan membela anak tirinya ketimbang darah dagingnya sendiri?

"Mamah..." bisik Risma di balik isakannya. "Aku... aku nggak mau menikah sama Raka."

Ratna menatapnya serius. "Kenapa, Nak?"

"Bagaimanapun, orang-orang tahu kalau Mas Raka itu bertunangan sama Kak Amira. Kalau aku tiba-tiba jadi istri pengganti, orang-orang bakal menganggap aku adik tiri yang merebut tunangan kakaknya sendiri..."

Suasana ruangan mendadak hening. Ratna dilanda dilema. Padahal Risma sebelumnya sudah setuju, tetapi kenapa mendadak menolak? Risma melirik ragu ke arah Angga, ayahnya.

Memahami kode sang anak, Angga maju lalu mengelus lembut pundak Risma. "Ada apa, Sayang? Kenapa tadi kamu setuju, tapi sekarang malah menolak?"

Risma terisak makin jadi hingga suaranya terdengar serak. Ia sempat melirik Amira dan Luki sebelum akhirnya menunduk dalam-dalam. "Apa kata orang kalau Kak Amira belum menikah, sementara aku melangkahinya nikah sama Mas Raka? Aku pasti disebut adik tiri yang jahat! Aku mau berkorban untuk keluarga ini, tapi aku juga butuh dilindungi..."

Dari sana, Ratna langsung menangkap maksud terselubung Risma.

"Malam ini kamu menikah. Tidak ada bantahan!" tegas Ratna dengan nada dingin yang menancap tajam ke arah Amira.

Luki menyela tenang, "Mamah Mertua, beri aku waktu dua minggu."

Risma makin terisak melengking. "Enggak bisa! Harus malam ini!"

"Aku harus ambil baju, menyiapkan mas kawin, dan memberi tahu keluargaku dulu, Mah," ujar Luki memberikan alasan logis.

"Enggak bisa! Orang tuamu tidak usah datang!" potong Ratna tajam. "Kamu saja sudah bikin malu. Aku tahu keluarga kamu pasti orang kampungan—bisa-bisa satu desa diangkut ke sini nanti!"

"Aku bukan orang kampung, Mah," potong Luki pelan.

"Sudah, jangan mengelak! Soal baju dan mas kawin, itu jadi tanggung jawab saya," sergah Ratna tanpa beban. "Pokoknya kamu harus menikah dengan Amira malam ini. Kalau dalam waktu empat bulan Amira tidak hamil, kamu harus ceraikan dia. Tapi kalau dia hamil, kamu baru boleh cerai setelah Amira melahirkan! Amira ini bagaimanapun anak saya, tidak mungkin saya menyerahkan masa depannya sembarangan pada orang seperti kamu."

Perkataan tajam itu justru menyenggol harga diri Luki. "Di keluarga saya tidak ada budaya cerai. Kecuali kalau pasangannya selingkuh."

"Apa kamu punya hak untuk membantah, hah?! Memangnya siapa kamu?!" bentak Ratna murka.

"Saya suami—eh, calon suami Amira."

"Ini cuma insiden! Jangan berharap lebih dari sebuah kecelakaan!" tekannya keras. "Menikahi anak saya cuma untuk memberi status yang jelas pada keturunan saya kelak. Ini cuma pernikahan sementara, jangan pernah bermimpi untuk selamanya!"

"Tidak bisa," kekeh Luki. "Saya akan memberikan kehidupan yang layak buat Amira."

"Jangan membual!" timpal Angga kesal. "Sudah, ikuti saja saran istri saya! Memangnya dengan apa kamu mau membahagiakan Amira?"

"Ya dengan semua yang saya punya," sahut Luki tak gentar. "Tenang saja, saya ini pekerja keras. Nggak bisa cuma diam di rumah, apalagi mengandalkan uang istri."

Muka Angga mendadak merah padam. "Kamu menyindir saya?!"

"Menyindir yang mana?" balas Luki santai. "Paman kan pasti pekerja keras juga dan nggak tergantung sama istri, kan?"

"DIAM!" bentak Ratna menengahi.

Di sudut ruangan, Amira merasa sedikit terhibur dengan ucapan Luki. Kata-kata itu adalah sindiran tajam yang selama ini ingin ia semburkan ke wajah Angga. Dulu, ibunya adalah pebisnis handal yang membangun semuanya. Lalu datanglah Angga dan Risma yang awalnya hanya menumpang hidup, hingga perlahan menguasai seluruh peninggalan almarhum ayahnya.

"Amira, bawa calon suamimu itu ke mall. Beli baju yang layak lalu ajak ke salon! Walaupun dia miskin, aku nggak mau dia terlihat kucel di acara nanti," perintah Ratna dingin.

"Baiklah." Amira berdiri. Sungguh, ia sudah tidak tahan berada di ruangan ini berlama-lama. Lagipula, memang tidak ada jalan keluar lain untuknya saat ini.

Sebelum melangkah keluar, Luki mendekati Handoko—kakek Amira—lalu mencium tangannya dengan penuh hormat. Ia juga menyalami Angga, Ratna, dan Risma satu per satu.

Handoko mengamati gerak-gerik Luki dan terkesan dengan kesopanannya. Mungkin dia memang pria baik-baik untuk cucuku, gumam Handoko dalam hati. Dulu ia bisa menerima Ratna yang berasal dari keluarga kurang mampu menjadi menantunya, jadi baginya latar belakang Luki bukanlah masalah besar.

Sebaliknya, Ratna, Angga, dan Risma justru semakin yakin kalau sikap sopan Luki adalah bukti nyata bahwa ia hanyalah pria kampungan yang lugu.

Amira dan Luki akhirnya berjalan meninggalkan kamar hotel.

"Ayah Mertua, nanti malam jangan lupa datang ke rumah, ya," panggil Ratna lembut pada Handoko.

"Cucuku menikah, tentu saja aku datang," jawab Handoko datar. Ia merogoh ponselnya dan menelpon seseorang. Tak lama kemudian, dua pria berbadan tegap masuk dan membantunya keluar ruangan dengan sigap.

Begitu Handoko pergi, Ratna mengusap bahu anak tirinya. "Terima kasih ya, Sayang... Kamu sudah menyelamatkan nama baik keluarga ini."

"Iya, Mamah..." Risma memasang raut bersalah. "Maaf ya, aku sedikit memaksa Kak Amira untuk langsung nikah. Aku benar-benar nggak sanggup kalau harus dituduh jadi pelakor."

"Tenang saja. Lagipula, kamu memang jauh lebih cocok bersanding dengan Raka."

Risma menggigit bibirnya, pura-pura ragu. "Tapi, Mah... apa Mas Raka masih mau bekerja sama dengan perusahaan kita kalau Kak Amira masih menjabat sebagai CEO? Mas Raka kan merasa dikhianati Kak Amira... Aku takut dia membatalkan kerja samanya."

Ratna menghela napas berat. Perusahaan Raka adalah produsen obat-obatan skala menengah yang sangat potensial; keuntungan perusahaan mereka akan melonjak tajam jika berhasil menjadi distributor utamanya.

"Sekali lagi Mamah minta tolong, kamu bujuk Raka ya, Nak?"

"Aku sudah coba bujuk, Mah," desah Risma lesu. "Tapi dia tegaskan nggak mau kerja sama kalau CEO-nya masih Kak Amira. Dia mau melanjutkan pernikahan dengan keluarga kita cuma demi menjaga nama baik keluarga besarnya. Belum tentu juga Mas Raka cinta sama aku... jadi sepertinya agak sulit kalau aku yang bujuk."

Ratna mendadak termenung memikirkan nasib posisi CEO di perusahaannya.

"Jangan terlalu dipikirkan, Sayang," potong Angga lembut merangkul istrinya. "Yang penting Risma menikah dulu dengan Raka. Perlahan Risma bisa membujuk Raka kembali, dan kamu juga harus pelan-pelan membujuk Pak Handoko."

Ratna tersenyum tipis lalu bersandar di dada suaminya. "Iya, Mas. Makasih ya, kamu selalu ada buat aku."

----

MOHON DUKUNGANNYA UNTUK TINGGALKAN LIKE

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!