Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Ronin Tanpa Tujuan
Empat bulan telah berlalu sejak lonceng perang bergema di seluruh Benua Aldabaron. Dalam rentang waktu yang singkat itu, peta politik dunia berubah jauh lebih cepat daripada yang mampu dibayangkan oleh siapa pun. Jalur perdagangan yang dahulu menghubungkan Green Continent dengan berbagai wilayah kini dipenuhi konvoi militer, benteng-benteng perbatasan terus memperkuat pertahanannya, dan hampir setiap kota mulai dipenuhi para pengungsi yang kehilangan rumah akibat peperangan. Meskipun pertempuran besar antara kedua kekuatan belum sepenuhnya meluas ke seluruh benua, bentrokan-bentrokan kecil terus terjadi di berbagai wilayah, membuat rakyat biasa menjadi pihak yang paling banyak menanggung penderitaan.
Di tengah dunia yang perlahan tenggelam ke dalam kekacauan itu, seorang pemuda berjalan sendirian menyusuri jalan berbatu yang membelah hutan dan perbukitan di wilayah timur Green Continent. Pakaian yang dikenakannya sudah tidak lagi semewah pakaian seorang pemuda desa. Jubah lusuh berwarna gelap menutupi tubuhnya dari debu perjalanan, sandal jeraminya mulai aus karena telah menempuh perjalanan ratusan kilometer, sementara di pinggang kirinya selalu tergantung Nichirin-gatana yang kini menjadi satu-satunya peninggalan keluarganya.
Orang-orang mulai mengenalnya dengan sebutan yang sederhana.
Ronin.
Tidak ada lagi yang memanggilnya sebagai putra keluarga Tagawa.
Tidak ada lagi rumah yang menunggunya untuk pulang.
Yang tersisa hanyalah jalan panjang yang tidak memiliki tujuan pasti.
Ryosuke sendiri tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai pendekar ataupun prajurit. Kepada siapa pun yang bertanya, ia hanya mengatakan bahwa dirinya adalah seorang pengembara yang mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menceritakan tentang Desa Tagawa, tidak pernah menceritakan mengenai keluarganya, dan tidak pernah menyebut nama Hana kepada orang asing. Luka itu masih terlalu dalam untuk dibagikan kepada siapa pun.
Selama beberapa bulan terakhir, kehidupannya berpindah dari satu desa ke desa lain. Ketika sebuah desa membutuhkan tenaga untuk mengangkut hasil panen, Ryosuke membantu hingga pekerjaan selesai. Ketika para pedagang membutuhkan pengawal untuk melewati hutan yang dipenuhi monster, ia menerima pekerjaan tersebut dengan imbalan sekadar makanan dan tempat beristirahat. Kadang-kadang ia juga membantu para pemburu membersihkan jalur pegunungan dari monster kecil yang mulai turun akibat terganggunya keseimbangan alam karena perang.
Ia tidak pernah meminta bayaran yang berlebihan.
Baginya, memiliki cukup makanan untuk hari berikutnya sudah lebih dari cukup.
Suatu sore, Ryosuke tiba di sebuah desa kecil yang terletak di kaki pegunungan. Desa itu jauh dari garis depan peperangan, tetapi penduduknya tetap hidup dalam kecemasan. Para pria dewasa sebagian besar telah dipanggil menjadi prajurit Green Continent, menyisakan anak-anak, perempuan, dan orang tua yang berusaha mempertahankan kehidupan mereka di tengah situasi yang semakin sulit.
Ketika Ryosuke memasuki desa, ia melihat beberapa warga berkumpul di depan balai desa dengan wajah cemas.
"Apa yang terjadi?" tanyanya kepada seorang lelaki tua.
Lelaki itu menghela napas panjang.
"Seekor Stone Fang Wolf turun dari pegunungan sejak tiga hari lalu. Monster itu memangsa ternak kami setiap malam. Beberapa pemburu mencoba mengusirnya, tetapi tidak ada yang berhasil."
Stone Fang Wolf merupakan monster bertipe bumi yang memiliki tubuh sebesar kuda dewasa. Bulu pada punggungnya mengeras menyerupai batu, sementara taringnya mampu menghancurkan batang pohon hanya dengan satu gigitan. Dalam keadaan normal monster itu jarang mendekati permukiman manusia, tetapi peperangan telah memaksa banyak monster keluar dari habitatnya.
Ryosuke memandang ke arah pegunungan.
"Aku akan mencobanya."
Kepala desa terkejut.
"Kau sendirian?"
Ryosuke hanya mengangguk pelan.
Menjelang matahari terbenam, ia mulai mendaki jalur berbatu menuju lokasi terakhir monster itu terlihat. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru, sebagaimana yang selalu diajarkan Haruto ketika berburu di hutan. Ayahnya pernah berkata bahwa seseorang yang kehilangan kesabaran sebelum bertarung telah kalah bahkan sebelum pedangnya di hunus.
Ucapan itu masih diingat Ryosuke hingga hari ini.
Tidak lama kemudian, suara geraman rendah terdengar dari balik bebatuan.
Seekor Stone Fang Wolf keluar perlahan.
Tubuhnya dipenuhi bekas luka lama, sementara mata kuningnya memandang Ryosuke tanpa berkedip.
Ryosuke menarik napas dalam.
Tangannya menggenggam Nichirin-gatana.
Begitu monster itu menerjang, Ryosuke memutar tubuhnya ke samping, membiarkan serangan pertama melewati jarak beberapa sentimeter dari bahunya. Dalam satu gerakan yang bersih dan terukur, ia mengayunkan pedangnya ke arah kaki depan lawan untuk mengganggu keseimbangannya, kemudian segera mundur sebelum monster itu sempat melakukan serangan balasan.
Pertarungan berlangsung beberapa menit.
Ryosuke tidak berusaha menunjukkan kekuatan ataupun teknik yang rumit. Ia bertarung dengan efisien, mengamati setiap gerakan lawan, memanfaatkan celah sekecil apa pun, lalu mengakhiri pertarungan ketika kesempatan itu akhirnya datang.
Stone Fang Wolf roboh perlahan.
Ryosuke mengembuskan napas panjang.
Ia menyarungkan kembali Nichirin-gatana tanpa sedikit pun rasa bangga.
Setiap kali pedangnya berhasil mengalahkan lawan, yang terlintas di benaknya justru wajah ayahnya. Ia sadar bahwa seluruh kemampuan yang dimilikinya berasal dari latihan bertahun-tahun bersama Haruto, tetapi orang yang paling ingin melihat kemajuannya kini telah tiada.
Malam itu penduduk desa menyambut kepulangannya dengan rasa syukur. Mereka menawarkan makanan hangat, tempat bermalam, bahkan sejumlah uang hasil iuran warga sebagai ucapan terima kasih.
Namun Ryosuke hanya menerima sebagian kecil upah.
"Kalian lebih membutuhkannya daripada aku."
Keesokan paginya, sebelum matahari terbit, ia telah kembali melanjutkan perjalanan.
Seorang anak kecil berlari mengejarnya.
"Kakak!"
Ryosuke berhenti.
Anak itu mengulurkan sebuah kantong kecil berisi bekal makanan.
"Ibu bilang... pahlawan tidak boleh pergi dengan perut kosong."
Ryosuke tersenyum tipis.
"Aku bukan pahlawan."
Anak itu menggeleng kuat.
"Bagiku, Kakak adalah pahlawan."
Ryosuke tidak menjawab.
Ia hanya menerima bekal itu, mengusap kepala anak tersebut pelan, lalu kembali berjalan meninggalkan desa.
Sepanjang perjalanan, kata-kata anak itu terus terngiang di kepalanya.
Pahlawan.
Ia sama sekali tidak merasa pantas menyandang sebutan itu.
Dalam pikirannya, seorang pahlawan seharusnya mampu menyelamatkan keluarganya sendiri.
Sedangkan dirinya...
Bahkan tidak mampu melindungi rumah yang menjadi tempat ia dilahirkan.
Karena itulah Ryosuke selalu memilih menjauh dari perang. Ia tidak ingin bergabung dengan pasukan Green Continent ataupun empire Krusador, bahkan menjadi tentara bayaran yang mencari keuntungan dari konflik. Setiap kali mendengar bahwa pertempuran terjadi di suatu wilayah, ia justru memilih mengambil jalan lain, menerima pekerjaan sebagai pengawal atau pemburu monster di daerah yang lebih tenang.
Bukan karena ia pengecut.
Melainkan karena setiap kobaran api, setiap suara ledakan Meriam Rune, dan setiap teriakan para korban selalu mengingatkannya pada malam ketika Desa Tagawa musnah.
Ia tidak sanggup mengalaminya untuk kedua kalinya.
Sore itu, ketika matahari mulai tenggelam di balik pegunungan, Ryosuke tiba di sebuah persimpangan jalan tua. Sebuah papan kayu yang telah lapuk berdiri di tengah persimpangan tersebut. Salah satu arah menuju Greenville, yang kini menjadi pusat mobilisasi pasukan Green Continent. Arah lainnya mengarah ke pegunungan terpencil yang hampir tidak lagi dilalui para pedagang karena dianggap dipenuhi reruntuhan kuno dan monster-monster berbahaya.
Ryosuke menatap kedua jalan itu cukup lama.
Tanpa banyak berpikir, ia memilih jalan menuju pegunungan.
Ia tidak mengetahui bahwa keputusan sederhana itu akan mengubah seluruh hidupnya. Jauh di balik pegunungan tersebut, tersembunyi sebuah reruntuhan kuno yang telah dilupakan sejarah, tempat sebuah pedang legendaris menunggu seseorang yang mampu membangkitkan kekuatannya setelah tertidur selama berabad-abad.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉