Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 5
Suara raungan mesin motor yang memekakkan telinga langsung memecah keheningan malam yang syahdu di dalam warung tenda.
Ibu Siti menjerit kaget, tubuh rentanya gemetar seketika sambil memeluk erat lengan Nisa. Wajah Nisa pun mendadak pucat pasi. Ia tahu persis siapa pemilik suara-suara bising di luar sana.
Itu adalah gerombolan ormas berseragam loreng yang menjadi momok menakutkan bagi para pedagang kecil di kawasan Baranangsiang.
"Farrel... mereka bawa pasukan," bisik Nisa dengan suara bergetar, matanya menyiratkan ketakutan yang mendalam.
Ia mencengkeram kaus Farrel, mencoba menahan pria itu agar tidak keluar.
"Jangan keluar, Rel. Kita telepon polisi aja, ya?"
Farrel menatap Nisa, lalu beralih ke Ibu Siti. Senyum tipis yang penuh ketenangan terukir di wajahnya.
"Polisi? Di daerah pinggiran yang dikuasai ormas seperti ini, laporan warga sipil miskin sering kali hanya berakhir di tumpukan kertas meja polsek jika tidak ada "uang pelicin".
Farrel tahu betul realita bobrok itu.
"Nis, jagain Ibu di dalam. Tutup terpalnya rapat-rapat," kata Farrel, suaranya terdengar sangat tenang, bahkan cenderung dingin.
"Percaya sama aku. Masalah kayak gini gak bisa diselesaikan pakai kata damai. Mereka harus dikasih pelajaran sampai kapok."
Tanpa menunggu jawaban Nisa, Farrel melangkah mantap keluar dari warung tenda, menyibak kain terpal yang basah.
Di luar, hujan masih turun dengan lebat, membasahi bumi Bogor dengan hawa dingin yang menusuk. Di bawah temaram lampu jalan, tampak enam buah sepeda motor terparkir melintang, menyorotkan lampu jauh mereka tepat ke arah Farrel.
Ada sekitar sepuluh orang pria dewasa berseragam loreng oranye. Beberapa di antara mereka memegang balok kayu, rante motor, dan satu orang di tengah pria bertubuh tinggi besar dengan bekas luka bakar di lehernya memegang sebilah celurit yang berkilat tajam terkena pantulan cahaya lampu.
Pria berleher luka itu adalah jagoan wilayah pangkalan, namanya jagoan pangkalan sering memanggilnya Kang Tato, tangan kanan dari ketua ranting ormas setempat.
Di sampingnya, Bang Jay berdiri dengan wajah yang dipenuhi dendam, menunjuk-nunjuk ke arah Farrel.
"Kang! Itu dia bocah kupret yang udah hajar Dani sama Dika!"
terukir seringai puas di wajah Bang Jay. Ia merasa di atas angin karena membawa pasukan yang lebih banyak.
Kang Tato melangkah maju, membiarkan air hujan membasahi wajahnya yang sangar. Ia menyeret ujung ceruritnya di atas aspal jalanan, menimbulkan suara gesekan besi yang ngilu di telinga.
Sreeet... Sreeet...
"Lu supir angkot yang berani belagu di wilayah gua?"
Kang Tato menatap Farrel dengan pandangan meremehkan.
"Gua denger dari Jay, lu punya ilmu kebal? Hahaha! Sini, gua mau lihat seberapa kebal kulit lu sama cerurit gua ini!"
Farrel berdiri tegak di tengah guyuran hujan. Kausnya yang basah menempel ketat di tubuhnya, memperlihatkan siluet otot dada dan perutnya yang kini terpahat sempurna berkat ramuan sistem.
Di dalam otaknya, sistem kembali memberikan notifikasi visual.
[Pemberitahuan Sistem]
• Mendeteksi 10 target bermusuhan dengan niat membunuh/mencederai.
• Misi Sampingan Diaktifkan: Ratakan gerombolan pengganggu ini dalam waktu 3 menit!
• Hadiah Misi: 5 Poin Atribut Bebas & Rp 50.000.000 (Saldo Pribadi).
Mata Farrel berkilat tajam.
"'Tiga menit? Terlalu lama untuk sampah seperti mereka,' batin Farrel dengan seringai dingin.
"Banyak bacot. Kalau mau maju, maju semua. Gua gak punya banyak waktu meladeni anjing kurapan kayak kalian," tantang Farrel,
melambaikan tangan kanan dengan gerakan meremehkan.
"Kurang ajar! Habisi dia!!" raung Kang Tato, murka karena merasa direndahkan oleh seorang supir angkot kelas teri.
Tiga orang anak buah Kang Tato langsung merangsek maju.
Pria pertama mengayunkan rantai motor berkarat ke arah dada Farrel, sementara dua lainnya mencoba mengunci pergerakan Farrel dari samping dengan balok kayu.
Wuss!
Dengan kecepatan atributnya yang berada di angka 15 (jauh di atas manusia normal), gerakan rantai itu tampak seperti gerak lambat di mata Farrel.
Farrel hanya perlu memiringkan tubuhnya sedikit ke kanan. Rantai itu berdesing lewat di samping kupingnya.
Bersamaan dengan itu, Farrel melangkah maju masuk ke dalam jarak aman pria pemegang rantai, lalu menghantamkan sikut kirinya tepat ke ulu hati pria tersebut.
Bughhh!
"Ugherkk!"
Pria itu langsung menekuk tubuhnya seperti udang rebus, matanya melotot keluar sebelum akhirnya ambruk ke aspal yang tergenang air, muntah cairan lambung bercampur darah.
Dua orang pemegang balok kayu terkejut, namun momentum gerakan mereka tidak bisa dihentikan. Farrel dengan refleks cepat menangkap dua balok kayu yang mengayun ke arahnya dengan kedua tangan kosong.
Prak!
Balok kayu itu menahan hantaman tangan Farrel tanpa bergeser sedikit pun. Dengan satu sentakan kuat, Farrel merebut kedua balok kayu tersebut, lalu memutarnya ke belakang dan menghantamkannya ke pelipis kedua penyerang itu secara bersamaan.
Duar! Duar!
Kedua pria itu langsung tumbang bersimbah darah di kepala, pingsan seketika dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Melihat tiga temannya tumbang dalam sekejap mata dengan cara yang begitu brutal, sisa anggota ormas yang memegang motor langsung gemetar.
Nyali mereka yang tadinya membumbung tinggi kini mendadak ciut ke dasar bumi. Ini bukan lagi perkelahian jalanan, ini adalah pembantaian sepihak!
"S-sialan! Dia monster!"
teriak Bang Jay, langkah kakinya perlahan mundur ke belakang motornya, bersiap untuk kabur lagi seperti sore tadi.
"Jangan mundur, babi! Maju lu semua! Gua tebas kepalanya!" Kang Tato yang sudah gelap mata langsung berlari kencang ke arah Farrel.
Ia melompat sambil mengayunkan cerurit tajamnya secara diagonal, mengincar leher Farrel untuk sekali tebas mati.
Farrel tidak menghindar. Ia berdiri diam menanti datangnya mata pisau yang berkilat itu. Di dalam warung tenda, Nisa yang mengintip dari celah terpal menjerit histeris.
"Farrelll!!!"
Tepat ketika mata cerurit itu berjarak hanya lima sentimeter dari kulit lehernya, tangan kanan Farrel melesat maju dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata telanjang.
Plaaak!
Bukan menangkis besi, Farrel justru menampar pergelangan tangan Kang Tato dengan kekuatan penuh kekuatannya yang bernilai 18.
Suara patahan tulang yang renyah langsung terdengar membelah suara hujan.
Krak!
"Arrrghhhh!!!"
Cerurit di tangan Kang Tato terlempar jatuh ke aspal, sementara pria besar itu berlutut memegangi pergelangan tangannya yang kini posisinya sudah berbelok aneh patah total.
Farrel belum selesai. Ia mencengkeram rambut gondrong Kang Tato, memaksa pria besar itu mendongak menatap matanya yang sedingin malaikat pencabut nyawa.
"Lu bilang lu mau lihat seberapa kebal kulit gua?" bisik Farrel pelan.
Tanpa belas kasihan, Farrel melayangkan satu pukulan lurus tepat ke hidung Kang Tato.
Brak!
Tulang hidung Kang Tato amblas ke dalam. Pria yang ditakuti di seluruh Baranangsiang itu terkapar tak berdaya di atas aspal dingin, darah segar mengalir deras dari wajahnya yang hancur, menyatu dengan air hujan yang mengalir ke selokan.
Farrel berdiri tegak di tengah lingkaran musuh-musuhnya yang bergelimpangan. Sisa anggota ormas, termasuk Bang Jay, langsung menjatuhkan senjata mereka dan berlutut di atas aspal basah sambil menangis meminta ampun.
【 Ding! Misi Sampingan Berhasil! Waktu penyelesaian: 1 menit 12 detik. 】
【 Selamat! Pengguna mendapatkan 5 Poin Atribut Bebas dan Rp 50.000.000 (Saldo Pribadi telah masuk ke rekening BCA). 】
Farrel mengabaikan suara sistem sejenak. Ia menatap Bang Jay yang sedang mengencingi celananya sendiri karena ketakutan.
"Bersihin sampah-sampah ini dari depan warung. Kalau besok gua masih lihat muka lu atau seragam loreng lu di sekitar terminal... gua pastiin lu gak akan bisa jalan seumur hidup."
"I-iya Bang... ampun Bang Farrel... ampun..."
Bang Jay dan sisa anggota yang selamat langsung memapah teman-teman mereka yang pingsan dan patah tulang ke atas motor, lalu kabur tunggang langgang membelah kegelapan malam Bogor.
Farrel menghela napas panjang, menepis butiran air hujan di wajahnya. Rasa percaya diri dan kekuasaan kini mengalir penuh di dalam darahnya. Ini baru permulaan. Ormas-ormas kecil ini hanyalah kerikil.
Targetnya yang sesungguhnya adalah menghancurkan seluruh sistem penindasan yang ada di kota ini.
Saat ia berbalik untuk kembali ke warung, kain terpal tenda terbuka lebar.
Nisa berlari keluar mengabaikan hujan deras, langsung menghambur dan memeluk leher Farrel dengan sangat erat, menangis sejadi-jadinya di dada pria yang baru saja membuktikan dirinya sebagai pelindung sejati.