NovelToon NovelToon
Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:967
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.

"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Matahari tengah hari menyinari Aula Naga Emas dengan cahaya yang menyilaukan, memantulkan kilau emas dari atap istana. Namun, di dalam ruang sidang kekaisaran, udaranya terasa berat dan mencekam. Para pejabat berdiri berbaris rapi, kepala tertunduk, menunggu Kaisar Li Zhengyuan datang dan duduk ditakhta.

Putri Li Yuexin tidak berada di dalam aula tersebut, wanita dilarang menghadiri sidang resmi akan tetapi ia duduk di paviliun terbuka yang menghadap langsung ke halaman depan aula, ditemani oleh Kakeknya, Shen Guotai, Perdana Menteri Kekaisaran.

Ini adalah kesempatan langka. Biasanya, Kakek Shen Guotai terlalu sibuk untuk menghabiskan waktu siang dengan cucunya. Tapi hari ini, setelah sidang selesai, dia meminta Putri Li Yuexin menemaninya minum teh sambil menunggu kereta kekaisaran.

Kakek Shen Guotai adalah pria berusia enam puluh tahun dengan jenggot putih yang dirapikan sempurna. Wajahnya penuh kerutan kebijaksanaan, dan matanya yang sipit selalu tampak setengah tertutup, seolah-olah sedang tidur, padahal mengamati segala sesuatu dengan ketajaman elang. Dia adalah pilar Faksi Timur, pria yang bisa menghancurkan atau membangun karier seorang pejabat hanya dengan satu kalimat.

"Yuexin," ucap Kakek Shen Guotai tanpa membuka matanya, tangannya memegang cawan teh porselen biru-putih. "Kau telah berubah."

Kalimat itu sederhana, namun dampaknya seperti petir di siang bolong bagi Putri Li Yuexin. Jantungnya berdegup kencang.

Apakah kakeknya tahu? Apakah dia terlihat berbeda hingga orang setajam Kakek Shen Guotai bisa merasakannya?

Putri Li Yuexin menjaga wajahnya tetap tenang. Dia menuangkan teh untuk kakeknya dengan tangan yang stabil. "Orang tumbuh dewasa, Kakek. Rasa sakit mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati."

Kakek Shen Guotai akhirnya membuka matanya. Tatapannya tajam, menembus jiwa Putri Li Yuexin. "Bukan sekadar dewasa tapi kau memiliki aura... dingin. Seperti pedang yang baru diasah. Dulu, kau adalah bunga peoni yang lembut. Sekarang, kau terasa seperti bambu di musim dingin yang lentur, tapi siap menusuk jika dipatahkan."

Putri Li Yuexin tersenyum tipis. Dia tidak membantah. "Bunga peoni mudah layu jika dihempas angin, Kakek. Tapi, bambu bertahan karena akarnya dalam dan batangnya kuat. Aku belajar dari Kakek, bahwa kelembutan tanpa kekuatan hanyalah kelemahan."

Kakek Shen Guotai terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. Suara tawanya rendah dan serak. "Bagus, sangat bagus. Keluarga Shen tidak membutuhkan boneka cantik yang hanya bisa tersenyum. Kami membutuhkan strategis yang bisa berpikir tiga langkah ke depan."

Dia mengambil cawan teh dari tangan Putri Li Yuexin dan menyesapnya. "Aku mendengar kabar tentang pertemuanmu dengan Lin Meirong kemarin. Dan penolakanmu terhadap kunjungan pribadi dari Gu Wenhao."

Putri Li Yuexin menunduk hormat. "Aku hanya menjaga martabat Putri Kekaisaran, Kakek. Seorang calon pejabat seharusnya fokus pada studi, bukan rayuan yang memuakkan. Dan seorang sahabat seharusnya jujur, bukan pencuri kepercayaan."

"Martabat," gumam Kakek Shen Guotai. "Kata yang sering dilupakan orang muda. Gu Wenhao... dia licik. Ayahnya, Gu Zhen, adalah manusia licik yang haus akan jabatan. Mereka melihat Keluarga Shen sebagai tangga. Jika kau menikah dengannya, mereka akan menggunakan namamu untuk naik, lalu menginjakmu ketika mereka sudah mencapai puncak."

Di kehidupan sebelumnya,

Kakek Shen Guotai pernah memperingatkan Putri Li Yuexin tentang hal ini. Tapi Putri Li Yuexin, yang buta oleh cinta, menganggap kakeknya terlalu protektif dan berprasangka buruk terhadap orang biasa. Dia bahkan sempat bertengkar dengan kakeknya, membuat hubungan mereka renggang selama berbulan-bulan sebelum kematiannya.

Rasa penyesalan yang pahit, yang dirasa oleh Putri Li Yuexin. Kali ini, dia tidak akan mengulang kesalahan itu.

"Aku tahu, Kakek," kata Putri Li Yuexin pelan, suaranya berisi emosi yang tertahan. "Maafkan kebodohanku di masa lalu. Aku tidak akan membiarkan nama Keluarga Shen dicoreng oleh parasit seperti mereka."

Kakek Shen Guotai menatap cucunya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada kebanggaan, ada kekhawatiran, dan ada rasa sedih yang samar.

Dia tahu Putri Li Yuexin telah mengalami sesuatu yang mengubahnya, meski dia tidak tahu apa itu. Tapi sebagai seorang politisi ulung, dia memilih untuk tidak menggali lebih dalam. Yang penting, arah strategi cucunya sekarang sejalan dengan kepentingan keluarga.

"Gu Wenhao akan mencoba mendekatimu lagi," kata Kakek Shen Guotai tiba-tiba. "Dia pasti panik, karena Lin Meirong pasti sudah melapor padanya bahwa kau curiga. Dia akan mencoba menunjukkan 'ketulusan' dengan cara yang dramatis. Mungkin puisi, mungkin air mata, mungkin juga dengan ancaman bunuh diri palsu."

Putri Li Yuexin mengangkat alisnya. "Dan apa saran Kakek?"

"Jangan tolak secara langsung," jawab Kakek Shen Guotai sambil meletakkan cawan teh. "Jika kau menolak terlalu keras, dia akan memainkan menjadi korban. Rakyat akan bilang Putri Li Yuexin sombong dan kejam pada pria yang mencintainya. Biarkan dia datang dan biarkan dia berusaha. Tapi buat usahanya sia-sia kemudian buat dia terlihat konyol, bukan tragis."

Strategi klasik dengan kekuatan yang lembut. Putri Li Yuexin mengangguk. "Seperti membiarkan badut bermain di atas panggung hingga penonton bosan, bukan mengusirnya keluar?"

"Tepat sekali," Kakek Shen Guotai tersenyum puas. "Kau cepat belajar. Oh, ya. Ada satu hal lagi. Paman Mingyuan mu akan kembali dari perbatasan utara minggu depan. Dia membawa hadiah untuk Kaisar, dan juga untukmu."

"Hadiah untukku?" tanya Putri Li Yuexin penasaran.

"Sebuah pedang pendek buatan pengrajin terbaik dari wilayah utara," jelas Kakek Shen Guotai. "Diberikan dengan pesan, 'Untuk melindungi diri sendiri, karena tidak semua musuh bisa dikalahkan dengan senyuman.'"

Putri Li Yuexin merasakan getaran hangat di dadanya. Paman Mingyuan, pria kasar yang jarang bicara, ternyata memperhatikan perubahan dirinya. Atau mungkin, dia hanya ingin memastikan keponakan kesayangannya aman.

"Aku akan menerimanya dengan senang hati dan rasa hormat Kakek," kata Putri Li Yuexin.

"Bagus. Sekarang, pulanglah dan istirahatlah. Malam ini ada perjamuan kecil di Istana Fengyi. Ibumu ingin bertemu denganmu. Dan... dia ingin membahas sesuatu tentang perjodohan."

Mata Putri Li Yuexin menyipit. Perjodohan? Di kehidupan sebelumnya, Permaisuri Shen Yulan sangat mendukung hubungannya dengan Gu Wenhao karena dia percaya pada kebahagiaan putrinya. Apakah kali ini ibunya juga akan mendorongnya ke arah yang sama?

"Apa maksud Ibu?" tanya Putri Li Yuexin hati-hati.

Kakek Shen Guotai berdiri, merapikan jubahnya. "Ada putra dari Marquis Han Cheng yang tertarik padamu. Pemuda itu... netral. Tidak terlalu ambisius, tidak terlalu bodoh. Mungkin pilihan yang lebih aman daripada Gu Wenhao. Tapi keputusan akhir ada di tanganmu, Yuexin. Ingat nasihat dari ibundamu, 'Musuh paling berbahaya bukanlah mereka yang memegang pedang, melainkan mereka yang tersenyum di hadapanmu.' Pastikan kau bisa membedakan senyuman tulus dan senyuman racun."

Kakek Shen Guotai berjalan pergi, meninggalkan Putri Li Yuexin sendirian di paviliun. Angin berhembus lebih kencang, menggoyangkan daun-daun pohon willow di tepi kolam.

Putri Li Yuexin menatap pantulan dirinya di air kolam. Wajah yang cantik, dingin, dan penuh perhitungan.

Marquis Han Cheng... ayahnya adalah pendukung setia Selir Rong. Putranya pasti juga terpapar pengaruh Faksi Barat. Ini bukan lamaran cinta, tapi ini adalah upaya Faksi Barat untuk menyusup ke dalam Keluarga Shen melalui pernikahan.

Dan ibundanya, Permaisuri Shen Yulan, mungkin belum menyadari bahaya itu. Atau mungkin, dia sedang menguji Putri Li Yuexin.

Putri Li Yuexin tersenyum dingin. Permainan semakin rumit. Tapi dia siap.

"Qingyu," panggilnya.

"Ya, Nona?" Qingyu muncul dari balik pilar.

"Siapkan pakaian terbaikku untuk malam ini. Warna ungu tua dan ambil jepit rambut phoenix emas itu. Aku ingin bersinar malam ini. Bukan sebagai mangsa, tapi sebagai pemangsa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!