NovelToon NovelToon
Menikahi Tunangan Kakakku

Menikahi Tunangan Kakakku

Status: tamat
Genre:CEO / Asmara / Penikahan Kontrak / Percintaan Konglomerat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bella

Kirana Wijaya tidak pernah membayangkan hari pernikahan kakaknya akan berakhir dengan dirinya memakai gaun pengantin. Ketika pengkhianatan Laras terbongkar tepat sebelum pesta, keluarga Wijaya memilih cara paling kejam untuk menyelamatkan muka: menyerahkan Kirana sebagai pengganti.
Damar Mahendra, pria dingin yang selama lima tahun ia panggil kakak ipar, menerima pernikahan itu tanpa ragu. Bagi semua orang, Kirana hanya solusi darurat. Namun di rumah baru, di balik sikap tenang dan perintah-perintah singkat Damar, Kirana perlahan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri: tempat, perhatian, dan keberanian untuk dipilih.
Di antara kakak yang ingin merebut kembali masa lalunya, keluarga yang selalu menuntut Kirana mengalah, dan suami yang semakin sulit ia pahami, Kirana harus memutuskan apakah pernikahan yang dimulai sebagai pengganti bisa menjadi cinta yang benar-benar miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

"Ganti topik saja," pintaku.

Sofia tertawa.

"Hari ini aku menyelamatkanmu. Besok aku tanya lagi."

Setelah makan, kami terus belanja sampai tali-tali tas belanja mengiris jari. Lalu aku menerima pesan dari Mama.

Besok datang makan ke rumah. Bawa Damar.

Semangatku langsung turun.

"Kenapa?" tanya Sofia.

"Mama ingin aku dan Damar makan di rumah besok."

"Makan keluarga atau perangkap keluarga?"

"Dengan keluargaku, biasanya dua-duanya sama."

Aku memutuskan pulang.

Aku tiba di kediaman sambil membawa banyak tas belanja. Kutaruh semuanya di ruang tamu, naik ke atas, membereskan belanjaan, lalu mandi.

Aku tidak tahu kapan Damar pulang.

Damar sempat pergi ke kantor. Teman-temannya memaksa dia keluar, tetapi ia memikirkan istri yang baru datang ke rumahnya dan menolak ajakan itu. Ia tidak ingin meninggalkanku sendirian tepat setelah pernikahan.

Damar masuk ke kamar dan berhenti.

Dari kamar mandi terdengar suara Kirana, pelan, tidak sadar, bercampur dengan hantaman air.

Pintunya dari kaca buram. Uap yang menempel di kaca hanya menyisakan siluet samar: bahu, pinggang, gerakan lambat sebuah lengan saat mencuci rambut.

Damar tidak mengalihkan pandangan.

Rahangnya menegang.

Darah turun ke perutnya dengan kecepatan yang tidak nyaman.

Dia melangkah ke arah pintu.

Lalu berhenti.

Dia ingin membukanya. Ingin melihatku tanpa kaca di antara kami.

Kirana tidak tahu dia ada di sana.

Damar mengepalkan tangan, menarik napas dalam, lalu mundur.

Aku keluar terbungkus jubah mandi merah muda, rambutku masih basah.

Kami saling menatap.

Tatapannya menyusuri tubuhku tanpa tergesa.

Secara naluriah aku menutup dada.

"Kamu pulang kapan?"

"Aku tinggal di sini."

Hebat, Kirana. Pertanyaan brilian lagi.

"Aku mau ganti baju."

Aku kabur ke ruang pakaian.

Ketika keluar, Damar duduk dengan ponsel di tangan. Jas dan dasinya sudah dilepas. Kemeja gelap yang terbuka di bagian leher membuatnya tampak tidak terlalu sulit dijangkau.

Dan lebih berbahaya.

"Aku perlu bertanya sesuatu," kataku.

"Katakan."

"Besok Mama ingin kita makan di rumah. Itu pertama kalinya aku kembali setelah pernikahan. Kamu bisa?"

Dia berpikir sebentar.

"Aku ikut."

"Kalau kamu tidak mau karena Laras..."

"Yang harus dihadapi, ya dihadapi. Selain itu, kita suami istri. Keluarga kita akan tetap berurusan."

Aku mengangguk.

Lalu aku tidak tahu harus berkata apa lagi.

Dia melihat rambutku.

"Kamu belum mengeringkannya."

"Nanti aku cari hair dryer."

Dia berdiri, membuka laci, lalu mengeluarkannya.

"Duduk. Aku yang lakukan."

"Tidak, aku bisa."

"Kirana."

Dia hanya menyebut namaku, tapi aku duduk.

Semudah itu.

Aku merapikan jubah di atas paha. Cara dia menyebut namaku membuat telingaku panas.

Udara hangat mulai menggerakkan rambutku. Jarinya memisahkan helaian rambut dengan hati-hati, dari akar sampai ujung. Tubuhku kaku. Setiap sentuhan membuatku sadar betapa dekatnya dia.

Aku menggigit bibir.

Itu hanya jari-jarinya di rambutku. Tidak lebih.

Lalu kenapa aku memikirkan tangan yang sama di pinggangku? Di tengkukku? Di pahaku?

Aku merapatkan lutut di bawah jubah dan berpura-pura panas itu berasal dari hair dryer.

Ketika dia mematikan alat itu, rasanya aku akhirnya bisa bernapas.

"Selesai."

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Aku berusaha menata kegugupanku.

"Kunci Bentley kutaruh di nakas."

"Aku melihatnya."

Lalu dia mulai membuka kancing kemeja.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Aku mau mandi."

Aku membuang pandangan seolah baru melihat sesuatu yang terlarang.

Dia berhenti sedetik. Lalu masuk ke kamar mandi.

Suara pancuran memenuhi kamar.

Aku menoleh ke pintu kaca buram.

Bayangannya bergerak di balik sana.

Aku diam, mendengarkan air dari kamar mandi.

Kulit kepalaku masih terasa peka karena jari-jarinya.

Dan sekarang aku memandangi bayangannya di bawah pancuran seolah tidak punya rasa malu.

Sementara Damar mandi, aku memakai piyama yang lebih sopan.

Menurutku sopan.

Sayangnya tubuhku tidak tahu cara bekerja sama. Sofia selalu bilang aku bisa memakai selimut sekalipun dan tetap terlihat seperti dosa.

Pintu kamar mandi terbuka tepat ketika aku sedang mencoba naik ke ranjang dan pura-pura tidur.

Aku langsung duduk.

Kasur berbunyi.

Damar menatapku.

"Ada apa?"

"Tidak ada. Aku mengetes apakah ranjangnya kuat."

Aku ingin melempar diri ke luar jendela.

Dia berjalan ke arahku dengan jubah mandi setengah terbuka. Dadanya tegas dan perutnya samar terlihat di balik kain.

Aku menggigit bibir.

Enam? Delapan?

Tidak. Cukup.

"Lalu?" tanyanya. "Kuat?"

"Ya. Sangat."

Dia duduk. Aku mundur.

"Kamu menghindariku?"

"Aku memberimu ruang."

Dia tidak percaya. Tentu saja.

"Kamu mau tidur?" tanyaku.

"Kamu ingin melakukan hal lain?"

Aku menggeleng terlalu cepat.

"Aku ingin," katanya.

Wajahku terbakar.

Dia mengatakannya tanpa malu. Tanpa kecanggungan anak muda. Seperti pria yang mengenal keinginannya dan tidak merasa perlu menyamarkannya.

"Tapi kamu bilang akan memberiku waktu."

"Kemarin kita terbiasa tidur bersama. Hari ini kita bisa maju sedikit."

"Maju?"

"Mendekat."

Aku bergeser beberapa sentimeter. Dia bosan dengan kelambatanku dan menarikku ke sisinya. Tubuhku menempel pada tubuhnya.

"Tidak pernah dipeluk pria?"

"Pernah."

Alisnya menegang.

"Siapa?"

"Papa."

Ketegangan di wajahnya mengendur.

Lalu dia menatap mulutku.

"Dan ciuman? Kamu pernah mencium seseorang?"

"Belum."

Kata itu nyaris tidak terdengar.

"Kamu tidak pernah membayangkan rasanya?"

"Tidak."

Bohong. Mungkin pernah. Tapi bukan dengan mantan kakak iparku yang berubah menjadi suamiku.

Suara Damar turun.

"Angkat wajahmu sedikit. Aku akan menciummu."

"Apa?"

Jarinya memegang daguku.

Dia diam sesaat, menatap mulutku.

Aku tidak menjauh.

Bibirnya menyentuh bibirku.

Awalnya dia tidak melakukan apa-apa. Hanya diam di sana, dingin dan lembut, menempel pada mulutku. Tapi jantungku seperti ingin melarikan diri.

Itu ciuman pertamaku.

Ciuman pertamaku.

Dengan suamiku.

Damar menggigitku sangat pelan.

"Tutup mata saat dicium."

Aku menurut seperti orang bodoh.

Aku memejamkan mata. Pipiku panas dan mulutku berdenyut bahkan sebelum dia menyentuhku lagi.

Lalu ciuman itu tidak lagi lembut.

Bibirnya bergerak di atas bibirku. Dia membuka mulutku dengan kesabaran yang sama sekali tidak polos. Aku tidak tahu cara bernapas, cara bergerak, atau harus meletakkan tangan di mana.

Ketika dia melepaskanku, aku sudah bersandar kepadanya, pusing.

"Bernapas saja belum bisa," katanya.

Aku menyembunyikan wajah di dadanya.

Malu sekali.

"Sekarang kamu tahu rasanya berciuman."

Aku tidak menjawab.

Tidak bisa. Tidak ketika mulutku masih panas dan otakku terus mengulang bahwa pria itu, mantan kakak iparku, baru saja mengajariku berciuman.

Damar mengusap rambutku.

Dari sisinya, ia menganggap kecanggunganku membuktikan sesuatu: aku memang belum pernah mencium siapa pun. Keputusan impulsif untuk menikah denganku, yang lahir di tengah kekacauan keluargaku, mulai terasa tidak terlalu absurd baginya.

"Besok kita ke rumah orang tuamu jam berapa?"

"Jam sembilan."

"Tidur."

Dia berbaring sambil memelukku.

Aku tetap kaku, menunggu sesuatu yang lain.

Tapi dia tidak melakukan apa-apa.

Hanya memelukku.

Dan tetap saja butuh waktu lama sampai jantungku tenang.

1
Zalmah Adiwi
saat bertunangan dg Laras mngkn damar sdh menyukai kirana..
Zalmah Adiwi
konflikx kurang kuat..alur ceritax jg trll lamban bergerak.. 🤭
Zalmah Adiwi
knp mesti minum pil KB.. 🤦‍♀️🤣🤣🤣
Zalmah Adiwi
ibu kirana GILA..pikirx pernikahan ini macam beli bajukah.. 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!