NovelToon NovelToon
Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: fhadilah

Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perhatian

"Kamu?"

Mata Felisyah membulat sempurna. Tubuhnya yang masih lemah seketika menegang ketika melihat sosok pria yang kemarin ia temui berdiri di samping ranjangnya.

Pria yang menawarkan sebuah jalan keluar dari segala penderitaannya.

Pria yang berkata akan membantunya jika ia mengucapkan satu kata: iya.

"Ka-kamu ngapain ada di sini? Terus... kenapa aku bisa berada di tempat ini?" tanya Felisyah dengan suara bergetar.

Senyum tipis terukir di bibir Garendra. Pria itu berdiri dengan tenang, seolah semua kekacauan yang terjadi pada Felisyah bukanlah sesuatu yang perlu ia khawatirkan.

"Tenanglah. Kamu tidak perlu memikirkan apa pun sekarang. Istirahatlah sampai kondisi kamu benar-benar pulih. Setelah itu, kita akan menemui ayahmu, lalu kita.. dan pulang ke rumah."

Kata-kata terakhir Garendra membuat jantung Felisyah berdetak lebih cepat.

Kita pulang ke rumah?

Apa maksudnya?

Ribuan pertanyaan memenuhi kepalanya, tetapi bibirnya hanya mampu mengucapkan satu kalimat.

"Apa maksud kamu?"

Garendra tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil sebuah kantong makanan yang berada di atas meja.

"Daripada memikirkan hal itu, makan dulu. Aku tahu kamu lapar. Kamu pingsan karena kelelahan dan demam setelah semalaman kehujanan dengan pakaian basah. Beruntung kamu tidak mengalami sesuatu yang lebih buruk."

Felisyah terdiam.

Tatapannya berpindah kepada Garendra, lalu pada pakaian pasien yang kini melekat di tubuhnya.

Rasa panik seketika menyerang.

"Kenapa aku bisa berada di ruangan ini? Ini rumah sakit mahal, kan? Aku tidak punya uang untuk membayarnya. Aku harus pergi sekarang."

Dengan tubuh yang masih lemas, Felisyah berusaha bangkit dari ranjang.

Namun sebelum ia berhasil berdiri, suara Garendra menghentikannya.

"Mau ke mana?"

Nada suaranya terdengar datar, tetapi ada ketegasan yang membuat Felisyah tanpa sadar berhenti.

"Duduklah. Makan dulu. Nanti kamu akan tahu semuanya."

Garendra membuka kotak makanan yang telah ia pesan.

"Demammu sudah turun, jadi kamu sudah boleh makan makanan ini. Kamu hanya kurang nutrisi karena terlalu lama tidak makan dengan benar. Jadi habiskan."

Aroma makanan itu langsung memenuhi ruangan.

Tenggorokan Felisyah terasa tercekat.

Sudah berapa lama ia tidak menikmati makanan yang layak?

Makanan terakhir yang masuk ke perutnya hanyalah sisa makanan yang ia ambil dengan penuh rasa malu.

"Ta-tapi ini pasti mahal..." bisiknya. "Bagaimana aku membayarnya?"

Garendra menatapnya beberapa saat.

Tatapan yang sulit Felisyah artikan.

"Makanlah. Aku tidak pernah meminta kamu untuk membayarnya."

Jawaban singkat itu membuat hati Felisyah bergetar.

Ada rasa bahagia karena akhirnya ia bisa makan dengan layak, tetapi ada pula rasa takut dan bingung terhadap perhatian pria yang baru dikenalnya itu.

Melihat tangan Felisyah yang masih gemetar, Garendra mendekat.

"Kalau tanganmu sakit, biar aku yang menyuapi."

Ucapan sederhana itu membuat Felisyah langsung terkejut.

Pipinya memanas tanpa alasan yang ia pahami.

"Ti-tidak usah."

Ia segera mengambil sendok dan mulai menyantap makanan tersebut.

Setiap suapan terasa begitu nikmat hingga tanpa sadar air matanya hampir jatuh.

"Enak sekali..." lirihnya. "Makanan seperti ini pasti sangat mahal, ya?"

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, tidak ada ketakutan dalam sorot mata Felisyah. Yang tersisa hanyalah rasa syukur karena perutnya yang kosong akhirnya terisi.

Sementara itu, Garendra hanya menatap wanita di hadapannya.

Senyum kecil terukir di bibirnya.

Entah mengapa, melihat Felisyah makan dengan lahap memberikan rasa puas yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Wanita itu berbeda.

Dan Garendra mulai menyadari bahwa keputusan membawanya pergi malam itu mungkin akan mengubah hidup mereka berdua.

***

Tak terasa seluruh makanan di hadapan Felisyah habis tanpa tersisa.

"Ahh..." ia menghela napas panjang sambil memegang perutnya. "Akhirnya perutku terisi dengan sempurna setelah kemarin menahan lapar."

"Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?"

Suara Garendra membuat Felisyah tersentak. Ia yang terlalu menikmati makanannya sampai hampir lupa bahwa pria itu masih berada di sana. Garendra kini duduk santai di sofa panjang dengan sebuah buku di tangannya.

"Eh... i-iya. Terima kasih atas makanannya."

Garendra menutup bukunya perlahan.

"Kita impas. Jadi kamu tidak perlu berterima kasih."

Kening Felisyah berkerut.

"Impas bagaimana? Bukankah aku belum memberikan apa pun kepadamu?"

"Siapa bilang kamu tidak memberikan apa pun?"

Tatapan Garendra yang begitu dalam membuat Felisyah semakin bingung.

"Maksud kamu apa? Apa yang sudah aku berikan? Aku bahkan tidak punya apa-apa."

Namun Garendra hanya tersenyum samar, seolah sengaja menyimpan jawaban itu.

"Istirahatlah yang cukup. Aku akan kembali setelah urusanku selesai."

"Eh, tunggu!"

Belum sempat Felisyah mendapatkan penjelasan, Garendra telah melangkah keluar dari ruangan.

"Kamu mau ke mana? Apa maksud semua perkataanmu?"

Tidak ada jawaban.

Pintu ruangan tertutup, meninggalkan Felisyah dengan ribuan pertanyaan yang berputar di kepalanya.

"Apa yang dia maksud? Bagaimana dia tahu aku tidak makan selama ini? Kenapa aku bisa berada di ruangan semewah ini? Dan... apa maksudnya kita pulang ke rumah?"

Semua terasa begitu aneh.

Perhatian yang diberikan Garendra terlalu besar untuk seseorang yang baru dikenalnya.

Namun, di balik semua pertanyaan itu, satu hal yang membuat hatinya paling gelisah adalah ayahnya.

"Ayah..."

Wajah sang ayah yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit langsung terbayang di pikirannya.

"Aku di sini malah dirawat di ruangan senyaman ini. Lalu bagaimana dengan Ayah?"

Tanpa berpikir panjang, Felisyah segera mencabut jarum infus di tangannya. Rasa sakit yang muncul tidak ia pedulikan.

Ia bangkit dari tempat tidur meski tubuhnya masih lemah.

Dengan langkah tertatih, ia keluar dari ruangan dan menyusuri lorong rumah sakit yang begitu asing.

"Aku di lantai berapa, sih?" gumamnya panik.

Tak lama kemudian, ia melihat seorang perawat yang sedang mendorong troli obat.

"Suster!"

Perawat itu menoleh.

"Iya, Mbak. Loh, kenapa Mbak keluar? Bukannya Mbak pasien dari ruang VIP?"

Jantung Felisyah langsung berdegup kencang.

VIP?

Jadi benar, ruangan tempatnya dirawat adalah ruangan yang sangat mahal.

Namun sekarang bukan waktunya memikirkan hal itu.

"E-eh bukan, Sus. Saya dari ruang rawat inap biasa. Tadi saya berjalan-jalan dan tersesat. Boleh saya tahu ruang rawat inap umum di mana?"

Perawat itu mengangguk tanpa curiga.

"Oh, begitu. Kebetulan saya juga mau mengecek pasien di sana. Mari ikut saya."

"Baik, Sus."

Sepanjang perjalanan, jantung Felisyah tidak berhenti berdebar.

Perasaan takut yang sejak tadi ia tahan semakin besar.

Jangan sampai terjadi sesuatu pada ayahnya.

Jangan sampai Tuhan mengambil satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Akhirnya mereka tiba di lorong yang sangat ia kenal.

Langkah Felisyah semakin cepat.

Matanya langsung mencari ranjang tempat ayahnya dirawat.

Namun...

Langkahnya mendadak terhenti.

Ranjang itu kosong.

Bersih.

Rapi.

Tidak ada sosok pria tua yang selalu ia jaga siang dan malam.

"Ayah?"

Suara Felisyah bergetar.

"Ayah..."

Ia mendekat, menyentuh seprai yang sudah dingin dengan tangan yang gemetar.

"Kenapa tidak ada?"

Tubuhnya mulai mundur perlahan.

Pikiran buruk satu demi satu menyerangnya.

"Tidak... tidak mungkin."

Ia menggeleng kuat.

"Ayah tidak mungkin pergi meninggalkanku."

Dengan napas yang memburu, ia menoleh kepada perawat di sampingnya.

"Sus... pasien yang ada di ranjang ini ke mana?"

Perawat itu melihat papan data pasien.

"Pasien atas nama Sanggara Sanjaya sudah dipindahkan sejak kemarin, Mbak."

Mata Felisyah membelalak.

"Dipindahkan?"

Suaranya nyaris tidak terdengar.

"Tapi tadi pagi Ayah masih ada di sini. Dipindahkan ke mana, Sus? Kenapa saya tidak diberi tahu?"

Perawat itu tampak ragu.

"Maaf, Mbak. Kemarin bukan jadwal sif saya, jadi saya tidak mengetahui ke mana pasien dipindahkan."

Dunia Felisyah seakan berhenti berputar.

Kakinya terasa kehilangan tenaga.

Ayahnya hilang.

Tidak ada yang memberitahunya.

Tidak ada yang menjelaskan ke mana sang ayah pergi.

Perlahan ia keluar dari ruangan dengan langkah gontai. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.

"Ayah..."

Suara itu terdengar begitu rapuh.

"Di mana Ayah sekarang?"

Ia menoleh ke setiap sudut lorong rumah sakit, berharap menemukan wajah yang begitu ia rindukan.

Namun yang ia dapatkan hanyalah keheningan.

Dan di saat kepanikan mulai menguasai dirinya, sebuah pikiran tiba-tiba muncul di benaknya.

Jangan-jangan... semua ini ada hubungannya dengan Garendra?

Mata Felisyah membulat.

Pria itu tahu segalanya.

Pria itu membawanya ke ruang VIP.

Pria itu mengatakan mereka akan menemui ayahnya.

Lalu...

Di mana sebenarnya Garendra membawa ayahnya?

1
Alia Chans
Hadir thor, like + bunga🌹
semangat✍️😉
fhadilah: Masha Allah, makasih 😍😍komentar pertama.. bkn hsru😍🙏🙏makasih sayang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!