Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Kyra segera mendongak, memasang raut wajah ketakutan dan membungkuk-bungkuk sopan sembari menunjukkan kain pelnya. "Ma-maaf, Pa... Kyra hanya sedang membersihkan debu di bawah meja televisi, Kyra takut kalau kotorannya menumpuk dan membuat Papa atau Mama marah," jawab Kyra dengan suara bergetar pelan.
Papa Freddy mendengus kesal, melambaikan tangannya mengusir. "Cepat selesaikan pekerjaanmu!" perintahnya acuh tak acuh.
"Iya, Pa...," Kyra menunduk dalam-dalam, menyembunyikan senyuman penuh kemenangan yang terukir tipis di sudut bibirnya.
Kyra kini sudah tahu persis di mana letak kunci ruang kerja itu disimpan, pintu menuju rahasia terdalam keluarga Andreas kini tinggal selangkah lagi untuk ia buka.
"Kan kemarin sudah dibilangin jangan ke dalam, tugasmu hanya diluar," ucap Bi Inah.
"Iya, Bi," jawab Ka.
.
Malam kembali merayap, menelan kemegahan rumah keluarga Andreas ke dalam keheningan yang pekat, jarum pendek jam dinding antik di lorong utama telah menunjuk ke angka dua pagi. Seluruh penghuni mansion telah terlelap di kamar masing-masing, membiarkan kegelapan malam menguasai setiap sudut ruangan.
Dari balik pintu gudang yang tidak terkunci, Kyra melangkah keluar dengan mengenakan pakaian serba gelap yang menyatu dengan bayangan malam. Langkah kakinya sangat ringan, bagaikan embusan angin yang melintasi lantai marmer dingin tanpa meninggalkan suara gesekan sedikit pun.
Tujuannya malam ini sangat jelas. Berbekal informasi visual yang ia dapatkan tadi pagi, Kyra berjalan lurus menuju ruang keluarga utama. Suasana terasa sangat mencekam, hanya ditemani cahaya bulan yang merembes masuk melalui kaca jendela besar di sisi ruangan.
Kyra berlutut di depan kabinet kayu di bawah televisi, jemarinya meraba laci tempat Papa Freddy menyimpan kunci tersebut. Dengan hati-hati dan sentuhan yang sangat halus, ia menarik laci itu hingga terbuka tanpa menimbulkan bunyi berderit.
Tangannya meraba bagian dalam laci, jemarinya langsung bersentuhan dengan permukaan logam dingin berbentuk anak kunci. Kyra mengangkatnya keluar dan tersenyum tipis dalam kegelapan, kunci itu kini berada di dalam genggamannya.
Tanpa membuang waktu, Kyra bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu ruang kerja Papa Freddy yang terletak tidak jauh dari ruang keluarga. Dengan napas yang tertahan, ia memasukkan anak kunci tersebut ke dalam lubang kunci pintu kayu jati yang kokoh.
Ceklek...
Suara kunci yang berputar terdengar begitu nyaring di telinganya, meski sebenarnya suara itu sangat pelan. Kyra memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Pintu ruang kerja terbuka dan menyambutnya dengan aroma khas buku tua, kertas dokumen dan kayu mahoni mahal.
Kyra melangkah masuk ke dalam ruangan pribadi Papa Freddy, lalu menutup pintu itu rapat-rapat dari dalam untuk memastikan tidak ada cahaya atau bayangan yang bisa terlihat dari luar. Ia kini berada di jantung pertahanan rahasia keluarga Andreas, siap mengungkap seluruh kebusukan yang selama ini disembunyikan di balik topeng kehormatan dan kemewahan.
Cahaya lampu meja yang remang-remang dari luar jendela menembus tirai beludru tebal, menciptakan garis-garis bayangan panjang di atas lantai kayu ruang kerja Papa Freddy. Kyra berdiri di tengah ruangan yang sunyi itu, napasnya sedikit memburu setelah perjalanan menegangkan menembus lorong-lorong mansion.
Dengan gerakan sangat hati-hati, Kyra mulai menyalakan lampu kecil di atas meja kerja menggunakan saklar sentuh, ia tidak ingin menyalakan lampu utama yang terlalu terang dan mencolok dari luar.
Kyra melangkah mendekati meja kerja besar berbahan kayu mahoni, matanya meneliti setiap sudut ruangan. Di atas meja tersusun rapi beberapa tumpukan map arsip bisnis, sebuah laptop bersandi, dan kalender meja. Tanpa membuang waktu, Kyra menarik laci pertama meja tersebut.
Laci itu berisi alat-alat tulis, stempel perusahaan dan beberapa lembar kuitansi kosong. Tidak ada yang menarik, Kyra beralih ke laci kedua dan ketiga yang ternyata isinya hanya data perusahaan dari tahun-tahun sebelumnya
"Tidak mungkin sesederhana ini," gumam Kyra lirih, jemarinya yang kurus mulai meraba bagian bawah meja, mencari laci rahasia atau kompartemen tersembunyi. Namun, ia tidak menemukan apa pun selain sambungan kayu yang rapat.
Kyra kemudian bergeser ke arah jajaran lemari arsip tinggi di dinding sebelah kiri, satu per satu pintu lemari ia buka dengan kunci cadangan kecil yang juga ia temukan di laci kabinet tadi sore. Map demi map ia periksa, mulai dari jadwal kerja tahun-tahun sebelumnya sampai dengan dat karyawan.
Waktu terus berjalan, jarum pendek jam dinding antik di sudut ruangan telah bergeser jauh melewati angka tiga pagi dan keringat dingin mulai membasahi pelipis Kyra. Sudah lebih dari satu jam ia menggeledah setiap jengkal ruang kerja tersebut, membuka setiap celah lemari, bahkan memeriksa kolong meja dan belakang lukisan dinding besar.
Hasilnya nihil, tidak ada dokumen rahasia, tidak ada catatan aliran dana ilegal dan tidak ada bukti kejahatan apa pun yang bisa digunakan untuk menjatuhkan martabat keluarga Andreas atau bahkan sertifikat rumah, tanah dan kontrak kerjasama perusahaan. Semua berkas yang tersimpan di ruangan itu tampak sudah lama, rapi dan seolah sengaja dipersiapkan untuk menunjukkan bahwa keluarga tersebut bersih dari segala masalah.
Kyra berdiri tegak di tengah ruangan, tatapannya menyapu sekeliling dengan rasa frustrasi yang mulai merayap di dadanya, dadanya terasa sesak. Selama ini ia berpikir bahwa orang-orang terpandang dan kejam seperti Papa Freddy pasti menyimpan borok atau kejahatan besar di tempat kerjanya. Namun, kenyataan berkata lain. Ruangan ini terlalu bersih, terlalu rapi, seolah-olah semua rahasia kelam keluarga itu tidak disimpan di atas kertas fisik di dalam rumah ini.
"Gagal," gumam Kyra penuh kekesalan.
Kyra menyadari bahwa tinggal lebih lama di ruangan itu justru akan mendatangkan bahaya besar. Menjelang subuh, para pelayan seperti Bi Inah biasanya sudah mulai terbangun untuk menyiapkan sarapan pagi.
Dengan napas berat dan rasa penasaran yang belum terjawab, Kyra akhirnya memutuskan untuk menghentikan pencariannya. Ia mengembalikan setiap map dan laci ke posisi semula dengan sangat presisi, memastikan tidak ada satu pun barang yang tampak bergeser dari tempat asalnya.
Setelah memastikan ruang kerja itu kembali bersih dan rapi seperti semula, Kyra memadamkan lampu meja dan mengunci kembali pintu kayu jati dari luar, lalu memasukkan anak kunci tersebut ke tempat semula di laci kabinet ruang keluarga.
Kyra melangkah kembali menyusuri lorong yang gelap gulita menuju kamar gudangnya di bagian belakang mansion, ia menutup pintu gudang rapat-rapat dan merebahkan kembali tubuhnya di atas kasur kapuk yang tipis dan keras.
Malam ini ia pulang dengan tangan kosong, namun di dalam benaknya, tekad Kyra justru semakin membara. Ia tahu musuhnya tidak semudah itu meninggalkan celah, perjalanan balas dendam ini baru saja dimulai, dan ia harus mencari cara lain untuk membongkar rahasia terdalam keluarga Andreas.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧