NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Protokol Jam Malam

Bab 31: Protokol Jam Malam

​Mansion Dirgantara pasca-insiden Grand Gala berubah total menjadi benteng militer yang senyap. Adrian tidak main-main dengan keselamatan keluarganya. Di bawah perintahnya, Rendra memberlakukan "Protokol Jam Malam" tingkat tinggi. Begitu jarum jam menyentuh angka sembilan malam, seluruh pelayan, koki, dan pekerja luar wajib mengosongkan koridor utama dan kembali ke paviliun mereka di sayap kiri gedung. Seluruh akses pintu perimeter dikunci secara mekanis, dan sistem laser inframerah diaktifkan di sepanjang selasar lantai dua.

​Hanya ada satu orang yang mendapatkan pengecualian akses terbatas: Aline Sanyoto.

​Malam itu, jam dinding besar di lorong menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Aline baru saja selesai membacakan dongeng pengantar tidur tentang "Kancil dan Petani" untuk Keira, serta memastikan Kenzo mematikan layar tabletnya. Begitu melangkah keluar dari kamar tidur si kembar, suasana koridor yang biasanya remang kini terasa mencekam dengan pendaran lampu indikator biru taktis di sudut-sudut langit-langit.

​Aline berjalan perlahan menuju kamarnya yang terletak di ujung koridor pelayan khusus. Pergelangan kaki kanannya masih dibalut kain kasa bersih, sisa luka dari aksi nekatnya di basemen tempo hari. Langkah kakinya sengaja dibuat sedikit tertatih untuk menjaga konsistensi perannya sebagai gadis desa yang masih dalam masa pemulihan trauma.

​Klik.

​Saat Aline baru saja membuka pintu kamarnya, ia mendadak membeku.

​Sesosok pria bertubuh tegap berbalut kemeja hitam kasual dengan lengan yang digulung rapi sedang berdiri membelakanginya, menatap keluar jendela kaca yang menghadap ke halaman luas. Di bawah temaram lampu kamar yang berwarna kuning hangat, siluet bahu lebar dan rahang tegas pria itu memancarkan aura dominasi yang mutlak.

​Adrian Dirgantara.

​Aline segera menarik napas dalam, membetulkan letak kacamata bingkai emas tipisnya, dan langsung merosotkan bahunya untuk memasang topeng canggungnya dalam sekejap mata.

​"T-Tuan Besar...?" cicit Aline, suaranya gemetar halus penuh keterkejutan yang dibuat-buat. Ia meremas ujung apron kremnya dengan kedua tangan. "A-Ada apa toh, Tuan? Kok malam-malam begini ada di kamar saya? Apa saya ada salah lagi dalam membuatkan susu untuk anak-anak?"

​Adrian memutar tubuhnya dengan perlahan. Sepasang mata elangnya yang tajam dan dingin menatap Aline dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebelum akhirnya terkunci pada pergelangan kaki Aline yang terbalut kasa. Pria itu melangkah maju, membuat jarak di antara mereka terkikis hingga Aline bisa mencium samar aroma parfum maskulin berkayu (woody) yang maskulin dari tubuh sang mafia.

​"Bagaimana kakimu?" suara bariton Adrian terdengar rendah, bergaung di dalam keheningan kamar.

​"S-Sudah mendingan sekali, Tuan Besar... Obat yang Tuan oleskan semalam manjur banget, ndak perih lagi kalau dipakai jalan," jawab Aline, sengaja menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura tidak berani menatap langsung mata sang penguasa dunia bawah.

​Tanpa diduga, Adrian tiba-tiba membungkuk dan berlutut di atas satu lututnya tepat di hadapan Aline. Tangan kekarnya yang besar dan penuh kapalan itu meraih pergelangan kaki kanan Aline dengan gerakan yang teramat tegas namun hati-hati.

​Aline menahan napasnya seketika, otot perutnya menegang secara instan. Ini bukan sekadar pemeriksaan medis; ini adalah perang saraf fisik.

​Adrian memeriksa balutan kasa tersebut, lalu jemari jempolnya mengusap pelan kulit pualam di atas perban Aline, menyalurkan sensasi panas yang asing yang langsung membuat darah Aline berdesir aneh. "Jangan mencoba berjalan tanpa alas kaki lagi di rumah ini, Aline. Jika aku melihatmu terluka lagi karena kecerobohanmu, aku tidak akan segan-segan memotong gaji bulananmu."

​Meskipun kalimatnya terdengar ketat dan penuh ancaman otoritas, Aline bisa merasakan getaran protektif yang murni dari cara Adrian memperlakukannya. Benteng pertahanan di hati Aline sedikit bergetar. Pria di hadapannya ini begitu rumit—di satu sisi dia adalah kepala mafia yang kejam, namun di sisi lain, ada kelembutan tersembunyi yang ia tunjukkan secara kikuk.

​Adrian bangkit berdiri, menatap lurus ke dalam manik mata Aline dari jarak dekat. "Dan ingat, jam malam sudah berlaku. Jangan berkeliaran di luar koridor sayap kanan setelah jam sepuluh, kecuali jika Kenzo atau Keira memanggilmu. Mengerti?"

​"B-Baik, Tuan Besar. Saya mengerti," cicit Aline, mengangguk berkali-kali dengan wajah memerah sejati akibat kedekatan fisik yang terlalu intens tersebut.

​Adrian tidak bersuara lagi. Ia berbalik dan melangkah keluar dari kamar, menutup pintu kayu ek itu dengan bunyi klik yang halus, meninggalkan Aline yang masih terpaku di tempatnya dengan jantung yang berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.

​Begitu memastikan langkah kaki Adrian telah menjauh sepenuhnya dari koridor, ekspresi polos di wajah Aline lenyap seketika. Matanya berganti memancarkan kilat dingin seorang operator siber profesional.

​Aline mengangkat pergelangan tangan kirinya, menatap jam tangan Rolex pemberian Adrian yang masih melingkar di sana. Di balik kemewahan jarum jamnya, Aline tahu ada sensor pelacak GPS militer dan bug audio pasif yang bisa menangkap frekuensi suara di sekitarnya untuk dikirimkan ke server Rendra.

​Dengan gerakan yang sangat halus dan terukur, Aline meletakkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya di atas permukaan kaca Rolex tersebut. Ia tidak berbicara, melainkan mulai mengetukkan jarinya dengan ritme tertentu di atas cangkang jam logam tersebut.

​Ketuk... ketuk-ketuk... ketuk...

​Ia sedang mengirimkan pesan menggunakan kode morse mekanis, memanfaatkan sensor getaran mikro jam tersebut agar terhubung ke perangkat penerima milik komandannya di organisasi luar, melewati dinding pertahanan siber klan Dirgantara tanpa menimbulkan kecurigaan sistem.

​TARGET_PERKETAT_KEAMANAN. PROSES_PENYUSUPAN_RUANG_KERJA_DIMULAI_JAM_DUA_DINI_HARI.

​Aline menurunkan tangannya, menatap ke arah pintu kamarnya dengan tekad yang bulat. Jam malam ini mungkin adalah batasan bagi pelayan biasa, namun bagi seorang Aline Shandika, ini adalah awal dari permainan berburu yang sesungguhnya di dalam kegelapan.

1
Queen Aletha
done Kaka
gendiz: terimakasih
total 1 replies
rruangrindu
aku mampir,jangan lupa mampir juga
gendiz: siiappp
total 1 replies
Amiera Syaqilla
hi author💕
gendiz: Haiii, terimakasih sudah mampir membaca karya ku💙
total 1 replies
MayAyunda
keren👍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!