NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.

Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.

Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.

Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.

“Liam…”

“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”

“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”

“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”

Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Fajar yang pucat dan dingin mulai menerobos melalui celah tirai beludru tebal, melukis garis-garis emas samar di atas lantai kayu kamar.

Udara pagi utara merengkuh ruangan itu dengan rasa gigil yang tajam. Namun, tak sedikit pun hal itu menyurutkan keteguhan Davira, yang telah terbangun sejak fajar baru saja menyingsing.

Saat Noela melangkah masuk membawa nampan berisi air hangat, pelayan muda itu tertegun melihat sang Nyonya Rumah sudah berdiri tegak di depan jendela besar, lengkap dengan gaun pagi berwarna cerah yang berpotongan tegas.

"Anda bangun sangat awal, Nyonya," ujar Noela seraya meletakkan nampan dengan gerakan penuh kehati-hatian.

"Banyak hal yang harus diselesaikan hari ini, Noela," jawab Davira tenang. Ia membalikkan badan, membiarkan pelayannya membantu menyempurnakan tatanan rambutnya.

Tak ada lagi sisa raut wajah lelah atau ragu dari malam sebelumnya. Yang tersisa kini hanyalah aura ketegasan seorang wanita yang siap memegang kendali penuh.

Begitu Davira melangkah keluar dari kamar, lorong-lorong Kastil Orion mulai dipenuhi oleh kesibukan pagi. Namun, beberapa pelayan senior yang melintas tampak berbisik-bisik seraya mencuri pandang ke arahnya—bisikan tak sedap yang jelas berhembus dari arah kediaman Grand Duchess dan keluarga Duncan.

Davira mengabaikan mereka, melangkah pasti menuju ruang kerja utama tempat sang penguasa utara mengurus wilayahnya.

Saat pintu kayu ek tebal itu terbuka, Elliot sudah berada di sana. Pria itu mengenakan kemeja kain tebal berwarna gelap dipadukan dengan rompi kulit—penampilan khas seorang lord utara yang siap turun ke lapangan.

Di atas meja kerja kayu yang luas, tepat seperti janji Elliot semalam, telah tersusun rapi beberapa tumpukan buku catatan berpenjilid kulit tebal dan seikat kunci-kuno berbahan tembaga berat.

Elliot menegakkan tubuhnya, menghentikan goresan penanya saat menyadari kehadiran Davira. Tatapan matanya yang tajam menyapu penampilan istrinya, menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat.

"Kau menepati ucapanmu untuk bangun lebih awal," ujar Elliot, suaranya yang berat membelah keheningan pagi.

Davira melangkah mendekati meja, jemarinya menyusuri dinginnya permukaan kunci tembaga di atas meja. "Aku tidak pernah bermain-main dengan janjiku, Tuan."

"Seluruh catatan penerimaan logistik, daftar pengeluaran kas kastil tiga tahun terakhir, hingga berkas pasokan dari keluarga Duncan ada di sana," jelas Elliot seraya menunjuk tumpukan buku di hadapannya. "Termasuk kunci menuju lumbung utama dan gudang bawah tanah."

Davira mengangkat wajahnya, menatap Elliot tepat di iris matanya. "Dan bagaimana dengan respons Grand Duchess saat kau mengambil buku-buku ini?"

Elliot menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mengulas senyum miring yang berbahaya. "Nana tentu menolak keras dan mempertanyakan keputusanku. Tapi seperti yang kubilang semalam... aku yang memegang kendali di tempat ini."

Sebelum Davira sempat membalas, hentakan langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan koridor luar.

Brak!

Pintu ruang kerja yang memang sengaja dibiarkan terbuka sedikit mendadak terdorong lebar, menampilkan sosok Grand Duchess yang melangkah masuk dengan raut wajah menegang.

Di belakangnya, Fiona Duncan mengekor dengan gaun pagi berwarna merah muda lembut—tampak sangat kontras dengan atmosfer tegang yang mendadak menyeruak.

"Elliot!" suara Grand Duchess menggelegar halus namun penuh dengan penekanan yang menuntut. Matanya yang tajam langsung tertuju pada tumpukan buku catatan di atas meja, lalu beralih pada Davira dengan tatapan murka yang tak lagi ditutup-tutupi.

"Apa arti semua ini? Mengapa seluruh buku pengelolaan kastil ada di sini?! Pengurus senior bilang kau menyita kunci lumbung tanpa persetujuanku!"

Fiona yang berada dibelakang Grand Duchess menggigit bibirnya, sengaja membiarkan getaran kecil lolos dari suaranya saat ia maju selangkah.

"Lord Elliot..." bisiknya lirih, matanya berkaca-kaca menatap sang penguasa Orion. "Bukan maksudku untuk ikut campur. Tapi... Yang Mulia Grand Duchess dan para pelayan senior telah mendedikasikan hidup mereka untuk menjaga dapur dan logistik kastil ini. Jika semua kendali mendadak diserahkan kepada seseorang yang bahkan belum mengenal kerasnya musim dingin di Utara, bukankah itu... sebuah pertaruhan yang terlalu gegabah bagi keselamatan rakyatmu?"

Racun yang dibungkus madu. Kalimat itu meluncur begitu manis, namun tujuannya jelas, merendahkan kapasitas Davira dan mempermalukannya di hadapan para penguasa Orion.

Davira tidak terpancing. Ia tidak membiarkan nada suara Fiona atau tatapan menghina dari sang Grand Duchess mengusik ketenangannya barang sedetik pun.

Sebaliknya, wanita itu justru menyunggingkan senyum tipis—sebuah seringai dingin yang jauh lebih mematikan daripada kemarahan terbuka.

"Keselamatan rakyat?" Suara Davira mengalun pelan, membelah keheningan ruangan dengan ketajaman yang mengiris udara.

Davira melangkah perlahan mendekati tumpukan buku catatan di atas meja, jemarinya menyentuh sampul kulit usang dari salah satu besar ledger tersebut tanpa mengangkat pandangannya dari Fiona.

"Wah, Nona Duncan berbicara seolah-olah ia adalah seorang bendahara agung yang menghabiskan malam-malamnya menghitung angka kerugian dan menimbang karung gandum di lumbung bawah tanah," ucap Davira, sarat akan sindiran halus yang menohok.

Wajah Fiona sedikit menegang, namun gadis itu berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya.

Davira mengangkat dagunya, memutar tubuhnya menghadap Fiona sepenuhnya. Manik kelamnya menatap lurus, menghunjam tepat di manik mata sang gadis bangsawan.

"Karena kau begitu mengkhawatirkan keselamatan rakyat Orion dan memuji setinggi langit dedikasi para pengurus kastil..." Davira menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan ketegangan merayap di antara mereka. "...maka mari kita uji seberapa jauh pemahamanmu tentang hal itu, Nona Duncan."

Ruangan itu mendadak menjadi begitu sunyi hingga deru napas pun terdengar jelas.

"Katakan padaku," lanjut Davira dengan nada santun yang menusuk, "berapa ton rata-rata cadangan gandum yang tersisa di lumbung barat saat badai salju pertama melanda dalam tiga tahun terakhir? Dan berapa rasio defisit anggaran kastil yang harus dibayarkan kepada keluargamu untuk menutupi kekurangan pasokan tersebut?"

Pertanyaan itu meluncur begitu telak, tajam, dan tanpa cela.

Fiona, yang tadinya berdiri dengan postur penuh percaya diri untuk menjatuhkan Davira, mendadak kehilangan kata-kata. Bibirnya sedikit terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.

Di ujung ruangan, Grand Duchess mendesis tajam, tertahan oleh keterkejutan melihat Fiona yang seketika bungkam.

Sementara itu, di balik tumpukan dokumen, Elliot menyandarkan dagunya di atas tangan yang bertumpu pada meja. Seringai tipis terukir jelas di bibir pria itu.

Sang penguasa utara menatap Davira dengan binar mata yang semakin dalam—menikmati setiap detik bagaimana istrinya dengan elegan membalikkan keadaan dan membungkam musuh-musuhnya tanpa perlu mengangkat suara.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
smoga Elliot cepat datang sebelum semuanya terlambat. 😭
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
tawaran menggiurkan tapi… dia salah 🤣 Elliot bukan Liam yg suka sama cewek murahan 😏
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
LAHHH 😭 Davira malah terinspirasi
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Elizabeth santai menyodorkan daging, sementara orang-orang di sekitarnya mundur perlahan karena takut jadi menu tambahan 😭🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Orang lain mungkin sudah pucat ketakutan, sementara dia malah bangga memperkenalkan hewan peliharaannya. 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
kuda berbulu 😅
Karo Karo
update nya jangan lama-lama kk thor
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: iya kak 🤗 ikuti teruss yah ☺️
total 1 replies
Karo Karo
oh jelas soalnya dalam buku bgtu banyak pelajaran yg bsa membungkam mulut orang yg hanya bsa pake otot tpi tdk pake otak 😂
Karo Karo
wah wah 😂 mantap
Karo Karo
mantap
Karo Karo
tok tok tok lah Thor 😁
Karo Karo
keren kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: makasih ☺️🤗
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Fiona tralu meremehkan Davira. Nanti juga kena batunya sendiri 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keren banget, Davira, jangan remehkan mantan ratu. tunjukkan kalau mantan ratu punya aura wibawa 🤣👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Nah, saingan akhirnya muncul, pasti bakal makin panas🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
duh Davira lagi2 harus menghadapi perlakuan yg menyakitkan, Grand Duchess terlalu meremehkan Davira 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Visualnya benar² membantu membayangkan Davira, Elliot, dan suasana kerajaannya 🥰
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Kasihan Davira, tapi yahh dia memang harus menghadapi konsekuensi dari kehidupan sebelumnya 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keputusan terbaik! Tinggalkan Liam dan malangnya, mulai lah hidup baru bersama Elliot👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Semoga di kehidupan kedua ini Davira bisa menyelamatkan Elliot & keluarganya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!