NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: BabyKucing

Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.

Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.

Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 Dunia yang Terlalu Damai

Angin musim dingin berembus membawa serpihan debu hitam yang berputar-putar di udara. Langit kelabu menggantung rendah, seolah hendak runtuh menimpa bumi yang telah lama kehilangan harapan.

Di kejauhan, bangunan-bangunan beton yang patah berdiri seperti nisan raksasa. Jalan raya dipenuhi kendaraan berkarat, sementara tanaman liar merambat menelan sisa-sisa peradaban yang dahulu begitu megah.

Seorang wanita muda berjalan tertatih di antara reruntuhan.

Punggungnya dibebani ransel lusuh. Jaket tebal yang dikenakannya telah robek di beberapa bagian, memperlihatkan perban kusam yang membalut lengannya. Sepasang sepatu botnya dipenuhi lumpur dan bercak darah yang bahkan hujan asam beberapa hari lalu gagal membersihkannya.

Namanya... sudah lama tidak penting.

Di dunia ini, nama tidak membuat seseorang bertahan hidup. Makanan, air, dan keberuntungan jauh lebih berharga.

Wanita itu berhenti di depan sebuah bangunan minimarket yang telah ambruk separuh. Ia mengangkat senter kecil, menyapu rak-rak yang telah kosong selama bertahun-tahun.

"Kalau beruntung... mungkin masih ada makanan kaleng yang tertinggal." Suaranya terdengar serak.

Sudah dua hari ia hanya bertahan dengan akar liar yang direbus. Perutnya melilit, tetapi ekspresinya tetap tenang. Rasa lapar sudah menjadi teman lamanya.

Ia lalu melangkah perlahan, menghindari lantai yang rapuh.

Krek...

Suara pecahan kaca terdengar pelan, membuat tubuhnya seketika membeku.

Bukan karena takut terluka. Melainkan karena suara sekecil itu bisa mengundang sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Beberapa detik berlalu.

Sunyi.

Ia mengembuskan napas pelan. "Lumayan..."

Tangannya meraih sebuah kaleng penyok yang tersembunyi di balik rak. Belum sempat ia tersenyum, suara raungan menggema dari luar bangunan.

GRRAAAH!

Mata wanita itu langsung menyipit. "Bukan manusia..."

Tanpa membuang waktu, ia memasukkan kaleng itu ke dalam tas lalu berlari menuju pintu belakang.

Ledakan keras mengguncang bangunan, membuat debu berjatuhan dari langit-langit.

Seekor makhluk berukuran hampir dua meter menerobos masuk. Tubuhnya dipenuhi luka membusuk, sementara tulang-tulang tajam mencuat dari punggungnya.

Makhluk itu mengendus udara, hidungnya mencium bau manusia.

Wanita itu berlari melewati lorong sempit tanpa sekali pun menoleh. Napasnya mulai memburu dan kakinya terasa berat. Tubuhnya sudah terlalu lama dipaksa bertahan.

Ia melompat melewati puing-puing, memanjat pagar besi, lalu menjatuhkan dirinya ke gang sempit di belakang bangunan.

Makhluk itu masih mengejar.

"Dasar keras kepala..." Ia mengeluarkan sebilah pisau pendek.

Bukan untuk melawan. Melainkan untuk berjaga jika nanti tidak ada pilihan lain.

Dunia sudah mengajarinya satu hal. Tidak semua pertarungan harus dimenangkan.

Yang penting... hidup.

Namun nasib hari itu rupanya tidak berpihak kepadanya. Saat hendak berbelok, tanah di bawah kakinya amblas. Retakan besar yang tertutup debu runtuh begitu saja.

Tubuhnya terjatuh bersama bongkahan beton menuju ruang bawah tanah yang gelap.

Brak!

Benturan keras membuat pandangannya berkunang-kunang. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.

Ia mencoba bangkit tapi tidak bisa. Kakinya tertimpa lempengan beton. Darah perlahan mengalir dari pelipisnya. Di atas sana, suara raungan makhluk itu semakin dekat.

Wanita itu tertawa lirih saat perasaan kebas pada kakinya menjalar hingga ke pinggul dan membuat bahu dan punggungnya terasa linu.

"Jadi... berakhir seperti ini?"

Lucu sekali. Ia berhasil bertahan dari wabah. Selamat dari kelaparan. Lolos dari perampok. Bahkan melewati musim dingin yang menewaskan ribuan orang.

Tetapi akhirnya mati karena lantai tua yang runtuh. Tak lama kemudian, makhluk itu melompat turun.

Sepasang mata merah menatapnya tanpa belas kasihan.

Wanita itu menggenggam pisaunya. "Kalau memang harus mati..."

"...setidaknya jangan mati sambil menangis."

Makhluk itu menerkam dan dunia berubah gelap.

.

.

.

Hangat, perasaan pertama yang ia rasakan justru kehangatan. Tidak ada bau darah, tidak ada suara sirene. Tidak ada hujan asam yang menetes di atas kulitnya.

Yang terdengar hanyalah suara ayam berkokok, burung-burung berkicau dan angin yang menggesek dedaunan.

Wanita itu mengernyit. "Surga?"

Pelan-pelan ia membuka mata, sebuah atap kayu dan dinding yang terbuat dari anyaman bambu yang pertama kali menyapa penglihatannya.

Sinar matahari masuk melalui celah jendela kecil.

Ia terdiam cukup lama. Lalu tanpa sadar mengulurkan tangan menyentuh lantai.

Kayu yang bersih dan kering. Tidak ada pecahan kaca, atau pun debu hitam. Tidak juga ada bau mayat.

Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Sudah berapa tahun ia tidak melihat langit yang benar-benar cerah?

Belum sempat pikirannya tenang, rasa nyeri tajam menyerbu kepalanya. Fragmen-fragmen ingatan yang bukan miliknya mengalir deras.

Seorang gadis desa yatim piatu, yang dijual oleh pamannya demi melunasi utang. Hari ini adalah hari ia akan diserahkan kepada keluarga lain untuk dijadikan menantu.

Bukan karena dicintai.

Melainkan karena keluarga itu membutuhkan seorang perempuan yang bisa bekerja di ladang. Semakin banyak kenangan yang masuk, semakin pucat wajahnya.

Ia... telah menempati tubuh orang lain.

Pintu rumah mendadak terbuka. Seorang perempuan paruh baya masuk sambil membawa semangkuk bubur encer.

Tatapannya datar. "Kau sudah bangun?" tanyanya dengan nada yang begitu ketus.

Wanita itu tidak menjawab.

"Bagus. Jangan pura-pura sakit. Keluarga Han sudah membayar mahal untukmu."

Dibayar...?

Perempuan itu meletakkan mangkuk di meja. "Sore nanti mereka datang menjemput. Setelah itu, hidup atau matimu bukan urusanku."

Tanpa menunggu jawaban, perempuan itu keluar begitu saja. Membuat ruangan kembali sunyi.

Wanita itu memandangi bubur di atas meja. Bubur itu begitu encer hingga butiran nasinya bisa dihitung.

Namun tanpa sadar, matanya memerah. Saat jemarinya menyentuh wadah bubur itu, sensasi suhu yang hangat menyambutnya. Uap tipis masih mengepul di atas bubur itu, membuatnya semakin yakin itu bukan mimpi.

Di dunia asalnya, semangkuk makanan hangat seperti itu bisa diperebutkan hingga saling membunuh.

Ia lalu mengambil mangkuk itu dengan kedua tangan. Menghirup aromanya perlahan.

"Luar biasa..." Air matanya jatuh setetes.

Bukan karena sedih. Melainkan karena rasa syukur yang bahkan sulit dijelaskan.

"Masih ada nasi, masih ada kayu bakar, masih ada matahari." Ia menoleh ke luar jendela.

Hamparan sawah memang tampak kering dan tidak terurus. Rumah-rumah penduduk juga reyot dan orang-orang berpakaian lusuh.

Namun di matanya... Tempat ini begitu damai.

Tidak ada monster. Tidak ada asap perang. Tidak ada mayat bergelimpangan di pinggir jalan. Tidak ada suara ledakan yang mengiringi pagi.

Ia tersenyum kecil untuk pertama kalinya setelah entah berapa tahun. "Mungkin...aku benar-benar sudah mati. Tapi jika ini kehidupan keduaku...aku tidak akan menyia-nyiakannya."

Di luar rumah, roda kereta kayu mulai terdengar mendekat. Seseorang datang untuk menjemput "menantu" yang telah dibelinya.

Sementara wanita itu, yang baru saja kehilangan dunia lamanya, perlahan mengepalkan tangan.

Kali ini...

Ia tidak akan sekadar bertahan hidup. Ia telah membangun tekad, akan hidup dengan layak. Tanpa menyisakan satu hal pun yang akan membuat dirinya menyesal.

1
tinie
masih rumit dan terlalu rumit untk memahami
di otak saya🤣🤣
tinie
ya kamu harus tau masa lalumu apa hubungmu dgn mereka
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
tinie
tetep semangaat 💪💪💪
tinie
kenapa mengulangi faragraf yg sama
dgn diatas
tinie: ok
semangaaat thor
total 2 replies
tinie
ada dgn mereka
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
Srie Ncii Herdiansyah
aku baru nemu cerita ini, padahal aku pecinta cerita Time travel kok gk muncul awal2 yah?? semoga rajin up thorr
tinie
makin penasaran🤔🤔
tinie
wah apakah itu batu apa

sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
tinie
ya kecambah pertumbuhanmu sedikit lamban namun pasti
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
tinie
yang gak tumbuh
mungkin terlalu tua 💪💪
tinie
meskipun dekat dgn gunung ternyata
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
tinie
saking baiknya ya keluarga Han
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
tinie
apa kalian tidur dikamar sang sama
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
tinie
war biasa
bisa mendengar BHS binatang
tinie
h a d i r 💪 💪 💪
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
luar biasa
Fauziah Daud
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!