"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: PERCIKAN DI BALIK GELAS KACA
Waktu laksana benang takdir yang ditenun dalam keheningan, mempertemukan ego-ego manusia yang keras di bawah satu atap yang sama. Pagi itu, hari kelima proses syuting untuk web series"luka dalam rumah tangga" kembali berjalan di bawah naungan langit pusat kota yang mulai berangin sejuk.
Di bawah tenda kru yang dipenuhi oleh aroma kopi hangat, Aini duduk memegang draf naskah miliknya dengan tatapan mata yang terkunci pada monitor kecil. Novel orisinil miliknya yang meledak di NovelToon itu kini posisinya sudah berada di babak akhir, hampir mendekati babak ending dalam beberapa bab lagi.
Artinya, seluruh rangkaian proses syuting adaptasi ini pun akan segera rampung. Namun, konsentrasi pikiran Aini pagi ini tampak terusik oleh sisa-sisa bara api cemburu yang masih berkobar halus di dalam dadanya akibat pemandangan manis antara Arka dan Celine kemarin sore.
Saat waktu jeda istirahat minum teh tiba, Arka Mahesa Pratama melangkah mendekati meja sutradara tempat Aini duduk. Pria berusia 35 tahun dengan tubuh tegap setinggi 175 sentimeter, berkulit kuning langsat cerah, dan berhidung mancung tegas itu tampak begitu karismatik dibalut kemeja kasual yang rapi. Namun, sorot mata elangnya menatap Aini dengan pandangan yang sedingin es kutub, sengaja ingin membalas ledekan "kalkulator rusak" yang dilemparkan Aini kemarin di depan Celine.
Arka menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap Aini dengan profil wajah yang angkuh dan kaku.
"Gadis kampung seperti kamu ternyata memiliki lidah yang cukup tajam dan lancang, Aini Lidya," ketus Arka, suaranya yang berat memotong keheningan dengan nada mendikte yang kental.
"Pastikan saja ketajaman lidahmu itu juga tertuang secara profesional di dalam setiap baris naskah film saya, bukan hanya digunakan untuk mengomentari dan mengusik kehidupan pribadi orang lain."
Mendengar sindiran yang bernada menyerang itu, ego Aini seketika berontak tinggi. Dengan muka datar andalannya yang teramat tenang, dia menegakkan punggungnya, lalu membalas ucapan Arka dengan nada suara yang teramat cuek dan acuh tak acuh.
"Naskah dan tulisan saya selalu aman dan terkendali secara profesional, Pak Arka yang terhormat. Yang justru tidak aman itu adalah waktu sibuk Anda yang berharga. Kenapa Anda masih repot-repot berdiri di samping kursi saya di sini, sementara di sana ada seorang wanita cantik yang sedang menunggu kehadiran Anda?" sahut Aini pelan, sengaja melemparkan sindiran halus yang sarat akan rasa cemburu buta yang tertahan.
Mendengar sindiran tajam dari Aini, Celine yang berusia 28 tahun dan berdiri tidak jauh di belakang Arka seketika melangkah maju. Penampilannya yang nyaris sempurna dengan tinggi 168 sentimeter, berat badan 60 kilogram, dan rambut pirang lurus yang terurai indah mendadak memancarkan aura kejengkelan yang kental. Di balik wajah blasterannya yang ayu dan anggun, Celine ternyata diam-diam memendam rasa cinta yang mendalam pada kakak sepupunya sendiri, Arka. Melihat kedecatan dan aksi saling ledek antara Arka dan Aini sejak kemarin, ada rasa tidak suka yang mulai membakar ego Celine sebagai wanita lulusan luar negeri. Dia menolak keras untuk membenarkan kesalahpahaman yang terjadi, sengaja ingin membuat Aini merasa tersisih.
Celine melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Aini dengan sorot mata yang sedingin porselen.
"Maaf, Nona Aini... saya rasa dari tadi cara bicara Anda kepada Bapak Arka teramat tidak sopan dan melanggar batas profesional kerja," tegur Celine dengan nada suara yang anggun namun menusuk ulu hati.
Aini mengulas sebuah senyuman formal yang teramat tipis di bibirnya, memperlihatkan kedutan lesung pipi kirinya yang dingin tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Oh, mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nona Celine. Saya berbicara demikian murni karena pacar Anda ini yang selalu saja menyalahkan saya dan terus-menerus mencari-cari kesalahan saya, padahal semua hasil naskah dan arahan adegan yang saya buat itu sudah benar dan sesuai standar profesional," jawab Aini blak-blakan, meluapkan seluruh kekesalannya karena merasa selalu disudutkan dan dipojokkan sepihak oleh Arka selama di lokasi syuting.
Mendengar tuduhan sepihak yang tidak benar dan melenceng jauh dari fakta persaudaraan mereka, jantung Arka seketika berdesir aneh. Ada dorongan kuat di dalam dada sang presdir 35 tahun itu untuk segera membuka suara. Logikanya mendadak panik, dia tidak ingin Aini salah paham lebih jauh dan menganggapnya sebagai pria yang kekanak-kanakan dan tidak adil dalam berbisnis.
"Aini, tunggu, apa yang kamu bicarakan? Saya dan Celine sebetulnya—"Namun, belum sempat kalimat penjelasan Arka selesai meluncur dari bibir mancungnya, Celine dengan gerakan cepat langsung memotong ucapan abang sepupunya itu dengan nada dingin yang tegas, sengaja menutup rapat pintu kebenaran agar Aini tetap tenggelam di dalam kesalahpahaman yang menyakitkan tersebut.
"Meskipun begitu, Nona Aini, status hubungan kami di luar pekerjaan sama sekali bukan urusan Anda. Sebagai seorang penulis, Anda tidak sepantasnya bersikap lancang dan bicara tidak sopan di lokasi syuting ini," potong Celine dengan wajah yang kaku tanpa ekspresi.
Setelah mengucapkan kalimat yang mematikan sisa harapan itu, Celine dengan gerakan manja langsung menarik lengan kekar Arka dengan erat, memaksa pria jangkung itu untuk melangkah menjauh dari area meja sutradara dan lokasi pengambilan gambar. Celine menatap wajah Arka dengan pandangan mata yang memohon yang teramat ayu.
"Kak Arka, bawa aku pergi jalan-jalan ke tempat yang baru di pusat kota ini sekarang, yuk? Aku benar-benar bosan di sini. Lagipula, aku sudah dua belas tahun hidup di negeri orang, jadi aku sama sekali tidak tahu dan tidak hafal jalanan di daerah sini," pinta Celine dengan manja.
Arka Mahesa Pratama berdiri membeku di tempatnya dengan batin yang berkecamuk hebat bagai dilanda badai topan. Sepanjang hidupnya, Arka memang terkenal sebagai pria yang tidak pernah bisa menolak setiap permintaan manis dari Celine karena rasa tanggung jawab persaudaraan yang mendalam kepada adik sepupu satu-satunya yang baru saja pulang merantau dari luar negeri.
Namun, di sisi lain belahan hatinya malam itu, ada desiran asing yang teramat kuat memaksanya untuk berbalik arah, ingin melepaskan cengkeraman tangan Celine demi menjelaskan satu kalimat jujur kepada Aini bahwa di antara mereka tidak ada hubungan asmara apa pun.
Tapi, Arka tersadar akan posisinya; Celine baru saja menginjakkan kaki di tanah air, tidak mungkin dia tega menolaknya dan mempermalukan adiknya di depan umum. Akhirnya, dengan langkah yang berat dan wajah ketus yang kaku, Arka terpaksa menuruti tarikan tangan Celine, melangkah pergi meninggalkan lokasi syuting membelah keheningan sore.
Aini berdiri mematung di samping kursi sutradara, menatap punggung tegap Arka dan keanggunan Celine yang perlahan bergerak menjauh hingga menghilang di balik pintu mobil sport merah dengan pandangan mata yang mendadak kosong. Seketika itu juga, ada desiran rasa sakit yang teramat perih, panas, dan menghujam dalam di lubuk dadanya yang terdalam—sebuah hantaman cemburu buta yang begitu nyata, yang membuat napasnya terasa pengap dan sesak.
Namun, sebagai wanita mandiri yang telah berhasil meruntuhkan jeruji luka masa lalunya, Aini sekuat tenaga mengepalkan jemarinya, mengusir jauh-jauh rasa tidak rela tersebut dari dalam batinnya.
Aini menarik napas sedalam-dalamnya, mengunci rapat-rapat ruang emosinya di balik topeng ketenangan muka datar yang tegap. “Lagi pula... apa urusannya pada hatiku kalau pria kulkas seribu pintu yang angkuh itu punya pacar atau tidak? Hidupku sudah terlalu mahal untuk kembali mengemis perhatian dari seorang pria,” bisik Aini di dalam keheningan jiwanya, mengunci rapat pintu hatinya dari getaran asing yang salah alamat tersebut.
Sebab, benteng harga diri tercantik dari seorang wanita yang pernah dihancurkan oleh masa lalu bukanlah saat dia menangisi cinta baru yang terasa menyakitkan, melainkan saat dia mampu berdiri tegap mengusir kabut cemburu di balik topeng ketenangan yang anggun; membuktikan bahwa kemandirian jiwanya jauh lebih mulia daripada sekadar mengemis kepastian dari manusia yang belum tentu menghargai ketulusan rasanya.
--------------------