NovelToon NovelToon
Sistem Informasi Mingguan

Sistem Informasi Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu-satu Dulu

Sabtu pagi, Doni bangun dengan kepala lebih ringan dari biasanya. Jadwal baru yang dia susun semalam ternyata beneran ngebantu fokus satu per satu, bukan nyoba nanganin tiga urusan sekaligus kayak minggu kemarin.

Dia mulai dari yang paling mendesak dokumen KUR bank. Sepanjang pagi, dia duduk di meja kecil kamar kos, nyusun laporan keuangan koperasi dua bulan terakhir, dibantu contekan format dari Mas Rian yang dikirim lewat email.

"Pemasukan dari kontrak PT Agro Sejahtera... pengeluaran operasional... sisa kas..." Doni ngetik pelan-pelan, sesekali berhenti buat ngitung ulang biar angkanya pas.

Jam dua belas siang, semua dokumen udah rapi dalam satu folder digital. Doni langsung otw ke kantor bank, ketemu Mas Rian yang udah nunggu di meja customer service.

"Ini semua dokumennya, Mas. Laporan keuangan, akta koperasi, sama surat pendamping dari Pak Hardianto."

Mas Rian ngecek satu-satu, manggut-manggut puas. "Lengkap, Don. Ini bakal saya proses minggu depan. Biasanya butuh waktu dua minggu buat pencairan kalau disetujui."

"Berapa yang bisa diajukan, Mas?"

"Buat koperasi baru kayak kalian, plafon awal biasanya lima puluh juta, bunga rendah, tenor dua tahun."

Doni menahan napas. Lima puluh juta itu jumlah yang jauh lebih besar dari apapun yang pernah dia pegang sebelumnya, bahkan gabungan semua untung dari jaket, saham, sama turntable.

"Itu... buat modal apa aja bisa dipakai, Mas?"

"Modal usaha koperasi. Bisa buat beli alat produksi, gudang penyimpanan, atau modal kerja buat bayar petani di muka sebelum hasil dijual."

"Wah, itu bakal ngebantu banget, Mas. Selama ini kami sering kesulitan bayar di muka, jadi petani kadang masih harus nunggu sampai barang laku dulu."

"Ya makanya, program ini emang buat bantu koperasi kayak kalian. Semoga lancar prosesnya ya."

Doni pulang dari bank dengan perasaan lega, meski masih harus nunggu proses dua minggu. Sore itu, dia lanjut ke folder biru, proposal agritech, yang deadline-nya masih ada waktu seminggu lagi.

Dia buka laptop, mulai nulis ulang bagian yang kemarin sempat terbengkalai gara-gara sibuk urusan KUR. Kali ini dia lebih tenang, nggak buru-buru, nyusun kalimat demi kalimat dengan lebih hati-hati.

"Koperasi Tani Makmur Sejahtera mengusulkan sistem pencatatan digital sederhana berbasis aplikasi spreadsheet yang dapat diakses seluruh anggota melalui ponsel, sebagai langkah awal menuju transparansi rantai pasok..."

Dia berhenti sebentar, mikir kalimat berikutnya, lalu lanjut lagi sampai proposal itu kelar jam sepuluh malam. Sebelum ngirim, dia forward dulu ke Pak Hardianto buat direview.

Balasan email dateng jam sebelas malam, Doni sampai kaget dosennya masih kerja selarut itu.

"Sudah bagus, Don. Cuma perbaiki bagian proyeksi dampak, kasih angka konkret berapa persen efisiensi yang diharapkan. Kirim revisi besok pagi, saya kasih tanda tangan pendamping."

Doni langsung revisi sesuai arahan, ngerasa beruntung punya pendamping yang bener-bener niat bantuin, bukan cuma formalitas doang.

Minggu paginya, Doni akhirnya sempat mikirin folder merah urusan cabai yang beberapa hari ini dia titipkan sepenuhnya ke bapaknya buat koordinasi awal. Dia telepon buat update.

"Pak, gimana kabar Pak Joko sama yang lain?"

"Alhamdulillah, Nak, mereka udah setuju. Kemarin malah harga cabai di pasar mulai naik beneran, persis kayak yang kamu bilang."

"Wah, secepat itu, Pak?"

"Iya, Nak, tetangga desa pada kaget, katanya gagal panen di beberapa daerah lain bikin harga cabai meroket. Untung Pak Joko sama yang lain udah nyiapin stok lebih dulu buat dijual pas harga tinggi."

Doni tersenyum lega. "Bagus kalau gitu, Pak. Nanti saya coba carikan pembeli yang harganya paling oke, biar mereka nggak rugi jual buru-buru ke tengkulak."

"Kamu emang selalu tau duluan ya, Nak, sebelum kejadian beneran," kata bapaknya, nada suaranya penuh kekaguman campur heran. "Kadang Bapak mikir, ini kok kamu kayak punya indra keenam beneran."

Doni tertawa kikuk, nggak tau harus jawab apa selain, "Rezeki aja kali, Pak. Kebetulan lagi hoki."

Siang itu, Doni buka laptop lagi, kali ini nyari kontak distributor cabai di kota yang biasa nyuplai ke pasar-pasar besar, hasil dari networking yang udah dia bangun sejak urusan gula aren dan tender kemarin. Nggak butuh waktu lama buat dia dapet beberapa nomor yang potensial, berkat reputasi koperasinya yang mulai dikenal di kalangan pengusaha hasil bumi lokal.

"Selamat siang, Pak, saya Doni dari Koperasi Tani Makmur Sejahtera. Kami punya stok cabai rawit kualitas bagus, kebetulan lagi musim harga naik. Berminat kerja sama, Pak?"

Beberapa panggilan telepon berikutnya berjalan lancar, dua distributor langsung tertarik dan minta sampel dikirim minggu depan. Doni mencatat semua kesepakatan itu di buku catatan yang mulai penuh coretan, halamannya udah beda jauh dari catatan pertama waktu dia baru mulai soal jaket vintage dulu.

Malam itu, Doni duduk di kamar kos sendirian Herman lagi keluar sama gebetan barunya yang akhirnya berhasil dia deketin setelah sekian lama cuma bisa curhat doang ke Doni.

Dia menatap tiga map warna-warni yang sekarang masing-masing udah ada progresnya merah hampir kelar, biru tinggal nunggu hasil seleksi, kuning tinggal nunggu pencairan.

"Satu-satu emang lebih enak," gumamnya sendiri, inget saran Sinta beberapa hari lalu. "Nggak perlu buru-buru semuanya barengan."

Dia buka HP, ngecek notes kecil yang isinya angka tabungan terakhir sekarang udah nambah lagi berkat komisi dari kesepakatan cabai yang baru aja deal.

Meski nggak sebesar potensi lima puluh juta dari KUR yang masih dalam proses, dia ngerasa lebih tenang karena semuanya berjalan lewat proses yang jelas, bukan cuma modal nekat kayak dulu-dulu.

Sebelum tidur, dia sempat mikir soal Sinta, soal koperasi yang makin berkembang, soal keluarganya di kampung yang makin sejahtera pelan-pelan.

Ada rasa syukur yang beda malam itu, bukan cuma soal uang yang bertambah, tapi soal dirinya sendiri yang perlahan berubah jadi orang yang lebih bertanggung jawab dan lebih sabar, jauh dari sosok mahasiswa panikan yang dulu lari-lari ke toko thrift jam enam pagi cuma demi jaket murah.

1
Wk Annuar
satu perjalanan yang memperispirasikan buat teladan pemuda
Aisyah Suyuti
good
Wk Annuar
😍😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
RR: terimakasih banyak untuk supportnya, izinn namanya nanti saya masukan sebagai salah satu karakter di beberapa bab kedepan 😁🙏
total 1 replies
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!