NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Sang Kolonel

Cinta Terakhir Sang Kolonel

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.

Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya. Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.

Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: DI ANTARA MASA LALU DAN PRIA BAIK-BAIK

Di dalam ruang kerja Mako Atas yang kini telah berangsur sepi, Kolonel Victor masih duduk bersandar di kursi kebesarannya. Pandangan matanya tidak lepas dari balutan perban putih yang melingkari buku-buku jari tangan kanannya. Jika diingat-ingat kembali momen tadi siang, Victor sendiri merasa heran mengapa ia bisa tiba-tiba emosi dan secara spontan meninju dinding tembok beton yang kokoh itu hingga terluka. Namun, rasa perih di tangannya sama sekali tidak sebanding dengan hantaman kejutan yang ia terima beberapa detik setelahnya.

Pengakuan Ayu yang mengatakan, "Suruh saja Ibu Hedy dan Bapak Reins datang ke rumah... sebelum aku berubah pikiran," benar-benar membuat sirkuit di kepala Victor serasa mengalami korsleting taktis. Pria raksasa itu sempat mengira dirinya salah dengar atau sedang berhalusinasi di tengah keputusasaannya. Itulah alasan utama mengapa ia sempat menahan pergelangan tangan Ayu, ia hanya ingin mengonfirmasi ulang apakah telinganya tidak sedang menipunya. Namun, belum sempat kata-kata keluar dari mulutnya, wanita itu dengan ketus sudah memotong duluan, menanyakan apakah dia ingin wanita itu berubah pikiran.

Cara Ayu menangkup wajahnya dengan kedua tangan kecil yang hangat, lalu tiba-tiba memeluknya dengan erat, hingga kalimat umatan yang mengatainya "bodoh" dan "menyebalkan" karena melukai diri sendiri, justru membuat Victor merasa seperti baru saja memenangkan perang paling besar dalam karier militernya.

Malam ini, rasanya Victor enggan untuk sekadar memejamkan mata. Kejadian magis tadi siang di ruang kerjanya telah membuat hatinya dipenuhi oleh rasa bahagia yang membuncah luar biasa. Ditambah lagi, sebuah panggilan telepon dari Ibu Hedy beberapa jam yang lalu mengonfirmasi bahwa beliau dan sang ayah sudah tiba di kediaman orang tua Ayu. Pihak keluarga bahkan sudah menetapkan tanggal pertemuan kedua untuk acara seserahan resmi, sekaligus mulai menghitung tanggal bagus kapan hari pernikahan mereka akan dilangsungkan. Victor benar-benar berada di puncak kebahagiaannya.

Sementara itu, di seberang kompleks perwira, Ayu justru sudah tertidur pulas dalam keadaan perut kenyang dan hati yang jauh lebih ringan setelah kunjungan dadakan dari kedua sahabat karibnya. Bagaimanapun runcingnya perdebatan mereka, ketiga wanita itu saling menyayangi satu sama lain dengan teramat tulus. Di antara lingkaran pertemanan belasan tahun itu, Yunita adalah yang paling tua dan matang, disusul oleh Ayu di posisi tengah sebagai penengah yang kaku, dan ditutup oleh Shaneen sebagai si bungsu yang paling manja sekaligus paling ajaib kelakuannya. Walaupun usia mereka hanya berbeda lewat bulan saja.

Hari pun berganti dengan cepat seiring terbitnya fajar di ufuk timur ksatrian Bukit Raya. Seperti biasanya, rutinitas pagi di pusat pendidikan militer itu berjalan begitu-begitu saja—apel pagi, pemeriksaan administrasi, dan bimbingan taktis.

Namun, di balik wajah tegapnya saat memimpin apel, Ayu sebenarnya menyimpan kantung mata yang samar. Semalam, ia hampir tidak bisa tidur nyenyak setelah ponselnya diteror oleh rentetan pesan singkat dari mantan suaminya. Pria dari masa lalunya itu tiba-tiba saja mengirimkan pesan panjang yang isinya membuat Ayu ingin tertawa sekaligus muak. Sang mantan suami memohon untuk kembali rujuk dan memulai semuanya dari awal. Pria itu bahkan dengan tidak tahu malunya menjual kata-kata manis, mengatakan bahwa ini semua demi masa depan dan psikologis Arkan.

Alasan mendadak di balik aksi jilat ludah sendiri itu pun terungkap di baris pesan berikutnya. Ternyata, wanita yang dulu dinikahi secara siri oleh mantan suaminya secara diam-diam—saat masih berstatus sebagai suami sah Ayu—membawa petaka tersendiri. Belakangan diketahui melalui tes medis bahwa anak yang dilahirkan oleh wanita tersebut ternyata bukan anak kandung sang mantan suami. Karma instan itu datang tanpa mengetuk pintu. Entahlah, Ayu sendiri merasa bingung dan enggan memikirkan situasi pelik tersebut. Untuk apa dia kembali ke kubangan lumpur yang sama jika di depannya sudah ada jalan setapak yang bersih?

Ayu menghela napas panjang, bersandar pada kursi kerjanya sembari memijit pelipisnya yang berdenyut. Ia terlalu larut dalam lamunan dokumen di hadapannya, hingga sama sekali tidak menyadari bahwa sosok raksasa berseragam komando dengan baret hijau yang miring ke kiri sudah melangkah masuk dan duduk tepat di kursi hadapannya. Pria itu tengah memperhatikannya dengan lekat, menampilkan ekspresi wajah kebingungan yang teramat menggemaskan untuk ukuran seorang Kolonel bertubuh kekar.

"Ah, Komandan! Kapan Anda datang? Apa Anda butuh sesuatu?" tanya Ayu tiba-tiba dengan suara yang agak meninggi karena dia benar-benar kaget setengah mati mendapati Victor sudah ada di sana.

Victor tidak langsung menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan, sementara sepasang matanya tetap mengunci pandangan Ayu. "Ada sesuatu yang ingin aku katakan," ucap Victor rendah.

Ayu mencoba menetralisir rasa gugupnya dengan merapikan posisi duduknya. "Katakanlah," ucap Ayu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan, mencoba bersikap seprofesional mungkin.

Victor memajukan sedikit tubuhnya, menumpukan kedua tangannya yang dibalut perban tipis di atas meja kerja Ayu. "Kamu... gak terpaksa kan dengan semua ini?"

Ayu mengernyitkan dahinya, merasa pertanyaan itu sangat retoris dan aneh. "Memangnya aku dipaksa kenapa, Komandan?" tanya Ayu dengan polosnya.

"Ya... siapa tahu kamu merasa aku menggunakan jabatan atau tekanan fisik kemarin untuk memaksamu menerima pernikahan ini," tutur Victor dengan nada yang mendadak cemas, memperlihatkan sisi tidak percaya dirinya yang jarang ia umbar.

Mendengar kalimat itu, sifat asli Ayu yang ketus dan enggan mengalah seketika bangkit. Ia melototkan kedua mata bulatnya ke arah Victor. "Kamu memang tukang memaksa, dari dulu gak pernah berubah!" tembak Ayu telak.

Victor yang merasa citranya sebagai perwira teladan dijatuhkan, langsung menegakkan punggungnya, tidak mau kalah dalam adu argumen kecil ini. "Kapan aku pernah paksa kamu, Ayu? Coba sebutkan buktinya."

Ayu mendengus pelan, melipat kedua tangannya di dada dengan dagu yang terangkat menantang. "Gak perlu tanya kapan! Tentu saja dari dulu kamu itu memang tipikal tukang paksa. Contohnya saja kemarin di ruang kerja, pakai acara meninju dinding segala."

Jika ada anggota provost atau sersan Johan yang kebetulan lewat di depan jendela ruang kerja tersebut, mereka pasti akan mengucek mata berkali-kali. Kedua manusia dewasa berstatus perwira ini jika diperhatikan benar-benar terlihat sangat menggemaskan saat sedang bertengkar kecil seperti anak remaja.

Victor mengusap tengkuknya yang tidak gatal, mencoba membela diri dengan sisa-sisa wibawanya. "Enak saja. Di ksatrian ini, semua anggota tahu kalau aku ini pria baik-baik, ramah, dan berwibawa."

Ayu spontan mencibir, memperlihatkan ekspresi wajah yang teramat tidak percaya. "Dih... pede banget Anda."

"Emang iyakan? Kamu sendiri yang bilang dulu aku orang baik," kejar Victor, setitik binar jahil mulai terbit di matanya melihat rona merah yang samar mulai muncul di pipi Ayu.

"Enggak. Itu dulu, sekarang sudah kedaluwarsa," jawab Ayu cepat sembari memalingkan wajahnya ke arah dokumen, menyembunyikan senyuman tipis yang hampir saja lolos dari bibirnya. Perdebatan konyol pagi ini setidaknya berhasil mengusir seluruh bayang-bayang hitam dari pesan singkat mantan suaminya di kotak masuk ponselnya.

1
Deuis Lina
waduh gak terasa bacanya udah tamat aja,,,terimakasih kak atas ceritanya
Deuis Lina: sama2 kak
total 2 replies
Deuis Lina
kasihan sekali yah pak d usir,,
Niken Dwi Handayani
penutup cerita yang so sweet. Episode nya tidak banyak tapi meninggalkan kesan bagi pembaca. Ditunggu judul novel terbarunya thor🙏
Nuna Bae: Halo 😍 Terimakasih ya kak 😍🙏
total 1 replies
Deuis Lina
dasar pasangan terabsurd udah sama2 cinta masih aja suka berdebat,,,
Deuis Lina
akhirnya luruh juga yah yu
Deuis Lina
seberat itukah melepas masa lalu,,
Niken Dwi Handayani
Coba - coba baca dan woooo....cara penulisan nya, pemakaian kata - katanya, suka saya tuh .. 🥳👍. dilanjutkan sampai tamat ya thor
Nuna Bae: Halo 😍 Terimakasih ya 😍🙏
total 1 replies
Deuis Lina
tentunya punya jurus terakhir ya komandan rencana A gagal pasti ada rencana B
Deuis Lina
duh Arkan kamu bahagianya punya ayah besar yg sangat menyayangi mu
Deuis Lina
wah kekuasaannya keluar tuh ayah besar,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
makasih upnya
Deuis Lina
aku kasih vote mingguannya kak,,semangat teruuus
Deuis Lina: sama2 kak
total 2 replies
Deuis Lina
mengandung bawang banget ceritanya
Deuis Lina
lanjuuut
Deuis Lina
ayu oh ayu,,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
kayaknya ada yg senyum merekah nih,,,
Deuis Lina
lanjuut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!