NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19

***

Hari-hari berlalu setelah kepergian terburu-buru Raden Mas Danang dari rumah joglo, namun sisa-sisa bara cemburu di dada Raden Mas Baskoro tidak serta-merta padam menjadi abu. Kabut kelam itu menjelma menjadi kewaspadaan yang kian pekat dan sunyi. Bagi Baskoro, kehamilan empat bulan permaisurinya bukan hanya berkah yang teramat luhur, melainkan juga sebuah kerentanan. Raga Larasati yang kian montok, berseri, dan memancarkan aura keibuan yang memikat justru membuat insting kepemilikannya bergejolak di batas yang berbahaya.

Pagi itu, suasana pendopo dalam rumah joglo tampak berbeda dari biasanya. Wangi harum dupa esensial berpadu pekat dengan aroma gurih nasi gurih, lauk-pauk, serta jenang merah putih. Sesuai adat turun-temurun tanah Jawa, hari itu adalah hari digelarnya ritual Ngupati—selametan empat bulanan untuk mendoakan keselamatan jabang bayi yang ruhnya baru saja ditiupkan ke dalam rahim suci.

Perayaan ini sengaja digelar kecil-kecilan, hanya dihadiri oleh Mbok Sum, beberapa abdi dalem sepuh, tetua desa bawah, serta barisan mandor baru yang menggantikan kelompok culas mendiang Mandor Suro.

Larasati duduk dengan anggun di atas tikar pandan halus, tepat di sebelah suaminya. Tubuh belianya dibalut jarik batik motif kesatrian yang sengaja dililit longgar oleh Mbok Sum agar mboten menekan kandungannya. Perutnya yang membulat kecil kini kentara menonjol dengan indah di balik kebaya brokat tipis sewarna kuning gading. Kulitnya yang bersinar alami membuat beberapa tetua desa tak henti-hentinya menggumamkan pujian keselamatan.

Namun, di samping kehangatan doa yang dipanjatkan, atmosfer di bawah atap pendopo itu terasa mencekam, tegang, dan dingin.

Baskoro duduk bersila dengan punggung tegak lurus bagai soko guru jati. Mengenakan beskap hitam polos dengan keris pusaka berhulu gading terselip gagah di pinggang belakangnya, wajah paruh baya sang juragan tampak sekeras batu karang. Sepasang manik matanya yang hitam pekat dan sedalam sumur tua mboten sedetik pun lengah. Pandangannya bergerak lambat namun mematikan, mengawasi setiap gerak-gerik mandor pria yang maju satu per satu untuk memberikan salam takzim kepada permaisurinya.

"Mugi berkah keturunan meniko saget mbeto kejayaan kagem bumi Joglo, Raden Mas, Gusti Nyai," ucap salah seorang mandor sepuh sembari membungkuk dalam, hampir menyentuh lantai.

"Matur nuwun, Paman. Doa Anda sangat berarti bagi kulo dan jabang bayi," jawab Larasati lembut, diiringi seulas senyuman ramah yang tulus.

Baskoro hanya mengangguk datar, suaranya bariton rendah bergetar lambat. "Inggih. Semoga lumbung barat juga berjalan selaras dengan doa-doamu."

Ketegangan yang merayap halus itu mendadak memuncak menjelang akhir acara, saat para pekerja baru dipersilakan mencicipi hidangan. Salah seorang mandor muda yang baru bertugas di bulak selatan, Mandor tirto, melangkah maju untuk menyerahkan laporan catatan hasil bumi yang tertinggal. Tirto adalah pemuda desa bertubuh tegap, yang tampaknya belum sepenuhnya memahami betapa mengerikannya watak posesif sang juragan besar.

Saat Tirto membungkuk untuk menyerahkan segel kertas kepada Larasati, pandangannya secara mboten sengaja turun dan terpaku terlalu lama pada perut membulat Larasati yang menonjol indah di balik brokat gading. Ada binar takjub dan kekaguman yang terlalu kentara di sepasang mata pemuda itu melihat keanggunan sang Nyai Joglo.

Klotak.

Suara bilah keris pusaka Baskoro yang sengaja bergeser karena perubahan posisi duduknya terdengar sangat tajam di keheningan selasar. Baskoro seketika menegakkan badannya, aura intimidasi raksasa langsung keluar mengurung seluruh pendopo dalam. Rahangnya mengeras dengan urat-urat leher yang menegang kaku.

"Tirto," panggil Baskoro. Suaranya sangat rendah, datar, namun sarat akan ancaman mutlak yang sanggup menciutkan nyali.

Mandor muda itu seketika tersadar, wajahnya memucat pasi seketika. Ia buru-buru menarik pandangannya dan bersujud dengan tubuh gemetar hebat di atas tegel. "I-Inggih, Raden Mas? Wonten kelepatan hamba?"

"Matamu... tampaknya terlalu lelah untuk mengurusi pembukuan bulak selatan," ucap Baskoro dingin, sepasang matanya menatap lurus ke arah ubun-ubun Tirto laksana sebilah tombak yang siap menghunus. "Sentot! Bawa Tirto keluar dari pendopo ini. Biarkan dia membersihkan lumbung belakang agar matanya tahu betul apa yang harus dilihat dan apa yang mboten boleh dipandang di rumah ini!"

"Sendika dawuh, Raden Mas!" sahut Sentot cekatan, langsung menyeret Mandor Tirto yang hanya bisa menunduk pasrah tanpa berani mendongak lagi.

Larasati tertegun, napasnya tertahan di tenggorokan melihat bagaimana sisa-sisa kecemburuan suaminya kembali meledak hanya karena sebuah tatapan yang mboten sengaja. Acara slametan empat bulanan itu pun ditutup dengan terburu-buru dalam keheningan yang teramat pekat.

Malam pun jatuh memeluk perbukitan Joglo dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Angin gunung berderu kasar, memukul-mukul jendela jati kamar utama. Di dalam ruangan, lampu teplok minyak bergoyang gelisah, melemparkan siluet tubuh tinggi besar Baskoro yang berdiri diam membelakangi ranjang.

Larasati duduk di tepi kasur kapuk, menatap punggung suaminya dengan hati yang berkecamuk. Perlahan, suara derit berat terdengar saat Baskoro berbalik. Pria empat puluh tahun itu melangkah mendekat, lalu dengan satu sentakan keras yang disengaja, ia memutar kunci besi pintu kamar. Cklek.

Sentakan itu seolah menandai dimulainya persidangan batin di antara mereka. Baskoro melepaskan beskap hitamnya dengan gerakan kaku yang sarat emosi, membiarkan tubuh kekarnya yang bersimbah peluh dingin terekspos di bawah temaram lampu. Ia berjalan mendekati ranjang, mengikis jarak hingga bayangan tinggi besarnya sepenuhnya mengurung Larasati.

"Mas Baskoro..." panggil Larasati, suaranya bergetar namun matanya menatap lurus. "Kenapa Anda harus mempermalukan Mandor Tirto di depan para tetua desa tadi? Dia mboten memiliki maksud jahat, Mas. Dia hanya—"

"Cukup, Larasati!" potong Baskoro dengan suara bariton yang teramat berat, serak oleh kabut cemburu yang kembali membakar kewarasannya. Pria itu menjatuhkan dirinya di atas ranjang, meraih kedua pergelangan tangan Larasati dengan genggaman yang teramat erat, memaksa istrinya untuk mendongak menatap matanya yang menggelap liar. "Apakah kamu mboten melihat bagaimana mata pemuda desa itu menatap tubuhmu?! Bagaimana dia menatap perutmu yang sedang membawa benihku?!"

Larasati meringis samar merasakan tekanan pada pergelangan tangannya, tepat di mana gelang emas pahat melati pemberian Baskoro melingkar ketat. "Mas... kulo mboten memperhatikan pandangannya. Kulo hanya fokus pada doa keselamatan anak kita!"

"Tapi aku melihatnya, Laras!" geram Baskoro posesif, wajah paruh bayanya mendekat hingga napas panasnya yang memburu berbaur dengan aroma wangi cendana di leher istrinya. "Aku telah menahan seluruh hasratku selama empat bulan demi keselamatan rahimmu, menjaga raga ini dengan segenap sisa akal sehatku! Namun melihat lelaki lain di luar sana dengan bebas mengagumi keindahan milikku... ego kelaki-lakianku tercabik, Nduk!"

Baskoro mboten menunggu bantahan lebih jauh. Dengan dominasi yang mutlak dan posesif, ia mendorong tubuh mungil Larasati perlahan hingga permaisurinya kembali telentang di atas kasur kapuk, terkunci sepenuhnya di bawah raga kekarnya. Tangan besarnya dengan cepat menyibak kain jarik kesatrian longgar Larasati, menyingkap keindahan raga istrinya yang kini kian ranum dan berisi di usia kandungan empat bulan.

"Malam ini, aku mboten akan membiarkan ada celah ragu sedikit pun di dalam pikiranmu," bisik Baskoro parau, napasnya berkejaran di depan bibir Larasati. "Hukumlah aku atas kecemburuanku, atau biarkan aku menaklukanmu seutuhnya untuk membuktikan... bahwa tidak ada satu pun pasang mata di jagat ini yang berhak menikmati keberadaanmu selain suamimu sendiri!"

Penyatuan raga yang intens dan penuh penekanan itu kembali pecah di balik kelambu jati yang tipis. Baskoro menumpu berat badannya dengan kedua sikut yang kokoh di sisi kepala Larasati, menjaga dengan sangat hati-hati agar perut membulat istrinya mboten tertekan, namun gerakan pinggulnya menuntut kepatuhan yang teramat dalam dan melelahkan.

"Ahhh... hhh... Mas... Mas Baskoro... nggghhh..." Larasati mendesah panjang, kepalanya bergerak gelisah di atas bantal kapuk. Rasa pusing yang samar berbaur dengan ledakan kenikmatan yang memabukkan saat stamina prima suaminya yang luar biasa kokoh bagai soko guru pendopo memeras seluruh sisa tenaganya tanpa ampun.

"Katakan padaku, Laras..." desah Baskoro parau di sela-sela pergulatan asmara mereka yang panas, jemarinya mencengkeram erat pinggang Larasati yang kian berisi. "Milik siapa raga yang sedang bergetar hebat ini? Milik siapa anak yang sedang tumbuh di dalam rahim suci ini?"

Larasati tersengal-sengal pendek, air mata haru dan lelah menetes pelan melewati pipinya yang merona matang. Ia melingkarkan lengan kecilnya di leher kekar Baskoro, menarik suaminya agar membenamkan wajah di dadanya. "Ahhh... milik Anda, Mas... hanya milik Mas Baskoro seutuhnya... hhh... benih ini... adalah darah daging Anda yang sah... kulo pasrah seutuhnya pada Anda..."

Erangan rendah dan kepuasan liar terpancar dari bibir Baskoro mendengar pengakuan patuh yang teramat murni dari permaisurinya. Di bawah derak halus ranjang jati kuno yang ritmis beradu dengan suara desah napas keduanya yang saling berkejaran, badai cemburu itu akhirnya melebur sepenuhnya menjadi luapan gairah posesif yang kian mengunci erat takdir luhur mereka di atas bukit Joglo hingga fajar kembali menyembul di ufuk timur.

Bersambung

1
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
falea sezi
biar keguguran aja lah😒 biar gendeng😒 ini aki2 cemburuan amat
partini
judul nya di ganti ya Thor
partini
Kya Majapahit ini cerita
falea sezi
senengnya moga aja anak kembar
sunshine wings
Kagum ceritanya..
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Alissia
bagus thor ceritanya🤭🤭
New Riska
gemes
lanjut tor semangat
imel
waah ceritanya settingan bangsawan Jawa. jadi ngerti dikit². semangat buat otornya💪💪
Dewi Habibah
lanjut
New Riska
semagat tor, tak tunggu bab selanjutya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!